Site Loader
Toko Kitab

Pada tanggal 25 dan 27 Desember kemarin Syaikh Muhammad Najih memberi tanggapan terhadap beberapa pernyataan penceramah bernama Buya Syakur yang akhir-akhir ini cukup menjadi trending topic di masyarakat.

Buya Syakur dalam video-video ceramahnya banyak melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial mulai dari mengatakan umat Islam selama 1400 tahun telah salah menafsirkan ayat hukuman pencuri,

Tafsir didominasi kepentingan penguasa, kewujudan tuhan tidak bisa ditemu akal, dan sebagainya. Karena lagi-lagi menggelontorkan isu-isu yang berpotensi kuat memperkeruh kondisi umat Islam,

Maka Abah Najih angkat bicara untuk menanggapi pernyataan-pernyataan Buya Syakur tersebut. Berikut kutipan tanggapan Abah Najih yang disiarkan lewat akun Youtube dan Fanpage resmi Ribath Darusshohihain tersebut:

“Tadi pagi saya membuka WA. Saya dikirimi oleh teman saya Habib Miqdad Baharun.
Ada ceramah dari orang yang dijuluki Buya Syakur. Mungkin orang Cirebon atau Indramayu.
Dia pidato atau pengajian mengatakan umat Islam selama 1400 tahun tersesat atau melakukan salah tafsir terhadap ayat:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

Artinya: “Pencuri lelaki dan pencuri wanita maka potonglah tangan-tangan mereka.” (QS. Al-Maidah: 38)

Katanya umat Islam salah tafsir mulai dari Shahabat, Madzhahibul Arba’ah, Fuqaha, dst.
Na’udzubiLlah min dzalika. Sampai begitu bodohnya orang yang dinamakan Buya itu.
Dalam video itu dia kayaknya alumni dari Tunisia.

Negara Tunisia itu memang negara Arab, tapi hukumnya atau negaranya sekuler. Mungkin dia baca-baca buku orang sekuler dan anti Syari’ah sampai bilang 1400 tahun umat Islam salah. Dia bilang, menurut saya bukan saja menyalahkan shahabat,

Madzahibul Arba’ah, atau Fuqaha Mujtahidin yang semuanya ijma’ pencuri dipotong tangannya. Berarti dia barangkali tidak baca kitab Fiqih di pesantren, tidak baca Fathul Qarib dan Fathul Mu’in, atau sudah baca tapi dia mengingkari karena dia mungkin sudah kemasukan paham sekuler,

fashl al-din ‘an al-daulah (memisahkan agama dari negara), atau dia kemasukan madzhab Syi’ah. Syi’ah itu tidak peduli kalau dia mengkritik Shahabat, istri-istri Rasul, bahkan mengkritik Kanjeng Nabi.

Gus Dur Pemuji Khumaini

Pernah saya mendengar dari habib-habib Surabaya bahwa Gus Dur pada haul Sunan Ampel di awal-awal tahun 90-an, dia bilang bahwa tokoh perjuangan Islam yang hebat di abad ini hanya ada dua, yaitu Syaikh Abdul Qadir al-Jazairi dan Imam Khumaini.

Langsung saya waktu itu mengarang buku namanya Sabb al-Nabiy Yuqtalu bi Ijma’ al-‘Ulama fa Kaifa Nahtarimuhu.
Orang yang mencela Kanjeng Nabi harus dibunuh menurut Ijma’ ulama, bagaimana kita harus menghormatinya. Yang saya maksud disini adalah Khumaini,

karena Khumaini mencaci maki nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dengan mengatakan di waktu khutbahnya bahwa Nabi Muhammad tidak berhasil menancapkan keadilan di permukaan bumi.

Yang berhasil adalah Imam Mahdi al-Muntazhar yang ditunggu-tunggu Syi’ah. Di bukunya berjudul al-Hukumat al-Islamiyyah halaman 12 dia bilang termasuk dasar-dasar madzhab kita (Syi’ah) bahwa imam-imam kita kedudukannya di atas kedudukan nabi bahkan malaikat. Berarti Imam Dua Belas lebih diunggulkan diatas Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bahkan nabi-nabi lain. Kita meyakini orang yang menghina nabi berhak dibunuh. Ini Ijma’ ulama. Ada hadits:

من سب الأنبياء قتل

Artinya: Siapa yang mencela para nabi maka berhak dibunuh. (Alauddin Hindi, Kanz al-‘Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al, juz 11 hlm. 531)

Kita tidak terima nabi dicaci-maki oleh Khumaini waktu itu. Mungkin dia tidak baca kitab pesantren atau baca tapi sudah kemasukan virus sekuler atau sekarang istilahnya Islam Nusantara yang tidak mau hukum agama sama sekali, atau barangkali virus Syi’ah.

Kalau dikatakan sesat 1400 tahun berarti mencakup Nabi Muhammab ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.
Di dalam hadits-hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama juga pernah memotong tangan pencuri.

Bacalah kitab-kitab Imam al-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, dst.

Buya Syakur, Abu Ala al-Ma’arri, dan Syair Zandaqah

Jadi, bagaimana bisa begini? Pernah kejadian dulu ada orang namanya Abu Ala al-Ma’arri yang memiliki dua bait bernama Zandaqah. Para ulama menamakannya Zandaqah. Bahasa sekarang namanya Islamophobia. Orang Islam tapi anti hukum Islam. Sekuler, Islamophobia, Zindiq, itu sama saja. Dia berkata:

يَدٌ بِخَمْسِ مِئِيْنَ عَسْجَدَ وَدِيَتْ # مَا بَالهُاَ قُطِعَتْ فِي رُبْعِ دِيْنَار

تَنَاقُضٌ مَا لَنَا إِلاَّ السُّكُوْتُ لَهُ # وَأَنْ نَعُوْذَ بِمَوْلاَناَ مِنَ النَار

Satu tangan seharga lima ratus emas dan diyat # Apa urusan tangan dipotong karena mencuri seperempat dinar

Ini konyol, tapi kita hanya bisa diam # dan meminta lindungan Tuhan dari api neraka

Dia mempertanyakan seperti pertanyaannya milenial-milenial seperti Muwafiq atau liberal lah. Dia bilang katanya memotong tangan itu diyatnya 500 dinar atau 50 unta.

Satu tangan diyatnya 50 unta. Kalau waktu itu 1 unta harganya 10 dinar berarti harganya 50 dinar. Diyat 2 tangan berarti 100 unta.

Kenapa semua itu dipotong tangan itu gara-gara mengambil ¼ dinar? Itu tahakkum atau akal-akalan saja.
Ini omongannya zindiq. Na’udzbiLlah min dzalika.

Ini di pertanyakan lagi oleh Buya Syakur.
Ucapannya itu memasukkan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, Shahabat, semua imam dan fuqaha diejek dan dianggap salah semua. Zandaqah ini.
Tidak percaya pada ulama, shahabat, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama,
dan hadits-hadits yang meriwayatkan potong tangan pencuri, mencaci-maki, mengejek, sombong, dst.

Gara-gara kemasukan paham sekuler, Islamophobia, Islam Nusantara, atau kemasukan Syi’ah. Yang membikin Islam Nusantara Said Aqil, kan? Dia juga Syi’ah.

Dulu saya pernah menolak omongan Said Aqil bahwa Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama tidak berhasil mempersatukan Arab. Dulu awal-awal saya baru datang dari Makkah.

Penjelasan Ayat Potong Tangan Pencuri

Jadi ngeri sekali. Dia mempertanyakan ayat:



فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

Artinya: “Maka potonglah tangan-tangan mereka.” (QS. Al-Maidah: 38)

Kenapa disini memakai kata aidi (tangan-tangan),
mengapa tidak memakai yadain (dua tangan). Ini sudah dibahas tuntas oleh ulama kita.

Al-Sam’ani mengatakan kalau ada kata bermakna anggota manusia di-mudlaf-kan kepada dua orang,
maka kata itu dibentuk jamak (plural). Biasa orang Arab begitu. Jadi kata al-sariq itu bukan pencuri satu,
tapi jenis pencuri lelaki, dan sariqah itu pencuri perempuan. Ada lagi qira’ah dari Abdullah bin Mas’ud:

فَاقْطَعُوْا أَيْمَانَهُمَا

Artinya: “Maka potonglah tangan-tangan kanan mereka.” (QS. Al-Maidah: 38)

Qira’ah ini menolak keraguan dia tangan yang dipotong itu yang kanan apa kiri?
Kalau di hadits-hadits jelas yang pertama dipotong yang kanan.
Kalau dia berkata yang dicuri berapa tidak ditentukan di Al-Quran, lha itu ada haditsnya.

Makanya kita ini Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan Ahlul Qur’an saja. Kalau Al-Quran saja bisa jadi Khawarij.
Khawarij itu ada yang kuno, ada yang baru. Khawarij baru ya liberal itu, begitu juga sekuler.

Jadi kalau Khawarij dulu saling mengkafirkan kelompok-kelompok yang tidak mau ikut dia,
maka Khawarij baru ini membodoh-bodohkan ulama, Shahabat, bahkan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Membodohkan Aisyah seperti kasus Muwafiq. Na’udzubiLlah min dzalika.
Membodohkan Aisyah berarti membodohkan Kanjeng Nabi.
Itu kayak main karambol. Kufurnya orang sekarang itu sepeti karambol.

Di dalam Shahih Bukhari-Muslim ada juga riwayat pencuri dipotong tangannya.

Kok dia mempermalasahkan qath’ itu belum tentu maknanya memutus. Memang ada qath’ yang tidak memutus seperti qath’u tariq (begal). Tapi dia menghalang-halangi (memutus) jalan akhirnya orang takut. Dia preman di jalan, akhirnya jalan sepi.

Dalam hadits-hadits juga diterangkan bahwa kata yad (tangan) itu dari pergelangan, bukan dari siku, lengan, apalagi Pundak. Jelas tidak.
Ini sudah maklum bagi kita Ahlussunnah wal Jama’ah.
Kita tidak tendensi hanya Al-Quran belaka. Tidak seperti Khawarij. Khawarij itu macam-macam,
ada yang kuno dan ada yang baru. Di dalam hadits diterangkan pula potong tangan itu syaratnya harus satu nishab, yaitu ¼ Dinar atau 3 Dirham.

Walhasil, kita harus percaya dengan Al-Quran yang mujmal (global) dan diperinci oleh Sunnah Rasul ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Bahkan ada riwayat dari al-Tirmidzi:

سنن الترمذى – مكنز – ) 6 /23)

أُتِىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِسَارِقٍ فَقُطِعَتْ يَدُهُ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَعُلِّقَتْ فِى عُنُقِهِ

Artinya: Didatangkan seorang pencuri kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama,
dipotong tangannya lalu diperintahkan agar digantungkan tangan si pencuri di lehernya.
(al-Tirmidzi, al-Sunan, juz 6 hlm. 23)

Setelah dipotong tangan pencuri digantungkan pada lehernya supaya kapok.
Supaya orang melihat akhirnya tidak berani mencuri. Ini saking adilnya Syari’ah Islam. Ada hadits lagi:

مصنف ابن أبي شيبة – (9 / 510)

إِذَا سَرَقَ فَاقْطَعُوا يَدَهُ ، ثُمَّ إِنْ عَادَ فَاقْطَعُوا رِجْلَهُ ، وَلاَ تَقْطَعُوا يَدَهُ الأُخْرَى ،

Artinya: Jika seseorang mencuri maka potonglah tangannya, lalu jika ia melakukan lagi maka potonglah kakinya,
jangan potong tangannya yang lain.
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, juz 9 hlm. 510)

Adalagi riwayat:

ثُمَّ سَرَقَ أَيْضًا الْخَامِسَة , فَقَالَ أَبُو بَكْر : كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَم بِهَذَا حِين قَالَ : اُقْتُلُوهُ

Artinya: Kemudian pencuri itu mencuri untuk kelima kalinya, maka Abu Bakr berkata: Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama diberitahu hal ini, lalu belua bersabda, “Kalian bunuhlah dia.” (al-Nasai, al-Sunan, juz 8 hlm. 90)

Cuma hadits ini tidak diambil para ulama. Katanya hukuman bunuh sudah di-naskh (revisi). Wallahu A’lam.

Natal 25 Desember = Penyembahan Dewa Matahari

Ini mengerikan sekali sekarang ini. Setelah kita ditinggal para ulama, habaib sepuh,
maka berkeliaran di kita video-video dan pengajian yang mencaci-maki Shahabat, Ahlul Bait, Salafusshalih, Imam-imam Madzhab, dan Mujtahidin.

Inna liLlahi wa inna ilaihi Raji’un. Sangat bahaya sekali. Dan karena saya tidak sengaja live hari ini tanggal 25 Desember,
maka saya menyelipkan bahaya-bahaya ikut natalan atau tahun baru.

Natal menurut Ustadz Bangun Samudra mantan pastur lulusan Vatikan, pada tanggal 25 Desember adalah Misteri Kaldian (Chaldean Mystery) dimana yang terjadi adalah kelahiran dewa Ba’al, dewa matahari yang dipuja kaum pagan Babilonia.
Misteri Kaldian adalah perkawinan antara raja Nimrod dan ratu Semiramis.

Kejadian ini diterangkan pada Taurat pasal 22.
Perayaan dewa matahari itu sudah lama dirayakan oleh kaum Romawi dengan simbol matahari plus gambar ibu dan anak sebagai simbol dewi Sameramis dan dewa Nimrod.
Agar kaum Kristen bisa masuk Romawi,

maka ibu dan anak itu diganti dengan gambar Maryam dan anaknya Isa.
Jadi ini hakikatnya memuja dewa matahari. Makanya di Amerika ada patung Liberty.
Natal 25 Desember ini membahayakan karena ada penyembahan mataharinya.
Makanya orang Kristen menghadap ke timur, sama dengan Darmo Gandhul.

Hampir semua orang Kristen percaya bahwa natal jatuh tanggal 25 desember.
Menurut sejarah Yesus yang dipercaya sebagai juru selamat lahir pada tanggal itu. Untuk memperingatinya,

selain beribadah orang Kristen merayakan dengan berkumpul bersama keluarga dan bercengkrama dengan sahabat.
Namun ternyata orang Kristen lainnya tidak meyakini bahwa natal jatuh pada 25 Desember.

Uskup Abraham beberapa waktu lalu mengungkap perbedaan ini bersumber dari kalender yang berbeda di kalangan lembaga gereja di seluruh dunia.

Oleh karena itu, orang-orang menggunakan penanda musim dingin untuk menandai kelahran tersebut.

Dulu gereja di seluruh dunia sepakat merayakan natal pada 24 Desember,
disepakati sebagai hari lahirnya Yesus oleh penganut Kristen dari belahan bumi barat.

Mereka menghitung berdasarkan kalender Gregorian. Sedangkan penganut gereja Ortodoks yang menggunakan kalender Julian pun sama jatuh pada 25 Desember.
Kalender Julian adalah penanda waktu yang digunakan oleh Julius Caesar pada 46 SM.

Namun seiring pergantian waktu, kalender Gregorian dan Julian tidak memiliki kesamaan waktu.
Pada tahun 16 Paus Gregorius XIII dari gereja Katolik Roma mempelajari astronomi dan menyadari bahwa kalender Julian memiliki waktu 11 menit lebih pendek dari tahun matahari yang sebenarnya.
Akhirnya Paus Gregorius menghitung ulang dan menemukan perbedaan tangal lahir Yesus.
Oleh karena itu, natal di kalender Julian terjadi 13 hari setelah 25 Desember yaitu 7 Januari.

Adapun bangsa Romawi ketika itu memeluk agama pagan dengan memuja dewa-dewi yang jumlahnya sangat banyak.
Mereka terkenal sangat mengumbar kesenangan ragawi.
Mereka mengatakan raga yang sempurna dan kecantikan lahirian sangat penting dan kenikmatan ragawi harus dikejar selama-lamanya.

Sebab itu lelaki Roma sangat gandrung dengan olahraga yang bisa membentuk kekuatan fisik, memperbesar otot,
dan merawat tubuhnya. Kebiasaan lelaki Romawi ini sekarang diwarisi oleh apa yang disebut pria metroseksual.

Sedangkan wanita sangat memelihara tubuh dari sisi sensualitasnya.
Mereka sangat bangga ketika dikejar-kejar oleh banyak pria.
Bahkan bukan rahasia lagi bahwa wanita Romawi saat itu berlomba-lomba untuk dijadikan piala bergilir para lelaki Roma. 14 Februari selalu ditunggu-tungguh oleh mereka untuk memuaskan hasrat rendahnya dengan menggelar pesta syahwat di seluruh kota.
Ini yang disebut banyak orang sebagai hari Valentine yang sesungguhnya berasal dari perayaan perzinaan.

Keyakinan pria pagan Roma itu berasal dari dua sumber yaitu tradisi Osirian Mesir Kuno dan ilmu-ilmu sihir Babilonia.
Keduanya bergabung dan sekarang dikenal dengan Kabbalah. Mereka memiliki hari-hari istimewa yang dirayakan tiap tahun, termasuk tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran anak dewa matahari atau Sol Invictus.

Sebagian orang menganggap istilah anak dewa matahari ini dinisbatkan kepada Namrudz (Nimrod) yaitu raja yang mengejar-ngejar Nabi Ibrahim ‘alaihi al-Salam. Kepercayaan mereka dewa matahari lahir pada hari minggu,
karena itu mereka menyebut hari minggu sebagai Sunday yakni Hari Matahari. Mereka juga beribadah di hari tersebut.
Semua ini diadopsi ke Kristen sampai sekarang.

Hari natal memiliki arti hari kelahiran.
Hanya Gereja Barat yang merayakan natal pada tanggal 25 Desember, sedangkan Gereja Timur tidak mengakui natal pada tanggal tersebut. Lucunya,
di tahun 1994 Paus Yohannes mengumumkan kepada umat Kristen jika Yesus tidak dilahirkan pada 25 Desember.

Tanggal itu dipilih karena merupakan perayaan di tengah musim dingin kaum pagan. Saat itu kaum Katolik gempar,
padahal banyak sejarawan mengatakan bahwa 25 Desember itu sebenarnya adalah perayaan kelahiran banyak dewa pagan seperti Osiris, Atis, Tamuz, Dionisius, dll. Na’udzubiLlah min dzalika.

Walhasil, tadi Buya Syakur cerita bahwa dia pernah ke Roma. Melihat tempat olahraga, tempat tanding Gladiator (Colosseum), dst.
Dia membanggakan dirinya yang bisa sampai ke Roma, padahal itulah sumber kesesatan agama Nasrani.

Puncaknya setelah diadopsi oleh Roma. Akhirnya ada natal 25 Desember itu yang sebetulnya tidak cocok seperti sudah saya terangkan kemarin. Ini bahayanya.

Gus Dur: Yesus adalah Juru Selamat (?)

Kemudian saya tadi pagi diberi kiriman oleh KH. Zuhrul Anam ipar saya, ada meme bahwa Gus Dur mengatakan merayakan natal ini sebetulnya bukan orang Kristiani saja,
hatta umat Islam dan seluruh dunia ini harus menghormati kelahiran Yesus Kristus karena Yesus sebagai juru selamat seluruh manusia.
Na’udzubiLlah min dzalika. Inilah ucapan Gus Dur, zahir akidahnya juga sama karena dia sudah sering dibaptis dimana-mana. Na’udzubiLlah min dzalika.

Ada yang tanya yaitu Kiai Faurak dari Sampang, apa ini benar kalam Gus Dur.
Disini saya sampaikan bahwa saya mendengar sendiri ketika ada maulid di Benda Bumiayu,
dia mengatakan umat Islam wajib tidak hanya Maulid Rasul saja tapi harus Maulid Yesus Kristus.

Saya dulu memahami Yesus Kristus itu al-Masih yang ada di Al-Quran,
tapi al-Masih itu hanya sekedar tangannya barakah. Tapi malah dari meme ini jadi juru selamat umat manusia. Berarti ia mengatakan Nabi Isa itu diatas Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama,
padahal Nabi Isa ini yang nantinya ikut Syari’ah Nabi Muhammad. Dia yang membunuh al-Masih Dajjal.

Kalau dia membela Islam dan umat Muhammad memang iya, tapi kalau dia juru selamat dalam arti semua manusia bisa masuk surga,


INI GIMANA ?


Padahal Allah sudah menjanjikan surga dan mengancam neraka. Juru selamat artinya apakah semuanya masuk surga? Tidak bisa.

Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama itu memberi syafa’at kepada umatnya saja untuk masuk surga.
Kalau syafa’at kepada yang lain itu untuk masalah hisabnya agar dipercepat,
syafa’at dari beratnya menunggu di Padang Mahsyar. Tapi kalau masuk surga harus punya Syahadatain dari hati, bukan dari lisan belaka.

Puncak hal ini nanti adalah tahun baru.
Jadi hakikatnya Kristen itu mereka disesatkan. Mereka punya paham Isa anak tuhan itu sudah sesat,
disesatkan lagi dengan tanggal 25 Desember yang sebetulnya adalah natalnya dewa-dewa yang disembah oleh Romawi.

Mereka dibohongi seolah-olah Romawi masuk Kristen untuk menghormati, padahal itu hari kelahiran dewa matyahari. Jadi ada pluralisme,
menggabungkan Kristen yang katanya anti berhala tapi malah menyembah berhala berupa manusia yang digabungkan dengan berhala-berhala Romawi yang hakikatnya adalah manusia,

yakni Raja Namruz yang kawin dengan ibunya. Na’udzubiLlah min dzalika. Nanti puncaknya tahun baru ini.
Ada terompet atribut Yahudi, sinterklas itu Nashara, kembang api itu Majusi. Na’udzubiLlah min dzalika.

Mari kita bersihkan diri sesuai agama yang suci. Penyembahan kita hanya kepada Allah Ta’ala.
Lainnya tidak punya sifat tuhan. Jangan sampai kita ikut pluralisme dan jangan memuji-muji orang yang punya paham pluralisme karena sanagat berbahaya.
pluralisme itu syirik yang pacaran, syirik yang selingkuh. Mengaku Kristen,

tapi menyembah api dan matahari. Kita yang Islam disuruh ikut-ikutan. Makanya disepikan saja tahun baru itu karena mengandung pluralisme. Semoga ada manfaat yang besar bagi anak cucu kita.

Mengenal Kewujudan Tuhan Itu Fitrah Manusia

Kemarin hari Kamis saya dikirimi video kajian Buya Syakur tentang hakikat tuhan yang menurut orang-orang liberal atau orang-orang milenial tidak bisa ditemu oleh akal atau logika. Bahkan dengan gaya jahat dan tidak punya adab ada istilah takut dengan rasional. Na’udzubiLlah min dzalika.

Saudara-saudara umat Islam yang saya muliakan, lebih-lebih kaum santri. Tuhan kita Tuhan alam semesta ini semenjak dulu sudah diketahui oleh manusia, dan manusia itu aslinya juga yakin Adam dicipta di surga Allah. Walaupun kita tidak meyakini Adam melihat Allah di surga, akan tetap dia sangat merasakan keberadaan Allah yang berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ [البقرة : 35]

Artinya: “Dan Kami katakan: Wahai Adam. Menetaplah bersama istrimu di surga. Makanlah apapun yang kalian mau, tapi jangan dekat-dekat dengan pohon ini sehingga kalian berdua termasuk orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 35)

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [البقرة : 31]

Artinya: “Dan Allah mengajarkan seluruh nama-nama kepada Adam, kemudian Allah menyodorkan benda-benda tersebut kepada malaikat seraya berkata, “Beritahu aku tentang nama-nama benda ini jika kalian benar.” (QS. Al-Baqarah: 31)

Allah Ta’ala sendiri yang mengajari Adam semua bahasa ini. Makna bahasa secara global juga diajarkan kepada Adam.
Kemudian Allah memperlihatkan musammayat (benda-benda yang dinamai) itu kepada malaikat.
Allah bertanya, “Ini namanya apa?” Mereka tidak tahu karena tidak diberi tahu. Yang diberitahu adalah Adam.

Jadi manusia mengenal tuhan itu fitrah. Aslinya manusia tahu tuhan. Makanya anak kecil ketika lahir langsung menangis dan bersuara “oek oek”. Itu kan memanggil tuhan,
karena dia lahir belum kenal ibunya. Kemudian setelah kenal baru diajak bicara kemudian dia berkata “ummi ummi”.

Jadi kita mengatakan itu sudah fitrah. Bahkan ada kitab filsafat bernama Hayy bin Yaqzhan.
Dulu Abuya Sayyid Muhammad Alawi menceritakan bahwa di kitab itu ada orang hidup dari kecil di hutan belantara. Tepatnya di papua, di daerah Waqwaq (Fakfak).

Dia tidak kenal apa-apa. Setelah itu dia hidup bersama hewan. Mungkin film Tarzan mengambil dari situ.
Kemudian, meski dia hidup bersama hewan, dia bisa mengenal tuhan lewat hewan-hewan itu.
Dia lalu bertemu manusia, lalu tahu peradaban, tahu bahasa manusia, akhirnya bertambah kuat keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi ilmu falsafah sendiri banyak yang mengakui tuhan, dan memang pokok dari fisafat itu adanya tuhan.
Jadi adanya tuhan itu suatu masalah yang selalu dicari-cari tapi sebenarnya sudah fitrah dari manusia.

Ketika kita diberitahu siapa pencipta langit bumi jagad raya, matahari,
kita diberitahu ada Tuhan Yang Maha Esa Tuhan semesta alam, maka akal kita langsung menerima.
Masa’ yang menciptakan langit bumi itu penduduk langit bumi sendiri? Tidak mungkin.
Itu sama sama jeruk makan jeruk. Sudah fitrah manusia.

Apa yang saya sampaikan ini wujudnya Allah itu tabiat manusia yang normal.
Jika tidak dihalang-halangi setan paham komunis, ateis, penyembahan berhala, dst, manusia akan gampang menerima ketuhanan Allah yang Maha Satu.

Maha Satu itu apa? Allah itu Satu, dia punya jenis yang Satu. Artinya beda dengan yang ada di makhluk-Nya. Apa itu makhluk materi maupun non-materi,
allah punya karakteristik tersendiri yang berbeda dengan jenis-jenis apa yang ada di makhluk. Itu artinya satu.
Makanya Allah berfirman:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) [الإخلاص : 3 ، 4]

Allah tidak mungkin berputra, nanti kalau berputra maka Dia punya saingan. Punya penyama. Apalagi dilahirkan. Tambah ngeri lagi. Nanti Allah tidak Qadim (tidak berawal), bukan pencipta, tapi setengah dicipta. Tidak ada yang menyamai Allah dalam keSucian-Nya, keEsaan-Nya, dan keTunggalan-Nya. Allah itu Maha Tunggal. Gak ada yang menyamainya. Tapi Allah itu bisa dilihat walaupun tunggal. Ini masalah keyakinan atau gaib, kita tidak tahu bagaimana caranya.

Dalil Alam Cukup untuk Meyakini Adanya Tuhan

Jadi bodoh kalau dikatakan bahwa Allah tidak bisa ditemu akal.
Memang akal tidak bisa menentukan Allah itu gimana bentuknya, tapi akal tahu kewujudannya. Gampang sekali.
Anak kecil saja bisa tahu walaupun belum sempurna akalnya, tidak usah dalil-dalil Mantiq maksud saya. Tidak perlu:

العَالَم مُتَغَيِّر، وَكُلُّ مُتَغَيِّر حَادِث، فَالْعَالَم حَادِثٌ يَحْتَاجُ إِلَى مُحْدِث


Artinya: Alam itu berubah, setiap hal yang berubah itu baru, maka alam itu baru dan butuh dengan pencipta.

Tidak harus begitu, karena di ilmu Kalam perubahannya bil imkan (bersifat dimungkinkan).
Alam bisa wujud karena ada yang mewujudkan. Ada yang mengatakan alam itu berubah,
khususnya benda-benda atas. Planet-planet berjalan dan beredar di orbit-orbitnya. Kalau berubah berarti harus ada yang membuat dia berubah.
Sekarang bumi juga kan berjalan menurut falak kuno, hatta falak sekarang juga mengelilingi matahari.

Saudara-saudara sekalian. Jadi sangat bodoh orang mengatakan Allah tidak bisa dirasio.
Yang tidak bisa dirasio itu bentuknya. Adapun wujudnya sangat-sangat bisa dirasio.
Bahkan tanpa dalil Mantiq sudah bisa. Semisal, bentuk langit bumi itu sudah menunjukkan tanda-tanda butuh kepada Allah.
Apalagi pergantian siang malam. Siapa yang membuat itu? Jelas Allah, tidak usah bertele-tele.
Tidak usah dalil-dalil muqaddimah sughra (anteseden) dan muqaddimah kubra (konsekuen).

Saya bukan anti ilmu Kalam, akan tetapi menurut saya dalil-dalil Al-Quran itu sangat cocok dengan fitrah manusia.
Tidak harus intelektual, tidak harus profesor botak, dengan dalil alam pun akal sudah bisa menerima.

Bahkan banyak orang-orang yang mengaku cerdas seperti penceramah tadi malah bahasanya meragukan Al-Quran.
Dia mengatakan, “Yang memberitakan Al-Quran siapa katanya? Manusia.
Apakah manusia tentu benar? Belum tentu. Yang memberi sejarah siapa? Manusia, manusia belum tentu benar.”

Kalau sudah khabar Mutawatir, masa’ bisa diragukan? Khabar Mutawatir urusan dunia saja, lah.
Kita diberitahu misalnya ada kota Baghdad dan London.
Bukan urusan agama, urusan dunia saja khabar Mutawatir memberi ilmu.
Apalagi urusan agama dari orang agama seperti Shahabat, Tabi’in, dan ulama.

Sekarang khabar yang ada di Sunan Bukhari Muslim atau al-Kutub al-Shihhah yang masyhur-masyhur itu walaupun disana ada hadits dlaif,
tapi kalau urusan wahyu seperti hadits Permulaan Wahyu masa’ diragukan? Dikatakan ini ada sensor,
ini ada rekayasa. Itu hadits dari Aisyah, itu kata ulama Mursal al-Shahabi yang diterima,
karena Aisyah tidak menangi permulaan wahyu. Dia belum lahir. Berarti dia dari shahabat lain.
Barangkali dari Abu Bakar, Saudah, dll.

Itu namanya Mursal Shahabat, dan itu diterima. Shahabat ini tidak kita curigai khususnya masalah riwayat akhbar. Tidak boleh dicurigai.

Prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah

Jadi Ahlussunnah wal Jama’ah itu prinsipnya ada tiga kata menurut Abuya Sayyid Muhammad.
Pertama, tanzihuLlah, mensucikan Allah dan hal-hal yang tidak patut baginya, entah itu kejisiman maupun tidak.
Atau sebaliknya, kalau tidak patut dengan Allah tidak boleh diucapkan. Kedua, ‘ishmah al-anbiya, kesucian nabi-nabi khususnya setelah menjadi rasul. Hati-hati,
kita jangan membahas para nabi bahkan malaikat. Malaikat itu tidak mungkin maksiat.

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ [الأنبياء : 26]

Sekarang kalau nabi-nabi tidak mungkin melakukan kitman atau menyembunyikan apa yang dia diperintahkan untuk tabligh. Tidak mungkin mereka dibiarkan salah berlarut-larut, atau sering lupa.
Andaikan nabi atau rasul pernah salah,
maka cepat diingatkan, cepat sadar, dan tidak mungkin dia sengaja bersalah atau melanggar perintah atau larangan Allah.
Kalau lupa mungkin, seperti adadi dalam Al-Quran:

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا [طه : 115]

Dia sudah dilarang makan syajarah, tapi karena cintanya kepada Siti Hawa sedangkan Hawa lagi nyidam, akhirnya Adam ikut mencicipi.
Barangkali kalau nanti salah Hawa tidak sendirian. Namanya pengantin baru makannya bareng.
Tapi ini ketika Adam belum menjadi nabi. Itu saja tidak sering, satu kali itu malah menyesal. Kemudian Adam bertawassul dengan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.

Nabi Muhammad adalah Juru Selamat

Kemarin saya di Kendal, di dalam pengajian sebentar saya katakan juru selamat itu adalah nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama
karena Adam saat melakukan kesalahan diterima taubatnya karena tawassul dengan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.

Maka Nabi Muhammad itu juru selamat. selesai dosa Adam dan diterima taubatnya gara-gara Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.
Jadi Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama juru selamat, tidak ada yang lain.

Tidak ada yang melebihi Nabi Muhammad. Bahkan Nabi Isa ini yang katanya Gus Dur, GusDurian, atau Kristen sebagai juru selamat itu menurut kita bukan walaupun beliau nabi yang harus dihormati.
Dia sekarang di langit sana diberi energi sama Allah untuk menyenangkan umat Islam dengan membunuh Dajjal.
Yang bisa membunuh Dajjal hanya Isa al-Masih. Dia bukan juru selamat, hanya membunuh saja.
Menyenangkan umat Islam. Kalau umat kafir ya tetap kafir, masuk neraka selama-lamanya.

Jadi saya ulangi lagi. Bodoh kalau Allah dikatakan tidak bisa dilogika. Allah bisa dilogika wujudnya, tauhidnya,
adapun kaifiyah-nya mungkin ini yang tidak bisa dilogika. Wallahu A’lam, karena Allah Maha Agung. Ingin tahu Allah nanti tunggu tanggal mainnya di Hari Kiamat.

Allah itu Mutakabbir, bukan takut seperti penanya Buya Syakur yang liberal bahasanya. Takut sama rasio. Ini gimana sih Indramayu? Katanya tempat santri,
banyak mondok di Lirboyo dan Sarang. Kalau sekarang di Sarang jarang, banyak yang mondok di Lirboyo karena pesan sponsor.

Ke-Ummiy-an Rasulullah Ada dalam Al-Quran

Videonya Buya Syakur banyak sekali. Katanya Nabi Muhammad itu tidak buta huruf, alasannya buta huruf itu tercela atau aib. Bodoh. Saudara-saudara ikhwan wal akhwat khususnya santri-santri alumni dari Sarang. Saya punya kewajiban lebih khusus, walaupun punya kewajiban juga bagi seluruh umat Islam. Nabi dibuat oleh Allah tidak bisa menulis dan membaca ini sudah ada dalil Al-Quran-nya.

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ [العنكبوت : 48]

Artinya: “Kau (Muhammad) tidak bisa membaca kitab sebelummu dan tidak bisa menulis dengan tangan kananmu. Jika kamu bisa, tentu orang-orang yang ingkar bisa ragu.” (QS. Al-Ankabut: 48)

Ya mungkin Buya Syakur ragu terus saja. Apa saja bisa diragukan. Tipe-tipe orang liberal ya begitu. Orang-orang Syi’ah dan Mu’tazilah.
Mu’tazilah itu liberal, kan? Dia menantang di video itu, apakah nabi Muhammad dikatakan ummiy itu supaya menghilangkan kecurigaan itu buatan. Di dalam Al-Quran sudah ada.

Adapun riwayat Jibril ketika menurunkan ayat Iqra’ membawa kain halus dari sutra dibaj. Dia (Buya Syakur) bilang itu kertas.
Walaupun ini hadits dlaif, kalau tidak bertentangan dengan akidah tidak apa-apa, kan? Masalah di langit, ada kertas di langit tapi fi ‘alamil qudrah.
Jadi kalau bumi ini termasuk ‘alam hikmah. Apa-apa harus ada yang membuat, harus ada produksinya.

Tapi kalau disana kan langsung jadi. Kertas-kertasnya bagus sekali tanpa ada percetakan. Andai Jibril membawa kaih hijau itu bisa-bisa saja tapi tidak lewat percetakan dulu.
Kun fayakun. Alam langit dan alam akhirat juga begitu. Di surga ada air, kain,
macam-macam makanan tidak perlu dimasak. Langsung jadi.

Wes, ini repot orang liberal. Saya tidak berniat debatan dengan dia, saya hanya memberitahu santri-santri yang ingin selamat dunia akhirat, yang tidak senang Gusdurian.
Kalau senang Gusdurian saya tidak bisa memberitahu. Tidak tahu bagaimana menghidayahi mereka.
Allah yang bisa, saya tidak bisa apa-apa sama yang fanatik-fanatik itu.

Saya hanya memberitahu santri-santri yang belum fanatik ke PBNU, Gus Dur, liberal, rasio, yang menentang tuhan,
berani dengan agama, menghakimi agama, mengatakan agama ingin menang sendiri. Na’udzubiLlah min dzalika. Bukan menang sendiri.
Agama kan dari Tuhan. Kalau ada dalil qath’i atau bahkan zhanni yang shahih itu harus diyakini benar,
bukan kok menang sendiri. Allah Maka Benar, Dzat-Nya Benar, Sifat-sifat-Nya Benar, Kalam-Nya Benar. Lafazh Kalam-Nya Benar, maknanya juga benar.

Bukannya ingin menang sendiri atau ingin benar sendiri. Memang Maha Benar Allah.
Sekarang Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dijadikan sebagai manusia yang serba benar.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) [النجم : 3 ، 4]

Artinya: “Nabi Muhammad tidak berbicara dari hawa nafsu. (3) Pembicaraannya tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan. (4)” (QS. Al-Najm: 3-4)

Shahabat ini yang setia kepada kebenaran orang yang dijadikan selalu benar.
Mereka orang-orang yang paling setia. Tidak mungkin mereka mengarang-ngarang.
Kalau di bawahnya ada kemungkinan.
Yang membikin hadits Maudlu’ bukan shahabat, akan tetapi dari ahli bid’ah sendiri. Dari Mu’tazilah, Syi’ah, atau yang fanatik kepada satu kelompok.

Walhasil, saya ulangi lagi bahwa Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ummi itu buatan Gusti Allah. Kersane Allah.
Adapun Jibril membawa kain halus yang isinya Al-Quran yang menurut saya pertama kali Iqra’ itu sendiri.

Ada yang bilang al-Fatihah. Tapi akhirnya Iqra’ jadi Kalam Ilahi yang disalurkan kepada Jibril seolah-olah belum Kalam Ilahi,
tapi kemudian Kalam yang diucapkan Jibril resmi menjadi Al-Quran bahkan jadi satu Surah.

Walhasil, mengapa membawa kain? Ini bukan keyakinan karena haditsnya tidak Mutawatir. Andaikan benar,
ya saking halusnya Allah dalam mengangkat Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menjadi nabi waktu itu. Artinya Kanjeng Nabi tidak terasa kalau Allah berfirman kepada dia. Kiranya dia didawuhi Jibril.
Lalu mengapa Allah bersikap halus, mengapa tidak dikasih tahu dulu? Ini saking bersihnya Kanjeng Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Menghargai Allah.

Nabi tidak pernah punya angan-angan menjadi nabi. Tidak sepeti kita,
santri atau anak kiai mencari Laduniy sampai tirakat karena ingin menjadi ulama dan bisa baca kitab sendiri.
Nabi tidak ada perasaan begitu, bahkan tidak pernah bergaul dengan Ahli Kitab.

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ [العنكبوت : 48]

Artinya: “Kau (Muhammad) tidak bisa membaca kitab sebelummu dan tidak bisa menulis dengan tangan kananmu. Jika kamu bisa, tentu orang-orang yang ingkar bisa ragu.” (QS. Al-Ankabut: 48)

Jadi Kanjeng Nabi dibuat begitu supaya halus, dan Jibril dibuat membawa kain kayak kitab dengan izin Allah tanpa harus menunggu ada percetakan atau apa.
Jelas liberal itu. Katanya harus antropologis, bahasanya liberal memang begitu. Saya sudah dengar.
Orang kalau dekat kutub utara puasa padahal siang bisa beberapa hari, bagaimana puasanya? Ya tidak harus tiga hari puasa, tapi ikut negara yang lebih dekat.
Yang normal-normal saja. tidak sampai melebihi 24 jam. Kalau melebihi 12 jam ada.

Walhasil, lakukan sesuai kemampuan. Bukan tidak wajib puasa.

Ayo Ngaji tapi Beradab

Saya ingat pesan Habib Taufiq, ayo kita ngaji dan cari ilmu tapi beradab. Jangan sedikit-sedikit debatan dan cari ‘illat.
Memakai al-hukm yaduru ma’a al-‘illah.
Sekarang zamannya toleransi, situ beri tahniah kita harus membalas natalan, apalagi ikut di gereja. Alumni Santri Sarang ada yang ke gereja. Na’udzubiLlah.

Ya mungkin ada udzurnya dia sebagai ketua FKUB. Tapi kan kalau bisa jangan pakai peci dan sarung, memalukan.
Kok akrab dengan orang-orang begitu, kufur, bahkan memberi dalil:

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا [مريم : 33]

Disini kan mengucapkan salam, bukan jadi hari raya. Masa’ ada hari raya memperingati hari kebangkitan? kan tidak ada. Kalau orang Kristen membuat hari raya kematian Isa itu mempermalukan mereka sendiri. Kematian kok diperingati ramai-ramai? Kalau kita akidahnya Nabi Isa belum mati.

Jadi saya ulangi lagi, Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama itu ummi bikinan Allah dan mukjizat bagi Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.
Sudah diserahkan saja sama Al-Quran, tidak boleh ragu sama sekali.
Hadits saja apalagi Hadits Permulaan Wahyu ini sangat penting. Kita camkan, kita yakini. Bukan kita taklid buta, tapi masalahnya ini dari Shahih Bukhari yang adalah kitab pilihan.

Bukan seperti di videonya Buya Syakur bahwa Bukhari haditsnya berapa ribu, meneliti 16 tahun, berarti setiap hadits begini begini. Bukan begitu.
Hadits Bukhari itu banyak yang matannya terulang-ulang, sanadnya banyak.
Bukannya tiap hadits itu berapa menit, berapa hari. Bukan begitu. Ada yang terulang-ulang, tinggal meneliti sanadnya saja.

Saudara-saudara sekalian. Cukup yang ummi, artinya memang itu sifat Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.
Ada yang saking senengnya kepada Kanjeng Nabi lalu mengatakan nabi bukan ummi. Sudah bisa baca. Awalnya tidak tapi sebelum wafat bisa.

Buktinya Kanjeng Nabi pernah menghapus dan mengganti tulisan, berarti Kanjeng Nabi bisa menulis.
Kanjeng Nabi aslinya tidak bisa menulis, tapi waktu itu diberi mukjizat bisa menulis.
Semua mukjizat. Kanjeng Nabi bisa nulis ya mukjizat karena aslinya tidak bisa menulis,
Kanjeng Nabi begini-begini juga mukjizat karena manusia yang paling utama.
Dia menanggapi Ahmad Muwafiq bahwa Kanjeng Nabi rembes dan sudah saya tolak bahwa tidak pernah Kanjeng Nabi rembes. Lahir langsung bersih.
Tiap hari bangun tidur langsung bersih, tertata, dan berminyak rambutnya.
Jangan dibilang waktu itu belum ada rumah sakit, toilet, masih kumuh, dan rumahnya saja berupa kemah.
Itu kan Arab Badui, tapi kalau Arab di Makkah bukan pakai kemah. Ada ahlal madar, ada ahlal wabar. Ahlal wabar itu orang Badui yang memakai kemah.
Sedangkan ahlal madar itu pakai tembok. Sudah ada tembok waktu itu.

Jadi sangat bodoh, terlalu bangga dengan modern, dan terlalu bangga dengan teknologi sekarang. Memang sekarang ini apa-apa serba cepat.

Justru cepat ini yang bikin cepat mati. Mie instan, apa-apa yang instan bikin cepat mati.
Kayak pemilihan umum hitungannya quick count, itu bikin korupsi. Bikin kebohongan yang sangat merugikan bangsa, negara, dan manusia.

Itu karena serba cepat. Mobil kamu terlalu cepat akan mudah tertabrak.
Masa’ kita bangga dengan yang serba cepat? Itu apa? Orang sekarang ke dokter langsung divonis agar bayar terus obatnya. Tidak ditelateni dulu. Itu zaman sekarang.

Ukhuwah Islamiyyah Harus Didahulukan

Ada yang tanya, sekarang ini ada istilah ukhuwah basyariyah, wathaniyyah, dan Islamiyyah.
Yang bertanya ini orang alim dan berpendidikan. Tujuannya supaya saya memberi pencerahan masyarakat awam dan anak-anak sekolah.

Untuk menjawab ini, sebetulnya sudah zahir bahwa ukhuwah imaniyyah atau Islamiyyah harus didahulukan. Bukan berarti kita mau perang dan kita senang musuhan dengan manusia atau sebangsa dan setanah air.

Masalahnya, persahabatan itu adalah jebakan atau jaringan setan. Misalnya satu kelas ada reuni berulang-ulang laki-laki dan perempuan, pacar, ketemu terus sampai tua.
Misal sebuah sekolah atau almamater mengadakan reuni dimana laki-laki dan perempuan campur.
Akhirnya pacar dengan pacar bertemu, padahal sudah punya anak. Akhirnya nostalgia lagi.

Ini jebakan setan. Baru urusan syahwat. Belum urusan pangkat, belum urusan ideologi seperti sekarang ini.
Di PBNU, orang-orang NU ikut merayakat natalan karena pertemanan.

Semboyan natal sekarang adalah persahabatan. Semua adalah sahabat. Ini jebakan.
Sekarang ada istilah “Maulid Nabi Isa” supaya umat Islam mau ke gereja, ikut misa natalan, dsb seperti yang terjadi kemarin itu.
Mereka bukan merayakan Maulid Isa sebagai nabi, tapi menuhankan. Meninju Firman Allah:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ [الإخلاص : 3]

Artinya: “Allah tidak melahirkan juga tidak dilahirkan.” (QS. Al-Ikhlash: 3)

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ [البقرة : 116]

Artinya: “Mereka berkata Allah mengambil anak. Maha Suci Allah.” (al-Baqarah: 116)

Na’udzubiLlah min dzalika. Ini jebakan dengan istilah teman, saudara sebangsa, semanusia. Kita memang saudara. Semuanya dari Adam.
Di negara yang sama pula. Tapi kalau kita sampai dibawa ke gereja, sampai ikut acara di gereja, sampai mgehormati, itu kan sana yang menang.

Kita tidak pernah mengajak mereka. Fatal lagi kalau mereka masuk ke masjid, nanti menyumbang leang-leong, biola, dan konser.
Nanti memakai lagu rohani mereka di amsjid. Wah, rusak-rusakan. Ini masalahnya karena kita dijebak dengan kemanusiaaan plus uang.
Saya sudah lama tahu, hari-hari akhir Desember dan awal Januairi banyak orang-orang NU belanja di mall. Di Ada Pati, Bravo Tuban, dst.

Saya sering lihat mereka belanja besar-besaran, karena dapat uang.
Mereka mengharap uang. Said Aqil saja mengadu karena tidak dapat 1.7 T yang dijanjikan Sri Mulyani. Berarti ini fitnah besar.
Kita dijebak dengan istilah persaudaraan dan uang. Ini lebih bahaya lagi. Fitnatu ummati al maal, fitnah umatku adalah harta. Padahal harta yang tidak seberapa, dan itu jelas banyak haramnya.
Uang dari bunga. Dari Ford Foundation, Asia Foundation, Shimon Perez, dll.
Saya pernah dengan bahwa Paus Paulus digaji dari uang khamr.
Di Italia kan banyak miras. Apalagi kita. Mungkin malah pakai sihir.

Cukup sekian. Semoga ada manfaatnya, semoga ditetapkan allah sebagai santri-santri yang setia kepada ulama,
Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, Al-Quran,
apalagi kepada Allah. Yang selain santri bisa meniru santri dalam hal ini.
Perbanyak ngaji kitab-kitab yang banyak hadits Shahihnya, apalagi dari Al-Quran biar kita tambah imanya ,
tapi juga tidak melupakan kitab – kitab fiqih karya ulama,
karena sampe sekarang masih dibutuhkan untuk menjawab beberapa masalah yang belum terjawab

Team Penulis
Ribath Darushohihain

Post Author: ribathdarushohihain

One Reply to “TANGGAPAN SYAIKH MUHAMMAD NAJIH TERHADAP PERNYATAAN BUYA SYAKUR DI MEDIA SOSIAL”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons