Site Loader
Toko Kitab

Banyak sekali para pemuji Ahmad Muwafiq yang tetap bersikukuh bahwa apa yang dikatakan Muwafiq adalah pernyataan yang benar dan tendensius dengan menyertakan dalil yang sangat jauh sekali dari alur pembahasan dan tidak jujur dalam mengutip dalil. Dalil yang mereka jadikan tendensi hampir semua mengenai riwayat yang mengatakan bahwa nabi pernah menderita رَمَد (sakit mata) seperti yang terdapat pada kitab al-Sirah al-Halabiyah (juz 3 hlm. 487) dan Subul al-Huda wa al-Rasyad (juz 2 hlm. 134). Referensi semacam ini kemudian dipelintir demi melegitimasi ucapan Muwafiq yang menghina Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dengan mengatakan bahwa masa kecil Rasulullah rembes (dekil) dan tidak terurus karena diasuh oleh sang kakek semenjak usia enam tahun.

Perlu kami sampaikan bahwa banyak dari pemuja Muwafiq yang tidak jujur dalam mengutip dalil. Riwayat-riwayat yang tertera pada kitab-kitab diatas memang menerangkan bahwa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pada saat dirawat oleh Abdul Muthalib pernah mengalami sakit mata, sehingga kemudian sang kakek Abdul Muthalib disarankan untuk pergi ke ‘Ukadz menemui salah satu rahib yang terkenal mampu mengobati penyakit mata, namun oleh rahib malah disarankan untuk mengobatinya sendiri dengan ludah mulia Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Rasulullah mengalami penyakit tersebut bukan berarti nabi dalam keadaan rembes dan tak terurus tapi memang pada saat itu Makkah sedang mengalami cuaca yang panas. Hal ini dibuktikan dengan adanya orang-orang yang meminta berkah doa kepada Abdul Muthalib agar segera diturunkan hujan.

في جهد وجدب وقد سقى الله الناس بعبدالمطلب فاقصدوه لعله يسأل الله تعالى فيكم فقدموا مكة ودخلوا على عبدالمطلب فحيوه بالسلام فقال لهم أفلحت الوجوه وقام خطيبهم فقال قد أصابتنا سنون مجدبات وقد بان لنا أثرك وصح عندنا خبرك فاشفع لنا عند من شفعك وأجرى الغمام لك فقال عبدالمطلب سمعا وطاعة موعدكم غدا عرفات ثم أصبح غاديا إليها وخرج معه الناس وولده ومعه رسول الله صلى الله عليه وسلم فنصب لعبدالمطلب كرسي فجلس عليه وأخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم فوضعه في حجره ثم قام عبدالمطلب ورفع يديه ثم قال اللهم رب البرق الخاطف والرعد القاصف رب الأرباب وملين الصعاب هذه قيس ومضر من خير البشر قد شعثت رؤوسها وحدبت ظهورها تشكوا إليك شدة الهزال وذهاب النفوس والأموال اللهم فأتح لهم سحابا خوارة وسماء خرارة لتضحك أرضهم ويزول ضرهم فما استتم كلامه حتى نشأت سحابة دكناء لها دوى وقصدت نحو عبدالمطلب ثم قصدت نحو بلادهم فقال عبدالمطلب يا معشر قيس ومضر انصرفوا فقد سقيتم فرجعوا وقد سقوا (السيرة الحلبية – 1 / 183)

Artinya: …. Pembicara mereka berdiri lalu berkata, “Kami mengalami paceklik semalam bertahun-tahun. Kami tahu dengan jelas rekam jejak Anda dan kami paham betul kabar tentang Anda. Karena itu, doakanlah syafa’at kepada kami dari Tuhan yang memberi syafa’at kepada Anda dan menggerakkan mendung kepada Anda.” Lalu Abdul Muthalib menjawab, “Baiklah, besok tempat perjanjian kita di Arafah.” Kemudian Abdul Muthalib pagi-pagi sekali menuju Arafah bersama orang-orang, anaknya, dan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. diberikan kursi kepada Abdul Muthalib lalu beliau berdoa, …. (Ali Burhanuddin Halabi, al-Sirah al-Halabiyyah, juz 1 hlm. 183)

Justru peristiwa ini menunjukkan Irhas dan tanda kenabian Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.
Kata rembes dan tak terurus juga sangat tidak pantas bahkan keji sekali jika disematkan kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, karena arti dari rembes (huruf “e” disini sama bunyinya dengan huruf “e” pada kata resiko) dalam bahasa Jawa mempunyai arti keadaan anak kecil yang ingusan atau beringus (jorok). Orang Jawa biasanya menyebut anak kecil yang beringus hingga ingusnya berada di hidung dan mengotori sekitar hidung dengan kata rembes. Arti lain dari kata ini ialah keadaan orang yang belum mandi sehingga ada kotoran entah karena liur atau ada kotoran di mata dan penampilan yang semrawut. Semua makna ini jelas sekali bertentangan dengan penjelasan para ulama dalam menerangkan keadaan nabi semasa kecil. Nabi sejak dilahirkan selalu dalam keadaan bersih, berkhitan dan bercelak:

وولد صلى الله عليه وسلم معذورا مسرورا أي مختونا مقطوع السرة ووقع إلى الأرض مقبوضة أصابع يده مشيرا بالسباحة كالمسبح بها. (عيون الأثر في فنون المغازي والشمائل والسير – 1 / 43)

Artinya: Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dilahirkan dalam kondisi sudah dikhitan dan dipotong tali pusarnya. Rasulullah terbaring di bumi dengan jari-jari tangan menggenggam dan jari telunjuknya mengarah seperti orang yang membaca tasbih (tasyahhud). (Ibn Sayyidinnas, ‘Uyun al-Atsar fi Funun al-Maghazi wa al-Syamail wa-Siyar, juz 1 hlm 43)

Ketika dalam asuhan Abdul Muthalib keadaan nabi pun sangat sehat dan kuat. Kehadiran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pun sangat dimuliakan oleh sang kakek, bahkan Abdul Muthalib sangat peduli, memberi perhatian lebih, dan lebih mengutamakan nabi dari pada putranya sendiri.

سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي- للعصامي – (1 / 132)
قال في تاريخ الخميس: روى نافع بن جبير: أنه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم مع أمه آمنة بعد رد حليمة إياه لها، فلما توفيت، ضمه وكفله جده عبد المطلب، ورق عليه رقة لم يرقها على ولده، وكان يقربه منه ويدخل عليه إذا خلا وإذا نام، وكان يجلس على فراشه، وكان أولاده لا يجلسون عليه.

Artinya: Husain Bakri dalam Tarikh al-Khamis berkata: Nafi’ bin Jubair meriwayatkan bahwa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersama sang ibu lagi yakni Aminah setelah Halimah memberikan kembali Rasulullah kepadanya. Maka ketika Aminah wafat, Rasulullah lalu diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib. Beliau sangat sayang kepada Rasulullah melebihi sayanganya kepada anaknya. Abdul Muthalib berada di dekat Rasulullah dan menghampirinya ketika sendirian dan ketika tidur. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama duduk di permadani Abdul Muthalib dimana anak-anaknya tidak ada yang berani duduk di sana.

قال ابن إسحاق: حدثني العباس بن عبد الله بن معبد، عن بعض أهله قال: كان يوضع لعبد المطلب فراش في ظل الكعبة، وكان لا يجلس عليه أحد من بنيه إجلالاً له، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأتي حتى يجلس عليه، فيذهب أعمامه ليؤخروه عنه؛ فيقول عبد المطلب: دعوا ابني، ويمسح على ظهره، ويقول: إن لابني هذا شأناً؛ كذا قاله ابن الأثير في أسد الغابة.

Artinya: Ibn Ishaq berkata: Menceritakan kepadaku Abbas bin Abdullah bin Ma’bad, dari sebagian keluarganya, ia berkata: Abdul Muthalib diberi sebuah permadani di naungan Ka’bah dan tidak ada satupun anaknya yang berani mendudukinya sebagai penghormatan kepadanya. Suatu ketika Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama datang lalu duduk disitu, lalu paman-pamannya pun menghampiri untuk meminta Rasulullah tidak mendudukinya. Abdul Muthalib pun berkata, “Biarkan putraku,” sembari mengusap punggung Rasulullah. “Putraku ini punya sesuatu yang besar,” lanjutnya.

وقال قوم من بني مدلج – وهم مشهورون بالقيافة – : يا عبد المطلب، احتفظ به؛ فإنا لم نر قدماً أشبه بالقدم الذي في مقام إبراهيم منه، فقال عبد المطلب لأبي طالب: اسمع ما يقول هؤلاء في ابن أخيك، وقال عبد المطلب لأم أيمن وكانت تحضنه: لا تغفلي عن ابني؛ فإن أهل الكتاب يزعمون أنه نبي هذه الأمة، وكان عبد المطلب لا يأكل طعاماً إلا قال: علي بابني، فيؤتى به إليه، فلما حضرت عبد المطلب الوفاة، أوصى به أبا طالب.

Artinya: Abdul Muthalib tidak makan kecuali berkata, “Datangkan putraku kesini,” hingga Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pun didatangkan kepadanya. Ketika Abdul Muthalib akan wafat, beliau mewasiatkan hal tersebut kepada Abu Thalib. (Abdul Malik Ishami, Simth al-Nujum al-‘Awali fi Anba’ al-Awail wa al-Tawali, juz 1 hlm. 132)

Begitupun saat dirawat oleh pamannya Abu Thalib, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama selalu dimuliakan, sangat diperhatikan dan selalu dalam kondisi yang bersih dan sehat.

وَذَكَرَ كَوْنَ النّبِيّ – صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ – فِي كَفَالَةِ عَمّهِ يَكْلَؤُهُ وَيَحْفَظُهُ . فَمِنْ حِفْظِ اللّهُ لَهُ فِي ذَلِكَ أَنّهُ كَانَ يَتِيمًا لَيْسَ لَهُ أَبٌ يَرْحَمُهُ وَلَا أُمّ تَرْأَمُهُ لِأَنّهَا مَاتَتْ وَهُوَ صَغِيرٌ وَكَانَ عِيَالُ أَبِي طَالِبٍ ضَفَفًا ، وَعَيْشُهُمْ شَظَفًا ، فَكَانَ يُوضَعُ الطّعَامُ لَهُ وَلِلصّبْيَةِ مِنْ أَوْلَادِ أَبِي طَالِبٍ فَيَتَطَاوَلُونَ إلَيْهِ وَيَتَقَاصَرُ هُوَ وَتَمْتَدّ أَيْدِيهِمْ وَتَنْقَبِضُ يَدُهُ تَكَرّمًا مِنْهُ وَاسْتِحْيَاءً وَنَزَاهَةَ نَفْسٍ وَقَنَاعَةَ قَلْبٍ فَيُصْبِحُونَ غُمْصًا رُمْصًا ، مُصْفَرّةً أَلْوَانُهُمْ وَيُصْبِحُ هُوَ – عَلَيْهِ السّلَامُ – صَقِيلًا دَهِينًا كَأَنّهُ فِي أَنْعَمِ عَيْشٍ وَأَعَزّ كِفَايَةٍ لُطْفًا مِنْ اللّهِ – عَزّ وَجَلّ – بِهِ (الروض الأنف – 1/ 311)

Artinya: Didatangkan makanan kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dan anak-anak Abu Thalib. Mereka pun saling berebut makanan, namun Rasulullah menahan diri dari itu. Mereka saling mengulurkan tangan, namun Rasulullah menggenggam tangannya karena mempersilahkan, malu, perilaku yang bersih, dan hati yang terima apa adanya. Anak-anak Abu Thalib pun menjadi kotor dan belepotan warna kuning, sedangkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama keadaannya bersih dan wangi seperti dalam hidup yang paling nikmat dan paling kecukupan karena kasih sayang dari Allah ‘Azza wa Jalla. (Abdurrahman Suhaili, al-Raudl al-Anf, juz 1 hlm. 311)

و روي عن أمه آمنة أنها قالت : قد ولدته نظيفا ما به قذر (الشفا – (1 / 55)

Artinya: Diriwayatkan dari ibunya Aminah bahwa ia berkata, “Aku telah melahirkannya dalam kondisi bersih dan tidak ada kotoran sama sekali.” (Qadli Iyadl, al-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa, juz 1 hlm. 55)

(أنها قالت: ولدته نظيفا) أي نقيا (ما به قذر) بفتحتين أي وسخ ودرن كما رواه ابن سعد في طبقاته وروي أنه ولدته أمه بغير دم ولا وجع (شرح الشفا – 1/173)

Artinya: (Aisyah berkata: Saya melahirkannya dalam kondisi نَظِيْف) yakni نَقِيّ/bersih (dan tidak ada قَذَر) dengan dua fathah yakni kotoran dan debu seperti riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat. Diriwayatkan juga bahwa Aminah melahirkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama tanpa ada darah maupun air ketuban. (Qadli Iyadl, Syarh al-Syifa, juz 1 hlm. 173)

Muwafiq juga mempertanyakan tentang cahaya yang keluar pada saat Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lahir dan menganggap bahwa kelahiran Rasulullah itu biasa-biasa saja dengan membuat-buat alasan bahwa kalau ada cahaya keluar pasti ditangkap oleh Yahudi, bahkan ajaibnya oleh Abrahah yang sudah mati. Bagaimana orang yang mengaku sehari-harinya membaca sejarah nabi mempertanyakan peristiwa ini dengan alasan-alasan yang lucu dan tidak masuk akal, padahal dalam kitab-kitab Sirah soal cahaya kelahiran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sudah tidak diragukan lagi.

وعن همام بن يحيى عن إسحاق بن عبد الله أن أم رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت: لما ولدته خرج من فرجي نور أضاء له قصور الشام، فولدته نظيفا ما به قذر. رواه ابن سعد وإلى هذا أشار العباس بن عبد المطلب في شعره حيث قال: وأنت لما ولدت أشرقت ال * أرض وضاءت بنورك الأفق، فنحن في ذاك الضياء وفي النو * ر وسبل الرشاد نحترق. قال في اللطائف: وخروج هذا النور عند وضعه إشارة إلى ما يجيئ به من النور الذي اهتدى به أهل الأرض وزال به ظلمة الشرك. قال تعالى: قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ [المائدة : 15 ، 16]. وأما إضاءة قصور بصرى بالنور الذي خرج معه فهو إشاره إلى ما خص الشام من نور نبوته، فإنها دار ملكه كما ذكر كعب: أن في الكتب السالفة: محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم مولده بمكة ومهاجره بيثرب وملكه بالشام. فمن مكة بدت نبوة نبينا عليه الصلاة والسلام وإلى الشام انتهى ملكه (المواهب اللدنية – 1/128)

Artinya: dari Hammam bin Yahya, dari Ishaq bin Abdullah, bahwa ibu Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama berkata, “Ketika saya melahirkan Nabi Muhammad keluar dari arah kemaluanku cahaya yang menyinari istana-istana Syam, lalu saya melahirkannya dalam keadaan bersih dan tidak ada kotoran sama sekali.” … Ibn Jauzi dalam Lathaif al-Ma’arif mengatakan, “Keluarnya cahaya ini ketika melahirkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama adalah isyarah terhadap cahaya yang memberi petunjuk kepada penduduk bumi dan menghilangkan kegelapan syirik.” … Adapun bersinarnya istana-istana Bushra dengan cahaya yang keluar bersama kelahiran Rasulullah adalah isyarah khusus kepada Syam dari cahaya kenabian beliau karena Syam akan menjadi daerah kekuasaannya. (Syihabuddin Qasthalani, al-Mawahib al-Laduniyyah, juz 1 hlm. 128)

Sekali lagi kami tegaskan, keadaan nabi semasa kecil selalu bersih dan terawat. ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama memang pernah mengalami رَمَد (sakit mata), tapi tidak pernah mengalamiرَمَص (belekan; matanya mengeluarkan kotoran; rembes).

Pernyataan lain yang lebih keji dan ngawur dari Ahmad Muwafiq AkhzahuLlahu wa Ahanahu fi al-daraini adalah mengandaikan jika di Arab pada masa kecil Rasulullah terdapat buah jambu, maka Rasulullah juga akan mencuri jambu pada masa kecilnya dan menganggap Rasulullah tidak bisa baca tulis karena tidak mau sekolah dan sukanya bermain-main dengan kambing saja. Pernyataan semacam ini tidak mungkin akan keluar dari mulut seorang muslim yang benar-benar berpaham Ahlussunnah wal Jamaah dan meyakini sifat ma’shum yang dimiliki setiap nabi. Dari sini kelihatan sekali bahwa Muwafiq tidak paham bagaimana pendiri NU KH. Hasyim Asyari mengajari kita cara mengisi maulid nabi dalam kitab al-Tanbihat al-Wajibat:

يؤخذ من كلام العلماء الاتي ذكره أن المولد الذي يستحبه الأئمة هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القران ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه و سلم وما وقع في حمله ومولده من الارهاصات وما بعده من سيره المباركات. (التنبيهات الواجبات لمن يثنأ المولد بالمنكرات: 10)

Artinya: Diambil dari kalam ulama yang akan disebutkan nanti bahwa maulid yang disunnahkan oleh imam-imama adalah berkumpulnya manusia, membaca sebagian dari Al-Quran dan riwayat-riwayat tentang ihwal pertama Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, peristiwa yang terjadi saat mengandung dan melahirkannya dari berbagai irhas, dan sejarah hidup beliau yang diberkahi. (KH. Hasyim Asy’ari, al-Tanbihat al-Wajibat li Man Yatsna’ al-Maulid bi al-Munkarat, hlm. 10)

Selain itu, Ahmad Muwafiq membuat kebohongan besar dengan menyebut Waraqah bin Naufal (bukan Nufail seperti yang diucapkan Muwafiq) sebagai seorang dukun yang kaget begitu mengetahui Nabi Muhammad adalah seorang rasul. Tuduhan semacam ini jelas akan memberi pemahaman pada masyarakat awam bahwa Nabi Muhammad pernah mendatangi dukun dan bertanya pada dukun.

Padahal Waraqah bin Naufal adalah seorang yang alim yang mampu menerjemahkan Taurat dan Injil ke dalam bahasa Arab. Waraqah juga paham akan datangnya nabi akhir zaman jadi tidak mungkin kaget. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sendiri melarang mencela Waraqah bin Naufal:

( لا تسبوا ورقة بن نوفل فاني قد رأيت له جنة أو جنتين ) قال العراقي شاهد لما قاله جمع انه اسلم عند ابتداء الوحي (التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – 2 / 953)

Artinya: “Janganlah mencela Waraqah bin Naufal karena saya melihat baginya satu surga atau dua surga.” al-Iraqi berkata, “Hadits ini menguatkan hadits lain yang disampaikan oleh beberapa ulam bahwa Waraqah masuk Islam pada permulaan turunnya wahyu.” (al-Munawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2 hlm. 953)

وأخبرنا أبو جعفر بن السمين بإسناده عن يونس بن بكير عن هشام بن عروة عن أبيه قال : ساب أخ لورقة رجلا فتناول الرجل ورقة فسبه فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه و سلم فقال لأخيه : هل علمت أني رأيت لورقة جنة أو جنتين فنهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن سبه )أسد الغابة – 1 / 1107)

Artinya: Memberi kabar kepadaku Abu Ja’far bin Samin dengan jalur riwayatnya dari Yunus bin Bukair, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, ia berkata: Suatu ketika saudara Waraqah mencela seorang lelaki, lalu lelaki tersebut menemui Waraqah dan mencelanya. Berita ini sampai kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lalu beliau bersabda, “Apa kamu tahu bahwa aku melihat bagi Waraqah satu surga atau dua surga?” lalu Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama melarang celaan kepada Waraqah.” (Ibn Atsir, Usud al-Ghabah, juz 1 hlm. 1107)

Ucapan keji dari Muwafiq yang lain adalah mengatakan Nabi Sulaiman ‘alaihi al-Salam berbicara pada angin kentut yang kemudian membuat semua hadirin tertawa terbahak-bahak. Semua pemikiran dan pernyataan sesat Muwafiq merupakan benih-benih pemikiran Wahabi, Mu’tazilah, Syi’ah, bahkan benih dari pemikiran kristen, komunis, dan atheis.

Dua video permintaan maaf dari Muwafiq yang sudah beredar tidaklah cukup. Ia masih juga harus mengakui kesalahan besar yang telah diperbuat (dua video permohonan maaf yang sudah beredar di dalamnya terdapat pernyataan “jika saya salah” dan “jika saya keliru” yang tidak mencerminkan sepenuhnya mengakui kesalahan) serta wajib baginya untuk segera bertaubat dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, dan menyesali sekaligus menarik seluruh ucapan-ucapan yang merendahkan martabat Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama karena ucapan tersebut merupakan dosa besar yang dilaknat oleh Allah sebagaimana firmannya:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (الأحزاب : 57)

“Sesungguhnya orang-orang yang menghina Allah dan Rasul-Nya itu telah dilaknat Allah di dunia dan akhirat dan telah disiapkan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ [التوبة : 65]

“Sungguh jika kau bertanya kepada mereka, mereka pasti akan berkata kami hanya bergumam dan bergurau saja. Katakanlah, “Apakah Allah, ayat-ayat-Nya, dan utusan-Nya kalian jadikan bahan ejekan?” (QS. Al-Taubah: 65)

Tidakkah Muwafiq tahu atau memang tidak mau tahu bahwa tindakan tersebut berkonsekuensi pada kekufuran dan kemurtadan, bahkan secara hukum Syari’ah wajib diganjar hukuman mati meskipun mengaku tidak sengaja?

وما ذكره ظاهر لقصد النقص وهو كفر كما مر، ثم قال من تكلم غير قاصد للسب له ولامعتقد له في جهته صلى الله غليه وسلم بكلمة الكفر من لعنه أو سبه او تكذيب أو إضافة ما لا يجوز عليه أو نفي ما يجب له مما هو في حقه صلى الله عليه وسلم … فحكمه القتل إذ لا يعذر أحد في الكفر بالجهالة ولا بدعوى زلل اللسان (الاعلام بقواطع الاسلام – 2/384)

Artinya: Maka hukuman bagi bagi penista agama adalah dibunuh, karena seseorang tidak ditoleransi atas kekufuran karena ketidaktahuan maupun dalih terpelesnya lisan. (Ibn Hajar al-Haitami, I’lam bi Qawathi’ al-Islam, juz 2 hlm. 384)

حدثنا عبيد الله بن محمد العمري القاضي بمدينة طبرية سنة سبع وسبعين ومائتين حدثنا إسماعيل بن أبي أويس حدثنا موسى بن جعفر بن محمد عن أبيه عن جده علي بن الحسين عن الحسين بن علي عن علي رضي الله عنهم قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من سب الأنبياء قتل ومن سب الأصحاب جلد (المعجم الصغير – الطبراني – 1 / 393)

Artinya: Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh, dan barangsiapa menghina para shahabat maka dia didera.” (Abu Qasim al-Thabarani, al-Mu’jam al-Shaghir, juz 1 hlm. 393)

(من سب الأنبياء قتل) لانتهاكه حرمة من أرسلهم واستخفافه بحقه وذلك كفر قال القيصري : إيذاء الأنبياء بسبب أو غيره كعيب شئ منهم كفر حتى من قال في النبي ثوبه وسخ يريد بذلك عيبه قتل كفرا لا حدا ولا تقبل توبته عند جمع من العلماء وقبلها الشافعية (ومن سب أصحابي جلد) تعزيرا ولا يقتل خلافا لبعض المالكية ولبعض منا في ساب الشيخين ولبعض فيهما والحسنين. (فيض القدير 6/ 190)

Artinya: (Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh) karena merusak kehormatan Allah yang mengutus mereka dan meremehkan hak mereka, dan ini kufur. Al-Qaishari berkata, “Mencela para nabi baik dengan sebab atau tidak seperti halnya mencela satu hal kecil dari mereka adalah kufur. Bahkan jika orang berkata tentang nabi bahwa bajunya kotor dengan maksud mencela mereka, maka dibunuh karena kafir bukan karena hukum had. Ia tidak diterima taubatnya menurut sekelompok ulama, sedangkan menurut madzhab Syafi’i diterima taubatnya. (Abdurrauf Manawi, Faidl al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 6 hlm. 190)

وقد نقل بن المنذر الاتفاق على أن من سب النبي صلى الله عليه و سلم صريحا وجب قتله ونقل أبو بكر أحد أئمة الشافعية في كتاب الإجماع أن من سب النبي صلى الله عليه وسلم مما هو قذف صريح كفر باتفاق العلماء ، فلو تاب لم يَسقط عنه القتل ؛ لأن حدَّ قذفه القتل ، وحد القذف لا يسقط بالتوبة … فقال الخطابي لا أعلم خلافا في وجوب قتله إذا كان مسلما (فتح الباري -12/281)

Ibn Mundzir mengutip kesepakatan bahwa penista Rasulullah ShallaLlahu ’alaihi wa Sallama secara terang-terangan wajib dibunuh. Abu Bakar seorang imam madzhab Syafi’i mengutip dalam Kitab al-Ijma’ bahwa orang yang menghina Rasulullah ShallaLlahu ’alaihi wa Sallama secara terang-terangan adalah kufur menurut konsensus ulama, dan jikapun dia bertaubat maka hukum dibunuh tidak bisa gugur.” (Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz 12 hlm. 281)

“من سبّ نبياً أو ملكاً أو عرّض به أو لعنه أو عابه أو قذفه أو استخف بحقه وما أشبه فإنه يقتل ولا يستتاب. ولا تقبل منه التوبة لو أعلنها ولو جاء تائباً قبل أن يطلع عليه، لان القتل في هذه الحالة حد خاص وإن كان يدخل تحت الردة”. “التشريع الجنائي” لعبد القادر عودة -2/724(

Artinya: Barangsiapa menghina nabi atau raja, menyindir, melaknat, menghujat, meremehkan haknya, dan lain-lain, maka dia dibunuh dan tidak dimintai pertaubatan dulu karena tidak diterima taubatnya. (Abdul Qadir Audah, al-Tasyri’ al-Janai, juz 2 hlm. 724)
وقد أفتى أكثر فقهاء الحنفية بناء عليه بقتل من أكثر من سب النبي صلّى الله عليه وسلم من أهل الذمة، وإن أسلم بعد أخذه، وقالوا: يقتل سياسة. وأجمع العلماء كما قال القاضي عياض في الشفا على وجوب قتل المسلم إذا سب النبي صلّى الله عليه وسلم ، لقوله تعالى: {إن الذين يؤذون الله ورسوله لعنهم الله في الدنيا والآخرة وأعد لهم عذاباً مهيناً} [الأحزاب:57/33]. (الفقه الإسلامي وأدلته – (7 / 517)

Artinya: Para ulama sepakat seperti keterangan Qadli Iyadl dalam al-Syifa atas kewajiban membunuh seorang Muslim ketika dia menghina Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiy, juz 7 hlm. 517)

أما سب النبي صلى الله عليه وسلم فالإجماع منعقد على أنه كفر والاستهزاء به كفر قال الله تعالى} قل أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزئون{ }لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم{ بل لو لم تستهزئوا قال أبو عبيد القاسم بن سلام فيمن حفظ شطر بيت مما هجي به النبي صلى الله عليه وسلم فهو كفر وقد ذكر بعض من ألف في الإجماع إجماع المسلمين على تحريم ما هجي به النبي صلى الله عليه وسلم وكتابته وقراءته وتركه متى وجد دون محوه (فتاوى السبكي – 2/573)

Artinya: Adapun penista Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama maka menurut konsensus ulama dia kafir, dan meremehkan Rasulullah juga kufur. (Taqiyuddin Subki, al-Fatawa, juz 2 hlm. 573)

وقال ابن المنذر – رحمه الله تعالى -: “أجمع عامة أهل العلم على أن من سب النبي صلى الله عليه وسلم عليه القتل، وممن قال ذلك: مالك والليث وأحمد وإسحاق، وهو مذهب الشافعي (تفسير القرطبي – 4/ 432)

Artinya: Mayoritas ahli ilmu bersepakat bahwa orang yang menghina Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama berhak untuk dibunuh. Termasuk yang mengatakan itu adalah Imam Malik, Laits, Ahmad, dan Ishaq, sedangkan itu adalah pendapat madzhab Syafi’i. (Abu Abdullah Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran (Tafsir al-Qurthubi), juz 4 hlm. 432)

Dalam video yang lain, Muwafiq AkhzahuLlahu wa Ahanahu fi al-daraini juga telah lancang berani melecehkan Sayyidah Aisyah dengan mengatakan pernikahan Sayyidah Aisyah dengan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama tidak bisa dinalar dan tidak logis. Bahkan Sayyidina Umar pun dilecehkan dan dianggap berwajah sangat seram dan sadis. Padahal hukuman bagi orang yang melakukan penistaan semacam ini berat sekali.

ومن سب عائشة رضي الله عنها قتل لأن الله تعالى يقول فيها يعظكم الله أن تعودوا لمثله أبدا إن كنتم مؤمنين فمن رماها فقد خالف القرآن ومن خالف القرآن قتل (فتاوى السبكي – 2/ 569)

Artinya: Orang yang menghina Aisyah RadliyaLlahu ‘anha berhak dibunuh. (Taqiyuddin Subki, al-Fatawa, juz 2 hlm. 569)

وقد روي عن مالك فيمن سب عائشة أنه يقتل مطلقا ويمكن حمله على السب بالقذف انتهى. وقال في الإكمال في حديث الإفك: وأما اليوم فمن قال ذلك في عائشة قتل لتكذيب القرآن وكفره بذلك وأما غيرها من أزواجه فالمشهور أنه يحد لما فيه من ذلك ويعاقب لغيره وحكى ابن شعبان قولا آخر أنه يقتل على كل حال وكأن هذا التفت إلى أذى النبي صلى الله عليه وسلم حيا وميتا انتهى (مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل – 8/ 381)

Artinya: Diriwayatkan dari Imam Malik tentang orang yang menista Aisyah bahwa dia berhak dibunuh secara mutlak. (Syamsuddin Ru’aini, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar al-Khalil, juz 8 hlm. 381)

وقال في الإكمال أيضا: وسب أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وتنقصهم أو واحد منهم من الكبائر المحرمات. وقد لعن النبي صلى الله عليه وسلم فاعل ذلك وذكر أن من آذاه وآذى الله تعالى فإنه لا يقبل منه صرف ولا عدل واختلف العلماء فيما يجب عليه فعبد الملك ومشهور مذهبه إنما فيه الاجتهاد بقدر قوله والمقول فيه وليس له في الفيء حق وأما من قال فيهم: إنهم كانوا على ضلالة وكفر فيقتل (مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل – 8/ 381)

Artinya: Menista shahabat Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dan merendahkan mereka atau salah satu dari mereka termasuk dosa besar yang diharamkan …. Adapun orang yang berkata tentang shahabat bahwa mereka sesat dan kafir maka dia dibunuh. (Syamsuddin Ru’aini, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar al-Khalil, juz 8 hlm. 381)

Mengenai pesan Gus Mus yang mengatakan “Jangan mau dibodohi oleh Setan Kebencian. Tidak ada orang muslim, umat Nabi Muhammad SAW –apalagi yang sehari-hari melakukan dakwah menyampaikan sabda Nabinya– sengaja menghina Nabinya sendiri. Jaga akal sehat. Jangan tunduk pada Setan Kebencian dan Iblis Adu domba” justru malah sebenarnya yang dibodohi setan dan iblis adalah orang-orang yang diam dan tak merasa sakit hati saat nabi dan agamanya dinistakan, bahkan malah lebih memilih menomorsatukan dan membela seorang penceramah yang menghina nabi hanya karena dia dianggap kyai NU. Seorang dai yang benar-benar paham ilmu agama tidak akan mungkin keluar kata-kata kotor dari mulutnya apalagi sampai berani melecehkan nabi, keluarga nabi dan shahabat nabi.

Kita bukan orang bodoh yang tidak tahu bahwa menistakan agama wajib dihukum baik secara Syari’ah maupun secara hukum negara sebagaimana termaktub dalam KUHP Pasal 156(a) melengkapi dekret Presiden Soekarno yang dijalankan oleh Presiden Soeharto, yaitu Dekrit Presiden No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Bahkan sejak zaman kolonial Belanda kasus penistaan agama sudah ada dan ditindak seperti kasus penistaan agama pada 9 dan 11 Januari 1918, Martodharsono redaktur Djawi Hiswara memuat tulisan karya Djojodikoro. Tulisan yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo” itu menyulut kemarahan HOS Tjokroaminoto karena memuat kalimat “Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. Gin, minoem opium dan kadang soeka mengisep opium”. Selang sebulan kemudian, 24 Februari 1918, HOS Tjokroaminoto menggalang solidaritas umat Muslim di Hindia Belanda untuk turun ke jalan. Pada hari itu di 42 tempat berbeda di Jawa dan sebagian Sumatera, sekitar 150 ribu orang melangsungkan demonstrasi menuntut pemerintah kolonial menghukum Martodharsono dan Djojodikoro.

Fenomena maraknya tindakan penistaan agama akhir-akhir ini adalah dampak dari lemahnya penindakan kasus penistaan oleh aparat yang berwajib. Kita hitung saja orang seperti Sukmawati, Ade Armando, Denny Siregar, Permadi Arya (Abu Janda), Eko Khuntadi dan Muwafiq yang sampai sekarang masih bebas berkeliaran meskipun sudah dilaporkan, dan seperti yang pernah disampaikan oleh Gus Nur hampir bisa dipastikan setiap ada penistaan agama pasti pelakunya merupakan orang yang dekat dengan rezim ini.

Perlu kami ingatkan kepada semua kaum Muslimin untuk tidak membuat lelucon, guyonan, penggambaran ataupun logika yang dapat mengundang tawa terbahak-bahak saat menyampaikan pengajian ataupun mauidhoh hasanah yang membahas tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, dan ayat Al-Quran lebih-lebih saat peringatan maulid nabi. Termasuk yang kami ingatkan dalam hal ini ialah alumni pondok pesantren Al-Anwar Sarang yang dikenal alim namun dalam setiap pengajiannya selalu memakai bahasa yang kurang santun dan kurang beradab sebagaimana saat menceritakan kisah para nabi dan menyatakan bahwa Nabi Harun menjadi nabi berkat proposal yang diajukan Nabi Musa kepada Allah, nabi-nabi lain tidak selevel dengan Nabi Muhammad, Nabi Musa hasud kepada Nabi Muhammad, nabi seringkali lupa ketika shalat, dan masih banyak contoh lainnya. Tidak benar jika ia mengaku apa yang ia sampaikan dalam pengajiannya memiliki sanad yang muttasil kepada al-Maghfur lahu Mbah Maimoen apalagi sampai ke Rasulullah. Al-Maghfur lahu justru selalu santun dan memilih bahasa yang tidak serampangan dalam setiap pengajiannya lebih-lebih saat menceritakan kehidupan para nabi.

Kami menulis tanggapan ini atas permintaan KH. Ustukhri Irsyad Pengasuh PP. Al-Hidayah untuk menanggapi pembelaan KH. Hanief Muslih pengasuh PP. Futuhiyyah Mranggen Demak terhadap Muwafiq.
Terakhir, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga akidah umat Islam dari rongrongan pemikiran sesat musuh-musuh Islam berkat kecintaan kita kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, keluarganya, dan para shahabatnya. Amin.

Sarang, 14 Rabiul Tsani 1441 H.

KH. Muhammad Najih MZ.

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons