Site Loader
Toko Kitab

Demikian penggalan pernyataan beliau ketika memberi mau’izhah hasanah untuk pelaksanaan Ikhtibar (ujian) bertepatan dengan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2019 M. Dalam penyampaian Abah Najih di mushalla PP Al-Anwar I tersebut membicarakan banyak hal tentang hari santri dan resolusi jihad sebagai asal mula sebelum Hari Santri tersebut ditetapkan. Demikian kutipan mauizhah beliau sekitar 30 menit tersebut:

“AlhamduliLlah pada hari ini Selasa 22 Oktober/23 Shafar tahun ini kita dipertemukan oleh Allah Ta’ala. Saya kira hanya acara mauizhah menyambut ikhtibar, ternyata berbarengan dengan Hari Santri. Tadi Muhadloroh masuk, ya? MGS libur. Mestinya MGS masuk jam pertama, seterusnya acara seperti ini. Ada pitutur atau istilahnya apel. Bukannya Hari Santri malah tidur semua. Nanti kita diejek. Tapi kita begitu punya hujjah. Daripada apel, capek-capek tidak ada minumannya. Malah sakit semua, ada yang pingsan juga. Ada yang buat hujjah lagi daripada keluar dosa, mending tidur aja. Hidup santri dengan tidurnya yang katanya meninggalkan dosa.

Hadirin yang saya muliakan. Tapi hal itu sebenarnya tidak pantas. Hari santri kok tidur? Tidak menghargai dirinya. Ada kalam Arab, al-naum akhul maut. Tidur itu saudaranya mati. Orang kok bangga tidur berarti dia memang ingin segera mati.

Saudara-saudara sekalian. Jadi momen ini sekaligus Hari Santri. Hari Santri mestinya tanggal 10 November, karena 10 November kebanyakan santri datang ke Surabaya untuk melawan agresi Sekutu. Belanda, Amerika, Inggris, Perancis, dan Portugis. Walhasil, itu mestinya Hari Santri plus Hari Pahlawan. 22 Oktober ini mestinya Hari Ulama. Ulama NU, artinya ulama santri atau ulama pesantren karena di hari ini terjadi resolusi jihad. Luar biasa. Satu momentum sejarah luar biasa di era modern. Tidak ada fatwa jihad seperti Mbah Hasyim Asy’ari dkk RadliyaLlahu ‘anhum. Sayang penerusnya menjadi orang-orang liberal dan plural yang sekarang ini, Syiah, dst. Bahkan sekarang ini Islam Nusantara pengen menghilangkan pelajaran tentang jihad. Hari Santri ini dibuat supaya hilang sebutan Resolusi Jihad. Ini jahat. Diharapkan tidak ada lagi suara resolusi jihad. Hari santri disuruh bersuka-ria dan bersenang-senang. Disuruh Shalawat Nariyah. Mana kata jihad? Mana resolusi jihad? Sudah gak ada. Padahal ini harinya ulama, harinya KH Hasyim Asy’ari, bukan santri. Ini mulai menghapus sejarah. Musuh-musuh Islam pintarnya tidak karuan.

Tadi malam Habib Abdullah Baharun ngendikan bahwa umat Islam secara umum lebih-lebih santri disamakan dengan kawanan kambing. Disuruh kesana bonding-bondong kesana, disuruh kesihin bonding-bondong kesini. Ada sekolahan, santri disuruh sekolah semua. Tidak ada yang mengaji. Disuruh resmi semua, disuruh kurikulum semua. Sekarang ini kita disuruh jangan mengingat-ingat resolusi jihad, diganti dengan kata-kata hari santri. Bangga jadi santri, tidak bangga dengan ulama. Na’udzubiLlah min dzalika. Ini ulama dulu, bukan ulama sekarang yang jadi wakil presiden. Waktu bahas kabinet ulamanya dibawa ke Jepang. Biar tidak merusuhi, biar tidak titip-titip.

Saudara-saudara sekalian yang saya muliakan. Jadi ini kita kecolongan. Memang kita bangga santri ditampilkan, tapi kalau menghapus ulama dan resolusi jihad kita tidak terima. Allahu Akbar. Tapi meski menolak sudah kadung ada, ya sudah. Tapi jangan sampai menghilangkan resolusi jihad. Apalagi jihadnya rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Jihadnya Rasulullah itu pakai wahyu, bukan pakai pemikiran manusia, bukan pakai reka-reka, bukan strategi manusia. Memang Kanjeng Nabi punya strategi, rencana, dan rancangan. Tapi kalau tanpa izin Allah hal itu tidak akan berjalan. Izin Allah inilah yang disebut wahyu. Tadi malam Habib Abdullah mengatakan orang liberal mengatakan Islam atau Al-Quran itu produk budaya arab. Itu kafir. Berarti Kanjeng Nabi menuruti budaya arab, dan berarti Al-Quran itu bukan dari Allah tapi dari karangan Kanjeng Nabi. Termasuk budaya Arab menurut mereka yaitu cadar, hijab, dst. Na’udzubiLlah.

Saudara-saudara sekalian. Saya ulangi lagi. Ya sudah ini takdir, tapi semoga ada orang seperti saya terus, entah dari anak turun kita atau dari sampean yang menyuarakan ini aslinya hari resolusi jihad atau hari ulama. Katakana ulama NU atau ulama Nusantara, asal jangan Islam Nusantara. Islam itu harus cocok dengan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, harus cocok dengan Al-Quran Hadits. Minimal pas, kalau tidak pas paling tidak banyak cocoknya. Yang tidak pas kita katakan itu bukan Islam, hanya keadaan saja. Hanya perilaku kita saja, bukan Islam.

Menghormati lahirnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama adalah Islam. Ini karena nabi pernah ditanya tentang puasa Senin, “Anda mengkhususnya puasa hari Jumat tidak boleh. Sabtu juga tidak boleh karena tasyabbuh dengan harinya Yahudi. Hari Ahad juga begitu. Kalau hari Senin bagaimana?” Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menjawab, “Hari Senin itu hari kelahiranku.” Berarti menghormati kelahiran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama itu ajaran Islam. Dahulu ketika tanggal 12 atau bulan Maulid di Mesir, Syria -hanya Saudi yang tidak mau- itu mengadakan maulid, bacaan-bacaan, qasidah-qasidah, membaca mahallul qiyam, dst. Kalau disitu tdak ada ikhtilat antara laki-laki dan perempuan atau ada satirnya maka itu ajaran Islam. Maksudnya Islami. Menghormati kelahiran itu Islam, praktiknya yang ada hijab atau hanya laki-laki saja sedangkan yang perempuan ikut masak-masak itu Islami. Masak-masak itu sama dengan menghormati Kanjeng Nabi. Beritahu mbah-mbah dan ibu-ibu sampeyan. Jangan sampai berkecil hati. Orang sekarang terutama ibu-ibu Fatayat dan Muslimat Sukanya tampil di depan. Ikut acara pakai pakaian putih-putih, tipis-tipis, dan lekuknya kelihatan. Yang datang seribu lebih dari mana-mana dan wanita-wanita semua. Semuanya bersolek dan bergaya muda. Yang begitu disebut maratus shalihah, tidak malu dengan namanya. Mereka senang tampil gara-gara feminisme, emansipasi, dan isu gender. Akhirnya wanita ingin di acara-acara ikut tampil. Tidak mau masak. Susah ini, khususnya pesantren. Kalau bu nyai tidak masak sama sekali dan Sukanya kluyar-kluyur, gimana bisa memproduksi calon kiai? Hati-hati yang keturunan kiai. Yang punya pondok ini repot. Anda jadi kiai gara-gara Anda punya ibu di dapur yang mau masak untuk mbah yai.

Saudara-saudara sekalian. Jadi saya ulangi lagi, hormat maulid itu ajaran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dan ajaran Islam. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128) فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (129) [التوبة : 128 ، 129]
“Telah datang kepada kalian seorang utusan dari kalian sendiri yang merasakan berat atas penderitaan kalian dan sangat menginginkan keimanan kalian, serta lembut dan penyayang kepada orang-orang Mukmin. (128) Apabila mereka berpaling maka katakanlah (Muhammad): “Cukup bagiku Allah, tiada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya hamba berpasrah, dan Dia-lah Pengatur ‘Arsy yang Maha Agung. (129)” (QS. Al-Taubah: 128-129)

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا [مريم : 33]
“Keselamatan bagiku pada hari aku lahir, hari aku mati, dan hari aku dibangkitkan untuk hidup kembali.” (QS. Maryam: 33)

وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا [مريم : 15]
“Keselamatan baginya pada hari dia lahir, hari dia mati, dan hari dia dibangkitkan untuk hidup kembali.” (QS. Maryam: 15)

Ayat ini menerangkan hari lahirnya Nabi isa dan Nabi Yahya ‘alaihima al-Salam. Keduanya disanjung-sanjung dan diberi selamat oleh Allah. Sekarang ada yang bilang, “Itu kan memberi salam, yang setelah itu tidak perlu. Kalau maulid kan memperingati, lalu mana dalilnya memperingati?” Lho, hari maulid itu berarti barakah. Kita berdoa di hari itu mengingat-ingat orang yang barakah jelas baik. WaLlahu A’lam.

Walhasil, ini sudah ajaran masyayikhina bahwa cinta Rasulullah, auliya, shalihin, dan ulama, itu ajaran. Kita tidak harus sedikit-sedikit mana dalilnya. Dalil ini hanya penguat karena sudah muttafaq alaihi. Sudah pakem, sudah jadi pedoman orang pesantren itu hormat kelahiran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, masyayikh, Syaikh Abdul Qadir, dan shahabat. Walaupun tidak ada haulnya shahabat, tapi setiap tahlil dibacakan al-Fatihah kepada shahabat.

Saudara-saudara sekalian. Saya ulangi lagi. Kita bersyukur pemerintah masih ingat santri, entah ikhlas atau tidak. Dia menetapkan hari santri untuk cari suara supaya jadi presiden dua kali. Akhirnya berhasil walaupun curang. Kita senang ada Hari Santri, tapi jangan sampai menghilangkan keutamaaan ulama. Ulama pendiri NU, bukan ulama SAS. Bukan ulama sekarang yang liberal-liberal itu atau golongan liberal. Sampeyan wetonan Sarang, ngalim, hafal Al-Quran, dst, itu bisa sesat sebab kamu grudak-gruduk ikut liberal, ikut IsNus. Na’udzubiLlah min dzalika.

Makanya sampeyan ngajilah yang sungguh-sungguh. Tiru Imam Bukhari gitu, lho. Ngalim, nglothok ilmunya, dan tidak ikut organisasi. Memang belum ada dalilnya, tapi InsyaAllah orang seperti Imam Bukhari itu tidak mau organisasi. Organisasi itu meniru Barat. Di Barat harus banyak partai dan organisasi. Makanya ketika NU berdiri ada juga ulama yang gak setuju. Di Pasuruan ada Kiai Abdullah Yasin. Di Rembang ada Mbah Abdus Syakur yang tidak mau masuk NU, masalahnya menjadikan furqah (perpecahan). Selain itu menyamai Muhammadiyah, padahal katanya NU beda dengan MD. NU menjaga Aswaja, sedangkan MD tidak senang tahlilan dan tarawih 20 rakaat. Kamu tinggal melakukan tarawih 20 rakaat itu sudah cukup. Masa’ harus buat organisasi? Lalu kalau kamu membuat organisasi, seakan-akan kamu merasa yang paling melindungi tarawih 20 rakaat. Begitu kan sombong. Lama-lama kamu mengaku tuhan. Sampeyan saja sampai takut, kalau tidak organisasi tidak dianggap NU. Kalau aku tidak NU nanti tidak bisa makan. Sama halnya kamu jadi pegawai negeri. Pangkat dijaga betul-betul. Alasannya kalau hilang pangkatnya tidak bisa makan. Akalnya dimana? Dulu sebelum punya pangkat nyatanya bisa makan. Dihantui lagi kalau punya anak, nanti uangnya digunakan untuk menyekolahkan anaknya. Orang tuanya disuruh melarat. Orang-orang yang mengaku sarjana itu banyak yang mengorbankan orang tuanya. Mereka disuruh untuk berhemat hingga bisa menyekolahkan anaknya jadi S1. S2 jual sawah. S3 ganti jual rumah. Kejam sekali. Sekarang banyak fenomena kalau orang sudah jadi pegawai kalau malam minggu mereka ke restoran mewah. Dia lalu mengajak ibunya sekedar disuruh untuk gendong cucu. Banyak itu. Begitu ibunya juga senang, yang penting makan di restoran.

Ini zaman akhir. Kalau sampeyan tidak jadi pegawai negeri InsyaAllah tidak sampai membabukan ibumu. Kalau sampeyan begitu ya banyak, malah kadang hatta santri juga begitu. Agak kiai dan punya mobil, anak-anak dan ibunya diajak. Nanti ibunya yang gendong dan momong anaknya. Ini fitnah banyak.

Walhasil, kita bersyukur ada Hari Santri, tapi tetap kita menuntut hari ini kita mengenang ulama yang mengadakan resolusi jihad.

Demikian yang saya sampaikan. Selamat ikhtibar, selamat mendukung ulama yang Aswaja, bukan ulama yang sekarang. Ini Hari Santri dengan catatan pendukung ulama resolusi jihad. Itulah yang kita banggakan. Mengajarkan ilmu dan jihad. Sekarang dipelintir dari kalangan SAS dan Gusdurian, katanya Mbah Hasyim Asy’ari itu membela negara tanpa menyinggung hukum Islam. Mbah Hasyim Asy’ari sampai wafat partainya Masyumi. Harus diingat. Jadi dia membela negara supaya mengusir penjajah dan negara ini diatur lewat Syari’ah. Sebenarnya bisa, tapi kita kalah pelet dan demit.*

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons