Site Loader
Toko Kitab

KATA SAMBUTAN

الحمد لله رب العالمين، وبه نستعين على أمور الدنيا والدين، والصلاة والسلام على أشرف المرسلين، سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد.

Islam Nusantara sampai sekarang masih menjadi wacana yang gencar dipasarkan di tengah-tengah masyarakat khususnya kaum Nahdliyyin. Gagasan IsNus ini dikumandangkan semakin lantang dengan mengatasnamakan Nahdlatul Ulama oleh tokoh-tokoh muda NU dan menjadi proyek yang ingin disebarkan secara nasional bahkan mendunia, terlebih sekarang didukung penuh oleh pemerintahan Jokowi dan KH. Ma’ruf Amin yang sedari awal berkomitmen untuk mendukung dan mendanai kegiatan Islam Nusantara tersebut. Islam Nusantara ini semakin diteguhkan dalam Bahtsul Maudlu’iyah dan Munas Konbes NU 2019 di Banjar Patroman tanggal 28 Februari, seakan makin terlihat begitu besar niat para pengusung IsNus ini untuk menyebarkannya di masyarakat.

Sayang sekali, tidak begitu banyak yang paham bahwa konsep Islam Nusantara ini menjadi kendaraan mulus kaum liberal dan pluralis untuk menyebarkan paham liberalisme dan pluralisme di tengah masyarakat. Sudah begitu banyak rapor merah perusakan agama yang dilakukan dengan kedok Islam Nusantara seperti cadar, jilbab dan gamis hanya produk budaya Arab yang tidak ada nilai Islamnya, Al-Quran langgam Jawa, pakaian Jawa dan blangkon lebih baik daripada gamis dan pakaian Arab dengan alasan Islam harus menerima budaya, dan kegiatan keagamaan campur aduk seperti shalawatan di gereja, doa lintas agama, perayaan ulang tahun si Gus Mus yang dirayakan di tempat ibadah agama konghucu tepatnya di Klenteng Sam Poo Kong Semarang, penghapusan kata kafir di ranah dakwah dan negara kemudian diganti dengan istilah Muwathinun yang merupakan istilah pesanan orientalis, dan sebagainya. Bahkan sekarang suara sinis dan kebencian terhadap habaib mulai banyak digaungkan oleh tokoh NU sendiri seperti si Gus Nuril mengatakan keturunan Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallama sudah tidak ada, ucapan si Gus Miftah bahwa cinta habaib harus tapi mengikuti mereka tidak wajib, dan sebagainya. Mirisnya, kegiatan semacam ini sudah mewabah di ranah masyarakat akar rumput (grassroot) bahkan di pesantren-pesantren. Banyak lembaga dan seminar yang menyomot kata “pesantren”, “santri”, dan “kitab kuning” dalam berbagai kegiatannya, namun isinya jauh sekali dengan ajaran-ajaran kitab salaf yang diajarkan di pesantren. Islam Nusantara bukan proyek NU salaf sebagaimana ajaran KH. Hasyim Asyari, namun proyek liberal-pluralis dengan memperalat NU!.

Kami sebagai warga NU sebetulnya sangat miris dan prihatin melihat perkembangan paham liberalisme dan pluralisme sudah begitu jauh menjalar hingga ke jantung pertahanan NU yakni pesantren. Tokoh-tokoh yang menolak dua paham yang telah dihukumi sesat oleh MUI tahun 2005 silam ini ternyata jauh dibawah jumlah tokoh yang menerimanya dengan sukacita. Yang menjadi masalah baru lagi bahwa paham liberalisme dan pluralisme ini telah dan akan dikembangbiakkan secara massif atas nama Islam Nusantara dan dengan bantuan kekuasaan politik, seperti sukacita dan pujian para simpatisan PDI-P terhadap draft keputusan bahtsul masail PBNU di Banjar diatas.

Oleh karena itu, kami mendukung penuh tulisan dan komitmen para ulama dan habaib di bumi Madura untuk menolak Islam Nusantara dan berharap semoga ini dapat diikuti oleh daerah-daerah lainnya. Kita sebagai umat Islam tidak boleh tinggal diam. Ini menjadi PR berat bagi umat Islam terutama para ulama, kiai, tokoh, dan intelektual Islam supaya makin mempertebal pertahanan akidah dan Syari’ah Islam dari paham-paham yang merusak tersebut. Menulis berbagai bantahan dan argumentasi yang melawan paham liberalisme dan pluralisme ini merupakan salah satu bentuk jihad pembelaan kita kepada agama sebagai wujud amar ma’ruf nahi munkar dan menolong saudara-saudara kita sesama Muslim yang tersesat supaya kembali ke jalan yang benar sesuai ajaran Islam. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Sarang, 29 Dzulhijjah 1440

KH. Muhammad Najih


DRAF

ALASAN ULAMA SEPUH MADURA

MENOLAK ISLAM NUSANTARA DI MADURA

قال الله تعالى: (يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا) [النساء: 108 ]

Artinya: “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari ALLOH, Padahal ALLOH beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang ALLOH tidak redlai. dan adalah ALLOH Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan”.

Pemasaran Islam Nusantara di NKRI semakin disemarakkan pada kepemimpinan Jokowi sebagai Presiden, terbukti dengan turutnya Jokowi memberi dukungan dan apresiasi terhadap ide Islam Nusantara, dukungan tersebut ia sampaikan pada saat sambutan di acara Munas NU dan Istighosah Menyambut bulan Ramadhan 1436 H dengan tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” Selasa 14 Juni 2015 bertempat di masjid Istiqlal, yang akhirnya menjadi tema Muktamar NU ke-33 di Jombang. (www.fimadani.com), dan merupakan rencana besar dari KH. Makruf Amin dalam sebuah Video pada acara Orientasi Caleg Partai Nasdem pada Ahad 2/9/2018, yang menyatakan jika terpilih menjadi Wapres akan menerapkan Islam Nusantara di Indonesia.

Islam Nusantara dipasarkan untuk menyingkronkan Islam dengan budaya sesat dan kultur masyarakat yang memang tidak sesuai dengan syariat Agama Islam dan untuk menolak sebagian syariat Islam yang tidak cocok dengan hawa nafsu mereka seraya menganggap aturan tersebut bukan syari’at agama melainkan budaya arab, termasuk:

a. Menggantikan ucapan “Assalamu’alaikum” dengan “Salam sejahtera, Selamat pagi, siang” dsb.

b. Membaca al-Quran tidak harus dengan bahasa arab, cukup dengan terjemahan bahasa Indonesia atau bahasa-bahasa yang ada di Nusantara.

c. Memakai jubah/gamis bagi pria dan jilbab bagi wanita adalah budaya arab. (dikutip dari ceramah KH. Athian Ali)

Dan tepatnya pada tanggal 28 Juli 2019 diadakan BEDAH BUKU ISLAM NUSANTARA dengan kata pengantar KH. Makruf Amin yang diselenggarakan di Kantor PCNU Sampang Madura Jatim dengan Pemakalah KH. Azizi Hasbullah dan Ahmad Muntaha serta penjualan buku “Islam Nusantara” tersebut kepada peserta, kegiatan tersebut sebagai pembuka pintu untuk masuknya LIBERALISASI di Madura agar dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat Madura yang sejak dulu dikenal sebagai masyarakat yang fanatik amalan guru, utamanya syari’at Islam, terbukti dengan kejadian bentrok masyarakat Madura dengan kaum syi’ah yang hendak mendakwahkan faham Syi’ah di Madura.

Ada doktrin sesat dibalik sosialisasi Islam Nusantara melalui kajian umum, seminar, dsb, memang tidak disebutkan dalam buku-buku yang disebarkan, tapi dapat diketahui dengan jelas dari pengetrapannya di lapangan di daerah-daerah lain, seperti yang akan kami nuqil dari beberapa tulisan ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah yang intinya “mereka akan mengajak masyarakat Madura untuk mengakui dan menerima berbagai budaya sekalipun budaya tersebut dapat menyeret pada kekafiran, seperti Faham Syi’ah, Mu’tazilah, liberalisme, Sekularisme, Marxisme, doa bersama antar agama, pernikahan beda agama, ikut merayakan hari-hari besar selain agama Islam, termasuk natalan dan imlek dsb. Mereka juga ingin menghidupkan kembali budaya-budaya sesat kaum abangan.

Mereka menyembunyikan doktrin sesat tersebut dari pengetahuan masyarakat bahkan mereka akan menuduh kejadian-kejadian di lapangan sebagai perbuatan oknum padahal doktrin tersebut merupakan dasar dan tujuan di dalam dibentuknya Islam Nusantara di Indonesia sebagaimana ditulis oleh beberapa ulama, termasuk KH Najih Maimoen dalam buku “Islam Nusantara dan Konspirasi Kaum Liberal” yang di antaranya:

• Islam Nusantara merupakan salah satu proyek Barat untuk menjinakkan Islam. Dalam buku berjudul Civil Democratic Islam; Partner, Resources and Strategies (2003), Cheryl Bernard menulis bahwa saran-saran strategis yang diberikan Cheryl kepada pemerintah AS untuk menghadapi Islam adalah sbb:

1) Ciptakan tokoh atau pemimpin panutan yang membawa nilai-nilai modernitas.

2) Dukung terciptanya masyarakat sipil di dunia Islam.

3) Kembangkan gagasan Islam warna-warni, seperti Islam Jerman, Islam Amerika, Islam Inggris dst.

4) Serang terus-menerus kelompok fundamentalis dengan cara pembusukan person-personnya melalui media masa.

5) Promosikan nilai-nilai demokrasi Barat modern.

6) Tantang kelompok tradisionalis dan fundamentalis dalam soal kemakmuran, keadilan sosial, kesehatan, ketertiban masyarakat dsb.

7) Fokuskan ini semua kepada dunia pendidikan dan generasi muda Muslim. (Hal. 46-47)

• Islam Nusantara mengetrapkan sikap tawassuth ala Islam Nusantara (moderat). Tawassuth disini diartikan oleh Ulil sebagai Islam yang tidak suka menuduh orang lain dengan syirik, bid’ah, kafir, dan murtad. Islam yang merangkul bukan menampik. “Kita boleh berkeyakinan si A sesat, tetapi kita tidak akan mengatakan itu kepada orang yang dimaksud. (Hal. 35-36).

• Islam Nusantara akan menghapus hukum jihad dengan berdalih bahwa perang dalam Islam hanya bersifat defensif (membela diri dari serangan kafir). Umat Islam tidak boleh menyerang non muslim ketika mereka tidak menyerang. perang dalam zaman awal Islam adalah untuk mempertahankan diri. Adapun perang setelah zaman Rasulullah SAW tidak seluruhnya karena dasar agama, melainkan hanya perluasan wilayah saja, dan pada zaman itu hal tersebut dapat dianggap normal sebelum terbentuknya Hak Asasi Manusia Versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Imbuh Ulil. (Hal. 38)

Oleh karenanya mereka tidak henti-hentinya gembar-gembor Islam Nusantara adalah Islamnya Walisongo, Islam damai, toleran, anti perang, padahal kalau kita mau jujur sejarah Walisongo (kerajaan Demak, Raden Fatah) melakukan Jihad melawan Majapahit, dan dalam Kitab Ahlal Musamarah hal. 47-48, Kyai Abul Fadlol Senori menyebutkan bahwa setelah Raden Fatah dilantik menjadi Raja Demak, beliau mengumpulkan para wali dan tokoh kerajaan seraya menyampaikan sambutan: “Wahai para tokoh, Saya mengumpulkan kalian semua di sini untuk membahas suatu kewajiban dalam agama Islam, yaitu saya memandang kaum muslimin pada saat ini telah menjadi penduduk mayoritas dan saya berkeyakinan bahwa sesungguhnya jihad termasuk kewajiban bagi muslimin sekarang ini, Raja Brawijaya dan para pengikutnya telah tertanam kekufuran, Maka apakah menurut kalian, bagi kita (umat Islam) wajib memerangi mereka?”. Semua yang hadir dalam majelis tersebut sepakat menyetujui titah Raden Fatah (wajib memerangi).

Kisah peperangan antara Kerajaan Demak di bawah pimpinan Raden Fatah dan Kerajaan Majapahit di bawah Pimpinan Brawijaya bisa dibaca secara lengkap dalam Ahlal Musamaroh fi Hikayati al-Auliya’ al– Asyroh hal. 48-86 karya al-Mukarram Kyai Abul Fadlol Senori. Jika para pengusung Islam Nusantara tidak percaya terealisasinya jihad zaman Walisongo, berarti mereka meragukan dan merendahkan keilmuan Kyai Abul Fadlol, bahkan telah melakukan pembohongan publik dengan menyebarkan pemahaman keliru ke khalayak umum. (Hal. 43-45).

• Islam Nusantara dalam pendekatannya dengan masyarakat tidak hanya bertumpu pada aspek akidah dan fiqih saja, melainkan dengan semacam hiburan dan alat musik seperti dangdut mania dan hal tersebut terbukti dapat menyelamatkan dan mensukseskan Islam Nusantara. Kata Ulil. (Hal. 45)

• Islam Nusantara menganggap bahwa menentukan “tugas kewajiban kaum wanita hanyalah di dalam rumah” bukan dari perintah syariat, melainkan karena faktor budaya Arab yang menganggap wanita sebagai makhluk domestik (Rumahan saja). Kata Ulil. (Hal.31)

• Islam Nusantara menganggap bahwa “Keturunan Rasulullah SAW sudah tidak ada, semua sudah mati dibunuh. Arab-arab di Indonesia adalah Arab Badui semua, bukan keturunan Sayyidina Ali dan Nabi Muhammad SAW. kata Gus Nuril Arifin. (Hal. 8)

• Islam Nusantara berpendapat bahwa Islam Indonesia didatangkan oleh Sultan Ahmad Tsani dengan berbagai madzhab, meliputi Sunni, Syi’i, dsb, bukan hanya dari arab dengan madzhab Sunni Syafi’i saja”. Kata Gus Nuril Arifin. (Hal. 8)

• Islam Nusantara bergerak mengacak-acak tatanan ideologi NU yang sudah mapan, yaitu ideologi Sunni, Asya’irah dan Maturidiyah, berpegang pada al-Qur’an dan Hadits serta qaul-qaul ulama salafussholih dalam bermadzhab empat, diganti menjadi ideologi liberal ala Islam Nusantara, seperti ditulis KH Najih Maimoen dalam buku “Islam Nusantara dan Konspirasi Kaum Liberal” (Hal. 11).

• Islam Nusantara targetnya ingin menciptakan stigma buruk di tengah-tengah masyarakat, bahwa pesantren itu kolot, kaku (tidak bisa apa-apa), ketinggalan zaman dan tidak relevan, tujuannya supaya umat Islam di Indonesia semakin jauh dari pesantren, ulama dan kitab-kitab salaf. (Hal. 45-46).

• Islam Nusantara menerapkan pembacaan al-Qur’an dengan langgam jawa pada acara peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara, tanggal 15 Mei 2015 dan dilanjutkan “Ngaji al-Qur’an Langgam Jawa dan Pribumisasi Islam” yang digelar oleh Majlis Sholawat Gusdurian di Pendopo Hijau Yayasan LkiS di Sorowajan, Bantul, Yogjakarta Rabu, 27 Mei 2015”. (Hal. 7).

Akibat dari penerapan Islam Nusantara terjadi:

a. “Ucapan selamat yang berbentuk karangan bunga atas peresmian gereja Katholik Santo Fransiskus Xaverius Cangkringan, termasuk dari Pondok Pesantren Al-Qodir Tanjung Wukirsari Cangkringan Sleman, dan keikutsertaan santri pondok tersebut bermain hadroh di gereja tersebut pada acara yang sama pada tanggal 10 Juli 2015, semakin menambah bukti corak Islam Nusantara yang mereka kehendaki”. (Hal. 8).

b. Seorang kiai NU, Gus Nuril Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Multi Agama bernama “Soko Tunggal” di Semarang dan “Soko Tunggal Abdurrahman Wahid” di Rawamangun Jakarta timur, memberikan ceramah agama di Gereja Bethany Tayu Pati dan beberapa gereja lainnya” (Hal. 8).

c. Fenomena haji yang menggunakan blangkon (tidak berkopyah) sebagai atribut KBIH Arafah, Bangsri, Jepara, di bawah pimpinan KH. Nuruddin Amin, Pimpinan KBIH tersebut mengatakan: “Makanya kami sengaja mempraktikkan pengamalan Islam Nusantara dengan wujud memakai blangkon”. (Hal. 8).

d. Dalam pembukaan Muktamar Jam’iyyah Ahlit Thariqah An-Nahdhiyah di Ponpes al-Munawwariyah Malang (Rabu, 10 Januari 2012) Said Aqil mengatakan Islam Nusantara berakar dari ajaran “tauhid” Hindu-Budha. Menurutnya, dahulu orang Jawa sudah mengenal tauhid, hanya saja belum bernama Islam. Ajaran tauhid mereka saat itu bernama KAPITAYAN. Tuhan mereka yang satu ini dibantu oleh Sembilan penjaga penjuru, mirip dengan sembilan bintang yang ada di logo NU. Karena kemiripan inilah maka Mbah Hasyim Asy’ari menggunakan sembilan bintang dalam logo Nahdhatul Ulama. Ahlussunnah wal Jama’ah didefinisikan Said Aqil saat itu dengan “Pengikut Sunnah Nabi dan peduli Jama’ah (masyarakat seluruhnya)”. (www.nugarislurus.com) (Hal. 8).

Sebagai khitam dari tulisan ini kami memberi saran dan himbauan sebagai berikut:

a. Dari nuqilan al-Mukarrom KH. Moh. Najih Maimoen yang kami sebut di awal buku ini bahwa pewarna-warnian Islam adalah strategi barat yang dicanangkan oleh Cheryl Bernard kepada AS untuk menghancurkan Islam.

b. Di masa pengembangan madzhab-madzhab fiqh dalam Islam sekitar abad 2 hijriyah yang terbagi menjadi empat madzhab yang diakui yaitu madzhab Hanafi-Maliki-Syafii-Hanbali, tidak ada yang mencantumkan sebutan Islam kepada madzhab-madzhab tersebut melainkan sebutan fiqh Hanafi, fiqh Maliki, fiqh Syafi’i dan fiqh Hanbali.

c. Baginda Nabi  sangat mengingkari upaya pengkotak-kotakan Umat Islam dalam golongan-golongan tertentu sehingga beliau murka ketika ada sahabat berselisih dengan sesamanya dan saling memanggil dari golongannya sebagaimana dalam HR. Bukhari-Muslim dari sayyidina Jabir Ibn AbdiLLAH  berkata:

كُنَّا فِي غَزَاةٍ قَالَ سُفْيَانُ مَرَّةً فِي جَيْشٍ فَكَسَعَ رَجُلٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ، فَقَالَ الْأَنْصَارِيُّ: “يَا لَلْأَنْصَارِ” وَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ: “يَا لَلْمُهَاجِرِينَ” فَسَمِعَ ذَلِكَ رَسُولُ اللهِ ، فَقَالَ: مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ! كَسَعَ رَجُلٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ، فَقَالَ: (دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ)

Artinya: “Suatu ketika dalam satu peperangan Sufyan mengatakan dalam suatu pasukan, tiba-tiba seorang laki-laki dari golongan muhajirin mendorong seseorang dari golongan Anshar, maka seorang dari golongan Anshor tersebut menyeru: “Wahai orang-orang Anshar tolonglah kami”, dan yang dari sahabat Muhajirin pun berkata: “Wahai orang-orang Muhajirin tolonglah kami.” Kemudian RasuluLLOH  mendengar hal itu, maka beliau bersabda: “Kenapa panggilan-panggilan Jahiliyah itu masih saja kalian lakukan?” para sahabat pun berkata: “Wahai RasuluLLOH, seorang laki-laki dari golongan Muhajirin mendorong seorang dari golongan Anshar.” Akhirnya beliau bersabda: “Tinggalkanlah, karena hal itu adalah sesuatu yang busuk”

d. Amirul mukminin Sayyidina Umar Ibn Al-Khatthab  sangat mengingkari terkotak-kotaknya umat Islam yang menjadi penyebab timbulnya fanatisme terhadap golongan, majelis komunitas tertentu dari sesama umat Islam, sehingga terjadi hilangnya rasa peduli terhadap nasib buruk yang menimpa pada golongan, majelis, atau komunitas lainya yang masih sama Islam, seperti disebut dalam kitab Tarikh Ath-Thabari 2/572:

عن ابن عباس أَنَّ عُمَرَ قَالَ لِلنَّاسِ مِنْ قُرَيْشٍ بَلَغَنِيْ أَنَّكُمْ تَتَّخِذُوْنَ مَجَالِسَ لَا يَجْلِسُ اثْنَانِ مَعًا حَتَّى يُقَالَ: مِنْ صَحَابَةِ فُلَانٍ مِنْ جُلَسَاءِ فُلَانٍ، حَتَّى تُحُوْمِيَتِ الْمَجَالِسُ، وَأَيْمُ اللهِ إِنَّ هَذَا لَسَرِيْعٌ فِي دِيْنِكُمْ، سَرِيْعٌ فِيْ شَرَفِكُمْ، سَرِيْعٌ فِيْ ذَاتِ بَيْنِكُمْ، وَلَكَأَنِّيْ بِمَنْ يَأْتِيْ بَعْدَكُمْ يَقُوْلُ هَذَا رَأْيُ فُلَانٍ قَدْ قَسَّمُوْا الْإِسْلَامَ أَقْسَامًا، أَفِيْضُوْا مَجَالِسَكُمْ بَيْنَكُمْ، وَتَجَالَسُوْا مَعًا فَإِنَّهُ أَدْوَمُ لِأُلْفَتِكُمْ، وَأَهْيَبُ لَكُمْ فِي النَّاسِ.

Diceritakan dari ibn Abbas  bahwanya Sayyidina Umar bin Al-Khattab  berkata kepada sekelompok dari kalangan Quraisy: Telah sampai kepadaku bahwasanya kalian membentuk beberapa majelis(komunitas), dimana dua orang enggan berkumpul kecuali setelah mengetahui dari komunitas siapa dia, hingga timbul fanatisme antara beberapa kelompok (komunitas), Demi ALLOH! Sesungguhnya hal ini adalah benar-benar pembinasa di dalam agama kalian, kemulian kalian dan hubungan diantara kalian, dan sungguh orang-orang setelah kalian akan berkata: “ini pendapat si fulan”, sungguh mereka telah mengkotak-kotakan Islam menjadi beberapa bagian, maka buatklah majelis-majelis kalian berlimpah dengan berkah di antara kalian dan duduklah bersama, karena hal tersebut akan membuat keharmonisan diantara kalian menjadi lebih abadi, serta membuat kalian akan menjadi lebih berwibawa dimata manusia.

Dan Sayyidina Umar berkata dalam riwayat Ibn Abi Syaibah dari Abi Mijlaz:

(مَنِ اعْتَزَّ بِالْقَبَائِلِ فَأَعِضُّوْهُ، أَوْ فَأَمِصُّوْهُ)

Artinya: “Barangsiapa membangga-banggakan kesukuannya, maka suruhlah ia menggigit atau mengecup penis ayahnya”.

Ia juga mengirim surat kepada para perwira tentara sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dari Abi Thalhah Ibn UbaidiLLAH berkata:

(كَتَبَ عُمَرُ إِلَى أُمَرَاءِ الْأَجْنَادِ: “إِذَا تَدَاعَتِ الْقَبَائِلُ فَاضْرِبُوْهُمْ بِالسَّيْفِ حَتَّى يَصِيْرُوْا إِلَى دَعْوَةِ الْإِسْلَامِ”)

Artinya: “Khalifah Umar telah mengirim surat kepada para perwira tentara: ‘Apabila suku-suku saling berseru pada kesukuannya, maka pukullah mereka dengan pedang, sehingga mereka kembali pada seruan Islam’”.

Oleh karena itu bilamana tujuan dibentuknya Islam Nusantara hanya untuk membentengi amaliyah-amaliyah dan Manhaj Dakwah ASWAJA di Nusantara -seperti yang ada dalam buku “Islam NUsantara Manhaj Dakwah Islam Aswaja di Nusantara”, maka sebaiknya tidak menyematkan sebutan “ISLAM” akan tetapi cukup dengan MANHAJ DAKWAH ASWAJA DI NUSANTARA, demi agar tidak menambah perpecahan di kalangan umat setelah terpecah dengan perbedaan-perbedaan antara NU, MD, SI, dll, dimana perbedaannya hanya dalam masalah furu’iyah -bukan beda dalam ushuliyah seperti rukun Iman, rukun Islam, rukun Ihsan- yang hal tersebut tidak perlu dibesar-besarkan.

Lain halnya dengan perbedaan yang terjadi antara sunni, syi’i, muktazili dan khawarij, memang mengharuskan dibeda-bedakan, karena perbedaan tersebut adalah perbedaan ushul yang sangat fundamental, diantaranya rukun Iman dan Islam yang tentunya yang berhak mengaku Islam adalah kelompok yang rukun iman dan Islamnya bersandar kepada ijma’ ulama berdasarkan dua hadits yang diriwayatkan dalam Kitab kutubussittah yang masyhur (بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ…)، (أَخْبِرْنِيْ عَنِ الْإِسْلَامِ…).

Betapa indah Buku karya al-Mukarrahm KH. Muhyiddin Abd. Shomad yang berjudul “Al-Hujajul Qathi’ah Fi shihhatil Mu’taqadat Wal Amaliyat An-Nahdliyah” dimana beliau memperkuat amaliyah NU dengan mendatangkan dalil-dalil dan hujjah tanpa menyematkan sebutan Islam, mengingat bahwa ikhtilaf itu terjadi di dalam sesama muslimin.

Sekian yang dapat kami tulis, semoga bermanfaat, kami bermaksud hanya untuk mendatangkan perbaikan semampu kami, dan petunjuk yang kami ikuti hanya dari ALLOH , kepada-Nya lah kami bertawakkal dan berserah diri.

والله أعلم بالصواب


CATATAN TAMBAHAN DALAM ACARA MENOLAK ISLAM NUSANTARA

DI BUMI MADURA

Konspirasi Liberal-Komunis Dalam Konsep Islam Nusantara

Dalam beberapa tahun terakhir, isu tentang Islam Nusantara atau biasa disingkat IsNus menjadi wacana publik yang makin lama makin sering terdengar di telinga masyarakat. Para pengusung Islam Nusantara tidak lagi menjadikan Islam Nusantara sebagai wacana ideologik di kalangan tokoh Nahdlatul Ulama struktural saja, namun sekarang menjadi program nasional yang telah masuk ke desa-desa, madrasah, dan pesantren bahkan menjadi bahan pembicaraan di warung-warung kopi. Propaganda Islam Nusantara bisa berjalan begitu mulus tidak hanya karena gelontoran dana yang melimpah dan siaran media-media baik nasional maupun regional siang dan malam, namun juga karena dukungan penuh pemerintah dengan dalih ‘menjinakkan’ radikalisme, terorisme, dan fundamentalisme.

Para pengasong Islam Nusantara semakin banyak bermunculan khususnya dari kalangan muda. Kegiatan-kegiatan Islam Nusantara ditargetkan di masyarakat khususnya kaum pesantren kiai dan santri yang notabene mudah tergiur dengan kata-kata seperti “Aswaja”, “Kaum Nahdliyyin”, “NKRI harga mati”, “Pancasila”, “Toleransi”, “Damai”, dan dagangan kata lainnya. Setiap orang yang mendukung Islam Nusantara akan diberi penghargaan sebagai pendukung kedamaian dan toleransi, pejuang NKRI dan Pancasila, kaum moderat dan terbuka (inklusif), benteng NU dan negara, dan sebagainya. Sebaliknya, yang mengkritik dan menolak Islam Nusantara akan dicap sebagai anti-NKRI, tidak Pancasilais, radikal, anti-NU, anti-toleransi, dan hinaan-hinaan lain yang sudah begitu biasa lalu-lalang di telinga umat Islam di Indonesia. Padahal wacananya saja baru muncul empat tahunan yang lalu, namun mereka seakan sudah menjadikan Islam Nusantara sebagai “agama” itu sendiri.

Bergulirnya isu Islam Nusantara di tengah masyarakat ini tidaklah menjadikan kualitas pribadi kaum Muslimin di Indonesia semakin baik dan bertaqwa. Justru sebaliknya, Islam Nusantara memberikan banyak polemik baru dan jurang perpecahan yang semakin menganga di antara umat Islam itu sendiri. Syari’ah Islam makin banyak yang dipreteli dan dikebiri dengan alasan tidak sesuai semangat kebangsaan dan kebersamaan. Para pejuang Syari’ah dibusukkan namanya di media-media cetak dan online, dianggap anti-kebhinnekaan. Sebaliknya, para perusak Islam dan penoda agama dibiarkan dan dipuja-puji sebagai pejuang kebebasan berfikir dan kesatuan bangsa. Para tokoh Islam bersikap lembut dan ‘mlempem’ terhadap non-Muslim, tapi bersikap keras dan arogan terhadap sesama Muslim. Inilah tujuan asli kaum liberal-komunis dibalik wacana Islam Nusantara tersebut, yakni untuk MEMBERANGUS UMAT ISLAM DI INDONESIA ITU SENDIRI.

Sudah begitu banyak perusakan Syari’ah dan pembusukan ajaran Islam yang makin marak hingga kini sejak munculnya Islam Nusantara. Berikut adalah berbagai ajaran Islam Nusantara yang diasongkan oleh para pendakwahnya yang begitu jelas menunjukkan ideologi liberal dan komunis di dalamnya.

Al-Quran Langgam Jawa dan Kristen

Setelah munculnya konsep Islam Nusantara pasca Muktamar NU ke-33 di Jombang tersebut, entah mengapa muncul pula berbagai pernyataan dan kegiatan nyeleneh yang kesemuanya dinisbatkan kepada konsep Islam Nusantara. Diantaranya yang paling terkenal adalah pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa yang booming di tengah-tengah masyarakat hingga pernah dipraktikkan di istana kepresidenan pada 15 Mei 2015 silam. Menanggapi hal ini, Quraisy Shihab sebagai salah satu pengusung Islam Nusantara berkomentar, “Nah, bagaimana dengan langgam atau nadanya? Hemat penulis, tidak ada ketentuan yang baku. Karena itu, misalnya, kita biasa mendengar qari dari Mesir membaca dengan cara yang berbeda dengan nada dan langgam qari dari Saudi atau Sudan. Atas dasar itu, apalah salahnya jika qari dari Indonesia membacanya dengan langgam yang berbeda selama ketentuan tajwidnya telah terpenuhi?”

Pernyataan Quraisy Shihab diatas perlu dianalisa dengan teliti. Pertama, mengatakan bahwa tidak ada ketentuan baku dalam membaca Al-Quran adalah keliru. Mengenai pembacaan Al-Qur’an dengan lagu yang tidak dikenal, irama, cengkok, dan nada musik, Ibn al-Qayyim dalam Zad Al-Ma’ad menilainya sebagai perkara bid’ah. (Zad al-Ma’ad, juz 1 hlm. 474) Kedua, menggunakan langgam Jawa dalam Al-Quran merupakan tasyabbuh dengan ahlul ahwa’ wal fussaq. Jika al-Qur’an dibaca dengan langgam Jawa, tentu bacaan tersebut menyerupai ucapan dalang, sinden dan dukun kebatinan Jawa (kejawen) yang biasa menggunakan langgam jawa dalam tayub, sinden, pewayangan, dan paguyuban Jawa. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan kaum tersebut”. (HR. Abu Dawud, Al-Baihaqi, Ahmad,dan Ibnu Hibban) Ketiga, langgam Jawa dalam membaca Al-Quran adalah tindakan tidak menghormati Al-Qur’an, karena diantara tata cara mengagungkannya adalah tidak membaca al-Qur’an dengan lagu-lagu orang fasiq. (lihat: Imam Al-Hakim At-Tirmidzi, Nawadir al-Ushul, juz 3 hlm. 255)

Mungkin sebagian orang akan mengatakan bahwa ada khilaf mengenai hukum langgam Jawa ini. Maka kami katakan bahwa tidak ada khilaf bagi kewajiban umat Islam menghormati dan memuliakan Al-Quran, dan tidak ada khilaf pula keharaman melecehkan Al-Quran dengan berbagai cara. Selain itu, langgam Jawa ini adalah salah satu proyek liberalisasi Islam yang diusung oleh kaum liberal melalui jalur budaya untuk mengesankan bahwa Al-Quran saja bisa berakulturasi dengan budaya Jawa. Nanti ada pembacaan Al-Quran dengan langgam dangdut, pop, dan musik-musik lain seperti yang sedang mewabah pada pembacaan qasidah dan shalawatan akhir-akhir ini. Bahkan beberapa tahun terakhir ini sudah bertebaran peristiwa pembacaan Al-Quran dengan lagu gereja yang jelas-jelas melecehkan Islam. Na’udzubiLlahi min dzalika.

Tentu kaidah dar’ul mafasid muqaddamun alaa jalbil mashalih sangat relevan diterapkan sekarang untuk menjaga akidah dan syari’at umat Islam agar tidak diobok-obok oleh musuh Islam.

Islam harus Mengikuti Budaya

Termasuk ide liberal yang sekarang sangat gencar dipasarkan oleh pendukung Islam Nusantara adalah penggiringan opini masyarakat bahwa Islam di Indonesia harus mengikuti budaya Indonesia. Contohnya, situs news.merahputih.com pada Rabu 8 Juli 2015 menurunkan berita berjudul Quraish Shihab Setuju Islam Nusantara. Dalam artikel tersebut Quraish Shihab mengatakan bahwa Islam Nusantara bukanlah agama yang baru. “Ini pemahaman ajaran agama yang dipengaruhi budaya.”

Dia mengatakan, al-Qur’an harus dipahami sesuai dengan konteks budaya dan ilmu pengetahuan yang berkembang. Dia mencontohkan, kaum perempuan, baik dari Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, pada zaman dahulu tidak memakai jilbab karena menganggap kebaya adalah pakaian terhormat. “Kemudian, bisa jadi di negeri-negeri yang airnya kurang ulama-ulamanya membolehkan bertayammum saja,” sambung mantan Menteri Agama ini.

Dari keterangan diatas, terlihat sekali bahwa Quraish Shihab berupaya menginjeksikan pendapatnya tentang jilbab adalah budaya bukan kewajiban agama dalam menerangkan tentang Islam Nusantara. Dia mengatakan bahwa jilbab termasuk pemahaman ajaran agama yang dipengaruhi budaya, yang berarti penggunaan jilbab dipengaruhi oleh tradisi masyarakat yang dapat selalu berubah hukumnya.

Padahal, ayat al-Qur’an sendiri sudah secara tegas (nash sharih) menyebutkan batas aurat wanita, yaitu seluruh tubuh, kecuali yang biasa tampak, yakni muka dan telapak tangan. Para ulama tidak berbeda pendapat tentang masalah ini. Yang berbeda adalah pada masalah: apakah wajah dan telapak tangan wajib ditutup? Sebagian mengatakan wajib menutup wajah, dan sebagian lain menyatakan, wajah boleh dibuka (lihat keterangan-keterangan ulama seperti Ibn Juzay dalam al-Tashil li ‘Ulum al-Tanzil, Jalaluddin al-Suyuthi dalam al-Durr al-Mantsur, Ibn Katsir dalam Tafsir al-Quran al-‘Azhim, dan lain-lainnya). Tentu akan menjadi aneh jika Allah Ta’ala membatasi aurat wanita kecuali muka dan telapak tangan, akan tetapi membolehkan kepala dan lekuk dadanya terbuka.

Pengunggulan budaya Jawa diatas Islam ini merupakan proyek baru yang sangat marak disusupkan di masyarakat terutama melalui pengajian umum dan seminar. Gus Miftah yang namanya sedang viral akhir-akhir ini menyatakan dalam satu pengajiannya bahwa di Indonesia memakai blangkon dan baju Jawa lebih baik daripada memakai gamis dan pakaian putih serta cadar. Alasannya, pakaian putih dan gamis itu tidaklah ajaran agama dan orang Arab masa Jahiliyah pun memakainya. Gus Miftah dan orang-orang yang sepaham dengannya tidak memahami konsep Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama sebagai insan kamil dimana semua perilaku dan kebiasaan beliau adalah yang paling utama (afdhal) dan paling baik untuk diikuti. Allah Ta’ala bersabda:
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ [القلم : 4]
“Sesungguhnya engkau berada dalam bentuk yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Jika memang Islam di Indonesia harus mengikuti budaya yang berlaku, lalu mengapa para kiai-kiai dan habaib masih menggunakan gamis dan serban padahal mereka di Indonesia? Mengapa KH. Hasyim Asy’ari sering menggunakan serban di kepalanya? Mengapa Walisongo menggunakan gamis dan serban ketika berdakwah? Mengapa tidak memakai blangkon dan pakaian Jawa saja? Apakah Anda merasa lebih tahu Islam dari pada ulama-ulama dan kiai-kiai besar itu?
Imbas dari ajaran semacam ini akhirnya masyarakat lebih senang terhadap budaya Jawa dan dianggap lebih baik daripada mengikuti pakaian dan kebiasaan ala Rasulullah. Cadar diserang habis-habisan dan dibusukkan dengan disebut pakaian teroris dsb, padahal tujuannya sangat baik yakni untuk menjaganya dari fitnah laki-laki. Bahkan yang lebih aneh lagi ajaran ini terdapat fenomena haji menggunakan blangkon (tidak berkopyah) sebagai atribut KBIH Arafah, Bangsri, Jepara, di bawah pimpinan KH. Nuruddin Amin. Pimpinan KBIH tersebut mengatakan: “Makanya kami sengaja mempraktikkan pengamalan Islam Nusantara dengan wujud memakai blangkon”.

Penghilangan Kata Kafir di Ranah Publik

Salah satu ide liberal yang saat ini sedang ramai dipasarkan oleh pengusung Islam Nusantara adalah penolakan menggunakan kata kafir di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak tanggung-tanggung, dibuatkan bahtsul masail serta musyawarah nasional (munas) oleh PBNU pada Februari 2019 di Banjar Patroman Jawa Barat untuk mendukung dan melegalkan hal tersebut. Dalam bahtsul masail tersebut kata kafir harus diganti dengan Muwathinun (warga negara) yang kedudukannya sama di hadapan hukum. Sangat disayangkan, para pendukung penghapusan kata kafir ini kebanyakan berasal dari tokoh-tokoh yang mengatasnamakan NU sehingga lagi-lagi menggiring opini publik khususnya kaum Nahdliyyin bahwa hal tersebut benar dan tepat.

Pada 02 Maret 2019 M Kholid Syeirazi di nu-online menulis:

“Orang Islam, meski mayoritas dari segi jumlah, tidak lantas kebal hukum atau ingin menjadi pemain utama. Umat Islam wajib mematuhi hukum yang berlaku sejauh tidak melanggar syariat. Tidak ada mukmin dan kafir di ranah publik NKRI. Yang ada adalah warga negara Indonesia, yang berbhinneka tunggal ika…. Non-Muslim Indonesia tidak layak dihukumi sebagai kâfir dzimmy, kâfir mu’âhad, kâfir musta’min apalagi kâfir harby yang harus dimusuhi. Nahnu al-Muwâthinūn: kita semua adalah warga negara yang berkedudukan sederajat. Tidak ada persekusi dan prosekusi kecuali kepada para pelanggar hukum, apa pun suku dan agamanya.”

Lihatlah pernyataan salah satu aktivis liberal Husein Muhammad dalam artikel di Islami.co pada 1 Maret 2019 berikut sehari setelah bahtsul masail NU di Banjar diatas:

“Dalam acara bedah buku “Menemani Minoritas”, karya Dr. A. Najib Burhani, yang lalu saya mengatakan: “Kita perlu merekonstruksi atas sejumlah terminologi keagamaan. Salah satunya adalah kata “Kafir’. Kata ini sangat krusial dalam isu-isu keagamaan dan relasi antar warga negara. Ia mengandung makna peyoratif dan diskriminatif. Dalam konteks relasi sosial ia harus dikembalikan pada makna genuinnya. Yakni orang yang mengingkari atau menolak kebenaran, kebaikan dan keadilan. Jadi ia bukan lagi bermakna suatu identitas komunitas suatu agama selain komunitas agamanya dirinya. Mengenai keyakinan biarlah menjadi urusan dan pilihan individu. Keputusan benar atau tidak diserahkan kepada Tuhan.”

Dari sini sudah kelihatan sekali mau kemana arah penghapusan kata kafir sedikit demi sedikit ini, yakni agenda pluralisme terselubung. Padahal menghapus kata kafir sendiri hakikatnya merupakan penentangan terhadap Al-Quran, karena Al-Quran telah mengingkari orang yang menyamakan Islam dengan agama-agama lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ [الأنعام : 50[

“Katakanlah: Apakah sama antara orang buta dan orang yang melihat? Apakah kalian tidak berfikir?” (QS. Al-An’am: 50)

Yang dimaksud orang buta disini adalah orang kafir, sedangkan orang yang melihat adalah orang mukmin. (Lihat: al-Qurthubi, al-Jami’ li Alfazh al-Quran, shamela ishdar 3.15, juz 6 hlm. 393; Ibn al-Jauzi, Zad al-Masir, shamela ishdar 3.15, juz 2 hlm. 339)

Selain itu, penggantian istilah kafir dengan muwathinun (warga negara) bukan hal baru tapi hanya mengekor kepada wacana yang digulirkan penulis Mesir bernama Fahmi Huwaidi yang mengarang buku berjudul Muwathinun Laa Dzimmiyyun (Kairo: Dar al-Syuruq, 1999). Istilah muwathinun sebagai ganti kafir dzimmi ini adalah sebagai jawaban dari pernyataan Orientalis bernama D.B. McDonald (w. 1943) yang mengeluhkan mengapa kafir dzimmi tidak dianggap sebagai warga negara. (hlm. 117) Di dalam buku ini akhirnya dia menolak istilah kafir dzimmiy, harbiy, mu’ahid, dan musta’min dan mengatakan bahwa pembahasan Madzahibul Arba’ah tentang hal tersebut sudah tidak relevan dengan zaman sekarang. Dia juga menolak istilah Darul Islam dan mengatakannya hanya ada di kitab-kitab sejarah (hlm. 106), mengajak untuk tidak lagi menggunakan keterangan al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyyah karena tidak relevan lagi dengan zaman sekarang karena pemerintahan sekarang adalah “pemerintahan dunia” bukan “pemerintahan agama” (hlm. 168), dan memperbolehkan memilih pejabat dalam pemerintahan Islam dari non-Muslim (hlm. 168-173) Bagaimana pendapat seperti ini bisa Anda menangkan dari pendapat ulama-ulama salaf berabad-abad silam, dan lebih memilih untuk menyenangkan hati kaum orientalis Barat?

Penghapusan kata kafir ini jelas sekali hanyalah tipu daya untuk melegalkan memilih pemimpin dari non-Muslim. Tokoh-tokoh liberal di tubuh NU ini menjadi dalang dibalik semua ini. Tahun 2017 silam, GP Ansor pernah membuat even bahstul masail pula yang memberikan ‘fatwa’ nyeleneh bahwa memilih pemimpin non-Muslim itu boleh. Kegiatan bahtsul masail di pesantren diperalat untuk menuruti hawa nafsu kaum liberalis-pluralis.

Keras kepada Kaum Muslimin, Lembek terhadap Kaum Kafirin

Salah satu dampak nyata ajaran Islam Nusantara adalah terbaliknya persepsi kaum Muslimin terhadap sesamanya sendiri. Para pendukung Islam Nusantara begitu mudah menghina, menyalahkan, bahkan mempersekusi saudara sesama Muslim yang ingin menegakkan Syari’ah dan memperjuangkan keadilan serta kebenaran. Sebaliknya, mereka pun lembek seakan tidak memiliki taring lagi di hadapan non-Muslim ketika melakukan kekerasan, menodai agama Islam, bahkan mengkhianati negara.

Bukankah masih hangat di dalam ingatan kita tentang anak konglomerat China yang menghina presiden dengan sebutan kacung tahun 2017 silam? Bukankah masih terngiang di telinga kita tentang pembakaran masjid di Tolikara Papua 2015 silam di saat umat Islam melaksanakan shalat ‘Id? Yang terbaru tahun 2019 ini, bagaimana dengan oknum pelaku kerusuhan di Papua yang menghancurkan tempat vital berupa bandar udara dan gedung pemerintah, juga menyerang KODIM dan kantor Gubernur serta DPRD, terang-terangan meminta referendum agar lepas dari Indonesia, serta berbuat rusuh dan mengibarkan bendera Bintang Kejora di depan istana? Ternyata, para pendukung Islam Nusantara termasuk juga rezim sekarang ini hanya bisa senyam-senyum sambil mengajak untuk tenang, memberi maaf, dan tidak bertindak anarkis. Presiden Jokowi yang janjinya akan menggebuk para perongrong kedaulatan negara nyatanya tidak bertindak apa-apa. Mahfud MD hanya bungkam dan Said Aqil hanya bisa mengatakan bahwa Papua adalah saudara, masalah tersebut tidak usah dibesar-besarkan. Apa barangkali dia takut tuntutan demonstran Papua agar Banser segera dibubarkan karena membuat onar di Papua kesampaian? Wallahu A’lam.

Beda cerita jika yang terbelit kasus adalah umat Islam, saudara seiman mereka sendiri. Aksi Damai 212 hingga kini masih diungkit-ungkit dan dicurigai sebagai aksi radikalisme, padahal rumput Monas satupun tak terinjak kaki jutaan orang tersebut. Aksi Damai 21-22 Mei dihajar dan ditembaki aparat dengan peluru logam seakan menghadapi teroris bersenjata lengkap hingga sepuluh warga sipil tewas dan puluhan luka-luka termasuk anak-anak. Para pendakwah Islam yang komitmen dengan Syari’ah dan tegas dalam kebenaran dipersekusi, dikriminalisasi, dianggap antek teroris dan HTI, hingga harus berakhir dalam bui. Isu ceramah UAS tentang salib digoreng habis-habisan oleh tokoh-tokoh IsNus dengan menganggapnya sebagai tidak toleran, anti-kebhinnekaan. Dari kalangan NU sendiri khususnya Banser juga kerap menunjukkan sikap memusuhi sesama muslim, untuk memuluskan proyek adu domba sesama muslim ini beberapa tokoh sentral NU mendapat aliran dana sebesar Rp 125 Milyar sebagaimana dilansir oleh akun twitter BlackAccessHacker.

Demikian, Islamophobia atau ketakutan terhadap bangkitnya Islam ditusukkan secara paksa oleh pendukung Islam Nusantara ke jantung masyarakat Indonesia. Kaum liberalis-komunis takut jika umat Islam memiliki sikap seperti yang difirmankan Allah Ta’ala:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ [الفتح : 29]

“Muhammad adalah utusan Allah. Orang-orang yang bersamanya keras terhadap kaum kafir namun welas asih terhadap sesamanya.” (QS. Al-Fath: 29)

Mereka tahu bahwa sifat ini menjadi kunci persatuan umat Islam yang menjadikan Islam bangkit dan maju. Makanya mereka sekuat tenaga membendung hal tersebut dengan menyebarkan isu-isu seperti radikalisme, terorisme, anti-NKRI, makar, dan sebagainya yang kesemuanya selalu tertuju kepada umat Islam. Akhirnya umat Islam mengalami inferiority complex, perasaan rendah diri dan tidak berdaya karena mereka terpecah-belah dan menjadi jongos di negeri sendiri. Inilah tujuan utama Islam Nusantara.

Geger Disertasi Doktor Seks di Luar Nikah Tidak Dilarang Syari’at (?)

Liberalisasi Islam di Indonesia secara terang-terangan masih terus berlanjut hingga tahun 2019 sekarang. Baru-baru saja publik dibuat heboh oleh mahasiswa tingkat doktoral (S3) di UIN SuKa (Sunan Kalijaga) Jogjakarta yang membuat disertasi kontroversial dengan tema keabsahan hubungan seksual non-marital berdasarkan konsep milk al-yamin (perbudakan) menurut Syari’ah. Gampangnya, hubungan intim di luar nikah boleh secara Islam. Yang dijadikan rujukan adalah Muhammad Syahrur, pemikir liberal asal Mesir yang membolehkan wanita memperlihatkan pusarnya (Jawa: udel) di depan umum dan menyalah-nyalahkan batasan aurat yang dibuat para Fuqaha’. Dalil ‘suci’ kaum liberal yakni hermeneutika digunakan berkali-kali untuk merubah makna lafazh Al-Quran. Aurat menurut Syahrur dimaknai “rasa malu” yang relatif sesuai budaya, milk al-yamin dimaknai sebagai “komitmen partner seksual untuk hidup bersama tanpa ikatan pernikahan”. Syahrur lama hidup di Barat, sehingga pikirannya terbawa dalam seksualitas tanpa batas disana.

Yang jadi masalah adalah pemikiran seperti ini dia bawa ke dunia Islam. Akhirnya dijadikan rujukan untuk disertasi gelar doktor, di universitas Islam negeri pula. Padahal pemikiran tersebut sama saja dengan melegalkan perzinaan yang jelas-jelas termasuk pemikiran kufur karena menghalalkan sesuatu yang haram secara pasti. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (116) مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (117) [النحل : 116 ، 117]

“Janganlah kalian mengucapkan kebohongan atas apa yang lidah-lidah kalian sifati bahwa ini halal dan ini haram untuk membuat kebohongan terhadap Allah. Orang-orang yang membuat kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung. (116) Dia hanya mendapat sedikit harta namun mendapat siksa yang amat pedih. (117) (QS. Al-Nahl: 116, 117)

Penulis disertasi tersebut dihukumi kafir atau tidak, Wallahu A’lam. Yang jelas ia telah menghalalkan perkara haram yang ma’lumun minaddin bidloruroh. Dan andai kita kembali menelaah kitab Sulam Attaufiq, Irsyadul Ibad dan kitab-kitab lain di dalamnya akan kita temukan pembahasan mengenai ucapan yang demikian dipastikan menjadikan seseorang kufur dan murtad.

Yang menjanggalkan, konferensi pers dari tim penguji maupun promotor disertasi di UIN SuKa tersebut sepakat mengatakan disertasi itu bermasalah, namun mereka mau berkata demikian setelah viral dan mendapat banyak kecaman oleh masyarakat luas. Mengapa tidak langsung ditolak mulai dari pengajuan judul, bahkan disertasi tersebut tetap diluluskan dengan predikat “sangat memuaskan”? Hal ini semakin menguatkan anggapan bahwa mereka sebenarnya dari awal mendukung isi disertasi tersebut, namun akhirnya ‘bergaya’ menolak supaya nama almamater mereka tidak dicap buruk oleh orang yang akhirnya tidak mau kuliah kesana lagi. Jika demikian, sungguh picik sekali pikiran mereka berbuat hanya untuk keuntungan duniawi dengan mengorbankan ukhrawi. Mereka bukannya ngemong masyarakat supaya dekat dengan agama, justru malah menghancurkan masyarakat supaya jauh dari agama. Demikianlah wajah Asli Islam Nusantara yang mereka gembor-gemborkan. Na’udzubiLlah min dzalika.

Sebenarnya fenomena ini bukan yang pertama kali terjadi di UIN SuKa, beberapa tahun lalu universitas ini juga meluluskan tesis kontroversial yang berjudul Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan. Dua fakta tersebut seakan menambah deretan panjang sejarah kelam yang ditorehkan universitas-universitas berlabel islam, mulai dari seorang dosen UIN Sunan Ampel yang berani menginjak lafad Allah, buku berjudul Indahnya Kawin Sejenis dari UIN Wali Songo, teriakan Anjinghu Akbar dan Area bebas tuhan dari mahasiswa UIN Sunan Gunung Jati dan belum lagi UIN Syarif Hidayatullah yang mencetak tokoh-tokoh semacam Azyumardi Azra, Abdul Muqsith Ghozali, Siti Musdah Mulia dan sederet nama lainnya. Perubahan besar yang terjadi pada semua Universitas di atas bermula dari munculnya Harun Nasution yang menawarkan berbagai perubahan dengan mengusung slogan “Islam Rasional” serta bukunya yang berjudul Islam Ditinjau Dari Segala Aspeknya yang muatannya penuh dengan kesesatan dan penyimpangan akidah. Begitu Islam Rasional mulai tak terdengar lagi, muncullah Islam Liberal, Islam Liberal tenggelam terbitlah Islam Nusantara yang sekarang masih diperjuangkan oleh tokoh-tokoh yang sama dan tentunya dengan sokongan dana yang luar biasa.

Pemindahan Ibukota Dan Kerusuhan Di Papua

Beberapa hari yang lalu kita dikagetkan dengan sebuah konferensi pers yang digelar di Istana Negara, Jakarta. Presiden Jokowi secara resmi mengumumkan keputusan untuk memindahkan ibukota negara ke Kalimantan Timur, tepatnya di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara. Berbagai alasan pun disampaikan mulai dari beban Jakarta yang terlalu berat, kemacetan, polusi dan banjir tahunan yang selalu melanda Jakarta. Alasan lain yang dikemukakan ialah agar pembangunan nasional dapat merata tidak hanya di pulau Jawa (javacentris).

Tindakan Jokowi ini dinilai oleh banyak pengamat sebagai langkah yang grusa-grusu dan tidak punya payung hukum, karena pemindahan ibukota seharusnya dimatangkan terlebih dahulu oleh MPR dan DPR. Selain itu secara hukum keputusan ini menyalahi UU No. 29 Tahun 2007 yang menetapkan Jakarta sebagai ibukota negara. Bagaimana mungkin jika undang-undang tersebut masih berlaku namun presiden sudah berani menggelar konferensi pers perihal kepastian pemindahan ibukota? Kejadian ini mengingatkan kita kembali pada pulau reklamasi Jakarta yang juga dibangun tanpa mengikuti prosedur hukum yang benar. Di sisi lain apa yang dilakukan Jokowi ini seakan mengonfirmasi kegagalannya sebagai gubernur Jakarta. Kita tentu masih ingat bagaimana dulu ia saat kampanye menjanjikan semua problematika di Jakarta akan teratasi. Bahkan pada saat maju mencalonkan sebagai calon presiden untuk yang pertama kalinya ia pun kembali berjanji bahwa semua masalah yang ada di ibukota akan lebih mudah teratasi jika ia terpilih menjadi presiden.

Dari sisi historis pemindahan ibukota ini juga dinilai telah mengkhianati sejarah kemerdekaan indonesia, karena sejarah mencatat berbagai rentetan peristiwa penting terjadi di wilayah yang dahulu bernama Sunda Kelapa ini mulai Proklamasi Kemerdekaan sampai peristiwa G30S PKI yang membantai para jenderal TNI.

Dari segi finansial pemindahan ibukota juga pastinya akan menelan biaya yang luar biasa banyaknya, bahkan Jokowi sendiri mengatakan proyek ini akan menelan biaya sekitar Rp 466 Trilyun. Dari angka tersebut hanya 19% yang akan ditanggung oleh APBN. Katanya 19% ini bukan berupa fresh money melainkan dari hasil menjual kantor pemerintahan di Jakarta. Sisanya dari kerjasama pemerintah dengan badan usaha atau KPBU dan investasi langsung swasta serta BUMN. Bayangkan kantor pemerintahan pusat dari swasta, dimana letak kedaulatan negara ketika kantor pemerintah dari hutang apalagi hutang luar negeri? Kenapa Jokowi ini memerintah negara seperti negara ini milik dia sendiri? Sudah barang tentu pemindahan ibukota ini akan lebih memperbesar hutang indonesia setelah sebelumnya untuk menggenjot pembangunan infrastruktur saja hutang nasional sudah mencapai angka Rp 4.603 Trilyun.

Entah apa motif di balik akrobat politik yang dilakukan Jokowi untuk kesekian kali ini, sebagai pengalihan isu kerusuhan yang terjadi di Papua atau memang ada agenda terselubung untuk memuluskan China agar lebih leluasa menguasai Tanah Jawa dan melancarkan misi kristenisasi, Chinaisasi atau misi komunisasi mereka? Naudzubillah.

Konflik yang terjadi di Papua sebenarnya jauh hari sudah pernah diingatkan oleh Habib Rizieq Shihab, namun tidak ada yang menggubrisnya. Sekarang kegentingan di Papua sudah berada pada level yang membahayakan. Bukan hanya serangan fisik yang menimbulkan korban dari polisi, sipil dan TNI tapi juga gerakan massa yang sampai berani ngluruk istana mengibarkan bendera Bintang Kejora. Namun rezim ini seakan menutup mata terhadap tindakan anarkis dan bentuk makar tersebut. bandingkan dengan penanganan rezim ini terhadap pembawa bendera tauhid, HTI, dan aksi damai umat islam dari memakai gas airmata sampai penganiayaan hingga menelan korban jiwa.

Jika tidak segera ditangani, kisruh Papua ini akan mengadopsi peristiwa Timor Timur untuk memisahkan diri dari NKRI. Andai Papua lepas, demi hukum Jokowi harus dimakzulkan karena lepasnya Papua merupakan bukti Jokowi telah melanggar konstitusi, anti NKRI, tidak pancasilais dan telah mengubah NKRI dengan melepaskan sebagian wilayahnya,

Semua kekacauan dan carut-marut yang melanda negara kita sekarang ini adalah bentuk hukuman (kualat) akibat kecurangan pada pemilu 2019 yang dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif oleh Pemerintah, KPU, Bawaslu dan semua yang terlibat di dalamnya hingga menelan korban jiwa sebanyak 544 orang serta dampak dari kegemaran rezim ini mempersekusi ulama dan para habaib lebih-lebih Habib Rizieq Shihab.

Daftar Ajaran Liberal dalam Islam Nusantara

Selain hal-hal diatas, masih banyak lagi pemikiran-pemikiran liberal yang diusung dengan mengatasnamakan Islam Nusantara oleh para pendakwahnya, dan semua bisa dicek jejal digitalnya di media-media sosial. Diantaranya:

1. Mengobarkan sentimen anti-Arab dengan mengatakan, “Islam Nusantara bukan Islam Arab.”

2. Islam Nusantara berakar dari ajaran “tauhid” Hindu-Budha.

3. Kewajiban wanita untuk berdiam di rumah hanyalah ajaran budaya Arab dan ini bertentangan dengan semangat Islam Nusantara.

4. Tidak boleh menyalahkan kesesatan orang, yang boleh hanya memendamnya untuk dirinya sendiri.

5. Perang dalam Islam hanya bersifat membela diri (defensif), tidak ada kewajiban jihad dan menyerang dulu dalam Islam (ofensif).

6. Islam Nusantara diselamatkan oleh dangdut mania. Karena itu tidak heran jika banyak acara organisasi-organisasi NU yang didalamnya ada konser musik, jogetan biduanita di atas panggung, bahkan pernah pula dilakukan di serambi masjid. Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un.

7. Mengucapkan Assalamu’alaikum kepada non-Muslim boleh.

8. Umat Islam disuruh membaca Ihdina al-Shirah al-Mustaqim (QS. Al-Fatihah: 6) karena agama yang benar kita tidak tahu, yang tahu hanya Allah.

9. Jilbab dan cadar hanya budaya Arab, bukan ajaran Islam.

10. Nabi Muhammad Shalllahu ‘alaihi wa Sallama tidak dijamin masuk surga.

11. Semakin panjang jenggot semakin goblok.

12. Syiah, Mutazilah, Asyariyah dan al-Maturidiyah adalah Ahlussunnah wal Jamaah.

13. Yang penting Ukhuwah Imaniyah seperti Umat Islam, Konghucu dan Budha. Al-Quran tidak menekankan Ukhuwah Islamiyah.

14. Dalam sejarah Nusantara, Islam adalah perusak tatanan yang sudah ada.

15. Orang Hindu Budha tidak rela Islam masuk di Indonesia, hingga Majapahit pun hancur karena Islam.

16. Pesantren bukanlah produk Islam tapi ajaran Hindu-Budha.

17. Santri hanya tahu mengaji bukan berdagang. Soal bisa makan atau tidak tergantung sedekah dari orang lain.

18. Menjamurnya acara lintas agama seperti doa lintas agama, takhtimul Quran lintas agama, buka bersama lintas agama, halal bi halal lintas agama, natalan dan imlek bersama, dan lain-lain.

19. Sentimen simbol-simbol keagungan Islam seperti pembakaran bendera tauhid, pembusukan nama khilafah, dan lain-lain.

20. Munculnya shalawat Pancasila dan shalawat Jokowi yang berarti bermain-main dengan shalawat.

21. Pemberian gelar santri kehormatan oleh Gus Nuril terhadap Ahok.

22. Keturunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama sudah mati semua. Orang Arab di Indonesia hanyalah kaum pedagang.

23. Munculnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang sangat berpotensi melegalkan LGBT, Seks bebas, perzinahan, pernikahan beda agama, dan kebebasan berpakaian.

24. Munculnya Gus Miftah yang gemar ceramah di lokalisasi, diskotik, hotel bintang lima dan tempat maksiat lainnya, dari mulutnya juga keluar pernyataan mencintai habaib itu harus tapi mengikuti habaib tidak wajib, blangkon dan baju jawa lebih utama dari pada gamis, baju putih serta cadar.

Ikhtitam

Persoalannya bukan terletak pada Islam Nusantara sebagai sebuah “nama” dan “definisi”. Sebab jika yang kita perdebatkan hari ini hanya sekadar soal nama, maka betapa bodohnya kita, meributkan apa yang telah ada dan dipakai sejak puluhan tahun yang silam. Jadi bagaimanapun, di sini mesti ditegaskan bahwa kontroversi Islam Nusantara yang terjadi hari ini terletak pada muatan atau isi yang diboncengkan oleh kalangan tertentu kepada nama “Islam Nusantara” itu sendiri. Karena itu, mau berganti nama berapa kali pun, jika isinya tetap sama, ia tetap akan kontroversial juga.

Isi dan muatan yang dimaksudkan itu tak lain adalah nilai-nilai di luar Ahlusunah wal Jamaah, Dalam hal ini adalah paham liberalisme, yang berusaha disusupkan ke dalam umat Islam di Indonesia melalui Islam Nusantara sebagai topengnya. Makanya, sejak zaman dahulu nama Islam Nusantara itu ada tapi tak menimbulkan reaksi dan kontroversi, karena memang tak digunakan untuk memasarkan paham-paham liberal. Namun sejak muncul sejumlah tokoh yang merendahkan Arab dan segenap budayanya, menghina para habaib dari Arab yang rajin berdakwah di Indonesia, begitu mudah mempermainkan ajaran-ajaran Syari’at Islam, mengatakan cadar bukan ajaran Ahlussunah wal-Jamaah, menuduh Islam Arab sebagai Islam abal-abal, yang semua itu dengan mengatasnamakan Islam Nusantara, reaksi dan penolakan pun tak terelakkan. Sekali lagi, bukan menolak Islam Nusantara sebatas sebagai nama, namun sebab muatan yang ada di dalamnya.

Gejolak yang terjadi di Papua, Pemindahan Ibukota dan disertasi berbau kekufuran terjadi di waktu yang hampir bersamaan, apakah ini termasuk upaya atau taktik dari rezim ini untuk memecah belah konsentrasi kita sehingga jika kita hanya fokus pada salah satunya saja maka dua diantaranya akan lolos dari perhatian kita dan akan terealisasi dengan mulus. Wallahu A’lam.

Terakhir, semoga ada hikmah yang besar dari semua yang sedang dialami oleh bangsa kita ini sehingga negara kita bisa kembali menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat, berwibawa, adil dan makmur di bawah pimpinan seorang presiden baru yang benar-benar faham cara mengelola negara tanpa didikte oleh kepentingan asing. Amiin yaa robbal alamiin.[*]

Sarang 07 Muharram 1441 H.

KH. Muhammad Najih MZ.

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons