Site Loader
Toko Kitab

Banyak sekali para penggemar Ahmad Muwafiq yang tetap bersikukuh bahwa apa yang dikatakan Muwafiq adalah pernyataan yang benar dan tendensius dengan menyertakan dalil yang sangat jauh sekali dari alur pembahasan dan tidak jujur dalam mengutip dalil. Dalil yang mereka jadikan tendensi hampir semua mengenai riwayat yang mengatakan bahwa nabi pernah menderita رمد (sakit mata) seperti yang terdapat pada kitab as-Siroh al-Halabiyah (Juz: 3, hal: 487) dan Subulul Huda Wa ar-Rasyad (juz:2, hal:134). Ibarot semacam ini kemudian diplintir demi melegitimasi ucapan Muwafiq yang menghina Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan mengatakan bahwa masa kecil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam “rembes” (dekil) dan tidak terurus karena diasuh oleh sang kakek semenjak usia enam tahun.
Perlu kami sampaikan bahwa banyak dari pemuja Muwafiq yang tidak jujur dalam mengutip dalil. Riwayat-riwayat yang tertera pada kitab-kitab di atas memang menerangkan bahwa nabi shallallahu alaihi wasallam pada saat dirawat oleh Abdul Mutthalib pernah terserang ) رمدsakit mata bukan rembes, karena kalau rembes itu bahasa arabnya رمص), sehingga kemudian sang kakek Abdul Mutthalib disarankan untuk pergi ke ‘ukadh menemui salah satu rahib yang terkenal mampu mengobati penyakit mata, namun oleh rahib malah disarankan untuk mengobatinya sendiri dengan ludah mulia Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam. Ini bukan berarti nabi dalam keadaan rembes dan tak terurus tapi memang pada saat itu di makkah sedang mengalami cuaca yang panas. Hal ini dibuktikan dengan adanya orang-orang yang meminta berkah doa kepada Abdul Mutthalib agar segera diturunkan hujan.
في جهد وجدب وقد سقى الله الناس بعبدالمطلب فاقصدوه لعله يسأل الله تعالى فيكم فقدموا مكة ودخلوا على عبدالمطلب فحيوه بالسلام فقال لهم أفلحت الوجوه وقام خطيبهم فقال قد أصابتنا سنون مجدبات وقد بان لنا أثرك وصح عندنا خبرك فاشفع لنا عند من شفعك وأجرى الغمام لك فقال عبدالمطلب سمعا وطاعة موعدكم غدا عرفات ثم أصبح غاديا إليها وخرج معه الناس وولده ومعه رسول الله صلى الله عليه وسلم فنصب لعبدالمطلب كرسي فجلس عليه وأخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم فوضعه في حجره ثم قام عبدالمطلب ورفع يديه ثم قال اللهم رب البرق الخاطف والرعد القاصف رب الأرباب وملين الصعاب هذه قيس ومضر من خير البشر قد شعثت رؤوسها وحدبت ظهورها تشكوا إليك شدة الهزال وذهاب النفوس والأموال اللهم فأتح لهم سحابا خوارة وسماء خرارة لتضحك أرضهم ويزول ضرهم فما استتم كلامه حتى نشأت سحابة دكناء لها دوى وقصدت نحو عبدالمطلب ثم قصدت نحو بلادهم فقال عبدالمطلب يا معشر قيس ومضر انصرفوا فقد سقيتم فرجعوا وقد سقوا. (السيرة الحلبية – 1 / 183)
Artinya: …. Pembicara mereka berdiri lalu berkata, “Kami mengalami paceklik selama bertahun-tahun. Kami tahu dengan jelas rekam jejak Anda dan kami paham betul kabar tentang Anda. Karena itu, doakanlah syafa’at kepada kami dari Tuhan yang memberi syafa’at kepada Anda dan menggerakkan mendung kepada Anda.” Lalu Abdul Mutthalib menjawab, “Baiklah, besok tempat perjanjian kita di Arafah.” Kemudian Abdul Mutthalib pagi-pagi sekali menuju Arafah bersama orang-orang, anaknya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama. diberikan kursi kepada Abdul Mutthalib, kemudian Abdul Muttalib duduk di atas kursi seraya mengangkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama untuk diletakkan dipangkuannya. lalu beliau berdoa, …. (Ali Burhanuddin Halabi, al-Sirah al-Halabiyyah, juz 1 hlm. 183)
Justru peristiwa ini menunjukkan Irhas serta tanda kenabian yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sejak lahir.
Kata rembes dan tak terurus juga sangat tidak pantas bahkan keji sekali jika disematkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena arti dari rembes (bunyi huruf e pada kata ini sama bunyinya dengan huruf e ketika mengucapkan kata resiko) dalam bahasa jawa mempunyai arti keadaan anak kecil yang ingusan atau beringus (jorok). Orang jawa biasanya menyebut anak kecil yang beringus sehingga ingusnya berada di hidung dan mengotori sekitar hidung dengan kata rembes. Arti lain dari kata ini ialah keadaan orang yang belum mandi sehingga ada kotoran entah karena liur atau ada kotoran di mata dan penampilan yang semrawut. Semua makna ini jelas sekali bertentangan dengan penjelasan para ulama dalam menerangkan keadaan nabi semasa kecil. Nabi dilahirkan disertai dengan cahaya yang terang dan dalam keadaan bersih tanpa ada kotoran sedikitpun, berkhitan dan bercelak:
وولد صلى الله عليه وسلم معذورا مسرورا أي مختونا مقطوع السرة ووقع إلى الارض مقبوضة اصابع يده مشيرا بالسباحة كالمسبح بها. (عيون الاثر في فنون المغازي والشمائل والسير, 1 / 43)
Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama dilahirkan dalam kondisi sudah dikhitan dan dipotong tali pusarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama terbaring di bumi dengan jari-jari tangan menggenggam dan jari telunjuknya mengarah seperti orang yang membaca tasbih (tasyahhud). (Ibn Sayyidinnas, ‘Uyun al-Atsar fi Funun al-Maghazi wa al-Syamail wa-Siyar, juz 1 hlm 43)
وكان النبي صلى الله عليه وسلم قد ولد مختونا مقطوع السرة وروى عن أمه آمنة أنها قالت ولدته نظيفا ما به قذر. ( الشفا بتعريف حقوق المصطفى :1\66)
Artinya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama dilahirkan dalam kondisi sudah dikhitan dan dipotong tali pusarnya. Diriwayatkan dari ibunya yakni sayyidah Aminah bahwa ia berkata, “Aku telah melahirkannya dalam kondisi bersih dan tidak ada kotoran sama sekali. (Imam al-Qodhi ‘Iyadh, as-Shifaa, Juz 1 hlm 66).
وعن همام بن يحيى عن إسحاق بن عبد الله أن أم رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت: لما ولدته خرج من فرجي نور أضاع له قصور الشام, فولدته نظيفا ما به قذر, رواه ابن سعد والى هذا أشار العباس بن عبد المطلب في شعره، حيث قال:
أنت لما ولدت أشرقت ال … أرض وضاءت بنورك الأفق
فنحن فى ذاك الضياء وفى النو … ر وسبل الرشاد نخترق
قال فى اللطائف: «وخروج هذا النور عند وضعه، وإشارة إلى ما يجىء به من النور الذى اهتدى به أهل الأرض، وزال به ظلمة الشرك. قال تعالى: قَدْ جاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتابٌ مُبِينٌ (١٥) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُماتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ «٢» الآية، وأما إضاءة قصور بصرى بالنور الذى خرج معه فهو إشارة إلى ما خص الشام من نور نبوته، فإنها دار ملكه- كما ذكر كعب: أن فى الكتب السالفة: محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم- مولده بمكة ومهاجره بيثرب وملكه بالشام- فمن مكة بدت نبوة نبينا عليه الصلاة والسلام-، وإلى الشام انتهى ملكه، (المواهب اللدنية, 1\128)
Artinya: dari Hammam bin Yahya, dari Ishaq bin Abdullah, bahwa ibu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama berkata, “Ketika saya melahirkan Nabi Muhammad keluar dari arah kemaluanku cahaya yang menyinari istana-istana Syam, lalu saya melahirkannya dalam keadaan bersih dan tidak ada kotoran sama sekali.” … Ibn Jauzi dalam Lathaif al-Ma’arif mengatakan, “Keluarnya cahaya ini ketika melahirkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama adalah isyarah terhadap cahaya yang memberi petunjuk kepada penduduk bumi dan menghilangkan kegelapan syirik.” … Adapun bersinarnya istana-istana Bushra dengan cahaya yang keluar bersama kelahiran Rasulullah adalah isyarah khusus kepada Syam dari cahaya kenabian beliau karena Syam akan menjadi daerah kekuasaannya. (Syihabuddin Qasthalani, al-Mawahib al-Laduniyyah, juz 1 hlm. 128)
أنّها قالت: ولدته نظيفا) أي نقيا (ما به قذر) بفتحتين أي وسخ ودرن كذا رواه ابن سعد في طبقاته وروي أنه ولدته أمه بغير دم ولا وجع. (شرح المواهب, 1\128)
Artinya: (sayyidah Aminah berkata: Saya melahirkannya dalam kondisi نَظِيْف) yakni نَقِيّ/bersih (dan tidak ada قَذَر) dengan dua fathah yakni kotoran dan debu seperti riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat. Diriwayatkan juga bahwa Aminah melahirkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama tanpa ada darah maupun air ketuban. (Qadli Iyadl, Syarh al-Syifa, juz 1 hlm. 173)
Ketika dalam asuhan Abdul Mutthalib keadaan nabi pun sangat sehat dan kuat, kehadiran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun sangat dimuliakan oleh sang kakek, bahkan Abdul Mutthalib sangat peduli, memberi perhatian lebih dan lebih mengutamakan nabi dari pada putranya sendiri:
قال في تاريخ الخميس: روى نافع بن جبير: أنه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم مع أمه آمنة بعد رد حليمة إياه لها، فلما توفيت، ضمه وكفله جده عبد المطلب، ورق عليه رقة لم يرقها على ولده، وكان يقربه منه ويدخل عليه إذا خلا وإذا نام، وكان يجلس على فراشه، وكان أولاده لا يجلسون عليه.
Artinya: Husain Bakri dalam Tarikh al-Khamis berkata: Nafi’ bin Jubair meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama sang ibu lagi yakni sayyidah Aminah setelah sayyidah Halimah memberikan kembali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadanya. Maka ketika sayyidah Aminah wafat, Rasulullah lalu diasuh oleh kakeknya Abdul Mutthalib. Beliau sangat sayang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melebihi sayangnya kepada anak-anaknya. Abdul Mutthali: 97 ، 98]\nArtinya: “ Katakanlah, barang siapa yang menjadi musuh jibril, maka Jibril telah menurunkannya (al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah: membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasulnya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 97-98).\nحدثنا مكي بن إبراهيم قال حدثنا يزيد بن أبي عبيد عن سلمة قال: سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول: من يقل عليَّ ما لم أقل فليتبوأ مقعده من النار . (صحيح البخاري – البغا: 1 / 52)\nArtinya: “ Barang siapa berkata tentangku yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari: 109).\nPernyataan dari Muwafiq mengenai malaikat Jibril yang membuat kami sangat ingkar ialah saat ia menceritakan bahwa Rasulullah pada peristiwa itu sangat ketakutan sebab melihat wujud jin atau dedemit yang tinggi, besar, hitam. Tidak mungkin Rasulullah takut melihat jin, karena pada zaman dahulu orang arab tidak ada yang takut jin, bahkan orang arab selalu membawa pedang untuk menebas setiap ada yang mengusik mereka termasuk gangguan dari jin. Menurut kami Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada peristiwa itu mungkin memang merasa ketakutan, namun ketakutan beliau sama sekali tidak seperti apa yang digambarkan Muwafiq dalam ceramahnya. Rasulullah merasa takut jika yang mendatanginya adalah jin bukan malaikat Jibril dan yang disampaikan bukanlah wahyu dari Allah. Ulama berbeda pendapat dalam menafsiri ketakutan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada peristiwa ini. Semua penafsiran tidak ada yang sama dengan perkataan Muwafiq. Semua penafsiran tersebut telah dijelaskan sebagaimana berikut:\nقوله لقد خشيت على نفسي دل هذا مع قوله يرجف فؤاده على انفعال حصل له من مجيء الملك ومن ثم قال زملوني والخشية المذكورة اختلف العلماء في المراد بها على اثني عشر قولا أولها الجنون وأن يكون ما رآه من جنس الكهانة جاء مصرحا به في عدة طرق وأبطله أبو بكر بن العربي وحق له أن يبطل لكن حمله الإسماعيلي على أن ذلك حصل له قبل حصول العلم الضرورى له أن الذي جاءه ملك وأنه من عند الله تعالى ثانيها الهاجس وهو باطل أيضا لأنه لا يستقر وهذا استقر وحصلت بينهما المراجعة ثالثها الموت من شدة الرعب رابعها المرض وقد جزم به بن أبي جمرة خامسها دوام المرض سادسها العجز عن حمل اعباء النبوة سابعها العجز عن النظر إلى الملك من الرعب ثامنها عدم الصبر على أذى قومه تاسعها أن يقتلوه عاشرها مفارقة الوطن حادى عشرها تكذيبهم إياه ثاني عشرها تعييرهم إياه وأولى هذه الأقوال بالصواب وأسلمها من الارتياب الثالث واللذان بعده وما عداها فهو معترض والله الموفق (فتح الباري – ابن حجر : 1\\24)\nArtinya: “Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan kata al khasyyah. Pertama, gila (al junun), karena yang dilihat oleh Nabi adalah sesuatu yang aneh dan mengejutkan, sebagaimana dikatakan Isma’ili, bahwa hal ini terjadi sedang nabi belum mengetahui hakikat malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepadanya, dan pendapat ini ditentang oleh Abu Bakar bin Arabi. Kedua, kecemasan, dan pendapat ini tidak benar. Ketiga. kematian karena nabi benar-benar ketakutan. Keempat, sakit sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Hamzah. Kelima, sakit terus menerus. Keenam, ketidakmampuan untuk memegang amanah kenabian. Ketujuh, ketidakmampuan melihat bentuk malaikat. Kedelapan, tidak memiliki kesabaran atas siksaan dari orangorang kafir Kesembilan, mereka akan membunuh Nabi. Kesepuluh, meninggalkan tanah airnya. Kesebelas, kedustaan mereka terhadap nabi. Keduabelas, cemoohan mereka kepada Nabi. Akan tetapi arti yang paling benar adalah arti yang ketiga (ketakutan), keempat (sakit) dan kelima (sakit terus menerus). (Ibnu Hajar, Fath al-Bari juz 1 hlm 24 ).\nMuwafiq telah bertindak ngawur karena menyamakan malaikat yang agung dengan makhluk yang rendah. Apakah Muwafiq yang mengaku biasa baca kitab kuning tidak tahu bahwa hukum merendahkan malaikat atau menjadikannya bahan tertawaan itu bisa menyebabkan kemurtadan?\n“من سبّ نبياً أو ملكاً أو عرّض به أو لعنه أو عابه أو قذفه أو استخف بحقه وما أشبه فإنه يقتل ولا يستتاب. ولا تقبل منه التوبة لو أعلنها ولو جاء تائباً قبل أن يطلع عليه، لان القتل في هذه الحالة حد خاص وإن كان يدخل تحت الردة”. “التشريع الجنائي” لعبد القادر عودة -2/724(\nArtinya: Barangsiapa menghina nabi atau malaikat, menyindir, melaknat, menghujat, meremehkan haknya, dan lain-lain, maka dia dibunuh dan tidak dimintai pertaubatan dulu karena tidak diterima taubatnya. (Abdul Qadir Audah, al-Tasyri’ al-Janai, juz 2 hlm. 724)\nقوله : ( أو كذب رسولا ) بخلاف من كذب عليه فلا يكون كفرا بل كبيرة فقط ا هـ ع ش .فرع : لو ادعى أن النبي يسلم عليه لم يكفر ؛ لأن غايته أنه يدعي أن النبي راض عليه وهذا لا يقتضي الكفر فإن كان صادقا فذاك ظاهر ، وإلا فهو مجرد كذب ولو ادعى أنه يوحى إليه وإن لم يدع النبوة أو ادعى أنه يدخل الجنة ويأكل من ثمارها وأنه يعانق الحور العين فهذا كفر بالإجماع كما في شرح الحصني .والأنبياء الذين يجب الإيمان بهم تفصيلا خمسة وعشرون نظمها بعضهم بقوله : حتم على كل ذي التكليف معرفة ؛ لأنبياء على التفضيل قد علموا في تلك حجتنا منهم ثمانية من بعد عشر ويبقى سبعة وهمو إدريس هود شعيب صالح وكذا ذو الكفل آدم بالمختار قد ختموا قوله : ( أو سبه ) أو قصد تحقيره ولو بتصغير اسمه أو سب الملائكة أو ضلل الأمة (حاشية البجيرمي على الخطيب – 12 / 407)\nArtinya: “(Termasuk murtad adalah menistakan Rasul) atau bermaksud merendahkan walaupun dengan mentashgir namanya, atau menista malaikat, atau menganggap umat sesat.” (Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyah ‘ala Mughni al-Muhtaj, juz 12 hlm. 307)\n( قَوْلُهُ أَوْ تَكْذِيبِهِ ) أَيْ ، وَلَوْ فِي غَيْرِ النُّبُوَّةِ ، وَمِثْلُ تَكْذِيبِهِ مَا لَوْ قَصَدَ تَحْقِيرَهُ ، وَلَوْ بِتَصْغِيرِ اسْمِهِ أَوْ سَبِّهِ أَوْ سَبِّ الْمَلَائِكَةِ أَوْ صَدَّقَ مُدَّعِي النُّبُوَّةِ أَوْ ضَلَّلَ الْأُمَّةَ أَوْ كَفَّرَ الصَّحَابَةَ أَوْ أَنْكَرَ غَيْرُ جَاهِلٍ مَعْذُورٍ الْبَعْثَ أَوْ مَكَّةَ أَوْ الْكَعْبَةَ أَوْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ أَوْ الْجَنَّةَ أَوْ النَّارَ أَوْ الْحِسَابَ أَوْ الثَّوَابَ أَوْ الْعِقَابَ . (حاشية الجمل – 21 / 57)\nArtinya: Seperti halnya mendustakan nabi adalah berniat merendahkan nabi walaupun dengan mentashghir namanya, menistakan nabi atau malaikat. (Sulaiman Jamal, Hasyiyah ‘ala Manhaj al-Thullab, juz 21 hlm. 57)\nوَيَكْفُرُ بِقَوْلِهِ لِلْقَبِيحِ إنَّهُ حَسَنٌ وَبِقَوْلِهِ لِغَيْرِهِ رُؤْيَتِي إيَّاكَ كَرُؤْيَةِ مَلَكِ الْمَوْتِ عِنْدَ الْبَعْضِ خِلَافًا لِلْأَكْثَرِ وَقِيلَ بِهِ إنْ قَالَهُ لِعَدَاوَتِهِ لَا لِكَرَاهَةِ الْمَوْتِ وَبِقَوْلِهِ لَا أَسْمَعُ شَهَادَةَ فُلَانٍ وَإِنْ كان جِبْرِيلُ أو مِيكَائِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَبِعَيْبِهِ مَلَكًا من الْمَلَائِكَةِ أو الِاسْتِخْفَافِ بِهِ لَا بِقَوْلِهِ أنا أَظُنُّ أَنَّ مَلَكَ الْمَوْتِ تُوُفِّيَ وَلَا يَقْبِضُ رُوحِي مَجَازًا عن طُولِ عُمْرِهِ إلَّا أَنْ يَعْنِيَ بِهِ الْعَجْزَ عن تَوَفِّيهِ (البحر الرائق – 5 / 131)\nArtinya: Dan kafir hukumnya orang yang mencela malaikat atau meremehkannya. (Ibn Nujaim, al-Bahr al-Raiq, juz 5 hlm. 131)\n( وَإِنْ سَبَّ نَبِيًّا أَوْ مَلَكًا أَوْ عَرَّضَ أَوْ لَعَنَهُ أَوْ عَابَهُ أَوْ قَذَفَهُ أَوْ اسْتَخَفَّ بِحَقِّهِ أَوْ غَيَّرَ صِفَتَهُ أَوْ أَلْحَقَ بِهِ نَقْصًا وَإِنْ فِي بَدَنِهِ أَوْ خَصْلَتِهِ أَوْ غَضَّ مِنْ رُتْبَتِهِ أَوْ وَفَوْرِ عِلْمِهِ أَوْ زُهْدِهِ أَوْ أَضَافَ إلَيْهِ مَا لَا يَجُوزُ عَلَيْهِ أَوْ نَسَبَ إلَيْهِ مَا لَا يَلِيقُ بِمَنْصِبِهِ عَلَى طَرِيقِ الذَّمِّ أَوْ قِيلَ لَهُ بِحَقِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَعَنَ وَقَالَ : أَرَدْت الْعَقْرَبَ قُتِلَ وَلَمْ يُسْتَتَبْ حَدًّا ) عِيَاضٌ . (التاج والإكليل – 12 / 70)\nArtinya: Barangsiapa menista nabi atau malaikat, menyindir, melaknat, mencela, menuduh, meremehkan haknya, merubah sifatnya, meletakkan kekurangan baik pada fisik maupun karakternya, mengingkari kedudukan, kelangsungan ilmu, maupun kezuhudannya, menyandarkan sesuatu yang tidak boleh kepadanya, menisbat suatu yang tidak sesuai dengan kedudukannya karena ingin mencela, atau diucapkan kepada nabi, “Demi hak Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama,” lalu ia melaknatnya lalu ia berkilah dengan mengatakan, “Yang saya maksud itu kalajengking,” maka orang tersebut dibunuh dan tidak disuruh bertaubat karena pidana had. (Muhammad bin Yusuf, al-Taj wa al-Iklil, juz 12 hlm. 70)\nفمتى ادعى النبوة او سب الله او رسوله او جحده او صفة من صفاته او كتابا او رسولا او ملكا او احدى العبادات الخمس او حكما ظاهرا مجمعا عليه كفر فيستتاب ثلاثة ايام فإن لم يتب قتل (أخصر المختصرات – 1 / 254)\nArtinya: Ketika seseorang mendakwa kenabian atau menista Allah, Rasul-Nya, mengingkarinya atau sebagian sifatnya, mencela kitab-Nya, utusan-Nya, malaikat, salah satu ibadah lima, atau hukum zahir yang disepakati, maka dia kafir lalu disuruh bertaubat selama tiga hari. Jika dia tidak bertaubat maka dibunuh. (Abdullah Ibn Jabrain, Akhshar al-Mukhtasharat, juz 1 hlm. 254)\nWaroqoh bin Naufal adalah seorang yang alim dan mampu menterjemahkan taurat dan injil ke dalam bahasa arab. Waroqoh bin Naufal juga paham akan datangnya nabi akhir zaman jadi tidak mungkin kaget apalagi sampai terjengkang (jawa; nggeblak) seperti tuduhan Muwafiq. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri melarang mencela Waroqoh bin Naufal:\n( لا تسبوا ورقة بن نوفل فاني قد رايت له جنة أو جنتين ) قال العراقي شاهد لما قاله جمع انه اسلم عند ابتداء الوحي . )التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – (2 / 953)\nArtinya: “Janganlah mencela Waraqah bin Naufal karena saya melihat baginya satu surga atau dua surga.” al-Iraqi berkata, “Hadits ini menguatkan hadits lain yang disampaikan oleh beberapa ulam bahwa Waraqah masuk Islam pada permulaan turunnya wahyu.” (al-Munawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2 hlm. 953)\nوأخبرنا أبو جعفر بن السمين بإسناده عن يونس بن بكير عن هشام بن عروة عن أبيه قال : ساب أخ لورقة رجلا فتناول الرجل ورقة فسبه فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه و سلم فقال لأخيه : هل علمت أني رأيت لورقة جنة أو جنتين فنهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن سبه. )أسد الغابة ,1 / 1107)\nArtinya: “Janganlah mencela Waraqah bin Naufal karena saya melihat baginya satu surga atau dua surga.” al-Iraqi berkata, “Hadits ini menguatkan hadits lain yang disampaikan oleh beberapa ulama bahwa Waraqah masuk Islam pada permulaan turunnya wahyu.” (al-Munawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2 hlm. 953)\nUcapan keji dari Muwafiq yang lain adalah mengatakan nabi Sulaiman alaihi assalam berbicara pada angin kentut yang kemudian membuat semua hadirin tertawa terbahak-bahak. Dalam ceramahnya yang lain Muwafiq menjelaskan bahwa dalam madzab Maliki kentut tidaklah membatalkan wudu. Ini semakin menunjukkan bahwa selain ia tak paham sejarah, ia juga tidak paham ilmu fiqih.\nالخارج المعتاد من السبيلين وهو البول والغائط ينقض الوضوء بالإجماع, وأما النادر كالدود من الدبر والريح من القبل والحصاة والإستحاضة والمذي ينقض أيضا إلا عند مالك. )رحمة الأمة في اختلاف الأئمة (ص: 12)\nArtinya: “perkara yang biasa keluar dari dua jalan (air kencing dan tahi) secara ijma’ membatalkan wudu”. (Muhammad bin Abdurahman, Rohmat al-Ummah hlm 12)\nالثاني البول الثالث الريح الخارج من الدبر خلافا ش في اعتباره الخارج من الذكر وفرج المرأة وإن كان نادرا.(الذخيرة للقرافي ,ج:1, ص:212)\nArtinya: kedua adalah kencing, ketiga adalah angin yang keluar dari dubur…..(al-Qarafi, al-Dakhiroh juz 1 hlm 212)\nوقد أجمعوا على أن الريح الخارجة من الدبر حدث يوجب الوضوء واجتمعوا على أن الجشاء ليس فيه وضوء بإجماع وقد أجمعوا على أن الريح الخارجة من الدبر حدث فدل ذلك على مراعاة المخرجين فقط. (الاستذكار, 1\\157)\nArtinya: “Dan semua ulama menyatakan ijma’ mengenai angin yang keluar dari dubur adalah hadas yang mewajibkan wudu…(ِAbu Yusuf al-Qurthubi, al-istidzkar juz 1 hlm 157)\nقال ابن المنذر أجمعوا أنه ينتقض بخروج الغائط من الدبر والبول من القبل والريح من الدبر. (المجموع شرح المهذب ج: 2, ص:6)\nArtinya: “Ibnu Mundzir berkata: ulama telah menyatakan ijma’nya mengenai wudlu yang batal disebabkan keluarnya tahi dari dubur, kencing dari qubul dan angin dari dubur.” (an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh Muhadzab juz 2 hlm 6).\nSemua pemikiran dan pernyataan sesat Muwafiq CS merupakan benih-benih pemikiran wahhabi, mu’tazilah, syiah bahkan benih dari pemikiran kristen, komunis, dan atheis, juga salah satu proyek besar dari musuh-musuh islam untuk Indonesia. Bungkamnya ormas-ormas islam lebih-lebih pemerintah Indonesia atas genosida yang dilakukan oleh China terhadap etnis muslim Uyghur dengan alasan memerangi radikalisme dan ekstrimisme (sama seperti isu yang selalu digoreng di negeri ini) dan penolakan Presiden kepada delegasi Uyghur dengan alasan tidak ingin menyakiti hati Pemerintah China sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Salim Said semakin menguatkan dugaan bahwa China komunis sudah mendikte dan menjajah negeri ini lewat para makelarnya seperti jaringan IsNus (islam Nusantara), Said Aqil, para pejabat dan para taipan. Tentunya dengan sokongan dana yang sangat besar, baik dengan dalih investasi, beasiswa, kerjasama atau yang masuk ke kantong pribadi. Mulai dari maraknya penistaan agama di negeri ini dan tidak adanya pernyataan atau tanggapan secara resmi baik dari ormas-ormas islam atau pemerintah terkait hal tersebut, lemahnya penanganan kasus penistaan agama islam, hingga bungkamnya mereka atas genosida etnis muslim Uyghur, bahkan sampai ada yang membela tindakan pemerintah China tersebut. apakah semua ini ada hubungannya?. Waallahu a’lam.\nDi China, kamp konsentrasi untuk muslim Uyghur disebut program deradikalisasi. Sebagai contoh, Warga Uyghur yang ketahuan berdoa atau mendownload Al-Qur’an digital ditangkap kemudian dicuci otaknya agar meninggalkan agamanya. Seharusnya pemerintah China menangkap dan memproses para aktifis radikalis saja, bukan menangkap dan mengadili muslim Uyghur secara umum (bukan berarti kami anti radikalis namun Radikal itu harus melihat kondisi, tempat dan waktu, jangan sampai berbuat Radikal terhadap kaum kuffar yang justru berakibat menyengsarakan atau bahkan melenyapkan umat Islam/ bangsanya sendiri). Memang ada proyek besar-besaran untuk pembunuhan masal terhadap umat islam di seluruh dunia, seperti kasus muslim Rohingya, menangkap dan mengadili umat islam dengan tuduhan radikal, seperti yang terjadi di negara-negara di Timur Tengah, meninggalnya hampir 700 petugas KPPS pada pilpres 2019. Maraknya makanan-makanan yang mengandung kimia, minyak babi, juga bagian dari misi tersebut. Teroris Radikalis sengaja dimunculkan untuk menuduh umat islam sebagaimana yang dialami oleh muslimin Kashmir Burma membantai muslim Myanmar dan Israel membantai muslimin Gaza setelah itu Islam di cap sebagai agama teroris. Di Indonesia, program deradikalisasi merupakan semacam proses penghapusan sejarah, khilafah dan jihad, pengawasan majlis ta’lim, khutbah jum’at dan para ulama, kiai, ustadz dan da’i muslim. Di negara yang mayoritas muslim seperti Indonesia, rezim akan bermain sangat hati-hati mulai dari penghapusan sejarah Islam, membiarkan penista agama, membatasi dan mengawasi kegiatan islami, menggulirkan isu-isu sensitif terkait keislaman seperti permasalahan azan, shalat jamaah di masjid, jum’atan dan pengajaran ilmu agama. Namun kalau umat Islam Indonesia diam dan tidak berani untuk melawan, maka deradikalisasi di Indonesia bisa sampai level ekstrim sebagaimana yang dialami umat Islam minoritas di beberapa negara seperti Myanmar, India, China, New Zealand, Amerika, Australia dll.\nBelakangan ini, Kementerian Agama Republik Indonesia menghapus pelajaran sejarah Islam yang di dalamnya ada khilafah, imamah dan jihad yang telah diajarkan sejak dahulu. Alasannya tak ada lain selain meminimalisir pemikiran dan tindakan radikal. Jelas alasan itu mengada-ada karena sejarah merupakan fakta, tergantung penafsiran orang yang menyampaikannya yang terindikasi teroris dan radikalis. Merekalah yang sebetulnya perlu ditindaklanjuti bukan pelajarannya yang dihapus. Indonesia merdeka melalui resolusi jihad. Dengan semangat fisabilillah dan pengabdian yang tinggi dari para ulama dan santri yang berjuang pada saat itu, untuk merebut kemerdekaan yang dinikmati sampai saat ini. Jadi indonesia ini tidak akan pernah ada kalau tidak ada seruan resolusi jihad yang dikenal dengan Hari Pahlawan 10 Nopember. Bagaimanapun, kebijakan yang tidak bijak itu hanya menunjukkan bahwa mereka gagal paham soal khilafah dan jihad, karena mengira tak ada bedanya antara khilafah yang dipelajari di madrasah-madrasah itu dengan pemahaman khilafah versi ISIS. Padahal, khilafah yang dipelajari di madrasah-madrasah atau di seluruh pesantren di Indonesia ini adalah Khulafaur Rasyidin dan pemerintahan Islam setelahnya. Itu pun telah dipelajari sejak dahulu, bahkan sebelum Indonesia ini berdiri. Dan buktinya selama itu aman-aman saja. Jika seandainya pemahaman khilafah dan jihad di sini sama dengan versi ISIS, tentu Indonesia tidak akan pernah damai, dan mungkin Indonesia itu sendiri tidak akan pernah ada.\nGerakan-gerakan di atas tidak lain datang dari para musuh Islam. Musuh-musuh ini sangat paham bahwa umat Islam tidak akan mungkin bisa dihancurkan dengan cara menyerang langsung Nabi shollalloohu \’alaihi wassalam. Karena bagi muslimin, apapun madzhab dan golongannya bahkan aliran sesat sekalipun, akan sangat marah dan siap bersimbah darah untuk membela Nabi tercinta.\nKarenanya yang mereka lakukan adalah melakukan tahapan-tahapan strategi yang sebenarnya usang tapi sangat mematikan. Sedikit demi sedikit menjauhkan umat ini dari kecintaan kepada Nabinya, tanpa sedikitpun mereka bisa menyadarinya.\nLangkah pertama adalah membuat suatu masyarakat antipati terhadap bangsa Rasulullah: Arab. Dibuat jargon menarik semisal Islam itu bukanlah Arab. Lalu perlahan menanamkan paham bahwa Islam kita lebih baik dari Islamnya orang Arab sebagaimana misi Islam Nusantara. Mereka akan terus mengkampanyekan Islam Nusantara sampai semua lapisan Nahdiyyin menerimanya. Said Aqil CS belum puas dengan tema Islam Nusantara pada Muktamar Jombang. Mereka menginginkan untuk mengokohkan Islam Nusantara menjadi tema di Muktamar Lampung pada bulan Oktober 2020 yang lebih dulu akan dirumuskan dan direkomendasikan lewat Munas dan Konbes NU yang rencananya akan diadakan di Sarang, Rembang pada bulan Maret 2020 nanti (semoga digagalkan Allah). Kalau ini terjadi, kami sebagai bagian dari masyayikh Sarang selamanya menolak IsNus, tidak ridlo dan tidak ikut bertanggung jawab dunia dan akhirat.\nJika rencana ini berjalan mulus, mereka akan menghembuskan kembali kebencian kepada para keturunan Rasulullah: Habaib. Dicap bahwa mereka itu hanya pendatang. Sebaik apapun, tetap bukan asli pribumi. Dikaburkanlah perjuangan dan jasa mereka untuk negeri ini, sambil sesekali diangkat data beberapa habib jika bermasalah dan dicari salahnya. Agar rasa cinta umat kepada dzurriyat Rasulullah kian memudar dan perlahan musnah. Kemudian menebarkan kebencian kepada para malaikat, anbiya’ dan para sahabat nabib berada di dekat Rasulullah dan menghampirinya ketika sendirian dan ketika tidur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di permadani Abdul Mutthalib dimana anak-anaknya tidak ada yang berani duduk di sana.
قال ابن إسحاق: حدثني العباس بن عبد الله بن معبد، عن بعض أهله قال: كان يوضع لعبد المطلب فراش في ظل الكعبة، وكان لا يجلس عليه أحد من بنيه إجلالاً له، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأتي حتى يجلس عليه، فيذهب أعمامه ليؤخروه عنه؛ فيقول عبد المطلب: دعوا ابني، ويمسح على ظهره، ويقول: إن لابني هذا شأناً؛ كذا قاله ابن الأثير في أسد الغابة.
Artinya: Ibn Ishaq berkata: Menceritakan kepadaku Abbas bin Abdullah bin Ma’bad, dari sebagian keluarganya, ia berkata: Abdul Mutthalib diberi sebuah permadani di naungan Ka’bah dan tidak ada satupun anaknya yang berani mendudukinya sebagai penghormatan kepadanya. Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama datang lalu duduk disitu, lalu paman-pamannya pun menghampiri untuk meminta Rasulullah tidak mendudukinya. Abdul Mutthalib pun berkata, “Biarkan putraku,” sembari mengusap punggung Rasulullah. “Putraku ini punya sesuatu yang besar,” lanjutnya.
وقال قوم من بني مدلج – وهم مشهورون بالقيافة – : يا عبد المطلب، احتفظ به؛ فإنا لم نر قدماً أشبه بالقدم الذي في مقام إبراهيم منه، فقال عبد المطلب لأبي طالب: اسمع ما يقول هؤلاء في ابن أخيك، وقال عبد المطلب لأم أيمن وكانت تحضنه: لا تغفلي عن ابني؛ فإن أهل الكتاب يزعمون أنه نبي هذه الأمة، وكان عبد المطلب لا يأكل طعاماً إلا قال: علي بابني، فيؤتى به إليه، فلما حضرت عبد المطلب الوفاة، أوصى به أبا طالب. (سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي- للعصامي -1 / 132)
Artinya: Abdul Mutthalib tidak makan kecuali berkata, “Datangkan putraku kesini,” hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama pun didatangkan kepadanya. Ketika Abdul Mutthalib akan wafat, beliau mewasiatkan hal tersebut kepada Abu Thalib. (Abdul Malik Ishami, Simth al-Nujum al-‘Awali fi Anba’ al-Awail wa al-Tawali, juz 1 hlm. 132)
Begitupun saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dirawat oleh pamannya Abu Thalib, Nabi selalu dimuliakan, sangat diperhatikan dan selalu dalam kondisi yang bersih dan sehat:
وَذَكَرَ كَوْنَ النّبِيّ – صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ – فِي كَفَالَةِ عَمّهِ يَكْلَؤُهُ وَيَحْفَظُهُ . فَمِنْ حِفْظِ اللّه لَهُ فِي ذَلِكَ أَنّهُ كَانَ يَتِيمًا لَيْسَ لَهُ أَبٌ يَرْحَمُهُ وَلَا أُمّ تَرْأَمُهُ لِأَنّهَا مَاتَتْ وَهُوَ صَغِيرٌ وَكَانَ عِيَالُ أَبِي طَالِبٍ ضَفَفًا ، وَعَيْشُهُمْ شَظَفًا ، فَكَانَ يُوضَعُ الطّعَامُ لَهُ وَلِلصّبْيَةِ مِنْ أَوْلَادِ أَبِي طَالِبٍ فَيَتَطَاوَلُونَ إلَيْهِ وَيَتَقَاصَرُ هُوَ وَتَمْتَدّ أَيْدِيهِمْ وَتَنْقَبِضُ يَدُهُ تَكَرّمًا مِنْهُ وَاسْتِحْيَاءً وَنَزَاهَةَ نَفْسٍ وَقَنَاعَةَ قَلْبٍ فَيُصْبِحُونَ غُمْصًا رُمْصًا ، مُصْفَرّةً أَلْوَانُهُمْ وَيُصْبِحُ هُوَ – عَلَيْهِ السّلَامُ – صَقِيلًا دَهِينًا كَأَنّهُ فِي أَنْعَمِ عَيْشٍ وَأَعَزّ كِفَايَةٍ لُطْفًا مِنْ اللّهِ – عَزّ وَجَلّ – بِهِ. (الروض الأنف 1/ 311)
Artinya: Didatangkan makanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan anak-anak Abu Thalib. Mereka pun saling berebut makanan, namun Rasulullah menahan diri dari itu. Mereka saling mengulurkan tangan, namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggenggam tangannya karena mempersilahkan, malu, perilaku yang bersih, dan hati yang terima apa adanya. Anak-anak Abu Thalib pun menjadi kotor dan belepotan warna kuning, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keadaannya bersih dan wangi seperti dalam hidup yang paling nikmat dan paling kecukupan karena kasih sayang dari Allah ‘Azza wa Jalla. (Abdurrahman Suhaili, al-Raudl al-Anf, juz 1 hlm. 311)
Sekali lagi kami tegaskan, keadaan nabi semasa kecil selalu bersih dan terawat. Nabi pernah mengalami رمد (sakit mata) tapi tidak pernah mengalami رمص (belekan; matanya mengeluarkan kotoran; rembes).
( الرمد ) داء إِلْتِهَابِيّ يصيب العين ( وعلم الرمد ) علم طب العيون تسمية له بالمرض الغالب.( المعجم الوسيط: 1 / 372).
Artinya: ar-Romad: Penyakit Infeksi atau peradangan yang menyerang mata, ilmu ar-Romad: ilmu kesehatan mata…( al-Mu’jam al-Wasith, juz 1 hlm 372)
( الرمص ) وسخ أبيض جامد يجتمع في موق العين. (المعجم الوسيط 1 / 372).
Artinya: ar-Romash: kotoran berwarna putih padat yang menumpuk di sudut mata. (al-Mu’jam al-Wasith, juz 1hlm 372).
Pernyataan lain yang lebih keji dan ngawur dari Muwafiq akhzahullahu wa ahaanahu fii ad-daaroini adalah mengandaikan jika di arab pada masa kecil nabi terdapat buah jambu maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga akan mencuri jambu pada masa kecilnya dan menganggap Rasulullah tidak bisa baca tulis karena tidak mau sekolah dan sukanya bermain-main dengan kambing saja, bahkan lancang menyebut nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sangat cerewet.
Kita harus mengimani bahwa sejak kecil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala dari segala bentuk perbuatan yang tidak terpuji. Kita lihat saja keterangan yang ada pada kitab ar-Raudh al-Unuf diatas, untuk mengambil makanan yang sudah dihidangkan saja Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merasa segan dan malu untuk mengambilnya, apalagi terbesit untuk mencuri jambu yang jelas-jelas termasuk sebuah kemaksiatan. Ini mengingatkan kami pada wejangan guru kami Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki untuk selalu benar-benar menjauhi dua hal yang sangat dibenci beliau yaitu mencuri dan berbohong.
وذكر ابن سبع في الخصائص أن حليمة قالت كنت أعطيه الثدي الأيمن فيشرب منه ثم احوله إلى الثدي الأيسر فيأبى أن يشرب منه قال بعضهم وذلك من عدله لأنه علم ان له شريكا في الرضاعة. (الخصائص الكبرى: 1 / 104)
Artinya: Ibnu Sab’in menuturkan dalam kitab al-Khashaish bahwa sayyidah Halimah berkata: aku menyusui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan ambing susu sebelah kanan, ia bersedia untuk meminumnya. Namun ketika aku ganti dengan ambing susu yang sebelah kiri, ia enggan untuk untuk meminumnya. Sebagian ulama mengatakan: Hal itu dikarenakan sifat adil yang dimiliki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Rasulullah tahu bahwa ia punya saudara sepersusuan yang biasanya meminum susu dari ambing susu sebelah kiri milik sayyidah Halimah. (as-Suyuti, al-Khashaish al-Kubro, juz 1 hlm 104).
روى إسحاق بن راهويه، وأبو يعلى، والطبراني، والبيهقي، وأبو نعيم، عن حليمة، قالت: قدمتك مكة في نسوة من بني سعد بن بكر نلتمس الرضعاء في سنة شهباء، فقدمت على أتان لي ومعي صبي لنا وشارف والله ما تبض بقطرة وما ننام ليلنا ذلك أجمع، صبينا لا يجد في ثديي ما يغنيه ولا شارفنا ما يغذيه، فقدمنا مكة، فو الله ما علمت امرأة منا إلا أخذت رضيعاً غيري. فلما لم أجد غيره، قلت لزوجي: والله، إني لأكره من بين صواحبي ليس معي رضيع، لأنطلقن إلى ذلك اليتيم، فلآخذنه، فذهبت فإذا هو مدرج في ثوب صوف أبيض من اللبن، يفوح منه المسك وتحته حريرة خضراء راقد على قفاه يغط، فأشفقت أن أيقظه من نومه لحسنه وجماله، فدنوت منه رويداً، فوضعت يدي على صدره، فتبسم ضاحكاً، وفتح عينيه لينظر إلي، فخرج من عينيه نور وصل عنان السماء وأنا أنظر، فقبلته بين عينيه، وأعطيته ثديي الأيمن، فأقبل عليه ما شاء من لبن، فحولته إلى الأيسر فأبى، وكانت تلك حاله بعد. قال أهل العلم: أعلمه الله أن له شريكاً فألهمه العدل. (سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي: 1 / 128)
Artinya: Ishaq bin Rahawaih, Abu Ali, at-Thabarani, al-Baihaqi dan Abu Nuaim meriwayatkan dari Halimah, Halimah berkata:……….maka kemudian aku menemuinya dan ia sudah dimasukkan ke dalam sebuah kain halus yang sangat putih bahkan lebih dari putihnya susu, terhembus darinya harum misik, di bawahnya beralaskan sutra hijau, ia tidur nyenyak dengan posisi telentang, aku khawatir akan membuatnya terbangun dari tidurnya karena melihat keindahan dan keelokannya. Kemudian aku mendekatinya pelan-pelan, kuletakkan tanganku di dadanya kemudian ia tersenyum manis seraya membuka kedua matanya. Dari kedua matanya terpancar cahaya terang yang sampai menyentuh langit, aku melihat peristiwa itu langsung. Kemudian aku mengecupnya diantara kedua matanya. Dan aku memberinya ambing susu sebelah kanan agar ia meminum susu darinya, ia pun meminumnya dengan lahap. Kemudian aku ganti dengan ambing susu sebelah kiri namun ia enggan untuk meminum susu darinya, dan begitulah seterusnya. Para ahli ilmu berkata: Allah subhanahu wata’ala sudah memberi tahu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa ia punya saudara sepersusuan yang biasanya minum dari payudara sebelah kiri, Allah menurunkan ilhamnya pada nabi agar berlaku adil. (al-Ishomi, Simtu an-Nujum, juz 1 hlm 128).
وَكَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ – فِيمَا ذُكِرَ لِي – يُحَدّثُ عَمّا كَانَ اللّهُ يَحْفَظُهُ بِهِ فِي صِغَرِهِ وَأَمْرِ جَاهِلِيّتِهِ أَنّهُ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتنِي فِي غِلْمَانِ قُرَيْشٍ نَنْقُلُ حِجَارَةً لِبَعْضِ مَا يَلْعَبُ بِهِ الْغِلْمَانُ كُلّنَا قَدْ تَعَرّى ، وَأَخَذَ إزَارَهُ فَجَعَلَهُ عَلَى رَقَبَتِهِ يَحْمِلُ عَلَيْهِ الْحِجَارَةَ فَإِنّي لَأُقْبِلُ مَعَهُمْ كَذَلِكَ وَأُدْبِرُ إذْ لَكَمَنِي لَاكِمٌ مَا أَرَاهُ لَكْمَةً وَجِيعَةً ثُمّ قَالَ شُدّ عَلَيْك إزَارَك ؛ قَالَ فَأَخَذْتُهُ وَشَدَدْتُهُ عَلَيّ ثُمّ جَعَلْت أَحْمِلُ الْحِجَارَةَ عَلَى رَقَبَتِي وَإِزَارِي عَلَيّ مِنْ بَيْنِ أَصْحَابِي. (سيرة ابن هشام: 1\183)
Artinya: “Ibnu Ishaq berkata bahwa seperti disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bercerita tentang perlindungan Allah kepadanya sejak masa kecilnya dari kejahiliyahan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Pada masa kecilku, aku bersama anak-anak kecil Quraisy mengangkat batu untuk satu permainan yang biasa dilakukan anak-anak. Semua dari kami telanjang dan meletakkan bajunya di pundaknya (sebagai ganjalan) untuk memikul batu. Aku maju dan mundur bersama mereka, namun tiba-tiba seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya menamparku dengan tamparan yang amat menyakitkan. la berkata, ‘Kenakan pakaianmu.’ Kemudian aku mengambil pakaianku memakainya. Setelah itu, aku memikul batu di atas pundakku dengan tetap mengenakan pakaian dan tidak seperti teman-temanku. “(Ibnu Hisyam, Sirah ibn Hisyam, juz 1 hlm 183).
وحفظه الله من كل ما قد ينحرف إليه الشبان من مظاهر اللهو والعبث. قال عليه الصلاة والسلام فيما يرويه عن نفسه: ما هممت بشيء مما كانوا في الجاهلية يعملونه غير مرتين، كل ذلك يحول الله بيني وبينه، ثم ما هممت به حتى أكرمني الله بالرسالة. قلت ليلة للغلام الذي يرعى معي بأعلى مكة: لو أبصرت لي غنمي حتى أدخل مكة وأسمر بها كما يسمر الشباب، فقال :أفعل، فخرجت حتى إذا كنت عند أول دار بمكة سمعت عزفا فقلت: ما هذا؟ فقالوا: عرس، فجلست أسمع، فضرب الله على أذني، فنمت فما أيقظني إلا حر الشمس، فعدت إلى صاحبي، فسألني فأخبرته، ثم قلت له ليلة أخرى مثل ذلك ودخلت مكة فأصابني مثل أول ليلة، ثم ما هممت بعده بسوء . (فقه السيرة للبوطي ص64-65)
Artinya: “Selama masa mudanya, Allah telah memeliharanya dari penyimpangan yang biasanya dilakukan oleh para pemuda seusianya, seperti berhura-hura dan permainan nista lainnya. Bertutur Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang dirinya :…..Aku tidak pernah menginginkan sesuatu yang biasa mereka lakukan di masa jahiliyah, kecuali dua kali. Itupun kemudian dicegah oleh Allah. Setelah itu aku tidak pernah menginginkannya sampai Allah memuliakan aku dengan risalah. Aku pernah berkata kepada seorang teman yang menggembala bersamaku di Mekkah,“Tolong awasi kambingku, karena aku akan masuk ke kota Mekkah untuk begadang sebagaimana para pemuda.“ Kawan tersebut berkata lakukanlah.“ Lalu aku keluar. Ketika aku sampai pada rumah pertama di Mekkah, aku mendengar nyanyian, lalu aku berkata ,“Apa ini ?“ Mereka berkata ,“Pesta“. Lalu aku duduk mendengarkannya. Tetapi kemudian Allah menutup telingaku, lalu aku tertidur dan tidak terbangun kecuali oleh panas matahari. Kemudian aku kembali kepada temanku, lalu ia bertanya padaku , dan aku pun mengabarkan. Kemudian pada malam yang lain aku katakan kepadanya sebagaimana malam pertama. Maka aku pun masuk ke Mekkah, lalu mengalami kejadian sebagaimana malam terdahulu. Setelah itu aku tidak pernah lagi menginginkan keburukan. (Said Ramadhan Albuthi, Fiqh as-Siroh, hlm 64-65).
Ibarot –ibarot diatas sangat jelas dalam menggambarkan betapa luhurnya akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam semasa kecil. Untuk meminum susu dari ambing susu sebelah kiri yang biasanya diminum oleh saudara sesusunya saja Rasulullah shallallahu alaihi wasallam enggan, apalagi untuk terbesit mencuri jambu seperti yang dikatakan Muwafiq. Dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam dan Fiqh al-Sirah di atas juga diterangkan bahwa sejak kecil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat dijaga oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari segala macam tindakan tercela yang biasa dilakukan oleh remaja sebayanya.
Semua pernyataan semacam ini tidak mungkin akan keluar dari mulut seorang muslim yang benar-benar berpaham ahlussunnah wal jamaah dan meyakini sifat ma’shum yang dimiliki setiap nabi. Dari sini kelihatan sekali bahwa Muwafiq tidak paham bagaimana pendiri NU KH. Hasyim Asyari mengajari kita cara mengisi maulid nabi dalam kitab at-Tanbihat al-Wajibatnya, bahkan ia telah menyimpang jauh dari Ajaran beliau:
يؤخذ من كلام العلماء الاتي ذكره أن المولد الذي يستحبه الأئمة هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه و سلم وما وقع في حمله ومولده من الارهاصات وما بعده من سيره المباركات. )التنبيهات الواجبات ص: 10(
Artinya: Diambil dari kalam ulama yang akan disebutkan nanti bahwa maulid yang disunnahkan oleh imam-imama adalah berkumpulnya manusia, membaca sebagian dari Al-Quran dan riwayat-riwayat tentang ihwal pertama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama, peristiwa yang terjadi saat mengandung dan melahirkannya dari berbagai irhas, dan sejarah hidup beliau yang diberkahi. (KH. Hasyim Asy’ari, al-Tanbihat al-Wajibat li Man Yatsna’ al-Maulid bi al-Munkarat, hlm. 10)
التنبيه الثامن: صرح القاضي عياض رحمه الله تعالى بقتل متنقصه ومؤذيه صلى الله عليه وسلم فانه قال في الشفا وبحسب ما يجب من الحقوق للنبي صلى الله عليه وسلم وما يتعين من بر وتوقير وتعظيم واكرام, حرّمه الله تعالى أذاه في كتابه واجتمعت الأمة على قتل متنقصه أي بنوع من تحقيره. )التنبيهات الواجبات ص: 33(
Artinya: Peringatan yang ke delapan: Imam Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu ta’ala secara tegas mengatakan wajib membunuh setiap orang yang merendahkan dan menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya dalam kitabnya as-Shifaa ia berkata: dengan memandang semua hak yang wajib dilakukan kepada nabi shallallahu alaihi wasallam seperti berbuat baik, memuliakan, mengagungkan, dan menghormati nabi, dalam alquran Allah ta’ala telah mengharamkan semua hal yang dapat menyakiti nabi. Semua ulama sepakat untuk menghukum mati setiap orang yang merendahkan nabi dengan, apapun bentuk penghinaannya. (KH. Hasyim Asy’ari, al-Tanbihat al-Wajibat li Man Yatsna’ al-Maulid bi al-Munkarat, hlm 33)
Selain itu Muwafiq membuat kebohongan besar dengan menyebut Waroqoh bin Naufal (bukan Nufail seperti yang diucapkan Muwafiq) sebagai seorang dukun yang kaget begitu mengetahui nabi Muhammad adalah seorang rasul. Tuduhan semacam ini jelas akan memberi pemahaman pada masyarakat awam bahwa nabi Muhammad pernah mendatangi dukun dan bertanya pada dukun. Pada menit yang sama Muwafiq juga mengeluarkan perkataan keji kepada malaikat Jibril, ia membuat-buat cerita bahwa pada waktu itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bercerita pada Waroqoh tentang sosok yang tinggi, besar, hitam, entah dedemit atau jin yang telah mendatangi beliau sehingga beliau ketakutan. Padahal dalam hadis yang menceritakan permulaan wahyu tidak terdapat perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang demikian. Muwafiq telah membuat kebohongan tentang malaikat jibril pada peristiwa tersebut.
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ [الأنعام : 21]
Artinya: “ Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya?Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.”(QS. al-An’am: 21)
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرى لِلْمُؤْمِنِينَ (97) مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّه وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ [البقرة : 97 ، 98]
Artinya: “ Katakanlah, barang siapa yang menjadi musuh jibril, maka Jibril telah menurunkannya (al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah: membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasulnya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 97-98).
حدثنا مكي بن إبراهيم قال حدثنا يزيد بن أبي عبيد عن سلمة قال: سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول: من يقل عليَّ ما لم أقل فليتبوأ مقعده من النار . (صحيح البخاري – البغا: 1 / 52)
Artinya: “ Barang siapa berkata tentangku yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari: 109).
Pernyataan dari Muwafiq mengenai malaikat Jibril yang membuat kami sangat ingkar ialah saat ia menceritakan bahwa Rasulullah pada peristiwa itu sangat ketakutan sebab melihat wujud jin atau dedemit yang tinggi, besar, hitam. Tidak mungkin Rasulullah takut melihat jin, karena pada zaman dahulu orang arab tidak ada yang takut jin, bahkan orang arab selalu membawa pedang untuk menebas setiap ada yang mengusik mereka termasuk gangguan dari jin. Menurut kami Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada peristiwa itu mungkin memang merasa ketakutan, namun ketakutan beliau sama sekali tidak seperti apa yang digambarkan Muwafiq dalam ceramahnya. Rasulullah merasa takut jika yang mendatanginya adalah jin bukan malaikat Jibril dan yang disampaikan bukanlah wahyu dari Allah. Ulama berbeda pendapat dalam menafsiri ketakutan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada peristiwa ini. Semua penafsiran tidak ada yang sama dengan perkataan Muwafiq. Semua penafsiran tersebut telah dijelaskan sebagaimana berikut:
قوله لقد خشيت على نفسي دل هذا مع قوله يرجف فؤاده على انفعال حصل له من مجيء الملك ومن ثم قال زملوني والخشية المذكورة اختلف العلماء في المراد بها على اثني عشر قولا أولها الجنون وأن يكون ما رآه من جنس الكهانة جاء مصرحا به في عدة طرق وأبطله أبو بكر بن العربي وحق له أن يبطل لكن حمله الإسماعيلي على أن ذلك حصل له قبل حصول العلم الضرورى له أن الذي جاءه ملك وأنه من عند الله تعالى ثانيها الهاجس وهو باطل أيضا لأنه لا يستقر وهذا استقر وحصلت بينهما المراجعة ثالثها الموت من شدة الرعب رابعها المرض وقد جزم به بن أبي جمرة خامسها دوام المرض سادسها العجز عن حمل اعباء النبوة سابعها العجز عن النظر إلى الملك من الرعب ثامنها عدم الصبر على أذى قومه تاسعها أن يقتلوه عاشرها مفارقة الوطن حادى عشرها تكذيبهم إياه ثاني عشرها تعييرهم إياه وأولى هذه الأقوال بالصواب وأسلمها من الارتياب الثالث واللذان بعده وما عداها فهو معترض والله الموفق (فتح الباري – ابن حجر : 1\24)
Artinya: “Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan kata al khasyyah. Pertama, gila (al junun), karena yang dilihat oleh Nabi adalah sesuatu yang aneh dan mengejutkan, sebagaimana dikatakan Isma’ili, bahwa hal ini terjadi sedang nabi belum mengetahui hakikat malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepadanya, dan pendapat ini ditentang oleh Abu Bakar bin Arabi. Kedua, kecemasan, dan pendapat ini tidak benar. Ketiga. kematian karena nabi benar-benar ketakutan. Keempat, sakit sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Hamzah. Kelima, sakit terus menerus. Keenam, ketidakmampuan untuk memegang amanah kenabian. Ketujuh, ketidakmampuan melihat bentuk malaikat. Kedelapan, tidak memiliki kesabaran atas siksaan dari orangorang kafir Kesembilan, mereka akan membunuh Nabi. Kesepuluh, meninggalkan tanah airnya. Kesebelas, kedustaan mereka terhadap nabi. Keduabelas, cemoohan mereka kepada Nabi. Akan tetapi arti yang paling benar adalah arti yang ketiga (ketakutan), keempat (sakit) dan kelima (sakit terus menerus). (Ibnu Hajar, Fath al-Bari juz 1 hlm 24 ).
Muwafiq telah bertindak ngawur karena menyamakan malaikat yang agung dengan makhluk yang rendah. Apakah Muwafiq yang mengaku biasa baca kitab kuning tidak tahu bahwa hukum merendahkan malaikat atau menjadikannya bahan tertawaan itu bisa menyebabkan kemurtadan?
“من سبّ نبياً أو ملكاً أو عرّض به أو لعنه أو عابه أو قذفه أو استخف بحقه وما أشبه فإنه يقتل ولا يستتاب. ولا تقبل منه التوبة لو أعلنها ولو جاء تائباً قبل أن يطلع عليه، لان القتل في هذه الحالة حد خاص وإن كان يدخل تحت الردة”. “التشريع الجنائي” لعبد القادر عودة -2/724(
Artinya: Barangsiapa menghina nabi atau malaikat, menyindir, melaknat, menghujat, meremehkan haknya, dan lain-lain, maka dia dibunuh dan tidak dimintai pertaubatan dulu karena tidak diterima taubatnya. (Abdul Qadir Audah, al-Tasyri’ al-Janai, juz 2 hlm. 724)
قوله : ( أو كذب رسولا ) بخلاف من كذب عليه فلا يكون كفرا بل كبيرة فقط ا هـ ع ش .فرع : لو ادعى أن النبي يسلم عليه لم يكفر ؛ لأن غايته أنه يدعي أن النبي راض عليه وهذا لا يقتضي الكفر فإن كان صادقا فذاك ظاهر ، وإلا فهو مجرد كذب ولو ادعى أنه يوحى إليه وإن لم يدع النبوة أو ادعى أنه يدخل الجنة ويأكل من ثمارها وأنه يعانق الحور العين فهذا كفر بالإجماع كما في شرح الحصني .والأنبياء الذين يجب الإيمان بهم تفصيلا خمسة وعشرون نظمها بعضهم بقوله : حتم على كل ذي التكليف معرفة ؛ لأنبياء على التفضيل قد علموا في تلك حجتنا منهم ثمانية من بعد عشر ويبقى سبعة وهمو إدريس هود شعيب صالح وكذا ذو الكفل آدم بالمختار قد ختموا قوله : ( أو سبه ) أو قصد تحقيره ولو بتصغير اسمه أو سب الملائكة أو ضلل الأمة (حاشية البجيرمي على الخطيب – 12 / 407)
Artinya: “(Termasuk murtad adalah menistakan Rasul) atau bermaksud merendahkan walaupun dengan mentashgir namanya, atau menista malaikat, atau menganggap umat sesat.” (Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyah ‘ala Mughni al-Muhtaj, juz 12 hlm. 307)
( قَوْلُهُ أَوْ تَكْذِيبِهِ ) أَيْ ، وَلَوْ فِي غَيْرِ النُّبُوَّةِ ، وَمِثْلُ تَكْذِيبِهِ مَا لَوْ قَصَدَ تَحْقِيرَهُ ، وَلَوْ بِتَصْغِيرِ اسْمِهِ أَوْ سَبِّهِ أَوْ سَبِّ الْمَلَائِكَةِ أَوْ صَدَّقَ مُدَّعِي النُّبُوَّةِ أَوْ ضَلَّلَ الْأُمَّةَ أَوْ كَفَّرَ الصَّحَابَةَ أَوْ أَنْكَرَ غَيْرُ جَاهِلٍ مَعْذُورٍ الْبَعْثَ أَوْ مَكَّةَ أَوْ الْكَعْبَةَ أَوْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ أَوْ الْجَنَّةَ أَوْ النَّارَ أَوْ الْحِسَابَ أَوْ الثَّوَابَ أَوْ الْعِقَابَ . (حاشية الجمل – 21 / 57)
Artinya: Seperti halnya mendustakan nabi adalah berniat merendahkan nabi walaupun dengan mentashghir namanya, menistakan nabi atau malaikat. (Sulaiman Jamal, Hasyiyah ‘ala Manhaj al-Thullab, juz 21 hlm. 57)
وَيَكْفُرُ بِقَوْلِهِ لِلْقَبِيحِ إنَّهُ حَسَنٌ وَبِقَوْلِهِ لِغَيْرِهِ رُؤْيَتِي إيَّاكَ كَرُؤْيَةِ مَلَكِ الْمَوْتِ عِنْدَ الْبَعْضِ خِلَافًا لِلْأَكْثَرِ وَقِيلَ بِهِ إنْ قَالَهُ لِعَدَاوَتِهِ لَا لِكَرَاهَةِ الْمَوْتِ وَبِقَوْلِهِ لَا أَسْمَعُ شَهَادَةَ فُلَانٍ وَإِنْ كان جِبْرِيلُ أو مِيكَائِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَبِعَيْبِهِ مَلَكًا من الْمَلَائِكَةِ أو الِاسْتِخْفَافِ بِهِ لَا بِقَوْلِهِ أنا أَظُنُّ أَنَّ مَلَكَ الْمَوْتِ تُوُفِّيَ وَلَا يَقْبِضُ رُوحِي مَجَازًا عن طُولِ عُمْرِهِ إلَّا أَنْ يَعْنِيَ بِهِ الْعَجْزَ عن تَوَفِّيهِ (البحر الرائق – 5 / 131)
Artinya: Dan kafir hukumnya orang yang mencela malaikat atau meremehkannya. (Ibn Nujaim, al-Bahr al-Raiq, juz 5 hlm. 131)
( وَإِنْ سَبَّ نَبِيًّا أَوْ مَلَكًا أَوْ عَرَّضَ أَوْ لَعَنَهُ أَوْ عَابَهُ أَوْ قَذَفَهُ أَوْ اسْتَخَفَّ بِحَقِّهِ أَوْ غَيَّرَ صِفَتَهُ أَوْ أَلْحَقَ بِهِ نَقْصًا وَإِنْ فِي بَدَنِهِ أَوْ خَصْلَتِهِ أَوْ غَضَّ مِنْ رُتْبَتِهِ أَوْ وَفَوْرِ عِلْمِهِ أَوْ زُهْدِهِ أَوْ أَضَافَ إلَيْهِ مَا لَا يَجُوزُ عَلَيْهِ أَوْ نَسَبَ إلَيْهِ مَا لَا يَلِيقُ بِمَنْصِبِهِ عَلَى طَرِيقِ الذَّمِّ أَوْ قِيلَ لَهُ بِحَقِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَعَنَ وَقَالَ : أَرَدْت الْعَقْرَبَ قُتِلَ وَلَمْ يُسْتَتَبْ حَدًّا ) عِيَاضٌ . (التاج والإكليل – 12 / 70)
Artinya: Barangsiapa menista nabi atau malaikat, menyindir, melaknat, mencela, menuduh, meremehkan haknya, merubah sifatnya, meletakkan kekurangan baik pada fisik maupun karakternya, mengingkari kedudukan, kelangsungan ilmu, maupun kezuhudannya, menyandarkan sesuatu yang tidak boleh kepadanya, menisbat suatu yang tidak sesuai dengan kedudukannya karena ingin mencela, atau diucapkan kepada nabi, “Demi hak Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama,” lalu ia melaknatnya lalu ia berkilah dengan mengatakan, “Yang saya maksud itu kalajengking,” maka orang tersebut dibunuh dan tidak disuruh bertaubat karena pidana had. (Muhammad bin Yusuf, al-Taj wa al-Iklil, juz 12 hlm. 70)
فمتى ادعى النبوة او سب الله او رسوله او جحده او صفة من صفاته او كتابا او رسولا او ملكا او احدى العبادات الخمس او حكما ظاهرا مجمعا عليه كفر فيستتاب ثلاثة ايام فإن لم يتب قتل (أخصر المختصرات – 1 / 254)
Artinya: Ketika seseorang mendakwa kenabian atau menista Allah, Rasul-Nya, mengingkarinya atau sebagian sifatnya, mencela kitab-Nya, utusan-Nya, malaikat, salah satu ibadah lima, atau hukum zahir yang disepakati, maka dia kafir lalu disuruh bertaubat selama tiga hari. Jika dia tidak bertaubat maka dibunuh. (Abdullah Ibn Jabrain, Akhshar al-Mukhtasharat, juz 1 hlm. 254)
Waroqoh bin Naufal adalah seorang yang alim dan mampu menterjemahkan taurat dan injil ke dalam bahasa arab. Waroqoh bin Naufal juga paham akan datangnya nabi akhir zaman jadi tidak mungkin kaget apalagi sampai terjengkang (jawa; nggeblak) seperti tuduhan Muwafiq. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri melarang mencela Waroqoh bin Naufal:
( لا تسبوا ورقة بن نوفل فاني قد رايت له جنة أو جنتين ) قال العراقي شاهد لما قاله جمع انه اسلم عند ابتداء الوحي . )التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – (2 / 953)
Artinya: “Janganlah mencela Waraqah bin Naufal karena saya melihat baginya satu surga atau dua surga.” al-Iraqi berkata, “Hadits ini menguatkan hadits lain yang disampaikan oleh beberapa ulam bahwa Waraqah masuk Islam pada permulaan turunnya wahyu.” (al-Munawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2 hlm. 953)
وأخبرنا أبو جعفر بن السمين بإسناده عن يونس بن بكير عن هشام بن عروة عن أبيه قال : ساب أخ لورقة رجلا فتناول الرجل ورقة فسبه فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه و سلم فقال لأخيه : هل علمت أني رأيت لورقة جنة أو جنتين فنهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن سبه. )أسد الغابة ,1 / 1107)
Artinya: “Janganlah mencela Waraqah bin Naufal karena saya melihat baginya satu surga atau dua surga.” al-Iraqi berkata, “Hadits ini menguatkan hadits lain yang disampaikan oleh beberapa ulama bahwa Waraqah masuk Islam pada permulaan turunnya wahyu.” (al-Munawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2 hlm. 953)
Ucapan keji dari Muwafiq yang lain adalah mengatakan nabi Sulaiman alaihi assalam berbicara pada angin kentut yang kemudian membuat semua hadirin tertawa terbahak-bahak. Dalam ceramahnya yang lain Muwafiq menjelaskan bahwa dalam madzab Maliki kentut tidaklah membatalkan wudu. Ini semakin menunjukkan bahwa selain ia tak paham sejarah, ia juga tidak paham ilmu fiqih.

الخارج المعتاد من السبيلين وهو البول والغائط ينقض الوضوء بالإجماع, وأما النادر كالدود من الدبر والريح من القبل والحصاة والإستحاضة والمذي ينقض أيضا إلا عند مالك. )رحمة الأمة في اختلاف الأئمة (ص: 12)
Artinya: “perkara yang biasa keluar dari dua jalan (air kencing dan tahi) secara ijma’ membatalkan wudu”. (Muhammad bin Abdurahman, Rohmat al-Ummah hlm 12)
الثاني البول الثالث الريح الخارج من الدبر خلافا ش في اعتباره الخارج من الذكر وفرج المرأة وإن كان نادرا.(الذخيرة للقرافي ,ج:1, ص:212)
Artinya: kedua adalah kencing, ketiga adalah angin yang keluar dari dubur…..(al-Qarafi, al-Dakhiroh juz 1 hlm 212)
وقد أجمعوا على أن الريح الخارجة من الدبر حدث يوجب الوضوء واجتمعوا على أن الجشاء ليس فيه وضوء بإجماع وقد أجمعوا على أن الريح الخارجة من الدبر حدث فدل ذلك على مراعاة المخرجين فقط. (الاستذكار, 1\157)
Artinya: “Dan semua ulama menyatakan ijma’ mengenai angin yang keluar dari dubur adalah hadas yang mewajibkan wudu…(ِAbu Yusuf al-Qurthubi, al-istidzkar juz 1 hlm 157)
قال ابن المنذر أجمعوا أنه ينتقض بخروج الغائط من الدبر والبول من القبل والريح من الدبر. (المجموع شرح المهذب ج: 2, ص:6)
Artinya: “Ibnu Mundzir berkata: ulama telah menyatakan ijma’nya mengenai wudlu yang batal disebabkan keluarnya tahi dari dubur, kencing dari qubul dan angin dari dubur.” (an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh Muhadzab juz 2 hlm 6).
Semua pemikiran dan pernyataan sesat Muwafiq CS merupakan benih-benih pemikiran wahhabi, mu’tazilah, syiah bahkan benih dari pemikiran kristen, komunis, dan atheis, juga salah satu proyek besar dari musuh-musuh islam untuk Indonesia. Bungkamnya ormas-ormas islam lebih-lebih pemerintah Indonesia atas genosida yang dilakukan oleh China terhadap etnis muslim Uyghur dengan alasan memerangi radikalisme dan ekstrimisme (sama seperti isu yang selalu digoreng di negeri ini) dan penolakan Presiden kepada delegasi Uyghur dengan alasan tidak ingin menyakiti hati Pemerintah China sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Salim Said semakin menguatkan dugaan bahwa China komunis sudah mendikte dan menjajah negeri ini lewat para makelarnya seperti jaringan IsNus (islam Nusantara), Said Aqil, para pejabat dan para taipan. Tentunya dengan sokongan dana yang sangat besar, baik dengan dalih investasi, beasiswa, kerjasama atau yang masuk ke kantong pribadi. Mulai dari maraknya penistaan agama di negeri ini dan tidak adanya pernyataan atau tanggapan secara resmi baik dari ormas-ormas islam atau pemerintah terkait hal tersebut, lemahnya penanganan kasus penistaan agama islam, hingga bungkamnya mereka atas genosida etnis muslim Uyghur, bahkan sampai ada yang membela tindakan pemerintah China tersebut. apakah semua ini ada hubungannya?. Waallahu a’lam.

Di China, kamp konsentrasi untuk muslim Uyghur disebut program deradikalisasi. Sebagai contoh, Warga Uyghur yang ketahuan berdoa atau mendownload Al-Qur’an digital ditangkap kemudian dicuci otaknya agar meninggalkan agamanya. Seharusnya pemerintah China menangkap dan memproses para aktifis radikalis saja, bukan menangkap dan mengadili muslim Uyghur secara umum (bukan berarti kami anti radikalis namun Radikal itu harus melihat kondisi, tempat dan waktu, jangan sampai berbuat Radikal terhadap kaum kuffar yang justru berakibat menyengsarakan atau bahkan melenyapkan umat Islam/ bangsanya sendiri). Memang ada proyek besar-besaran untuk pembunuhan masal terhadap umat islam di seluruh dunia, seperti kasus muslim Rohingya, menangkap dan mengadili umat islam dengan tuduhan radikal, seperti yang terjadi di negara-negara di Timur Tengah, meninggalnya hampir 700 petugas KPPS pada pilpres 2019. Maraknya makanan-makanan yang mengandung kimia, minyak babi, juga bagian dari misi tersebut. Teroris Radikalis sengaja dimunculkan untuk menuduh umat islam sebagaimana yang dialami oleh muslimin Kashmir Burma membantai muslim Myanmar dan Israel membantai muslimin Gaza setelah itu Islam di cap sebagai agama teroris. Di Indonesia, program deradikalisasi merupakan semacam proses penghapusan sejarah, khilafah dan jihad, pengawasan majlis ta’lim, khutbah jum’at dan para ulama, kiai, ustadz dan da’i muslim. Di negara yang mayoritas muslim seperti Indonesia, rezim akan bermain sangat hati-hati mulai dari penghapusan sejarah Islam, membiarkan penista agama, membatasi dan mengawasi kegiatan islami, menggulirkan isu-isu sensitif terkait keislaman seperti permasalahan azan, shalat jamaah di masjid, jum’atan dan pengajaran ilmu agama. Namun kalau umat Islam Indonesia diam dan tidak berani untuk melawan, maka deradikalisasi di Indonesia bisa sampai level ekstrim sebagaimana yang dialami umat Islam minoritas di beberapa negara seperti Myanmar, India, China, New Zealand, Amerika, Australia dll.
Belakangan ini, Kementerian Agama Republik Indonesia menghapus pelajaran sejarah Islam yang di dalamnya ada khilafah, imamah dan jihad yang telah diajarkan sejak dahulu. Alasannya tak ada lain selain meminimalisir pemikiran dan tindakan radikal. Jelas alasan itu mengada-ada karena sejarah merupakan fakta, tergantung penafsiran orang yang menyampaikannya yang terindikasi teroris dan radikalis. Merekalah yang sebetulnya perlu ditindaklanjuti bukan pelajarannya yang dihapus. Indonesia merdeka melalui resolusi jihad. Dengan semangat fisabilillah dan pengabdian yang tinggi dari para ulama dan santri yang berjuang pada saat itu, untuk merebut kemerdekaan yang dinikmati sampai saat ini. Jadi indonesia ini tidak akan pernah ada kalau tidak ada seruan resolusi jihad yang dikenal dengan Hari Pahlawan 10 Nopember. Bagaimanapun, kebijakan yang tidak bijak itu hanya menunjukkan bahwa mereka gagal paham soal khilafah dan jihad, karena mengira tak ada bedanya antara khilafah yang dipelajari di madrasah-madrasah itu dengan pemahaman khilafah versi ISIS. Padahal, khilafah yang dipelajari di madrasah-madrasah atau di seluruh pesantren di Indonesia ini adalah Khulafaur Rasyidin dan pemerintahan Islam setelahnya. Itu pun telah dipelajari sejak dahulu, bahkan sebelum Indonesia ini berdiri. Dan buktinya selama itu aman-aman saja. Jika seandainya pemahaman khilafah dan jihad di sini sama dengan versi ISIS, tentu Indonesia tidak akan pernah damai, dan mungkin Indonesia itu sendiri tidak akan pernah ada.
Gerakan-gerakan di atas tidak lain datang dari para musuh Islam. Musuh-musuh ini sangat paham bahwa umat Islam tidak akan mungkin bisa dihancurkan dengan cara menyerang langsung Nabi shollalloohu ‘alaihi wassalam. Karena bagi muslimin, apapun madzhab dan golongannya bahkan aliran sesat sekalipun, akan sangat marah dan siap bersimbah darah untuk membela Nabi tercinta.
Karenanya yang mereka lakukan adalah melakukan tahapan-tahapan strategi yang sebenarnya usang tapi sangat mematikan. Sedikit demi sedikit menjauhkan umat ini dari kecintaan kepada Nabinya, tanpa sedikitpun mereka bisa menyadarinya.
Langkah pertama adalah membuat suatu masyarakat antipati terhadap bangsa Rasulullah: Arab. Dibuat jargon menarik semisal Islam itu bukanlah Arab. Lalu perlahan menanamkan paham bahwa Islam kita lebih baik dari Islamnya orang Arab sebagaimana misi Islam Nusantara. Mereka akan terus mengkampanyekan Islam Nusantara sampai semua lapisan Nahdiyyin menerimanya. Said Aqil CS belum puas dengan tema Islam Nusantara pada Muktamar Jombang. Mereka menginginkan untuk mengokohkan Islam Nusantara menjadi tema di Muktamar Lampung pada bulan Oktober 2020 yang lebih dulu akan dirumuskan dan direkomendasikan lewat Munas dan Konbes NU yang rencananya akan diadakan di Sarang, Rembang pada bulan Maret 2020 nanti (semoga digagalkan Allah). Kalau ini terjadi, kami sebagai bagian dari masyayikh Sarang selamanya menolak IsNus, tidak ridlo dan tidak ikut bertanggung jawab dunia dan akhirat.
Jika rencana ini berjalan mulus, mereka akan menghembuskan kembali kebencian kepada para keturunan Rasulullah: Habaib. Dicap bahwa mereka itu hanya pendatang. Sebaik apapun, tetap bukan asli pribumi. Dikaburkanlah perjuangan dan jasa mereka untuk negeri ini, sambil sesekali diangkat data beberapa habib jika bermasalah dan dicari salahnya. Agar rasa cinta umat kepada dzurriyat Rasulullah kian memudar dan perlahan musnah. Kemudian menebarkan kebencian kepada para malaikat, anbiya’ dan para sahabat nabi.
Jika ini berhasil, barulah mereka berani ke tahap selanjutnya. Menyerang secara halus pribadi Rasulullah. Seakan menyanjung, tapi sebenarnya menjatuhkan dan merendahkan beliau. Seperti menyama-nyamakan Rasulullah dengan orang hebat lainnya dalam sejarah. Nampaknya manis, tapi sebenarnya sangat berbisa. Karena targetnya adalah: Sehebat apapun Muhammad, dia juga seperti manusia pada umumnya.
Bila itu sukses, mulailah pribadi Rasulullah diserang terang-terangan. Kehidupannya dijadikan lelucon. Rumah tangga dan pernikahannya dipertanyakan. Sunnah-sunnah beliau yang suci dikritisi dan dinilai hanya sebagai kebiasaan manusia pada umumnya. Kitab Al-Qur’an dikatakan kitab paling porno sedunia.
Pisau beracun itu pelan tapi pasti akan terus munghujam semakin dalam. Meruntuhkan inti kekuatan agama ini. Jika umat sudah berhasil minimal dibuat sudah tidak bangga lagi dengan Nabinya, maka tidak ada lagi kebaikan sedikitpun yang tersisa untuk umat Muhammad SAW dan kitab sucinya (Al-Qur’an)
Maka jangan heran bila hari ini dan nanti penista agama dan peleceh kehormatan Rasulullah akan semakin berani dan akhirnya menjadikan Islam tinggal sebuah nama yang terselip diantara paham Atheis, Sekuler dan Liberal.
Dua video permintaan maaf dari Muwafiq yang sudah beredar tidaklah cukup, ia masih juga harus mengakui kesalahan besar yang telah diperbuat (dua video permohonan maaf yang sudah beredar di dalamnya terdapat pernyataan “jika saya salah” dan “jika dianggap keliru” yang tidak mencerminkan sepenuhnya mengakui kesalahan) serta wajib baginya untuk segera bertobat dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, dan menyesali sekaligus menarik seluruh ucapan-ucapan yang merendahkan martabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama, nabi Sulaiman, malaikat, sayyidah Aisyah, sayyidina Umar, dan imam-imam mujtahid muassis NU yang telah dilecehkan dan dilanggar ajarannya. karena semua omongan keji tersebut merupakan dosa besar yang dilaknat oleh Allah sebagaimana firmannya:
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (الأحزاب : 57)
“Sesungguhnya orang-orang yang menghina Allah dan Rasul-Nya itu telah dilaknat Allah di dunia dan akhirat dan telah disiapkan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ [التوبة : 65]
“Sesungguhnya orang-orang yang menghina Allah dan Rasul-Nya itu telah dilaknat Allah di dunia dan akhirat dan telah disiapkan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)
Dan tindakan tersebut berkonsekuensi pada kekufuran dan kemurtadan, bahkan secara hukum syariat wajib diganjar hukuman mati meskipun mengaku tidak sengaja:
وما ذكره ظاهر لقصد النقص وهو كفر كما مر, ثم قال من تكلم غير قاصد للسب له ولامعتقد له في جهته صلى الله عليه وسلم بكلمة الكفر من لعنه أو سبه او تكذيب او إضافة ما لا يجوز عليه او نفي ما يجب له مما هو في حقه صلى الله عليه وسلم……………….فحكمه القتل إذ لا يعذر احد في الكفر بالجهالة ولا بدعوى زلل اللسان. (الاعلام بقواطع الاسلام 2\384)
Artinya: Maka hukuman bagi penista agama adalah dibunuh, karena seseorang tidak ditoleransi atas kekufuran karena ketidaktahuan maupun dalih terpelesetnya lisan. (Ibn Hajar al-Haitami, I’lam bi Qawathi’ al-Islam, juz 2 hlm. 384)
حدثنا عبيد الله بن محمد العمري القاضي بمدينة طبرية سنة سبع وسبعين ومائتين حدثنا إسماعيل بن أبي أويس حدثنا موسى بن جعفر بن محمد عن أبيه عن جده علي بن الحسين عن الحسين بن علي عن علي رضي الله عنهم قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من سب الأنبياء قتل ومن سب الأصحاب جلد . (المعجم الصغير – الطبراني 1 / 393)
Artinya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh, dan barangsiapa menghina para shahabat maka dia didera.” (Abu Qasim al-Thabarani, al-Mu’jam al-Shaghir, juz 1 hlm. 393)
من سب الأنبياء قتل ومن سب أصحابى جلد. أخرجه الطبرانى ، وابن عساكر عن علي( جمع الجوامع أو الجامع الكبير- للسيوطي 1 / 22996)
Artinya: “ “Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh, dan barangsiapa menghina para shahabat maka dia didera.” (al-Suyuthi, al-Jami’ al-Kabir, juz 1 hlm 22996)
(من سب الأنبياء قتل) لانتهاكه حرمة من أرسلهم واستخفافه بحقه وذلك كفر قال القيصري : إيذاء الأنبياء بسبب أو غيره كعيب شئ منهم كفر حتى من قال في النبي ثوبه وسخ يريد بذلك عيبه قتل كفرا لا حدا ولا تقبل توبته عند جمع من العلماء وقبلها الشافعية (ومن سب أصحابي جلد) تعزيرا ولا يقتل خلافا لبعض المالكية ولبعض منا في ساب الشيخين ولبعض فيهما والحسنين. (فيض القدير, 6/ 190)
Artinya: (Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh) karena merusak kehormatan Allah yang mengutus mereka dan meremehkan hak mereka, dan ini kufur. Al-Qaishari berkata, “Mencela para nabi baik dengan sebab atau tidak seperti halnya mencela satu hal kecil dari mereka adalah kufur. Bahkan jika orang berkata tentang nabi bahwa bajunya kotor dengan maksud mencela mereka, maka dibunuh karena kafir bukan karena hukum had. Ia tidak diterima taubatnya menurut sekelompok ulama, sedangkan menurut madzhab Syafi’i diterima taubatnya. (Abdurrauf Manawi, Faidl al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 6 hlm. 190)
وقد نقل بن المنذر الاتفاق على أن من سب النبي صلى الله عليه و سلم صريحا وجب قتله ونقل أبو بكر أحد أئمة الشافعية في كتاب الإجماع أن من سب النبي صلى الله عليه وسلم مما هو قذف صريح كفر باتفاق العلماء ، فلو تاب لم يَسقط عنه القتل ؛ لأن حدَّ قذفه القتل ، وحد القذف لا يسقط بالتوبة … فقال الخطابي لا أعلم خلافا في وجوب قتله إذا كان مسلما. (فتح الباري, 12\281)

Ibn Mundzir mengutip kesepakatan bahwa penista Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallama secara terang-terangan wajib dibunuh. Abu Bakar seorang imam madzhab Syafi’i mengutip dalam Kitab al-Ijma’ bahwa orang yang menghina Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallama secara terang-terangan adalah kufur menurut konsensus ulama, dan jikapun dia bertaubat maka hukum dibunuh tidak bisa gugur.” (Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz 12 hlm. 281)
“من سبّ نبياً أو ملكاً أو عرّض به أو لعنه أو عابه أو قذفه أو استخف بحقه وما أشبه فإنه يقتل ولا يستتاب. ولا تقبل منه التوبة لو أعلنها ولو جاء تائباً قبل أن يطلع عليه، لان القتل في هذه الحالة حد خاص وإن كان يدخل تحت الردة”.(التشريع الجنائي” لعبد القادر عودة، ج2، ص724 )
Artinya: Barang siapa menghina seorang nabi atau malaikat atau menyindir, melaknat, mencaci, menuduh zina, meremehkan hak mereka atau bentuk pelecehan lainnya maka hukumannya adalah dibunuh….. (Abdul Qodir ‘Audah, Tasyri’ al-Jina’I, juz 2 hlm 724).
وقد أفتى أكثر فقهاء الحنفية بناء عليه بقتل من أكثر من سب النبي صلّى الله عليه وسلم من أهل الذمة، وإن أسلم بعد أخذه، وقالوا: يقتل سياسة. وأجمع العلماء كما قال القاضي عياض في الشفا على وجوب قتل المسلم إذا سب النبي صلّى الله عليه وسلم ، لقوله تعالى: {إن الذين يؤذون الله ورسوله لعنهم الله في الدنيا والآخرة وأعد لهم عذاباً مهيناً}(الأحزاب:57). (الفقه الإسلامي وأدلته: 7 / 517)
Artinya: Para ulama sepakat seperti keterangan Qadli Iyadl dalam al-Syifa atas kewajiban membunuh seorang Muslim ketika dia menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama. (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiy, juz 7 hlm. 517)
أما سب النبي صلى الله عليه وسلم فالإجماع منعقد على أنه كفر والاستهزاء به كفر قال الله تعالى} قل أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزئون{ }لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم{ بل لو لم تستهزئوا قال أبو عبيد القاسم بن سلام فيمن حفظ شطر بيت مما هجي به النبي صلى الله عليه وسلم فهو كفر وقد ذكر بعض من ألف في الإجماع إجماع المسلمين على تحريم ما هجي به النبي صلى الله عليه وسلم وكتابته وقراءته وتركه متى وجد دون محوه. (فتاوى السبكي :2/ 573)
Artinya: Adapun penista Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama maka menurut konsensus ulama dia kafir, dan meremehkan Rasulullah juga kufur. (Taqiyuddin Subki, al-Fatawa, juz 2 hlm. 573)

وقال ابن المنذر – رحمه الله تعالى -: “أجمع عامة أهل العلم على أن من سب النبي صلى الله عليه وسلم عليه القتل، وممن قال ذلك: مالك والليث وأحمد وإسحاق، وهو مذهب الشافعي. (تفسير القرطبي: 4/ 432)
Artinya: Mayoritas ahli ilmu bersepakat bahwa orang yang menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama berhak untuk dibunuh. Termasuk yang mengatakan itu adalah Imam Malik, Laits, Ahmad, dan Ishaq, sedangkan itu adalah pendapat madzhab Syafi’i. (Abu Abdullah Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran (Tafsir al-Qurthubi), juz 4 hlm. 432)
Dalam video yang lain, Muwafiq akhzahullahu wa ahaanahu fii daroini juga telah lancang berani melecehkan sayyidah Aisyah dengan mengatakan pernikahan sayyidah Aisyah dengan Rasulullah tidak bisa dinalar dan tidak logis karena nabi yang sudah berusia 50 tahun menikahi gadis usia 9 tahun. Perkataan semacam ini akan menimbulkan kesimpulan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seolah-olah melakukan sihir (pelet) agar Sayyidah Aisyah bersedia dan senang dinikahi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Konsekuensi dari ucapan Muwafiq tentang sayyidah Aisyah adalah sebagai berikut:
ومن سب عائشة رضي الله عنها قتل لأن الله تعالى يقول فيها يعظكم الله أن تعودوا لمثله أبدا إن كنتم مؤمنين فمن رماها فقد خالف القرآن ومن خالف القرآن قتل. (فتاوى السبكي :2/ 569)
Artinya: Orang yang menghina Aisyah Radliyallahu ‘anha berhak dibunuh. (Taqiyuddin Subki, al-Fatawa, juz 2 hlm. 569)
وقد روي عن مالك فيمن سب عائشة أنه يقتل مطلقا ويمكن حمله على السب بالقذف انتهى. وقال في الإكمال في حديث الإفك: وأما اليوم فمن قال ذلك في عائشة قتل لتكذيب القرآن وكفره بذلك وأما غيرها من أزواجه فالمشهور أنه يحد لما فيه من ذلك ويعاقب لغيره وحكى ابن شعبان قولا آخر أنه يقتل على كل حال وكأن هذا التفت إلى أذى النبي صلى الله عليه وسلم حيا وميتا انتهى. (مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل :8/ 381)
Artinya: Diriwayatkan dari Imam Malik tentang orang yang menista Aisyah bahwa dia berhak dibunuh secara mutlak. (Syamsuddin Ru’aini, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar al-Khalil, juz 8 hlm. 381).
Dalam video yang sama Muwafiq juga melecehkan sayyidina Umar dengan mengatakan sayyidina Umar berwajah sangat menyeramkan, menakutkan dan sadis, bahkan setan takut melihat sayyidina umar. padahal wajah sayyidina Umar sangatlah tampan, kulitnya putih dan sedap dipandang mata. Setan takut bukan karena melihat wajah sayyidina Umar namun karena takut akan ketegasan sayyidina Umar dalam menegakkan agama islam. Hukuman bagi orang yang melakukan penistaan semacam ini pun berat sekali:
و أخرج ابن عساكر عن أبي رجاء العطاردي قال : كان عمر رجلا طويلا جسيما أصلع شديد الصلع أبيض شديد الحمرة في عارضيه خفة سبلته كبيرة و في أطرافها صهبة. (تاريخ الخلفاء – (1 / 118(
ولد عمر رضي الله عنه بعد عام الفيل بثلاث عشرة سنة وأما صفته الخَلْقية، فكان رضي الله عنه، أبيض أمهق، تعلوه حمرة، حسن الخدين والأنف والعينين، غليظ القدمين والكفين، مجدول اللحم، وكان طويلاً جسيماً أصلع، قد فرع الناس، كأنه راكب على دابة، وكان قوياً شديداً، لا واهناً ولا ضعيفاً، وكان يخضب بالحناء، وكان طويل السَّبلة وكان إذا مشى أسرع وإذا تكلم أسمع، وإذا ضرب أوجع. ( أمير المؤمنين عمر بن الخطاب: 1 / 13(
. وقال في الإكمال أيضا: وسب أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وتنقصهم أو واحد منهم من الكبائر المحرمات. وقد لعن النبي صلى الله عليه وسلم فاعل ذلك وذكر أن من آذاه وآذى الله تعالى فإنه لا يقبل منه صرف ولا عدل واختلف العلماء فيما يجب عليه فعبد الملك ومشهور مذهبه إنما فيه الاجتهاد بقدر قوله والمقول فيه وليس له في الفيء حق وأما من قال فيهم: إنهم كانوا على ضلالة وكفر فيقتل. (مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل: 8/ 381)
Artinya: Menista shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama dan merendahkan mereka atau salah satu dari mereka termasuk dosa besar yang diharamkan …. Adapun orang yang berkata tentang shahabat bahwa mereka sesat dan kafir maka dia dibunuh. (Syamsuddin Ru’aini, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar al-Khalil, juz 8 hlm. 381)
(ومن سب أصحابي جلد) تعزيرا ولا يقتل خلافا لبعض المالكية ولبعض منا في ساب الشيخين ولبعض فيهما والحسنين.(فيض القدير : 6 / 190)
Artinya: “ (Barang siapa menghina para shahabatku, dia wajib didera) sebagai hukuman…( al-Munawi, Faidl al-Qadir, juz 6 hlm 190)
(لعن الله من سب أصحابي) لما لهم من نصرة الدين فسبهم من أكبر الكبائر وأفجر الفجور بل ذهب بعضهم إلى أن ساب الشيخين يقتل. (فيض القدير: 5 / 350)
Artinya: (Allah melaknat orang yang menghina Shahabatku) karena jasa mereka memperjuangkan agama, menghina mereka termasuk dosa dan kedurhakaan yang paling besar. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang menghina Abu bakar dan Umar bin Khattab wajib dibunuh.” (al-Munawi, Faidl al-Qadir juz 5 hlm 530).
العز بن عبد السلام الشافعي بعدم التكفير، ولفظ القرطبي لم يختلف في كفر من قال: إنهم كانوا على ضلالةٍ؛ لأنه أنكر ما علم من الدين ضرورةً وكذب الله ورسوله فيما أخبر به، واختلف هل يستتاب وتقبل توبته كالمرتد أو لا يستتاب ولا تقبل توبته كالزنديق إن ظهر عليه وإن سبهم بغير ذلك، فإن سبهم بما يوجب الحد كالقذف حد للقذف ثم ينكل النكال الشديد، وإن سبهم بغير ذلك جلد الجلد الشديد. قال ابن حبيبٍ: ويخلد في السجن إلى أن يموت. (الفواكه الدواني, أحمد بن غنيم بن سالم النفراوي : 1 /322(
Artinya: “ jika ada yang menghina para shahabatdengan tuduhan selain zina maka didera dengan sangat berat…( Ahmad bin Ghonim, al-Fawakih al-dawaani juz 1 hlm 322 ).
Mengenai pesan Gus Mus yang mengatakan “Jangan mau dibodohi oleh Setan Kebencian. Tidak ada orang muslim, umat Nabi Muhammad SAW –apalagi yang sehari-hari melakukan dakwah menyampaikan sabda Nabinya– sengaja menghina Nabinya sendiri. Jaga akal sehat. Jangan tunduk pada Setan Kebencian dan Iblis Adu domba” justru malah sebenarnya yang dibodohi setan dan iblis adalah orang-orang yang diam dan tak merasa sakit hati saat nabi dan agamanya dinistakan, bahkan malah lebih memilih menomorsatukan dan membela seorang penceramah yang menghina nabi hanya karena dia dianggap kyai NU. Seorang dai yang benar-benar paham ilmu agama tidak akan mungkin keluar kata-kata kotor dari mulutnya apalagi sampai berani melecehkan nabi, malaikat, keluarga nabi dan shahabat nabi.
Kita bukan orang bodoh yang tidak tahu bahwa orang-orang yang menistakan agama wajib dihukum baik secara syariat maupun secara hukum negara sebagaimana yang termaktub dalam KUHP Pasal 156(a) melengkapi dekret Presiden Soekarno yang dijalankan oleh Presiden Soeharto, yaitu Dekret Presiden No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Bahkan sejak zaman kolonial Belanda kasus penistaan agama sudah ada dan ditindak seperti kasus penistaan agama pada 9 dan 11 Januari 1918, Martodharsono redaktur Djawi Hiswara memuat tulisan karya Djojodikoro. Tulisan yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo” itu menyulut kemarahan HOS Tjokroaminoto karena memuat kalimat “Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. Gin, minoem opium dan kadang soeka mengisep opium”. Selang sebulan kemudian, 24 Februari 1918, HOS Tjokroaminoto menggalang solidaritas umat muslim di Hindia Belanda untuk turun ke jalan. Pada hari itu di 42 tempat berbeda di Jawa dan sebagian Sumatera, sekitar 150 ribu orang melangsungkan demonstrasi menuntut pemerintah kolonial menghukum Martodharsono dan Djojodikoro.
Fenomena Maraknya tindakan penistaan agama akhir-akhir ini adalah dampak dari lemahnya penindakan kasus penistaan oleh aparat yang berwajib. Kita hitung saja orang seperti Sukmawati, Ade Armando, Denny Siregar, Permadi Arya (Abu Janda), Eko Khuntadi dan muwafiq yang sampai sekarang masih bebas berkeliaran meskipun sudah dilaporkan. Dan seperti yang pernah disampaikan oleh Gus Nur hampir bisa dipastikan setiap ada penistaan agama pasti pelakunya merupakan orang yang dekat dengan rezim dan selalu dilindungi rezim.
Perlu kami ingatkan kepada semua kaum muslimin untuk tidak membuat lelucon, guyonan, penggambaran ataupun logika yang dapat mengundang tawa terbahak-bahak saat menyampaikan pengajian ataupun mauidhoh hasanah yang membahas tentang Allah subhanahu wataala, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, malaikat dan ayat Alquran lebih-lebih saat peringatan maulid nabi. Termasuk yang kami ingatkan dalam hal ini ialah alumni pondok pesantren Al Anwar Sarang yang dikenal alim namun dalam setiap pengajiannya selalu memakai bahasa yang kurang santun dan kurang beradab sebagaimana saat menceritakan kisah para nabi dan membandingkan nabi ini tidak selevel dengan nabi ini, nabi Muhammad lupa jumlah rakaat shalat dengan dibarengi tertawa cekikikan mengundang tawa para hadirin dan menyebut malaikat Izrail kacau serta tidak pernah mengaji.
أتتخذنا هزوا بضم الزاء وقلب الهمزة واوا وقرئ بالهمزة مع الضم والسكون أي أتجعلنا مكان هزؤ أو أهل هزؤ أو مهزوء ا بنا أو الهزؤ نفسه استبعادا لما قاله واستخفافا به قال إستئناف كما سبق أعوذ بالله أن أكون من الجاهلين لأن الهزؤ في أثناء تبليغ امر الله سبحانه جهل وسفه. (تفسير أبي السعود : 1\110)
قوله : {فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا} فاستحق أهل القرية لذلك أن يذموا ، وينسبوا إلى اللؤم والبخل …….الى ان قال…..ويعفو الله عن الحريري حيث استخف في هذه الآية وتمجن ، وأتى بخطل من القول وزل ؛ فاستدل بها على الكدية والإلحاح فيها ، وأن ذلك ليس بمعيب على فاعله ، ولا منقصة عليه ؛ فقال : وإن رددت فما في الرد منقصة * عليك قد رد موسى قبل والخضر
قلت : وهذا لعب بالدين ، وانسلال عن احترام النبيين ، وهي شنشنة أدبية ، وهفوة سخافية ؛ ويرحم الله السلف الصالح ، فلقد بالغوا في وصية كل ذي عقل راجح ، فقالوا : مهما كنت لاعبا بشيء فإياك أن تلعب بدينك. (الجامع لأحكام القرآن: 11\25)
Hal ini sangat berbahaya karena bisa ditiru oleh masyarakat awam bahkan para penceramah lainnya. Mereka nantinya akan terbiasa mengomentari nabi bahkan tertawa cekikikan, dan akhirnya akan muncul lebih banyak lagi Muwafiq-Muwafiq lainnya. Gaya bahasa, cara penyampaian dan guyonan semacam itu tidak ada sanad ilmiahnya. Sanad dari Mbah Maimoen dan ulama salafunasholihin saja tidak ada apalagi sanad dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Kami menulis tanggapan ini atas permintaan KH. Ustukhri Irsyad Pengasuh PP. Al Hidayah untuk menanggapi pembelaan KH. Hanief Muslih Pengasuh PP. Futuhiyyah Mranggen Demak terhadap Muwafiq.
Terakhir, Semoga Allah subhanahu wataala senantiasa menjaga akidah umat islam dari rongrongan pemikiran sesat musuh-musuh islam berkat kecintaan kita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, keluarganya dan para shahabatnya. Amiin.

Sarang, 14 Rabiul Tsani 1441 H.

KH. Muhammad Najih MZ.

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons