Site Loader
Toko Kitab

Demikian inti utama yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Najih saat menjadi narasumber sekaligus memberi mauizhah hasanah dalam acara peringatan Tahun Baru Islam 1441 H yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darut Tauhid Sampang pada Sabtu 7 Muharram 1441 H/7 September 2019 M kemarin. Acara ini juga sebagai peringatan haul Masyayikh Haramain sekaligus tahlil dan doa bersama untuk Almarhum Syaikhina Maimoen Zubair GhafaraLlahu dzunubahu wa Rahimahu Ta’ala fi al-Darain. Dalam acara tersebut Syaikh Muhammad Najih membahas banyak hal mulai tentang Ahlussunnah wal Jama’ah, Tahun Baru Hijriyah, hingga isu Islam Nusantara yang sampai sekarang masih ramai jadi polemik di masyarakat. Berikut kutipan mauizhah beliau yang disampaikan dalam durasi sekitar satu setengah jam:

“Saya disini diminta untuk memberi tausiyah, munasabah haul masyayikh Haramain, dan membaca tahlil dan Qiraah untuk walidi Syaikh Maimoen. Juga munasabah masuk Tahun Baru 1441 Hijriyah dengan tema “Memperkokoh Ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah ala Manhaj Salafuna al-Shalih dan Membentengi Umat dari Aliran Sesat.”

Sungguh saya berbahagia atau berbangga dengan segala kedlaifan dan kelemahan kami, dan saya sebagai keluarga almarhum Kiai Maimoen Zubair ikut senang walidi diikutkan dalam acara yang agung ini oleh ulama atau kiai Madura. Kami hanya bisa mengatakan JazakumuLlah ahsanal jaza’, JazakumuLlah khairan katsiran, Ghafara li mautana wa mautakum wa masyayikhina wa masyayikhikum wa Nafa’ana bi ‘ulumina wa ‘ulumikum fi al-darain. Amin.

Maulid termasuk Sunnah Rasulullah

Bapak-bapak ibu-ibu sekalian. Kita ini secara nama mengaku bermazhab atau bermanhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Sunnah itu apa-apa yang telah datang dan tetap dari Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dari perkataan, perbuatan, diam, dan sifat-sifat Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Jadi kita membaca maulid khususnya maulid al-Barzanji yang penuh dengan Sirah Nabawiyah itu sebetulnya bagian dari Sunnah Rasul ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama walaupun hanya sepotong kisah kelahiran Rasul ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Diambul dari kitab ulama, Sirah, dan Tarikh. Maka kitab Maulid itu termasuk Sunnah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Berarti yang ingkar kepada maulid dari sisi pembacaan Sirah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama jelas termasuk ahli bid’ah.

Bapak-bapak ibu-ibu saudara-saudara sekalian yang saya muliakan. Jadi termasuk Sunnah Rasul yaitu ucapan, perbuatan, sifat-sifat, dan diamnya Rasul terhadap apa yang dilakukan pada zaman Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama oleh umat Islam. Di zaman Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama banyak penyair-penyair yang datang ke Rasulullah mengucapkan syair madah (pujian), dan Kanjeng Nabi mendiamkan dan tidak melarang. Bahkan beliau memberi pakaiannya kepada keluarga Ka’b bin Zuhair. Pakaian yang dibawa Kanjeng Nabi diberikan kepada Ka’b, kemudian pada saat telah dipegang oleh anaknya baru dijual karena butuh uang. Jadi pujian kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama juga termasuk Sunnah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Orang-orang di Madura secara mujma’ alaihi senang membaca burdah. Tadi ada Asyraqalan (membaca Asyraqal badru ‘alaina) itu termasuk pujian kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Yang mengingkari itu adalah ahli bid’ah.

Kadang-kadang mengingkari acara-acara itu kita husnuzzhan tidak mengingkari nyuwun kepada Kanjeng Nabi atau membaca sirahnya, tapi mungkin karena masalahnya karena kumpul-kumpulnya atau karena memberi makan. Tapi apa salahnya kumpul-kumpul?Mengumpulkan orang kan merupakan sesuatu yang bagus. Mengumpulkan karena kebaikan, belajar-mengajar, dan dakwah, itu kan yang dicita-citakan semua orang. Kiai, da’i, dan semua yang ingin mendamaikan antara manusia. Itu yang diangan-angankan, kok malah dibenci. Terus maunya gimana? Maunya sendiri-sendiri. Na’udzubiLlah min dzalika.

Kadang-kadang bencinya karena makan dianggap israf (boros). Memberi makan orang itu apa salahnya? SubhanaLlah. Itu ajaran Islam. Memberi makan, mengucap salam, Qiyamullail, dst. Alhamdulillah. Sekarang yang jadi masalah kalau di Jawa ada MTA (Majelis Tafsir Al-Quran). Mereka mengharamkan maulidan. Yang lebih jahat lagi makanan dari maulid menurut mereka itu lebih buruk dari makan babi. Na’udzubiLlah. Dia membolehkan makan anjing, tapi dia mengharamkan hidangan maulid. Begitu juga kendurenan atau memberi makan pada 7 hari atau 40 hari setelah kematian. Ini juga oleh MTA diharamkan. Na’udzubiLlah. Dulu Muhammadiyah mengharamkan, tapi sekarang tidak begitu keras. Yang keras sekarang ada di Solo yaitu MTA.

Saudara-saudara sekalian. Sekarang muncul dari Solo juga orang yang menghalalkan pergaulan bebas diluar nikah. Na’udzubiLlah min dzalika. Itu dosen dari Solo, tapi aslinya dari Batam Pekalongan kemudian mau program doktoral di UIN Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga sudah dua kali dicatat liberal. Dulu pernah meluluskan disertasi “Alangkah Indahnya Nikah Sesama Jenis”. Sudah tujuh atau delapan tahun lewat. Sekarang diulangi lagi, menghalalkan hubungan seks diluar nikah asal tidak kelihatan orang. Padahal dalam Al-Quran jelas disampaikan:

وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ [الأنعام : 151]

Kita dilarang melakukan perbuatan keji baik yang terang-terangan ataupun yang samar-samar. Baik dengan pelacur atau dengan pacar. Ini jelas haram. Bukan hanya Islam yang mengharamkan perzinaan. Bukan hanya Islam, tapi semua agama. Semua agama selain Islam itu meski ada syiriknya, tapi masih mengharamkan zina. Mengharamkan mencuri, korupsi, dan LGBT. Semua agama.

Pentingnya Manhaj Salafuna al-Shalih

Bapak-bapak saudara-saudara sekalian. Ini saya diberi tema mengokohkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah ala Manhaj Salafuna al-Shalih. Kata-kata “Salafuna al-Shalih” ini tepat menurut saya, karena banyak orang mengaku Ahlussunnah wal Jama’ah. Tadi kelompok yang tidak senang maulid, kendurenan, membaca dan shadaqah kepada orang mati, itu juga mengaku Ahlussunnah wal Jama’ah tapi manhajnya lain dengan kita. Kalau mereka yang penting anti Syi’ah, bahkan anti Asy’ari Maturidi. Ini bahaya. Katanya ikut Shahabat, tapi kalau ada shahabat yang senang tawassul mereka nyinyir. Ingin mengkafirkan sebenarnya tapi tidak berani. “Shahabat ini sendiri, dia nyleneh.” Seperti Bilal bin Harits al-Muzani, dia senang tawassul dan minta tolong kepada Allah lewat Kanjeng Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Dia menceritakan hadits-hadits tawassul dan hadits-hadits cinta kepada Kanjeng Nabi. Waktu terjadi paceklik dia pergi ke kuburan Kanjeng Nabi kemudian meminta tolong agar ada hujan. Akhirnya dia bertemu Kanjeng Nabi dalam mimpi dan disuruh bilang kepada Umar bin Khattab, “al-kaisa al-kaisa.” Kamu harus membuat kebijakan yang pintar yang pintar, yakni Shalat Istisqa’ dan tawassul dengan Sayyid Abbas bin Abdul Muthalib. Akhirnya Umar menemui Sayyid Abbas dan berkata, “Dulu kita tawassul kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama kemudian diberi hujan. Sekarang saya minta kamu berdoa dulu sebelum saya berdoa.” Akhirnya Sayyid Abbas berdoa, “Ya Allah. Saya dijadikan tawassulan oleh umat. Dulu Umar kalau bertawassul kepada keponakanku Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, sekarang mereka bertawassul kepadaku.” Langsung Allah Ta’ala menurunkan hujan. Banyak hadits tentang hal ini. Ada pula hadits tentang orang buta yang ingin dikembalikan penglihatannya, akhirnya disuruh Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama shalat hajat dua raka’at kemudian berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِىِّ الرَّحْمَةِ إِنِّى تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّى فِى حَاجَتِى هَذِهِ لِتُقْضَى لِى اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِىَّ

Dengan doa ini akhirnya dia bisa kembali penglihatannya. Hadits itu diriwayatkan oleh Utsman bin Hunaif ketika ada orang minta tolong dan punya hajat kepada Sayyidina Utsman bin Affan.

Bapak dan ibu sekalian. Jadi mereka mengaku sesuai manhaj shahabat, tapi shahabatnya dipilah-pilah. Kalau sahabatnya senang tawassul dan tabarruk mereka sinis. Jadi mereka hanya mengikuti hawa nafsunya, alias anti tabarruk, anti tawassul, dan anti mahabbah dengan Ahlul Bait. Bahkan peninggalan-peninggalan Kanjeng Nabi ditutup-tutupi. Tempat lahirnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ditutup-tutupi. Rumah Khadijah dihilangkan. Darul Arqam dihilangkan. Tempat Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menggembleng shahabat dan mengajar dihilangkan. Rumah Abu Ayyub al-Anshari dihilangkan dengan alasan Syi’ah, dst.

Bapak dan ibu sekalian. Jadi “ala manhaj salafuna al-shalih” ini sangat penting. Kita dengan mereka sama-sama tidak Syi’ah. Tidak anti Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali. Tapi bedanya kalau mereka mengaku ‘ala manhaj shahabat ternyata dipilah-pilah. Kalau kita ikut semua shahabat. InsyaAllah semua shahabat tidak ada yang anti tawassul dan anti tabarruk. Memang ada yang gemar tawassul dan tabarruk, ada juga yang tidak sering karena ndereake Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dengan mengikuti jihad perang fi sabiliLlah, ta’allum, ta’lim, dst.

Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Jadi “Ahlussunnah” itu mengikuti Sunnah Rasul ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, sedangkan “Jama’ah” itu artinya shahabat khususnya zaman shahabat masih bersatu di zaman Khulafa Rasyidun. Tapi meski pecah, semuanya tetap dihormati. Tidak ada yang dicaci-maki. Kata “Jama’ah” ini juga mencakup walladzina ittaba’uhum bi ihsanin. Yang mengikuti shahabat baik Muhajirin dan Anshor dengan baik. Tidak mencaci maki seperti Syi’ah. Tidak juga seperti Khawarij. Sekarang alladzina ini siapa? Mereka adalah Tabi’in yang giat mengajar, giat ibadah, giat zuhud, akhirnya melahirkan Madzahib Arba’ah. Setelah ada Mu’tazilah dll kemudian melahirkan Asya’ri-Maturidi. Inilah Ahlussunnah wal Jama’ah. Dan seperti yang tadi disampaikan Kiai Muhaimin, Ahlussunnah wal Jama’ah adalah ajarannya para masyayikh Haramain baik yang mengajar untuk orang Jawa atau tidak seperi Sayyid Abbas al-Maliki, Sayyid Alawi al-Maliki, Sayyid Yasin al-Fadani, Sayyid Ismail bin Zain al-Yamani, dan InsyaAllah termasuk masyayikh Haramain meski tidak wafat di Haramain yaitu Syaikh Hasyim al-Asy’ari karena Kiai Hasyim Asy’ari belajar di Haramain dalam waktu yang lama. Setelah beliau mengajar disana, beliau pulang dan mengajar di pondok Tebuireng. Kebanyakan yang pernah mukim di Makkah setelah pulang punya hasrat mengaji ke Kiai Hasyim Asy’ari. AlhamduliLlah.

Kiai Hasyim Asy’ari dan Masyayikh Haramain

Kiai Hasyim Asya’ri itu dermawan. Saat mengajar tiap Ramadlan mengkhatamkan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, padahal kiai-kiai Makkah waktu pasanan kadang-kadang belum khatam atau belum sampai mengaji Bukhari-Muslim. Mungkin hanya mengaji al-Zubad atau Riyadl al-Shalihin. Kiai Hasyim Asya’ri baik sekali mau mengkhatamkan Bukhari-Muslim tiap Ramadlan. Termasuk yang mengaji kepada beliau adalah Kiai Abdul Bari ayahnya kiai Abdullah Muhaimin. Saya pernah diceritai Kiai Abdul Bari bahwa Kiai Hasyim Asy’ari saat mengaji Bukhari Muslim sampai tanggal 25 Ramadlan belum khatam. Akhirnya Kiai Hasyim berkata, “Kamu sabar sekali mengaji sampai tanggal 25. Aku doakan semoga kamu jadi ulama yang barakah ilmunya.” Itulah rahmatnya Kiai Hasyim Asy’ari. Dan semua alumni dari Makkah mesti diajarkan sikap dermawan. Murid-murid mesti dapat uang saku atau amplop dari gurunya. Kalau kita malah yang dapat uang. Kalau di Makkah muridnya yang dapat amplop, apalagi di bulan Ramadlan banyak zakat.

Saudara-saudara sekalian yang saya muliakan. Kiai Hasyim Asy’ari tiap bulan sekali semua gus, penghafal Al-Quran, dan habaib diberi makan gratis di rumah Kiai Hasyim. Malah ada pakde saya Namanya Abdul Barr bin Kiai Baidhawi itu paling disayang oleh Mbah Hasyim Asya’ri. Mbah Hasyim tidak makan kecuali bareng pakde saya. Luar biasa. Kalau yang hafal Al-Quran malah ada uangnya. Itu ajaran dari masyayikh Makkah. Tidak hanya mengajar, tapi juga perhatian kepada murid. Hormat kepada habaib, hormat kepada anak-anak kiai, dan hormat kepada para penghafal Al-Quran seperti mertua saya. Waktu itu beliang hafal Al-Quran lalu mondok di Tebuireng. Beliau dapat uang karena hafal Al-Quran. Siapa saja yang hafal Al-Quran dicatat. Kemudian suatu ketika beliau nakal lalu bermain bola, padahal Kiai Hasyim Asy’ari tidak senang bola. Biasanya ulama Makkah itu keras-keras tapi muridnya nakal-nakal. Mertua saya bermain bola, ketahuan oleh Mbah Hasyim. Akhirnya beliau ditakzir. Takziranya lucu, disuruh mencium kotoran sapi. Karena malu akhirnya beliau pindah ke Termas.

Cerita ini hanya mengenang masyayikh Haramain saja. Ayah saya juga pernah di Makkah al-Mukaramah. Tahun 1950-an kalau tidak salah, pulang tahun 1951. Karena orang haji dulu tidak seperti sekarang, tidak bisa cepat. Kadang-kadang berangkat sebelum musim haji, sampai sana musim haji sudah selesai. Akhirnya beliau bisa disana setahun, tapi visanya visa haji. Dulu beliau mengaji di Syaikh Yasin al-Fadani, mengaji di madrasah Darul Ulum. AlhamduliLlah beliau juga mengaji kepada Sayyid Alawi kitab Syarh Ibn ‘Aqil.

Beliau susah kitabnya ini hilang. Beliau juga mengaji kepada Syaikh Amin Quthbi kitab Riyadl al-Shalihin. Beliau mengaji kepada Syaikh Yasin al-Fadani kitab Sunan Abi Dawud. Beliau suka muthala’ah kitab-kitab sejarah.
Akhirnya beliau sangat cerdas dalam ilmu sejarah. Ingatannya luar biasa. Nama-nama santri beliau ingat. RahimahuLlahu Ta’ala.

Tahun Baru Hijriyah dan Amalan Hari ‘Asyura

Untuk masalah tahun Hijriyah, Alhamdulillah perlu dihidupkan peringatan tahun baru. Kita sering lupa dan kurang menghargai. Paling tidak seperti kata Kiai Muhaimin dengan berpuasa Tasu’a dan Asyura’ InsyaAllah sudah memperingati tahun baru Islam. Amin, Allahumma Amin. Jangan lupa bershadaqah seperi yang dibagikan kepada Anda sekalian, juga silaturahim.

صُمْ صَلِّ صِلْ زُرْ عَالِمًا وَاكْتَحِلْ # رَأْسَ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ

وَسِّعْ عَلَى الْعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا # وَسُوْرَةَ الْإِخْلاَصِ قُلْ أَلْفًا تَصِلْ

Ajaran ulama waktu hari ‘Asyura kita disunnahkan berpuasa, shalat yang banyak seperti shalat Dluha, silaturahim, dan ziarah orang alim. Di Makkah ketika Idul Fitri mesti ziarah ke orang alim dan masyayikh untuk meminta ijazah Hadits Musalsal Bi Yaum al-‘Id. Kemudian diperintahkan celakan, mengusap-usap kepala anak yatim, bershadaqah, mandi, dan mentraktir keluarga. Kalau bisa diberi uang seperti kebiasan guru kita Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Abuya bagi-bagi uang ketika Ramadlan khususnya tanggal 20-an. Dulu masih enak. Lama-lama agak repot akhirnya dibagi tanggal 11-an. Mungkin kita sudah tidak di Makkah. Akhirnya beliau meninggal tanggal 15 Ramadlan karena beliau paling banyak shadaqahnya pada tanggal itu. Beliau juga bagi-bagi uang pada murid-muridnya di hari Idul Fitri lalu hari ‘Asyura. Kemudian jika kukunya panjang diperintahkan dipotong. Tapi katanya hadits amalan hari Asyura’ ini Maudlu’ kecuali mentraktir keluarga.

Saudara-saudara sekalian. Kita disuruh berpuasa di hari ‘Asyura, dan agar tidak serupa dengan Yahudi maka kita disuruh puasa Tasu’a. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama juga memperingati tahun Hijriyah. Ini sangat penting. Banyak amalan-amalan di bulan Muharram. Ada hadits tentang apa puasa yang paling utama setelah Ramadlan, lalu Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menjawab puasa di bulan Muharram.

Muharram di dalam Shahih Muslim disebut Syahrullah (Bulan Allah). Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama setelah shalat Maktubah (Isya’) lalu shalat Qiyamullail. Kita sebagai umat Muhammad diberi kesempatan tidak hanya mengerjakan yang fardlu-fardlu saja tapi juga kesunnahan-kesunnahan yang utama, karena namanya manusia mungkin waktu shalat fardlu ada yang teledor, ketiduran, ketinggalan, tidak ikut jamaah, dsb. Ini semua bisa ditambal dengan shalat Qiyamullail, shalat Dluha, dst. Jangan shalat Dluha ketika mau ke pasar saja, artinya karena tujuan dunia. Harus karena Allah. Setelah shalat Dluha baru kita berdoa untuk rizki kita. Tapi tujuan shalat bukan untuk cari rizki, tapi cari ridhanya Allah Ta’ala. Mungkin kita tidak shalat Tahajjud, atau mungkin kita Tahajjud tapi kurang khusyuk atau kurang lama. Ini bisa ditambali dengan shalat Dluha. Ada shalat Qabliyah, shalat Ba’diyah, dst. Itu hikmahnya mungkin shalat fardlu kita tidak khusyuk dll lalu bisa ditambali sedikit-sedikit dengan shalat sunnah. Nikmatnya kita menjadi umat Muhammad. Birrul walidain dilakukan ketika mereka masih hidup. Ketika sudah meninggal tapi kita belum sempat birrul walidain, maka kita disuruh mendoakan dengan wasilah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.

Saudara-saudara sekalian. Ini adalah tahun 1441 Hijriyah. 1440 Hijriyah kemarin bertepatan tahun shulh (perdamaian) antara Sayyidina Hasan dengan Sayyidina Muawiyah. Sayyidina Hasan mempersatukan antara dua kubu. Sekarang momentum ini sudah lewat. Sudah akan Bersatu. Sudah Damai tapi kok samar-samar. Wallahu A’lam bi al-shawab. Marilah kita berdoa semoga Ahlussunnah wal Jama’ah di bumi Nusantara ini jaya hingga Hari Kiamat. Amin. Walaupun kita dibayang-bayangi dengan kristenisasi, chinaisasi, komunis, dst. Ada pula liberal yang sudah saya ceritakan tadi. Semoga kita dapat berkah kumpul-kumpul dengan orang-orang alim seperti ini dan semoga daerah lain di Jawa juga mengikuti acara seperti ini.

Tolak Disertasi Seks diluar Nikah dan RUU P-KS

Tadi yang menghalalkan seks diluar nikah dia ge-er, “Saya dihujat terus. Sebentar lagi ada musyawarah santri mau menghujat saya.” Kita sekarang ini dianggap mau menghujat dia. Kita tidak ada urusan dengan pribadi dia, tapi urusan dengan Syari’ah Islam yang dilecehkan. Hal seperti ini kok dibiarkan oleh pimpinan dan organisasi kita? Orangnya sudah maklum, kenapa mau diperalat? Mentang-mentang mau diberi gelar doktor harus menulis disertasi yang menohok Islam. Situs-situs Islam dilanggar. Jadi bukan pribadinya yang kita serang. Semuanya yang membiarkan, yang diam juga sama saja. Yang lebih ngeri lagi supaya Kiai Madura dan kiai-kiai lain yang masih lurus itu agar menolak RUU P-KS. Ini mau cepat-cepat dan tergesa-gesa mau diketok palu. Na’udzubiLlah. Kalau RUU P-KS itu diloloskan nantinya bagaimana? Ya Allah. Kita sebagai orang tua mau menikahkan anaknya sebagai wali mujbir berarti tidak boleh. Dia punya pilihan orang nakal sedangkan kita punya pilihan orang baik akhirnya tidak boleh dipaksa. Tidak hanya diluar perkawinan, kita setelah kawin pun ketika kita memaksa istri untuk kumpul nanti kita dianggap melanggar HAM. Nanti anak kita punya video porno kita hapus dianggap melanggar. Ini tidak harmonis. Secepatnya kita tolak. Kalau bisa sekalian undang-undang perkawinan harus berumur 18 tahun. Kalau sebelum 18 sudah pacaran gimana? Masak tidak boleh kawin daripada zina? Ini banyak sekali problem kita. Saya secepatnya sebagai pribadi saya minta untuk cepat ditolak. Saya tidak punya partai atau organisasi. Saya hanya bisa taujih. Semoga bermanfaat. Ini mau hancur-hancuran negara ini. Bukan sekedar politiknya, daerahnya, tapi juga moralnya.”

Islam Nusantara Jelmaan Islam Liberal

Islam Nusantara adalah gerakan dalam tubuh organisasi besar kaum santri yang digagas oleh Dr. Said Aqil. Dia mengaku sendiri. Saya sering melihat dia yang mengaku. Meski sebelumnya sudah ada, dia sendiri yang mengaku mem-back up. Kata mereka untuk mengimbangi Islam Radikal yang kata mereka berasal dari Timur Tengah atau Arab yang sekarang kacau-balau. Sebetulnya kacau-balaunya Arab itu bukan karena Islam, tapi karena disitu ada Khawarij, ada yang anti maulid, ada yang membesar-besarkan perbedaan khilafiyah, dan masalah politik. Cuma kadang-kadang masalah politik ini memakai corong khilafiyah.

Jadi Islam Nusantara itu aliran yang ingin terputus dari Islam itu sendiri yang dibawa oleh Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dan shahabat, atau gampangnya Islam Nusantara itu lebih condong untuk bikin sensasi dan hal-hal baru. Paham Muktazilah dan paham modern-modern itu karena dianggap ‘rasional’ lebih baik dicondongi daripada mazhab Asya’ri dan Maturidi. Mereka lebih condong kepada Syi’ah daripda Ahlussunnah wal Jama’ah. Disertasi Abdul Aziz yang menghalalkan seks diluar nikah itu maksudnya kawin kontrak hukumnya boleh. Di dalam disertasi tersebut memang tidak ada kawin kontrak, tapi di tulisan-tulisan lain ada kawin kontrak. Kawin kontrak kan Syi’ah, kawin mut’ah. Itulah kelompok Islam Nusantara. Condong kepada Syi’ah daripada Ahlussunnah. Tidak mau sabar, tidak mau ngaji, tidak pernah mondok, tidak punya kesabaran, jadinya sesat. Ingin jalan pintas. Katanya kontrak itu sudah malakat aimanuhum. Malakat aimanuhum itu memiliki raqabah (kebudakan), bukan manfaat yang hanya sebentar itu. Pelacur kan sama. Katanya menjadi solusi. Anak kamu dikawin kontrak mau? Istri kamu dizinai apa kamu mau? Ini berarti condong kepada Syi’ah.

Yang lebih jelasnya lagi Islam Nusantara itu jelmaan dari Islam Liberal atau kepanjangan dari Islam Liberal. Islam Liberal karena sudah banyak yang menentang termasuk AlhamduliLlah saya dan Ustadz Ali Karrar waktu Haiah Shafwah giat-giatnya membendung Islam Liberal, mereka keok. Sekarang mereka berpindah nama menjadi Islam Nusantara. Islam liberal dulu bernama Islamophobia, artinya orang Islam yang tidak mau Islam itu jaya dalam negara dan politik. Pengennya Islam hanya tahlilan, yang penting muludan, shalat, jumatan, dsb. Tidak ingin ada Islam yang menang di kancah politik, itu urusannya demokrasi. Disana bebas tidak ada agama.

Jadi Islam Nusantara itu jelmaan Islam Liberal. Cuma konotasinya Islam Liberal condong kepada agama atau budaya dari Barat, sedangkan Islam Nusantara condong kepada agama lokal yakni Hindu-Budha. Cina dianggap saudaranya sndiri, tp kalau yg ngetokno keislamannya dianggap musuh. Mereka lebih cocok dan toleran dengan agama non-Islam atau budaya ‘ajam khususnya agama China, leang-leong, ikut acara Imlek, dan ikut acara bersama di gereja. Kalau ada imlek mereka ingin orang islam ikut ngalap berkah (angpao). Na’udzubiLlah. Seakan-akan kita tidak pandai membuat roti saja. Sekarang orang Madura pandai membuat roti, apalagi alumni-alumni dari Makkah. Bu nyainya pandai membuat roti bermacam-macam. Daripada angpao yang sudah dimasuki virus klenteng dan setan.

Islam Nusantara juga anti memelihara jenggot. Anti gamisan. Pakaian kita ini InsyaAllah termasuk gamis. Kiai-kiai Madura suka gamisan. Mereka anti yang seperti itu. Mintanya batik-abtik. Kalau pernikahan pakai batik bagus. Tapi kalau acara maulid atau haul, masak pakai batik? Mereka lebih senang mengharuskan diri berpakaian batik dan kotak-kotak seperti zaman gubernur Ahok. Selain itu, kalau ada pemilihan gubernur atau bupati, Islam Nusantara terdepan dalam mengajak bahkan memaksa untuk memilih calon yang non-Muslim atau yang diusung oleh partai-partai non-Islam. Tujuannya biar dapat uang banyak dari baodeh-baodeh (China) itu. Dari bandar-bandar judi. Alhamdulillah Sampang paling hebat. Tidak ada judi, tidak ada kafe2, tidak ada diskotik, Allahumma Amin. Apalagi kelenteng. Ini berkahnya Kiai Abdullah Muhaimin.

Bahkan non-Muslim oleh Islam Nusantara tidak boleh disebut kafir. Mereka mengharuskan non-Muslim di Indonesia ini disebut al muwathin. Warga negara Indonesia. Kalau itu muslim dengan kafir berarti sama menurut Islam Nusantara. Bahkan mungkin kita kalau dipilah-pilah kita yang suka gamisan ini mungkin bukan warga Indonesia. Diangap warga negara Arab. Padahal pendeta-pendeta Kristen kalau berpakaian ala Romawi dan Vatikan tidak ada yang mencela. Tidak ada yan menyalahkan. Tapi kalau kita gamisan, memakai imamah, dianggap tidak berkebangsaan.

Kalau masalah sesat, itu sudah maklum. Waktu Kiai Hasyim Asya’ri tidak ada istilah Islam Nusantara. Apakah Syaikh Ismail bin Zain mengajarkan Islam Nusantara? Apakah Kiai Abdul Bari mengajarkan Islam Nusatara? Mbah Moen sendiri -saya anaknya- bilang bahwa yang penting adalah ulama Nusantara. Kalau Mbah Moen bilang Islam Nusantara mungkin terpengaruh oleh anak-anaknya yang jadi pejabat karena dipaksa. Yang jelas yang saya tahu, beliau condong ke ulama Nusantara.

Ayah saya NU, menyeru umat Islam ini supaya mengikuti PBNU. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Itu maksudnya NU supaya jangan hanya satu partai saja. Yang saya tahu begitu. Nasionalis artinya jangan satu partai. Kalau satu partai nanti jadi kecil. Bukan maksudnya sama dengan Islam Nusantara, dalilnya itu. Bukannya Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Hasyiyah Syarqawi, atau Hasyiyah Jamal. Kalau bahtsul masail dalilnya jangan hanya KUHP. Itu hanya sekedar utuk berpolitik dan bernegara di Indonesia. Bukan sebagai pedoman Islam kita.

Adapun contoh-contoh kesesatan Islam Nusantara banyak sekali, diantaranya:

1. Mengobarkan sentimen anti-Arab dengan mengatakan, “Islam Nusantara bukan Islam Arab.”

2. Islam Nusantara berakar dari ajaran “tauhid” Hindu-Budha.

3. Kewajiban wanita untuk berdiam di rumah hanyalah ajaran budaya Arab dan ini bertentangan dengan semangat Islam Nusantara.

4. Tidak boleh menyalahkan kesesatan orang, yang boleh hanya memendamnya untuk dirinya sendiri.

5. Perang dalam Islam hanya bersifat membela diri (defensif), tidak ada kewajiban jihad dan menyerang dulu dalam Islam (ofensif).

6. Islam Nusantara diselamatkan oleh dangdut mania. Karena itu tidak heran jika banyak acara organisasi-organisasi NU yang didalamnya ada konser musik, jogetan biduanita di atas panggung, bahkan pernah pula dilakukan di serambi masjid. Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un.

7. Mengucapkan Assalamu’alaikum kepada non-Muslim boleh.

8. Umat Islam disuruh membaca Ihdina al-Shirah al-Mustaqim (QS. Al-Fatihah: 6) karena agama yang benar kita tidak tahu, yang tahu hanya Allah.

9. Jilbab dan cadar hanya budaya Arab, bukan ajaran Islam.

10. Nabi Muhammad Shalllahu ‘alaihi wa Sallama tidak dijamin masuk surga.

11. Semakin panjang jenggot semakin goblok.

12. Syiah, Mutazilah, Asyariyah dan al-Maturidiyah adalah Ahlussunnah wal Jamaah.

13. Yang penting Ukhuwah Imaniyah seperti Umat Islam, Konghucu dan Budha. Al-Quran tidak menekankan Ukhuwah Islamiyah.

14. Dalam sejarah Nusantara, Islam adalah perusak tatanan yang sudah ada.

15. Orang Hindu Budha tidak rela Islam masuk di Indonesia, hingga Majapahit pun hancur karena Islam.

16. Pesantren bukanlah produk Islam tapi ajaran Hindu-Budha.

17. Santri hanya tahu mengaji bukan berdagang. Soal bisa makan atau tidak tergantung sedekah dari orang lain.

18. Menjamurnya acara lintas agama seperti doa lintas agama, takhtimul Quran lintas agama, buka bersama lintas agama, halal bi halal lintas agama, natalan dan imlek bersama, dan lain-lain.

19. Sentimen simbol-simbol keagungan Islam seperti pembakaran bendera tauhid, pembusukan nama khilafah, dan lain-lain.

20. Munculnya shalawat Pancasila dan shalawat Jokowi yang berarti bermain-main dengan shalawat.

21. Pemberian gelar santri kehormatan oleh Gus Nuril terhadap Ahok.

22. Keturunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama sudah mati semua. Orang Arab di Indonesia hanyalah kaum pedagang.

23. Munculnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang sangat berpotensi melegalkan LGBT, Seks bebas, perzinahan, pernikahan beda agama, dan kebebasan berpakaian.

24. Munculnya Gus Miftah yang gemar ceramah di lokalisasi, diskotik, hotel bintang lima dan tempat maksiat lainnya, dari mulutnya juga keluar pernyataan mencintai habaib itu harus tapi mengikuti habaib tidak wajib, blangkon dan baju jawa lebih utama dari pada gamis, baju putih serta cadar.”[*]

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons