Site Loader
Toko Kitab

Pada hari Sabtu tanggal 6 Rabi’ul Awwal 1441 H/1 November 2019 M kemarin, Syaikh Muhammad Najih diminta memberi mauizhah dalam acara penutupan Lomba Maulidiyyah PP Al-Anwar sekaligus peringatan Harlah PP-Al Anwar. Dalam mauizhah tersebut Abah Najih banyak menceritakan tentang sejarah perjalanan pondok pesantren Al-Anwar mulai masa berdirinya hingga berdiri kokok seperti sekarang ini. Berikut kutipan penyampaian beliau dalam durasi sekitar satu jam tersebut:

“Para masyayikh, pengurus, asatidz, dan talamidzah di PP Al-Anwar yang saya hormati. Ini acara mendadak, yakni penutupan musabaqah dalam rangka menyambut Harlah PP Al-Anwar ke-63. Jadi Al-Anwar lahir tahun 1966. Dulu Al-Anwar asalnya mushalla di depan rumah Abah Maimoen. Belum ada nama Al-Anwar. Malah asalnya sebelum jadi mushalla, cerita kakak saya, itu berupa tanah kosong. Setiap abah melempatkan biji-bijian seperti semangka selalu bisa berbuah. Saya waktu itu masih kecil, karena saya lahir tahun 1963. Waktu itu Mbah Moen mengamalkan Ratib Haddad, tapi diamalkan sendiri. Abah saya mendapat Ratib Haddad dari Mbah Manaf Lirboyo, Mbah Manaf dari Mbah Kholil Bangkalan. Artinya sanadnya kuat (‘ali). Barakah. Saya waktu itu baru lahir. Kemudian tanah tersebut menjadi mushalla sebagai tempat ngaji. Belum ada pondoknya. Lama-lama dipakai untuk tempat musyawarah pada waktu malam oleh santri-santri pondok MIS. Santri yang besar-besar musyawarah di mushalla sini. Saya dikasih tahu alumni MIS yang masih cucunya Mbah Kholil, dulu bagian pojok sini masih dijaga. Mbah Moen cerita bahwa waktu masih muda kalau mandi di pondok MIS. Padahal Abah dulu di pondok MUS, tapi mandi di MIS. Mungkin di MUS susah air.

Awal Mula PP Al-Anwar dan Mbah Murtadla

Walhasil, ini pondok lahir tahun 1966 tapi belum berupa pondok. Terus kira-kira tahun 1969 ada putra Kiai Mahrus namanya Gus Imam minggat. Karena mobil bapaknya dia pakai lalu tabrakan, dia takut terus minggat kesini. Minta perlindungan ke Abah. Sebelum itu ada putranya adik ibu saya yaitu Gus Hamid ikut disini tapi di rumah. Gus Imam asalnya juga di rumah. Di rumah depan dibuatkan satir dengan triplek. Ingat saya malah memakai koran-koran untuk menutupi kamar. Lama-lama ketika Mbah Imam MIS masuk Golkar kemudian para santri pindah kesini. Akhirnya dibuatkan pondok. Terus lama-lama ada bantuan dari Haji Ma’ruf yang punya rokok Djambu Bol lewat Kiai Arwani, dibuatkan bangunan bagus. Tapi kok sekarang hilang bangunannya. Mungkin karena rokok tidak barakah. Di komplek DS sekarang yang bagian timur itu dulu ada bangunan bagus hasil pemberian Mbah Arwani dari Haji Ma’ruf. Dulu berada di tempat yang sekarang jadi bagian mushalla pondok paling timur, yang ada sumurnya dan ada kamar mandinya. Bagus kamar mandinya. Terbuat dari Keramik. Zaman dulu keramik harganya mahal.

Walhasil, saya hanya cerita. Al-Anwar lahir 1966, lalu Abah membeli tanah untuk komplek AF. Asalnya tanah milik Mbah Mun putri Kiai Masykur. Kiai Masykur putra Kiai Murtadla. Mbah Murtadla itu alim juga kaya. Sampai Mbah Sholeh Darat -yang cerita Lek Fatah mertua Kamil adik saya- itu berkata: “Tak kira Sarang yang ngalim itu hanya Kiai Ghazali. Yang alim itu yang mengajar di pondok saja. Ternyata di Sarang orang kampungnya juga ada yang alim, namanya Mbah Murtadla.”

Mbah Murtadla mengajar kitab Ihya ‘Ulum al-Din. Rumahnya di tanah yang sekarang menjadi komplek Al Firdaus (AF). Saya waktu kecil sering mandi disitu. Dulu tanah NH lama asalnya pekarangan, banyak pohon jambu. Konon orang kampung sering mencuri jambu disitu. Hatta mushalla tadi juga subur. Mungkin karena tanah-tanah kiai. Katanya lagi, komplek Mathla’ul Anwar dan jalan di depannya sekaligus rumahnya Pak Aziz juga itu, tanahnya dulu milik Mbah Saman. Mbah Saman itu yang membiayai pembangunan pondok Sarang. Dia adalah orang kaya asli Sedayu. Saya masih menangi, di tempat yang sekarang ada gerbang ke pondok itu dulu ada pintu yang besar. Pintu besar itu tanda ada orang kaya disitu. Jadi ada gerbangnya besar, disini juga ada. Pernah suatu ketika ada kebakaran, orang Sarang rumahnya terbakar semua tapi pondok MIS dan rumah kiai-kiai tidak terbakar.

Kiai Jauhari: Orang Paling Beruntung itu Maimoen

Saudara-saudara sekalian. Ada lagi namanya Kiai Jauhari. Kiai Jauhari itu suami Mbah Mun binti Masykur. Abah saya cerita bahwa beliau mengaji Tafsir al-Jalalain kepada Kiai Masykur. Pekerjaannya galangan kapal. Dulu di tanah yang sekarang ada rumah penjahit Mushlih itu ada galangan kapal. Ada orang bekerja disitu. Kiai Jauhari pernah jadi kiai di Sarang, namun kemudian berbeda pendapat dengan Mbah Zubair. Istilahnya kalah, terus lari ke Jawa Timur. Tidak langsung ke Kencong Jember. Jadi kalau kamu kurang ilmiahnya menikah saja yang banyak supaya kelihatan keramatnya. Yang alim-alim seperti Pak Rozi istri satu saja sudah keramat. Bisa mengajar itu juga keramat.

Mbah Jauhari pernah berkata, “Orang yang paling beruntung itu Maimoen.” Yang diberitahu adalah Kak Ubab ketika Mbah Jauhari diajak keliling Kak Ubab. Sebabnya Mbah Moen punya tanahnya Kiai Murtadla. Tanah Komplek NH Baru dulu ada pondoknya Kiai Murtadla. Pondok kampung. Mbah Murtadla itu alim. Mbah Syu’aib meminta Mbah Murtadla mengajar kitab Ihya’ ke kiai-kiai Sarang. Mbah Sholeh Darat saja mengakui, “Heran aku dengan Sarang. Tanah hanya sejengkal saja tapi yang alim banyak. Tidak hanya yang punya pondok, orang kampungnya juga alim. Makanya Mbah Zubair dan Mbah Dahlan kuburannya di tempat sekarang ini juga sebab ada Mbah Murtadla. Ini ilmu yang jarang diberikan.

Jadi disini ada berkah keturunan kiai, berkah pondok, dan berkah namanya Mbah Murtadla. Ada lagi di komplek DH ada lurah namanya Haji Masyhadi. Dia seorang lurah yang kaya, rumahnya di Deha situ. Ada lagi muazin Mbah Kholil Bangkalan namanya Haji Miftah. Rumahnya juga disitu. Mbah Moen dulu mondok sebentar di Lirboyo dan akrab dengan Kiai Manaf (Mbah Abdul Karim). Akrabnya itu karena tiga perkara. Satu, Kiai Manaf punya menantu bernama Kiai Mahrus. Beliau waktu pernikahan dijemput bukan dari rumahnya di Cirebon, tapi dari Rembang. Dari pondoknya Mbah Kholil Kasingan Rembang. Jadi statusnya waktu itu masih nyantri di Rembang, terus diambil menantu oleh Mbah Manaf. Mbah Kholil Rembang masih saudara dari Sarang karena asalnya memang dari sini. Kholil bin Harun, saudaranya adalah Umar bin Harun.

Dua, karena Haji Miftah tadi. Haji Miftah itu temannya Mbah Manaf dan muazin Mbah Kholil Bangkalan. Kata Abah, Mbah Kholil memberi baju kepadanya yang isyarahnya dia akan jadi pejabat. Akhirnya jadi perangkat desa, menjadi carik. Masa’ dia bisa nulis Indonesia, wong hanya tukang adzan? Zaman kuno santri tidak sekolah. Walhasil, akhirnya beliau jadi carik. keponakan atau sepupunya lalu jadi lurah yang paling lama, namanya Haji Masyhadi.
Jadi Mbah Jauhari berkata kepada Kak Ubab, “Yang paling beruntung itu bapakmu.” Pondok ini adalah tanahnya Mbah Murtadla. Mbah Murtadla itu alim. Mbah Jauhari agak gimana gitu dengan Mbah Syu’aib. Istilahnya beliau tidak alim.

Saudara-saudara sekalian. Jadi ini hanya mengingat Harlah Al-Anwar untuk mengingatkan kewajiban-kewajiban tentang pondok. Jadi orang kuno niatnya mondok, bukan niat sekolah. Sampeyan niatnya gimana awalnya? Sekarang saya kasih tahu. Niatnya itu mondok, entah ada belajar atau tidak. Ada kegiatan atau tidak tetap di pondok dan ikut kegiatan pondok seperti jama’ah, wiridan, atau membaca Al-Quran. Mondok itu kesempatan membaca Al-Quran.

Pancasila dan Surah Iqra’

Saya sendiri sebetulnya tidak begitu senang dengan acara nyatusi segala macam yang takalluf (ngoyo-ngoyo) itu. Tapi bagaimana lagi ini sudah membudaya, apalagi Mbah Moen itu kiai NU, kiai nasional, bahkan kiai internasional. Beliau di akhir-akhir sudah kadung bilang “Aku ini PBNU”, tapi PBNU ini artinya Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45. Pancasila, artinya Shalat Lima Waktu. Dulu mbah Moen memaknani Surah Iqra’ awal sebagai Pancasila, yaitu Firman Allah Ta’ala:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7) إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8) [العلق : 1 – 8]
Pancasila sila pertama adalah QS. Iqra: 1:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
Sila kedua adalah QS. Iqra’: 2:
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2)
Sila ketiga adalah QS. Iqra’: 3:
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
Akram itu persatuan. Orang bisa mulia ketika Bersatu dan membangun bareng-bareng.
Sila keempat adalah QS. Iqra’: 4-5:
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Orang dengan qalam, ilmu, peradaban, atau mudahnya bersekolah bisa membuat tulisan-tulisan dan bisa mengerti ilmu, akhirnya bisa hikmah atau musyawarah. Jadi ilmu yang paling penting adalah musyawarah. Orangnya bijaksana dan hikmah.

Sila kelima adalah QS. Iqra’: 6-8:
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7) إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8)

Orang kalau merasa kaya itu biasanya jahat, akhirnya tidak mau sosial. Makanya kita disuruh sosial.
Walhasil, kadang istilahnya lima. Pancasila itu lima. Islam itu rukunnya lima. Iman itu juga lima menurut Mbah Moen, hanya saja ditambahi iman kepada Qadla dan Qadar supaya kita jangan memaksakan kehendak. Meskipun dunia itu ada yang baik dan ada yang buruk, pokoknya mana yang baik pegang dan teruskan, sementara yang buruk dijauhi sebisanya. Jangan bilang anti keburukan. Memang sudah zamannya buruk kok mau anti keburukan? Mati saja kalau begitu. Itu nalar filsafatnya Mbah Moen.

Jadi Pancasila lima itu kembali ke Rukun Islam ada lima. Rukun Iman enam itu aslinya lima. Iman kan cukup iman kepada Allah, termasuknya adalah meyakini ketuhanan Allah. Allah itu Tuhan, Tuhan itu pencipta. Kalau pencipta mesti merancang, mesti punya rencana. Kamu mau buat mobil mesti punya rencana. Mobil ini kuatnya sepuluh tahun. Kalau sudah sepuluh tahun sering bobrok. Pencipta sudah tahu.

Dasar Manusia itu Baik

Orang itu pada dasarnya baik karena ia anak turun Nabi Adam. Diciptakan dari turab (tanah), tanah itu bersih. Allah menjadikan tanah bumi ini menjadi tempat shalat dan bersuci. Jadi hukum asal tanah itu suci. Aslinya manusia itu baik. Sekarang mengapa bisa ada yang buruk? Karena ia tergoda. Manusia sendiri punya potensi buruk karena diciptakan dari thin (lempung). Dari tanah itu di sebagian ayat, di sebagian ayat lain dari thin. Lempung itu asalnya tanah yang tercampur air. Jika dia terkena angina atau api akhirnya kaku dan saat dipukul ada suaranya. Manusia ada potensi buruk, namun asalnya dari tanah yang suci. orang kalau mengerti asal itu enak. Orang kadang pula dengan desa asalnya. Mbah Moen kalau mengkritik santri ketika ditanya, “Mana rumahmu?” lalu ia menjawab, “Rumah saya Pati,” Mbah Moen mengkritik, “Pati mana? Kok kota saya.” Santri tadi tidak mengerti asalnya. Sebut desanya dulu, kok langsung kotanya?

Saudara-saudara sekalian. Kita beriman kepada Allah itu sudah mencakup Qadla dan Qadar. Tuhan itu Pencipta langit dan bumi. Dia punya Qudrah, Iradah, Ilmu, dan Hayah. Qudrah dan iradah itu sifat, pelaksanaannya adalah Qadla dan Qadar. Qadar menurut Maturidi adalah ajal di zaman Azali, sedangkan Qadla itu keputusan atau Kalam Allah “Kun”. Kalau Asy’ari dibalik. Qadha itu rencana yang diputus di zaman azali, sedangkan Qadar itu diputus sekarang. Walhasil, pekerjaan Allah itu:

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ [الرحمن : 29]
Ada orang bernama Hibatullah Ibn Syajari pengajar tafsir. Pas menerangkan ayat diatas beliau berkata, “Setiap hari ini bahasa quran, maksudnya setiap waktu. Allah itu berurusan.” Lalu ada Nabi Khidlir lewat beliau bertanya dan merenungkan dengan bentuk orang biasa. “Apa urusan Tuhan kita hari ini?” Waktu itu Hibatullah Ibn Syajari karena sedang bingung atau bagaimana akhirnya tidak bisa menjawab, lalu berkata, “Besok kesini lagi, nanti saya jawab.” Lalu malamnya Ibn Syajari mimpi bertemu Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lalu beliau bersabda,
شُؤُوْنٌ يُبْدِيْهَا وَلاَ يَبْتَدِيْهَا، يَرْفَعُ أَقْوَامًا وَيَضَعُ آخَرِيْنَ (حاشية الصاوي على جوهرة التوحيد: 88)
Yaitu perkara-perkara yang Allah tinggal wujudkan, tinggal melaksanakan. Bukan Dia baru rencana waktu itu, tapi sudah direncanakan pada zaman azali. Ada yang diangkat urusan akhirat, ada yg direndahkan. Tiap hari, tiap waktu. Gusti Allah menciptakan sesuatu tidak sembarangan, tapi sudah ada rencananya yang lengkap. Ini yang ditiru orang sekarang oleh arsitektur-arsitektur. Harus ada rencananya, kalau tidak ada tulisannya tidak bisa berjalan. Kalau Gusti Allah mestinya tidak ada tulisan pun bisa, tapi bagaimana lagi begitulah Allah menghendaki. Untuk mengajari makhluk-Nya untuk itqanul amal (memaksimalkan usaha). Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:
إِنَّ الله يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه أبو يعلى)
Allah suka seseorang ketika beramal itu maksimal, jangan separuh-separuh.

Nah, ini saya ingatkan. Orang kalau mondok niatnya mondok, nyantri, nderek kiai. Santri kuno begitu. Tidak sekolah. Tetap mengaji, tapi kan pondok ada liburnya. Harus diisi kegiatan-kegiatan sendiri. Makanya saya kasih ngaji kitab biar tidak menganggur terus tidur saja. Tapi lebih mending tidur daripada rokokan, cangkruan, dst. Jadi niat santri kuno itu mondok tapi tetap mengaji. Kalau dulu zaman Imam Ghazali, Imam Nawawi, dst itu niatnya memang belajar. Tidak ada pondok seperti di Jawa. Bentuk pendidikannya seperti di universitas yaitu asrama. Artinya disitu tidak ada kiainya, hanya pelajar-pelajar saja. Itu saja kebanyakan buatan pemrintah atau orang kaya. Tidak ada kiainya. Paling yang ada kiainya tempat-tempat thariqah seperti Syaikh Abdul Qadir Jailani. Yang banyak pendidikan zaman itu berasal dari orang kaya. Kalau disini kan ada kiai, lalu diikuti oleh santri dan dibuatkan kamar, lalu baru beli tanah dan dibuat pondok. Orang sekarang kiainya sudah punya tanah, bahkan sudah ada masjidnya dulu, dst. Kalau Walisongo memang dari masjid dulu, baru pondoknya mengikut ke masjid. Disini Mbah Moen dulu asalnya mushalla.

Yang penting saya mengingatkan tadi untuk kembali kesini untuk persiapan serratus harinya Mbah Moen, sampeyan yang tidak panitia bisa bantu-bantu panitia. Minimal mendoakan dan membaca shalawat yang banyak. Harlahnya sekarang, besok tinggal tahlilan ke Mbah Moen. Asalnya Nadwah Fiqhiyyah itu tidak ada, terus saya adakan tapi sederhana. Lomba niatnya tidak ada, terus saya kasih lomba rohani. Harlah asalnya tidak ada, lalu saya beri sedikit supaya yang penting ada tapi tidak hura-hura. Semoga yang kita upayakan ini diridlai Masyayikh kita khususnya Mbah Maimoen sendiri, Mbah Zubair, dan Masyayikh Sarang. Kemudian semoga mendapat ridla Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, lalu semoga mendapat ridla Allah Ta’ala.”(*)

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons