Site Loader
Toko Kitab
بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين، أما بعد:

ribathdarushohihain.com. Setelah beberapa waktu lalu umat Islam di Indonesia ramai dengan kontroversi disertasi hubungan non-marital (perzinaan) diperboleh yang digagas oleh dosen Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Abdul Azis serta kritik Buya Syakur bahwa 1400 tahun umat Islam telah salah menafsirkan ayat potong tangan dan ucapan-ucapannya yang lain, nama tokoh bernama Muhammad Syahrur pun mencuat di publik dan menjadi perbincangan. Hal ini karena beberapa orang termasuk Abdul Azis dan Buya Syakur sendiri membela dan menisbatkan pendapat-pendapat kontroversial tersebut kepada Muhammad Syahrur, dan sebenarnya pemikiran Syahrur sudah lama dikenal dalam dunia akademik di Indonesia atau di dunia secara umum.

Muhammad Syahrur ini dikenal sebagai pemikir liberal dimana banyak pemikirannya yang menyeleweng dari kitab-kitab salaf. Latar belakang pendidikan Syahrur adalah handasah (arsitektur) hingga mencapai program doktoral, bukan pendidikan ilmu-ilmu Islam.
Tentang Islam, Syahrur banyak terpengaruh dengan pemikiran orientalis Barat. Dalam tulisan-tulisannya dia sering melakukan kritik terhadap pemikiran Islam yang telah dibangun oleh para ulama berabad-abad silam karena dianggap tidak relevan dengan semangat dunia modern. Contohnya, dia mengatakan bahwa para mufasir Islam telah salah dalam menafsirkan Al-Quran karena tidak mentakwilinya sesuai kebutuhan zaman. (
al-Kitab wa al-Quran, hlm. 59) Dia mengatakan bahwa Al-Quran harus ditakwilkan sehingga relevan dengan zaman dan sesuai dengan akal.

Dia menuduh bahwa umat Islam selama berabad-abad hanya mengurusi urusan ibadah dan Syari’ah saja, namun tidak perhatian dalam urusan ‘ketuhanan’. (hlm. 83). Artinya, umat Islam dianggap kaku dan salah dalam beragama karena terlalu kaku dan tidak mau menerima perubahan.

Karena pemikirannya tentang keharusan takwil tersebut, menjadikan dia kebablasan dalam mentakwil Al-Quran bahkan mengartikan Al-Quran sesuai sains modern, Marxisme, Darwinisme, bahkan Kebatinan. Contohnya, Syahrur mengatakan bahwa Al-Quran hanya bisa dipahami dari dalil-dalil empiris yang bisa dilihat dengan indera. (hlm. 8) Al-Quran hanya bisa dipahami dengan kaidah-kaidah ilmu modern, sebagai pangkalnya adalah filsafat dan cabangnya adalah ilmu-ilmu lain seperti kosmologi, fisika, kimia, evolusi, biologi, dan ilmu-ilmu alam yang lain. Adapun urusan Ibadah, Syari’ah, Mu’amalah, Akhlak, Siyasah, dan Tarbiyah tidak ada hubungannya sama sekali dengan ‘Al-Quran’. (hlm. 108) Artinya, bagaimanapun bentuk ibadah dan Syari’ah seseorang selama dia percaya tuhan ada maka itu sudah sesuai dengan Al-Quran dan kenabian Muhammad. 

Syahrur juga menghina ulama dengan mengatakan yang dimaksud dalam hadits:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ (سنن أبى داود – م 3 / 354)

bukanlah ulama Syari’ah dan Fiqh, tapi para saintis, ahli filsafat, sejarawan, pakar elektrofisika, dan ahli biologi. Menurut Syahrur mereka sang ‘pewaris para nabi’ yang sebenarnya. (hlm. 104)

Syahrur juga mengingkari adanya surga dan menganggap manusia sudah ada di dunia sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Dia mentakwil ayat وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ (البقرة : 30) dengan keberadaan manusia purba yang belum memiliki akal dan mentakwil ayat اهْبِطُوا مِنْهَا (البقرة : 38) menjadi “berpindah (berevolusi) dari satu tingkatan ke tingkatan yang lain”. (hlm. 290). Dia menganggap Adam bukanlah manusia pertama yang diciptakan Allah di surga, tapi sebagai “makhluk yang halus budi dan berbudaya sesuai tempat hidupnya. (hlm. 291). 

Syahrur juga banyak menggelontorkan pemikiran Pluralisme. Syahrur mengatakan bahwa umat yang disebut “Umat Muslimin” bukan hanya umat Muhammad saja. Surga bisa diraih oleh siapapun yang berserah diri dan beriman kepada tuhan serta berbuat baik kepada sesama, apapun agama dan kepercayaannya. (al-Islam wa al-Iman, hlm. 33-34). Ayat-ayat yang digunakan untuk membenarkan pemikirannya tersebut seperti Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ [البقرة : 62]

“Sungguh orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in, barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal baik maka pahala bagi mereka dari Tuhan.”             (QS. Al-Baqarah: 62)

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ [البقرة : 112]

“Siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah dan berbuat baik maka dia mendapat pahala dari Tuhannya.” (QS. Al-Baqarah: 112)

Ayat-ayat diatas diselewengkan maknanya untuk membenarkan pemikiran Pluralisme Syahrur, sama seperti pemikir-pemikir liberal pada umumnya. Padahal kata “Iman” dan “Islam” di dalamnya sudah dibatasi oleh agama khusus yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران : 85]

Dalam kitab yang sama Syahrur juga mengatakan Al-Quran adalah asas utama Islam, namun umat Islam selama ini terlalu mengkultuskan kitab-kitab turats sehingga apa yang ada disana selalu benar melebihi Al-Quran itu sendiri. (hlm. 51) Jelas sekali Syahrur ingin menjauhkan umat Islam dari kitab-kitab ulama dan memperkenalkan penafsiran Al-Quran versi dia.

Syahrur juga seorang pejuang fenimisme. Dia mengarang satu buku berjudul Ushul Jadidah fi al-Fiqh al-Islamiy yang banyak membahas wanita. Disini pemikirannya feminisme begitu kental terasa. Di dalamnya Syahrur mengkritik teori Naskh dan Asbabun Nuzul yang dipakai ulama dan mufasir dalam memahami Al-Quran dan menganggap sebagai perusak universalitas Al-Quran (hlm. 231), merendahkan ilmu warisan dalam Fiqh dan menganggapnya tidak adil khususnya bagi wanita sehingga waris dalam Fiqh harus ditinggalkan dan diganti dengan ilmu ‘waris’ dengan pendekatan matematis dan sosial (235), hukum poligami itu urusan sosial bukan urusan agama dan boleh hanya ketika untuk mengurusi anak yatim saja (hlm. 306), serta konsep milk al-yamin yang ditafsiri Syahrur sebagai hubungan non-marital yang diperbolehkan (hlm. 308-309) kemudian diangkat topiknya dalam disertasi calon doktoral di UIN Sunan Kalijaga diatas. Masih banyak sekali kesesatan berpikir Syahrur dalam urusan ajaran Islam.

Syahrur bukan rujukan otoritatif dalam studi agama Islam, lalu mengapa Buya Syakur dan Abdul Azis mengkopi pemikirannya? Jelas karena pemikiran Syahrur begitu masif diajarkan dalam dunia akademik lebih-lebih di dalam pendidikan Barat. Jadi keduanya salah kiblat dalam studi Islam karena memang belajarnya hanya dari situ, atau memang mereka dan teman-temannya lebih bangga dengan pemikiran ala Barat atau Timur (Komunis/Atheis) dan kecil hati dengan pemikiran ulama-ulama Islam sendiri. Adapun kutipan-kutipan pendapat ulama hanya digunakan untuk membela pemikiran Syahrur dan pemikir liberal lain belaka.

Beredar pula berbagai video yang membela pernyataan Buya Syakur dan Abdul Azis dengan dalih ingin menengahi dan memang pemikiran kedua orang tersebut berbeda dengan orang-orang yang mengkritiknya, padahal ucapan mereka merendahkan ulama, Shahabat, bahkan Kanjeng Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama karena umat Islam dianggap telah salah dan tersesat selama 1400 tahun. Kebiasaan buruk mereka jika tidak bisa menjawab argumentasi dari sumber-sumber otoritatif, maka mereka akan bersilat lidah dengan mengatakan pendapat mereka memang “beda” dan “belum tentu benar”. Mereka mengaku “salah” saja tidak mau, padahal kebenaran sudah di depan mata. Mereka membedah pemikiran Islam dengan pisau analisis Barat, hancurlah organ-organ Islam semua. Mereka sama halnya Firman Allah Ta’ala:

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ [البقرة : 171]

“Dia tuli, bisu, dan buta sehingga tidak bisa berpikir.” (QS. Al-Baqarah: 171)

Kelompok seperti ini, atau model pemikirin seperti Syahrur ini adalah alat yang di susupkan oleh musuh musuh islam untuk memadamkan cahaya-Nya Allah dan cahaya keislaman dari orang Islam, Padahal Allah Ta’ala  akan terus menyempurnakan cahayanya, Demikian hal itu dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala:    

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (32) [التوبة: 32]

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang orang kafir itu tidak menyukai.” (QS. At- taubah: 32)

Dengan demikian, karena Syahrur itu melawan Ijma’ dan menolak keumuman Al-Quran demi membela pemikiran Barat atau Timur (Komunis/Atheis) maka pemikiran tersebut sangat berbahaya dan jelas keluar dari riil keislaman. 

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (115) [النساء: 115]

“Barang siapa yang menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukan dia kedalam neraka Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 15)

Terakhir, kami memohon kepada Allah Ta’ala untuk menjauhkan kami dari pemikiran-pemikiran kufur, bid’ah, dan fasiq yang merusak agama-Mu dan menjauhkan kami dari jalan Islam yang lurus. Amin ya Rabb al-‘alamin. Wallahu A’lam bi al-shawab.

Sarang, 9 Jumadal Ula 1441 H.

KH. Muhammad Najih Maimoen

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons