Site Loader
Toko Kitab

Demikian penggalan akhir dari pernyataan Syaikh Muhammad Najih tentang mencuatnya isu pembolehan ucapan selamat natal dari umat Islam kepada umat Kristen. Tanggapan beliau dalam video yang diunggah pada 6 Desember 2019 lalu oleh akun resmi Ribath Darusshohihain menjadi viral dan telah ditonton sekitar 430 ribu kali. Dalam video berdurasi sekitar 50 menit tersebut Abah Najih membeberkan berbagai argumentasi ilmiah tentang keharaman mengucapkan natal bagi umat Islam kepada umat Kristen serta tanggapan atas beberapa tokoh yang membolehkannya. Berikut kutipan dari pernyataan beliau:

“Sungguh kasihan sekali umat Islam di seluruh negeri, lebih-lebih umat Islam di negeri Indonesia sekarang digaduhi dan dirusuhi secara besar-besaran dalam hal akidah, ekonomi, dan keagamaannya. Dihiruk pikukkan dengan langkah-langkah atau omongan-omongan yang macam-macam, lebih-lebih setelah ada medsos omongan yang jelek-jelek dan kufur-kufur bisa cepat tersebar. Bisa cepat viral. InnaliLlah wa inna ilaihi raji’un.

Sebetulnya pengrusakan akidah ini sudah lama, tapi saat ini menjadi besar-besaran menjelang natal. Mulai dari statement Bu Sukmawati yang membandingkan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama manusia paling agung dengan sosok manusia biasa yang hanya punya keahlian pidato atau orasi/agitasi. Dia punya aliran Marhaenis yang hakikatnya sama dengan komunis atau minimal sosialis, yang punya banyak kesalahan walaupun juga banyak berjasa dalam urusan negara. Punya jasa dalam urusan negara itu belum tentu diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kalau tidak diniati untuk menghormati agama Allah yaitu agama Islam.

Bapak-bapak, saudara-saudara sekalian, adik-adik, anak-anak. Dia sebelumnya sudah mencaci-maki cadar, dibilang konde lebih indah, gending lebih baik dari suara adzan. Yang terakhir dia membandingkan Sukarno lebih berjasa di Indonesia daripada Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Padahal Sukarno sebelum proklamasi dia agak ragu-ragu atau enggan, akhirnya dipaksa oleh para Kiai Ajengan Sunda di Rengasdengklok namun di sejarah ditulis bahwa dia dipaksa oleh mahasiswa. Artinya kemerdekaan ini hakikatnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa dengan dibomnya Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika.

Maka kesempatan diberikan seluas-luasnya oleh Allah untuk proklamasi, kemudian diikuti oleh bangsa-bangsa lain. Jadi hakikatnya berkat Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, berkat Ramadhan, berkat habaib seperti Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, perjuangan Husni Thamrin, para santri kemudian membela kemerdekaan pada tanggal 10 November, juga para kiai seperti Kiai Abbas Buntet yang datang ke Surabaya dan ditunggu oleh Bung Tomo atas perintah Kiai Hasyim Asy’ari. Pengennya Bung Tomo menyerang Belanda tanggal 7 November, tapi karena menunggu Kiai Abbas akhirnya jadi tanggal 10 November.

Kemudian, belum sampai diproses kasus Bu Sukmawati yang ceroboh dan jahat membandingkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dengan orang biasa yang banyak dosa, ditambahi oleh kasus Ahmad Muwafiq yang dielu-elukan di NU karena jadugnya dan sejarah-sejarah yang fiktif. Kemudian dia mengatakan Nabi Muhammad waktu kecil itu rembes karena tidak dirumat oleh mbahnya.

Kemudian lebih parah lagi dia mengatakan Kanjeng Nabi asik-asikan angon (menggembala), Kanjeng Nabi waktu kecil seperti anak-anak Indonesia yang senang mencuri jambu. Na’udzubiLlah min dzalika. Ini merusak kemuliaan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sebagai basyarun la kal basyari (manusia yang tidak seperti manusia lainnya). Akidah dari umat Islam begitu, yakni umat Aswaja. Tapi ini dirusak oleh Ahmad Muwafiq dengan cemoohan itu, dengan guyonan dia terkekeh-kekeh. Peristiwa itu terjadi di Purwodadi. Kemudian setelah itu baru-baru saja dia disuruh ceramah di Banten di kalangan orang-orang jadug sampai berani melecehkan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama atau mengundang orang yang melecehkan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama karena jadugnya. Berani melawan Syari’ah. Dia juga bilang bahwa dia tidak bisa menerima akal Nabi Muhammad yang berumur 50 menikah dengan Siti Aisyah yang berumur 9 tahun, tapi kok Aisyah-nya girang. Dia berbicara begitu sambil terkekeh-kekeh. Dia tidak kapok.

Dia memang sudah klarifikasi minta maaf tapi tidak mengatakan dia salah. Dia hanya minta maaf karena menyinggung perasaan umat Islam yang sangat cinta kepada Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Tidak mau mengatakan dia salah. Dia mengatakan itu omongan untuk anak-anak milenial. Ya benar, milenial yang belajar sama orientalis.

Memang di sejarah di Ibn Sa’d atau Ibn Jauzi nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama terkena penyakit mata, kemudian oleh Abdul Muthalib diperiksakan kepada seorang kahin. Katanya kahin, “Ini sakit mata, ya? Cucumu ini akan menjadi nabi akhir zaman. Sudah, ludahnya dia aja kamu oleskan ke matanya yang sakit itu.” Ramad itu sakit mata. Sakit mata itu bukan karena tidak diurusi, mungkin terkena debu. Namanya juga peyakit.

وجائز في حقهم من عرض * من غير نقص كخفيف المرض

Sakit mata termasuk penyakit ringan, bukan karena Abdul Muthalib tidak bisa mengurusi. Itu menghina Nabi Muhammad dan nasab Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Menghina mbahnya. Abdul Muthalib ini kepalanya orang Quraisy. Dia sering ke Yaman, diberitahu oleh Raja Yaman Dzi Yazan, “Kalau tidak kamu, anakmu, nanti cucumu yang menjadi nabi.” Ini diceritakan kepada orang Quraisy. Aslinya orang Quraisy percaya kepada nabi akhir zaman, tapi setelah nabi memproklamasikan menjadi nabi malah mereka mendustakan.

Dua peristiwa ini menggegerkan, dan saya sudah lama menulis bahwa sabbu nabi yuqtal bi ijma’ ulama. Orang yang mencaci-maki nabi itu hukumannya dibunuh menurut ijma’ ulama. Ingat saya ini ada di kitabnya Qadli Iyadl dalam al-Syifa lalu dinukil oleh Imam Nawawi dalam al-Raudlah. Sekarang ada kejadian lagi. Mungkin dua orang penghina nabi peristiwa disuruh entah sengaja atau tidak sengaja. Mereka sengaja maupun tidak sengaja tetep dibunuh jika kita punya negara Islam. Kita tidak punya negara Islam, maka disini mestinya dibui. Langsung dibui aja. Penistaan agama ditangani polisi seperti zaman dulu. Dulu kalau ada penista agama langsung dijebloskan ke penjara. Tidak usah diadili, wong peradilannya saja tidak adil.

Walhasil, dua penista agama ini ingin supaya umat Islam melupakan hukum natal dan mengucapkan selamat hari natal. Supaya kita lupa. Apalagi sekarang didatangkan ulama dari kalangan habaib yang ucapannya syadz (nyeleneh) dengan membolehkan ucapan selamat natal. Tapi harus diingat-ingat. Beliau mengatakan boleh mengucapkan natal itu sebatas berbaik kata urusan dunia, artinya yang sudah kenal akrab dengan orang Kristen silahkan. Karena keakraban saja, karena mungkin saat kita hari raya Idul Fitri atau Idul Adha dia juga mengucapkan selamat hari raya. Itu memang yang beliau diinginkan, bukan kepada orang yang tidak akrab. Catatan dia juga jangan sampai membenarkan eksistensi agama Kristen. Dia hanya sebatas karena Kristen sedang senang-senang di dunia maka kita kasih ucapan selamat natal, selamat bersenang-senang. Artinya selamat itu bukan selamat dari dosa karena di akhirat nanti dia masuk neraka. Artinya harus begitu. Kemarin saat bedah buku, habib yang nyeleneh dari habaib yang lain itu juga mengatakan asal tidak masuk gereja. Tidak ikut natalan. Hanya sekedar mengirim ucapan selamat natal, tidak sampai grudak-gruduk ke gereja, tidak sampai memberi tumpeng seperti di trailer The Santri.

Natalan yang dirayakan tiap 25 desember adalah upacara umat Kristen untuk memperingati kelahiran Yesus yang mereka anggap sebagai tuhan. Mengucapkan selamat natal berarti mengakui Yesus sebagai tuhan. Ini kesyirikan yang nyata. Ini alasan yang sangat menharamkan, bahkan bisa terjerumus kufur karena mengucapkan selamat natal itu berarti meridhai kekufuran. Ridla bil kufri kufrun. Habib yang membolehkan tadi menjiplak dari Darul Ifta’ Mesir dengan alasan dulu memang meridlai kufur, sekarang sudah tidak begitu. Ini cuma berbuat baik saja. Lho, apakah imannya orang sekarang lebih baik dari imannya orang-orang dulu? Dulu orangnya agamis. Sekarang sekolah-sekolah tidak ada pelajaran agamanya. Jadi iman orang sekarang lebih lemah dari imannya orang-orang dulu dan mengkhawatirkan. Justru sekarang mestinya lebih berhati-hati.

Kemarin saya melihat video, dikirim Oleh Habib Miqdad Baharun, Habib Salim al-Syatiri mengharamkan mengucapkan natalan bahkan bisa kufur kalau ridla dan senang dengan kebesaran agama mereka. Barangsiapa berkeyakinan bahwa tuhan lebih dari satu, Isa adalah anaknya, maka dia telah musyrik seperti keterangan QS. al-Maidah: 72. Jelas bahwa natal bukan perayaan seremonial dunia semata, tapi ia adalah doktrin keagamaan Yesus yang sungguh sangat berlawanan dengan ‘Aqidah Islamiyah. Jadi yang mengatakan termasuk kebaikan ini salah, karena natal adalah sya’air dinihim (simbol agama mereka). Kenapa kita memberi selamat? Berarti kita ridla dengan kebesaran dan keramaian saat Yesus dinobatkan sebagai anak tuhan. Namun yang ironis agama Kristen menyebarkan agamanya lewat antek-anteknya, orientalis, IsNus, dan Banser yang akhirnya jadi abdi gereja.

Namun mengapa umat islam ikut-ikutan merayakan natal, padahal hukumnya sudah sangat jelas. Haram kelas berat. Sejarah natal, kata natal berasal dari bahasa Latin yang artinya lahir. Secara istilah natal berarti upacara yang dilakukan orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran Yesus yang mereka sebut tuhan. Peringatan natal baru tercetus antara 325-350 M oleh Paus Liberius yang ditetapkan pada 25 Desember sekaligus momentum penyembhan dewa matahari yang kadang diperingati pada 6 Januari, 18 Oktober, 28 April, atau 18 Mei oleh Kaisar Konstantine. Pada 25 Desember itu akhirnya diputuskan sebagai hari kelahiran Yesus. Jadi Konstantain itu raja Romawi yang aslinya menyembah dewa matahari seperti Patung Liberty di Amerika. Kan ada mataharinya, sama dengan trailer film The Santri. Na’udzubiLlah. Padahal dalam Injil Lucas bahwa Nabi Isa lahir pada akhir musim gugur sekitar bulan Maret. Al-Quran juga mengatakan Nabi Isa lahir di bawah pohon kurma yang banyak buahnya. Berarti Nabi Isa lahir pada musim gugur. Allah Ta’ala berfirman:

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا (22) فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25) فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا (26) [مريم : 22 – 26]

Dalam ayat ini menunjukkan bahwa kelahiran Nabi Isa bukan pada tanggal 25 Desember, tapi pada musim gugur kurma karena Maryam mengambil kurma untuk makanan mereka berdua. Tidak dijelaskan secara detail kapan Nabi Isa lahir, tapi dari kitab Injil bahwa Nabi Isa lahir sekitar bulan Maret pada musim gugur. Rakyat Konstantinopel merayakan hari kelahiran Isa dengan menyembah dewa matahari pada musim gugur. Lalu mengapa tanggal 25 desember umat Kristen merayakat kelahiran Nabi Isa, padahal di Injil tidak disebutkan tanggal kelahiran Nabi Isa? Paulus Liberius merubah Injil menjadi 25 Desember, hal ini diperuntukkan untuk menyatukan umat Kristen dan Katolik dalam perayaan natal karena perayaan natal sendiri adalah budaya Katolik Roma pada masa Kaisar Konstantine.

Jadi dalam Al-Quran hari natal bukan 25 desember tapi pada musim gugur kurma. Ada keterangan Nabi Isa al-Masih lahir pada bulan November, ada nukilan lagi tepatnya pada tanggal 15 antara bulan September atau Oktober. Seingat saya abah saya berkata Nabi Isa lahir pada bulan September. Adapun perayaannya ditunda sampai Desember, ini termasuk nasi’ yang diceritakan dalam Al-Quran:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ [التوبة : 37]

Jadi mengucapkan natal itu berbahaya karena kita menghormati penjajah yaitu Romawi yang berkhianat disamping Paus Liberius tadi. Disamping itu tidak ada ajaran dalam Injil untuk memperingati maulid. Kalau kita ada di dalam Al-Quran:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ [التوبة : 128]
وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا [مريم : 33]

Al-Quran menyebut hari lahir.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5) [الفيل : 1 – 5]

Ashhabul fil (tantara gajah) dihancurkan Allah dengan burung Ababil 40 hari sebelum Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lahir. Berarti Allah Ta’ala memperingati kelahiran Rasulullah dengan menyebut kehancuran Ashhabul Fil. Kalau dari Nabi Muhammad sudah jelas, beliau ditanya tentang puasa hari Senin. Jawab beliau, “Hari itu aku dilahirkan.” Nabi membolehkan memperingati maulid dengan puasa. Sekarang diqiyaskan dengan puasa yaitu shadaqah. Rasulullah juga menyembelih hewan Aqiqah atas nama dirinya. Maka kita bershadaqah pada saat maulid sama dengan membayar Aqiqah kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.

Pembahasan mengucapkan selamat natal tidak bisa dipahami dengan benar kecuali setelah memahami makna ucapan, apakah ucapan selamat natal termasuk tahniah yang diharamkan. Disamping itu, apakah termasuk tasyabbuh atau meniru kaum kafir. Dalam literatur Fiqh ucapan selamat lebih banyak disebut sebagai tahniah. Jika ditinjau dari segi bahasa tahniah adalah lawan dari ta’ziyah. Al-Bujairimi dalam Hasyiyah-nya mengatakan tahniah kebalikan dari ta’ziyah, yaitu mendoakan setelah kebahagiaan. Kalau ta’ziyah mengarahkan orang yang kena musibah agar sabar dengan janji pahala dan berdoa kepadanya. Dalam Lisan al-‘Arab juga sama.

Hukum tahniah kepada sesama muslim adalah sunnah seperti saat hari ‘Id, kelahiran, pernikahan, dan momen-momen gembira lainnya. Tujuannya adalah menumbuhkan kecintaan dan kegembiraan. Tahniah juga dianjurkan ketika orang terhindar dari satu bencana. (Hawasyi al-Syarwani, juz 3 hlm. 650, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 185, Nihayah al-Muhtaj, juz 7 hlm. 411)

Hukum tahniah kepada kafir ada rinciannya. Jika berhubungan dengan syiar agama mereka termasuk natalan maka diharamkan mutlak, dan mereka yang melakukannya layak mendapat ta’zir dari negara. Di Indonesia sudah ada UU Penistaan Agama. Ingat saya UU ini dari Pak Karno. Jasanya Pak Karno juga ada, tapi waktu itu entah mau hilangkan Konghucu atau apa. Al-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj mengatakan: bahwa grudak-gruduk ikut leang-leong, natalan, ke gereja, itu haram dan dita’zir. Begitu juga orang yang mengucapkan selamat dengan hari rayanya, tidak khusus natal hatta imlek. Natal yang lahirnya Nabi Isa yang harus kita hormati sebagai nabi saja tidak boleh, apalagi imlek, waisak, atau nyepi. Na’udzubiLlah. Di Tuhfah al-Muhtaj juga ada. Bukan hanya dari al-Syirbini.
Oleh habib yang membolehkan, dia bilang tidak ada dalil nash yang qath’i, hanya dari Fiqih. Cara berfikirnya kok seperti Muhammadiyah aja ini? Tidak mau dalil dari kitab-kitab madzhab. Dia berdalil Ibn Qayyim mengatakan tahniah kepada orang kafir ada tiga qaul. Haram, makruh, mubah. Lho, itu bukan urusan natal. Urusan ada anak lahir atau orang kawin dari mereka. Kalau urusan natal tidak ada khilaf. Salah beliau. Ia ahli dakwah, kurang fiqihnya.

Imam al-Bulqini secara gamblang mengatakan kalau selamat hari raya kepada Kristen itu diucapkan muslim karena niat mengagungkan agama mereka maka kufur. Seperti sekarang waktu masuk bulan Desember ini ada banyak promo seperti di penerbangan, beli mobil dikasih diskon. Kalau tidak disengaja maka tidak kufur, tapi bukan berarti boleh. Perkataan beliau tidak jadi kafir bukan berarti boleh, karena yang ditanyakan masalah kafir atau tidak, bukan boleh atau tidak boleh. Kalau ketidakbolehnya sudah maklum. Kalau dia sengaja mengagungkan agama atau hari raya mereka, dianggap benar, atau barakah, diridai allah, maka kufur. Kalau berkah yakni urusan dunia, maka tidak kufur tapi tetap tidak boleh. Ibn Qudamah mengatakan tahniah itu sama dengan salam. Kalau tahniah seperti urusan kelahiran, pernikahan, membangun rumah, itu boleh. Tapi kalau tahniah fi sya’air dinihim (dalam simbol-simbol agama mereka) jelas haram. Sudah diamalkan oleh para shahabat dan para salaf Alawiyyin. Sama dengan dia memberi tahniah saat Kristen munduk-munduk kepada salib, karena setiap natal pasti munduk-munduk pada salib. Ini kecuali kalau dipaksa. Ini ada fatwa Habib Salim, umpama dipaksa seperti orang yang bekerja di pabrik miliknya orang lalu Cina disuruh mengucapkna natal, maka tidak apa-apa asal hatinya tetap yakin Islam itu yang bener. Yang repot ini PNS (pegawai negeri) mulai zaman Gus Dur disuruh ikut natalan sekaligus tahun baru. Pokoknya jangan sampai senang, deh. Diniati tahun baru negara Indonesia aja. Jangan diniati ikut natalan. Negara Indonesia pernah dijajah Belanda, sekarang mau dijajah cina.

Cukuplah ini, InsyaAllah. Ini tulisan dikirim kemana-mana. Semoga bermanfaat, semoga Allah menjaga bangsa Indonesia dari dijajah oleh Cina dan komunis. Selamat natal ini mau dilegalkan ini permulaan untuk perusakan Islam supaya tauhid hilang. Nanti lama-lama jadi komunis, tidak ada tuhan. Sekarang nabinya dilecehkan, nanti Allah dilecehkan. InsyaAllah kita siap melawan itu semua, walaupun dia mendatangkan Habib Ali, ulama dari Mesir atau apa, kita tetap mengikuti salafuna shalihun, mengikuti Buya Hamka yang mengharamkan natalan. Semoga saya dicatat sebagai mujahid fi sabilillah diatas kepentingan pondok, pribadi, dan duniawi. Kita mementingkan urusan akhirat dan agama.”[*]

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons