Site Loader
Toko Kitab

Pada hari Sabtu tanggal 17 Agustus 2019 kemarin Syaikh Muhammad Najih memberi mauizhah hasanah dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74. Dalam mauizhah yang disampaikan beliau pagi hari setelah jama’ah dan wiridan shalat Shubuh, Abah Najih membeberkan berbagai pandangan beliau mengenai kemerdekaan dan sejarah bangsa Indonesia dimana umat Islam khususnya para ulama dan santri sangat berperan penting dalam usaha pencapaian kemerdekaan. Demikian kutipan dhawuh beliau yang disampaikan selama kurang lebih satu setengah jam tersebut:

Kemerdekaan adalah Nikmat dari Allah Ta’ala

“Dalam kesempatan yang berbahagia ini tanggal 17 Agustus hari Sabtu Wage tahun 2019 bagi saya ada dua nikmat yang saya harus syukuri. Satu yaitu kemerdekaan, karena dengan kemerdekaan mestinya bangsa kita terbebas dari intervensi atau tekanan penjajah. Waktu itu ada penjajah Jepang, ada penjajah Belanda. Kemudian setelah 17 Agustus 1945 Belanda datang lagi membawa Sekutu. Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis. Kemarin ada video orang Perancis diterima masuk TNI. Jadi Indonesia yang besar ini mau direbut. Amerika mendapat bagian ini, Belanda bagian ini, Perancis bagian ini, lalu Jepang bagian ini. Pokoknya negara-negara yang pernah membantu Indonesia jaman Suharto untuk memberi hutang. Disebut IGGI (Inter Governmental Group on Indonesia).

Walhasil ini fitnah besar. Saya bilang kemerdekaan 17 Agustus itu nikmat dari Allah Ta’ala. Jadi antara Barat dan Timur berperang, ujungnya Amerika mengebom Hiroshima. Akhirnya Indonesia merdeka. Indonesia merdeka ini dituntut oleh ulama dan mahasiswa. Tapi di sejarah di SD dan SMP dikatakan yang menuntut kemerdekaan itu mahasiswa. Itu kebohongan. Ulama juga. Hari Kemerdekaan adalah hari jum’at. Malam jum’atnya para ulama istighatsah, berdoa, dan meminta presiden Soekarno untuk merdeka dan memakai hukum Islam. Hal ini tidak terekam dalam sejarah. Para ulama ingin Indonesia bersyari’ah.

Sebelumnya muncul BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Jadi yang ingin Indonesia merdeka adalah Islam dan nasionalis, bukan PKI. Kebetulan badannya bernama BPUPKI, tapi itu bukan PKI yang menginginkannya dan PKI tidak terlibat dalam badan usaha tersebut karena PKI adalah buatan Belanda. Jadi di Belanda ada partai sosialis. Kemudian ada 80 utusannya dari Belanda ke Indonesia menyebarkan aliran komunis. Kurang ajar. Dia sendiri tidak komunis, tapi orang Indonesia disuruh komunis. Komunis itu lebih buruk ketimbang sosialis. Buruh dan petani dihasut untuk memberontak ke orang kaya. Berontak ke kiai yang kaya, pak haji-pak haji. Termasuk usaha pemberontakan di daerah Tegal, Brebes, dan Pemalang. Jadi rakyat diprovokasi agar panas dan memberontak melawan kapitalis. Itu semua buatan Belanda, padahal Belanda itu termasuk kapitalis.

Makanya negara-negara Sekutu yang datang ke Indonesia tahun 1948 termasuk Inggris, Amerika, dan Perancis. Negara-negara kapitalis.

Pokoknya PKI itu buatan Belanda. Dia mengaku ingin merdeka, tapi tidak. Ngakunya mereka bekerja. Dia membakar pabrik-pabrik alasannya mengaku untuk kemerdekaan. Itu bukannya ingin merdeka, hanya ingin ganti sistem dari kapitalis ke komunis. Na’udzubiLlah. Cina juga tidak ingin Indonesia merdeka.

Kemudian di dalam BPUPKI ada Tim Sembilan. Mestinya dibuat sepuluh saja supaya sempurna. Makanya Syaikh Abul Fadhol Senori punya kitab berjudul Ahla al-Musamarah fi Hikayah al-Auliya al-’Asyarah, bukannya al-Tis’ah. Tis’ah (Sembilan) itu di dalam Al-Quran disebutkan:

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ [النمل : 48]

“Di Madinah ada Sembilan kelompok yang berbuat kerusakan di bumi dan bukannya memperbaiki.” (QS. Al-Naml: 48)

Walhasil, Cina tidak ingin Indonesia merdeka. Cina membuat Partai Tionghoa Indonesia (PTI) tahun 1932. Dia berkata di dalam AD-ART, “Kami adalah bangsa Cina. Kami adalah kelompok lintas bangsa. Kami adalah kelompok yang luas seperti luasnya sungai Yang Tze.” Tidak mau mengakui Indonesia. Namanya Partai Cina Indonesia, tapi tidak mau dinamai bangsa indonesia. Sekarang Ahok diberi nama Basuki Tjahaya Purnama. Itu penipuan, hanya alias saja. Nama aslinya ada. Partai komunis tidak ingin kemerdekaan, hanya ingin kerusuhan untuk ganti sistem.
Sedangkan Persatuan Arab Indonesia (PAI) yang termasuk pendirinya adalah mbahnya Anies Baswedan (Abdurrahman Baswedan) itu dalam buku partai dikatakan, “Kami sudah makan pecel lele. Kami sudah minum air Indonesia. Kami sudah tidak makan onta lagi. Kami adalah bangsa Indonesia. AlhamduliLlah. Kami berbahasa Indonesia.” Yang Arab menamakan dirinya bangsa Indonesia. Ini merupakan ungkapan terima kasih dan syukur sudah makan kambing dari Indonesia. Banyak sejarah habib-habib mendukung Indonesia dan mendukung kemerdekaan, termasuk Habib Muhammad Ali bin Habsyi shahib Kwitang, Habib Ali bin Husain al-Attas Bungur, dan lain-lainnya. Kita harus tahu hal yang begini.

Kemudian, bukti lagi bahwa komunis itu tidak ingin merdeka adalah bahwa dia memberontak dan membikin kerusuhan seperti kudeta gerakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di Madiun, tahun 1948. Dia berkolaborasi dengan Uni Soviet. Komunis mulai memberontak di Madiun. Tapi jangan menyangka PKI hanya di Madiun saja. Purwodadi juga banyak. Rembang juga banyak, apalagi Blora. Walhasil bangkitnya PKI dari Madiun, lalu menyerang kemana-mana.

Kemudian ada Gerakan DI/TII, itu juga setengah PKI karena benci dengan kiai. Yang saya maksud Kartosuwiryo lho. Bukan saya mengatakan DI/TII itu PKI, bukan. Saya tidak mengatakan aliran komunis, tapi yang penting dia benci kiai karena kiai waktu itu akrab dengan Soekarno. Jadi Soekarno mengerti bahwa dia menjadi presiden bisa kuat kalau bergandengan dengan kiai. Kiai bisa berdoa dan bisa nyuwuk (baca mantra). Apalagi jika santrinya digerakkan membaca Yasin Fadhilah. Membaca Yasin 41 kali. Maka dia menjadi presiden yang kuat. Kalau Kartosuwiryo tidak mau memakai yang seperti itu. Soekarno juga agak PKI yakni marhaenis, tapi dia paham klenik dan mistik.

Walhasil, Indonesia merdeka tapi ada PKI. Ada juga setengah PKI yang tidak senang kiai. Belanda juga ingin balas dendam. Waktu perundingan Meja Bundar Mbah Moen berkata bahwa utusan Belanda diberi nama yang islami. Jadi mulai dulu Islam dimanfaatkan, tapi yang sering digunakan untuk kekuasaan. Orang Islam dikibuli.

Dulu ada seorang kiai bernama Nashiruddin. Dulu Namanya Abdul Mun’im. Beliau dulu guru saya, lalu ke Makkah. Oleh Sayyid Muhammad diberi nama Nashiruddin. Beliau kemudian pulang, kebetulan Sayyid Muhammad berada di Babat. Akhirnya keduanya bertemu. Saya ikut. Lalu Mbah Moen guyonan, “Antum Nashiruddin am Nasyiruddin?” Dijawab, “Nashiruddin.” Nasyiruddin itu bisa bermakna dua. Ada nasyir artinya menyebarkan, ada juga nasyir artinya menggergaji (menghancurkan).

Peran Ulama dalam Proklamasi 17 Agustus 1945

Walhasil, waktu kemerdekaan yang menuntut Soekarno di sejarah katanya mahasiswa. Memang mungkin siangnya oleh mahasiswa, tapi malamnya oleh Kiai Ajeng Sunda di Rengasdengklok. Ada istighatsahnya, dan kiai-kiai minta hukum Islam. Tapi Soekarno itu nasionalis, bukan agamis. Di dalam Rumusan Pancasila dari BPUPKI juga tercantum Tujuh Kalimat, yakni Peri Ketuhanan dengan Kewajiban Mengamalkan Syariah Islam bagi Para Pemeluknya. Pada tanggal 17 Agustus waktu itu masih ada, tapi tanggal 18 dihapus. Alasannya lucu menurut saya. Alasannya ada utusan dari Jepang bertemu Mohammad Hatta. Utusan itu mengatakan kalau Tujuh Kalimat ini tidak dihapus, Maluku akan berdiri sendiri dan memisah dari Indonesia. Yang punya ide NKRI adalah Muhammad Natsir, orang Muhammadiyah atau Masyumi. Soekarno waktu itu gonjang-ganjing ingin sistim federal. Natsir tidak mau.

Jadi yang menuntut Indonesia merdeka itu para kiai ajengan di Rengasdengklok. Waktu itu ada anak perempuan Pak Karno. Ketika itu dia masih kecil dan menangis karena meminta susu. Akhirnya seorang kiai yang berada disitu membelikan susu. Siapa itu? Ya yang jadi presiden PDI itu. WaLlahu A’lam. Semoga berkahnya ketemu kiai dia husnul khatimah, semoga. Bertemu kiai yang sering dibodohi oleh nasionalis. Agamis biasa dibodohi oleh nasionalis. Tapi ngono yo ngono, nanging ojo ngono ae. Dari dulu sampai sekarang dibohongi terus? Kapan negara kita barokah? Hei nasionalis! Sadarlah, sadarlah, sadarlah! Kasihan negara ini.

Saudara-saudara sekalian. Tadi saya bilang negara ini mau dibagi-bagi oleh Perancis, Inggris, Amerika, dan Belanda. Mungkin Jepang juga. Jerman juga ikut-ikutan ingin mendapat ‘kue’ dari Indonesia. Ada juga Cina yang mengerikan sekarang ini. Infrastruktur dikuasai cina. Tol-tol bahannya dari Cina. Betonnya itu memakai alat yang sudah kuno. Besi-besi yang kuno diplitur sehingga kayak baru. Lha bagaimana besok? Tol-tol ini nanti tidak awet. Kelihatannya baja besar tapi dalamnya kropos karena sudah bekas itu. Itu jahatnya Cina ingin mencelakakan umat Islam. Na’udzubiLlah.

Penghapusan Tujuh Kalimat adalah Bencana

Tadi saya bilang 17 Agustus itu rahmat, dan Indonesia bisa menang itu gara-gara berkahnya kiai dan berkahnya Tujuh Kalimat, tapi malah dihapus. Alasannya karena ada utusan dari Maluku. Tapi kok yang jadi utusan mengapa orang Jepang? Kan lucu. Berarti jepang karena sudah dibom oleh Hiroshima lalu lemah, akhirnya bisa ditekan oleh Kristen. Oleh salibis. Utusan jepang itu hakikatnya utusan Maluku. Tidak pakai musyawarah. Mestinya bisa tunggu dulu sebentar. Alasannya mempercepat karena negara masih lemah, tidak punya biaya perang, dst untuk mencegah kemerdekaan Maluku. WaLlahu A’lam. Tapi mengapa secepat itu? Mengapa tidak nanti-nanti dulu? Rembugan dulu yang baik. Memang itu tujuan nasionalis. Membodohi orang Islam. Nasionalis yang anti-islam lho, bukan nasionalis yang kayak Muhammad Roem, Agus Salim, dan seterusnya.

Saudara-saudara sekalian. Tanggal 18 ini malapetaka bagi umat Islam. Mereka dibohongi dan dipecundangi. Kejam sekali. Tapi Alhamdulillah, kemudian ada Majelis Konstituante. Islam hampir menang dalam argumen, akhirnya dibubaskan oleh Soekarno dan mengeluarkan Dekrit Presiden yang mengatakan sila pertama adalah sila yang menjiwai seluruh sila-sila yang lainnya. Artinya Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kemarin ada orang mengatakan negara kita ini bukan negara yang berdasarkan Pancasila. Mana ada kata-kata berdasarkan Pancasila? Tidak ada. Hanya omongan. Kalau antum melihat UUD 45 dan Mukadimahnya, maka kamu akan menemukan bahwa negara ini berdasarkan Ketunahan yang Maha Esa. Berdasarkan Allah berarti. Yang Maha Esa itu Allah. Yakni berdasarkan Al-Quran Hadits karena Allah berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) [النجم : 3 ، 4]

Al-Quran itu wahyu. Kanjeng Nabi ketika menyampaikan pitutur apalagi hukum tentu merupakan wahyu. Bukan ketika menyampaian masalah makan dan minum.

Saudara-saudara sekalian. Walhasil saya bukannya ingin berubah dari Mbah Moen. Saya menerima Pancasila. Empat pilar bangsa harus dipegang teguh, yakni PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 45). Tapi harus diketahui bahwa di dalam Pancasila ada Tujuh Kalimat yang dicoret oleh nasionalis. Itu pengkhianatan. Alasannya karena ada pemberontakan, itu kan tidak pas. Pancasila harus dihormati, sedangkan di Pancasila ada Tujuh Kalimat tersebut. Di dalam UUD 45 agama yang diterima dan disahkan di Indonesia ada lima. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Hanya lima. Tidak ada Konghucu. Itu pengkhianatan Gus Dur kepada pendiri negara (founding father). Sekarang komunis partainya bangkit lagi, walaupun belum resmi. PSI (Partai Solidaritas Indonesia) itu banyak bahkan hampir semuanya PKI. Ada Guntur Ramli juga disitu. Memang NU disusupi PKI sudah lama. Abu Janda, dst.

Saudara-saudara sekalian. Saya menerima Pancasila. Saya tidak merubah. Saya hanya meneruskan. Hanya saja kita jangan mau dikibulin terus. Saya menerima Pancasila dan UUD 45 kalau cocok dengan Syari’at. Sekarang kalau ada yang bilang, “Mengapa kamu menerima agama lima?” Ini hanya menerima, bukan membenarkan. Kita yang Islam apalagi kiai dan santri tidak membenarkan, hanya menerima untuk dilaksanakan di Indonesia karena katanya tidak merongrong negara. Beda dengan Konghucu yang tidak mau mengakui bangsa Indonesia. Komunis juga tidak mau. Yang ruwet itu Kebatinan atau Kejawen. Itu kan aslinya animisme dan dinamisme. Yang paling mengerikan adalam paham komunis. Lewat cina, kadang lewat Kristen. Ada pejabat tinggi di Indonesia bernama H titik-titik. H ini katanya “Hendrick”, tapi mengapa orang-orang Islam menyangka ini singkatan dari “Haji”? Dia belum pernah haji, kok. Mau saja dibodohi. Dia umrah karena kiai Hasyim Muzadi. Dulu kiai Hasyim Muzadi termasuk penasehatnya, tapi lama-lama tahu keburukannya lalu beliau setengah memisah. Akhirnya beliau susah lalu meninggal.

Perang dalam Perspektif Islam

Saudara-saudara sekalian. Jadi saya bukannya ridha dengan agama selain Islam, tapi kondisi ini sudah kadung. Yang perlu diwaspadai adalah Kristen dan Katolik. Katanya mereka tidak merongrong negara. Tapi yang membawa Kristen siapa kalau bukan Belanda? Yang membawa Katolik siapa kalau bukan Portugis? Yakni keduanya dari penjajah. Ada yang bilang Islam juga penjajah. Islam ketika disebarkan zaman Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ada yang pakai perang. Asalnya tidak boleh perang, lalu dibolehkan perang, lalu diwajibkan perang. Kewajiban perang ini karena bangsa Arab itu keturunan Ibrahim. Ibrahim kan ajarannya Tauhid. Kenapa Anda menyembah berhala? Kanjeng Nabi sudah dakwah di Makkah 13 tahun, di Madinah sudah 1 tahun. Publikasi dan sosialisasi sudah cukup. Tapi mereka masih belum mau masuk Islam. Akhirnya Allah pakai sistim perang. Pakai sistim jihad fi sabiliLlah. Bukan menjajah, tapi untuk mengislamkan karena mereka penyembah berhala dan sudah banyak mendengar tentang Islam. Bahkan sebelum Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lahir pendeta-pendeta Yahudi sudah mengatakan akan datang nabi akhir zaman. Berita ini sudah tersebar. Tapi setelah Kanjeng Nabi diangkat jadi Rasul mereka malah mendustakan dengan keras. Saat itu Allah menyuruh untuk sabar. Allah sebetulnya marah juga, tapi Allah menyuruh untuk sabar dulu. Akhirnya terjadi hijrah. Setelah hijrah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama punya umat Aus dan Khazraj. Orang Islam di Makkah banyak yang pindah ke Madinah. Akhirnya ada Negara Islam. Bahkan kanjeng nabi dalam Sirah Ibn Hisyam melakukan perjanjian di Madinah dengan Yahudi. Disitu tidak ada Kristen, apalagi Hindu Budha seperti kata orang-orang liberal gak nggenah. Yang ada Yahudi. Yahudi ini memang menunggu nabi akhir zaman aslinya. Waktu Aus dan Khazraj menanti kedatangan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama di Madinah mereka sampai kepanasan terkena terik matahari. Mereka lalu pulang, padahal tidak lama kemudian Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama datang. Waktu itu ada orang Yahudi kebetulan sedang memanjat pohon kurma melihat beliau. Akhirnya dia berteriak, “Hai Aus Khazraj. Ini keberuntunganmu datang.” Ucapan ini spontanitas.

Saya pernah diajar oleh Habib Muhammad Idrus al-Haddad yang menjadi imam saat menshalati Mbah Moen di KBRI Makkah. Saya diajari di rumahnya Sayyid Muhammad, “Yahudi kok bisa begitu? Padahal ia musuh. Hal ini karena orang selalu senang dengan keindahan. Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama adalah sosok yang indah. Bagus rupanya, bagus perangainya. Yahudi juga sudah tahu sifat-sifat Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama di Taurat. Artinya berita Nabi Muhammad sebelum diangkat dan setelah diangkat itu sudah tersebar kemana-mana. Orang Arab itu kuat pendengarannya. Mudah ingat. Dia tidak mencatat, malah kuat ingatannya.

Dari alasan-alasan ini maka Allah mengizinkan perang. Dipanas-panasi oleh Allah sendiri. Ayo jihad membela agama, menghadapi orang-orang yang keras hatinya. Sedangkan untuk Ahli Kitab maka Allah berfirman:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ [التوبة : 29]
Kalau ahli kitab asalnya tidak boleh diperangi. La ikraha fiddin. Tapi kalau jahat, punya kekuasaan seperti Romawi, harus diperangi. Kanjeng Nabi juga pernah perang melawan Romawi di perang Mu’tah karena mereka mempersiapkan tantara-tentara besar di Syam tepatnya di Yordan. Akhirnya kanjeng nabi mengirim pasukan dipimpin oleh Abdullah bin Rawahah, Ja’fah Shadiq, dan Zaid bin Haritsah. Kebetulan Kanjeng Nabi mengerti kekuatan lawan. Kanjeng Nabi berpesan kalau Zaid bin Haritsah mati diganti Ja’far Shadiq. Kalau Ja’far Shadiq mati diganti Abdullah bin Rawahah. Mati semua, akhirnya dipegang oleh Khalid bin Walid. Bareng mengerti orang Islam banyak yg mati, akhirnya merubah strategi. Yang asalnya di belakang taruh di depan. Yang asalnya di depan taruh di belakang. Pandangan Romawi seakan-akan ada pasukan bantuan. Akhirnya merek terkecoh, lalu lari. Disangka ada pasukan kedua.

Walhasil, kayaknya agama tadi katanya tidak merongrong negara. Artinya baik. Tapi kenyataannya gimana? Kristen yang membawa adalah Belanda. Katolik yang membawa adalah Portugis. Program penjajah, kan? Wallahu A’lam. Ini nanti jadi masalah. Jadi PR. Kita curiga istilahnya. Wallahu A’lam. Tidak usah dibesar-besarkan. Saya tadi sudah bilang nikmat negara berupa nikmat kemerdekaan. Tapi kenyataanya hukum kita masih pakai hukum Belanda. Tapi bagaimana lagi? Menerima dengan terpaksa. Sulit. Yang bisa memperjuangkan mestinya partai-partai Islam. Tapi partai Islam sekarang tambah mengkeret. Apa ada partai nasionalis mendukung hukum-hukum Islam? Wallahu A’lam. Waktu yang akan menjawab. Tuhanlah yang tahu. Tanyakan pada rumput-rumput yang bergoyang.

Dunia Ada Enaknya, Ada Tidak Enaknya

Walhasil, kemerdekaan itu nikmat tapi di belakangnya ada bencana. Itulah namanya dunia. Kanjeng Nabi ke Madinah disana ada Aus Khazraj yang Islam, tapi ada juga Yahudi. Dengan cerdasnya Kanjeng Nabi memakai Piagam Madinah. Ayo kita amankan Madinah bersama-sama. Jangan sampai ada yang saling ingin perang antara kita. Kalau ada musuh dari luar ayo sama-sama kita halau. Tapi Yahudi tidak mungkin mau. Sama dengan Konghucu, komunis, tidak bakalan mau. Mesti membela penjajah. Cina mau menjajah Indonesia pasti mendukung. Wallahu A’lam. Na’udzubiLlah.

Jadi dunia begitu itu. Ada enaknya, ada tidak enaknya. Ada tidak enak, tapi juga ada enak. Sampeyan sekarang jadi santri, tidak begitu banyak uangnya. Tapi kudu dinikmati. Nanti kalau banyak uang akhirnya mayoran terus. Akhirnya kena kanker. Kena penyakit. Alhamdulillah makan tempe, kangkong, terong, enak. Ngaji sambal ngantuk sedikit-sedikit. Makan enak-enak tambah banyak penyakit. Sebab makanan sekarang ini tidak murni seperti dulu. Dulu padi tidak diselep. Masih ada seratnya. Kotor-kotor di padi tadi dihilangkan, padahal itu justru kekuatan. Makan nasi sekarang hasil selepan semua. Seratnya hilang. Kalau zaman saya kecil seratnya banyak. Malah waktu kecil saya senang air tajin. Makanya saya punya diabetes, terlalu banyak minum tajin.

Saya waktu kecil sering ikut makan santri. Kalau ada santri makan, saya diundang. Monggo-monggo. Nanti ada makan lagi, makan lagi. Makanya mbah moen menjuluki saya Jasyi’. Jim=3, syin=300, ya=10, ‘ain=70. Jadi tanggal lahir saya itu Jasyi’. Jumlahnya 383 H, 1383 H. Masehinya 1963. Tanggal 7 Maulid (Rabi’ul Awal). Al-Anwar maulidan tanggal 7. Dahulu tanggal 7, sekarang tanggal 8. Pas hari kelahiran saya. Ada tulisannya Mbah Moen di mujarrabat. Saya lahir Sabtu Kliwon di bulan Agustus. Bulan maulid itu pas tanggal 17 Agustus. Tapi di KTP ditulis Mei atau April. Mau dibodohi aku. Walhasil saya lahir 17 Agustus, Sabtu Kliwon. Sekarang ini Sabtu Wage. Walhasil tanggal 17 Agustus juga menjadi nikmat bagi saya. Bareng dengan Gus Thoha Bugel Jepara.

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lahir 20 April tahun 571 di kitab Nur al-Yaqin. Hari Senin tanggal 9 Rabi’ul Awwal. Menurut kitab Muhammadun Rasulullah karangan Muhammad Ridha Rasulullah lahir tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Fiil (Gajah), tepat 40 tahun dari kekuasaan Kisra Anusyirwan yaitu tanggal 20 Agustus 570 M. Kalau di buku-buku sejarah di MTs tahun 571 M. Kanjeng Nabi hijrah sampai ke Quba tanggal 2 Rabi’ul Awwal atau 20 Oktober 622 M. Ini di kitab Nur al-Yaqin. Kalau menurut Muhammadun Rasulullah sampai di Madinah tanggal 12 Rabi’ul Awwal hari Senin waktu zuhur tepat ketika Kanjeng Nabi umur 53 tahun. Tepatnya tanggal 28 Juni 622 M.

Kalau menurut Mbah Moen revolusi harus bulan Oktober. Kalau soal rizki itu bulan April, hari lahir Kanjeng Nabi. Kalau bulan April rizki banyak, maka setahun itu banyak. Kalau rizkinya tidak banyak, berarti alamat seret terus. Tapi di kitab Muhammad Rasulullah Kanjeng Nabi lahir di Agustus. Wafat Rasulullah hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 H, bertepatan dengan 8 Juni 633 M. Umurnya Kanjeng Nabi adalah 63 tahun menurut hijriyah, kalau menurut masehi 61 tahun. Itu di kitab Nur al-Yaqin. Kalau di Muhammadun Rasulullah beliau wafat tanggal 7 Juni 632 M.

Masuknya Islam ke Indonesia di Zaman Rasulullah

Islam masuk Indonesia ada yang bilang zaman kerajaan Kalingga. Kalau zaman Kalingga berarti masanya ratu Shima atau anaknya yang bernama Jaishima. Ini zaman khilafah Utsman, tahun 640 M. Ustadz Haikal Hasan bilang ratu Shima masuk Islam. Saya belum percaya. Yang penting ada umat Islam dibawa ke Kalingga lalu menjadi pembuat hukum. Siapa yang mencuri dipotong tangannya. Pakai hukum Islam. Tapi kalau ratu Shima masuk Islam saya belum meyakini, atau hatinya mungkin Islam. Tapi kalau mengucap syahadat saya belum pernah dengar. Ada yang bilang Islam masuk Indonesia zaman Muawiyah. Ada yang bilang zaman Umar bin Abdul Aziz yaitu di zaman kerajaan Sriwijaya. Yang masyhur di sejarah Belanda dikatakan bahwa Islam masuk Indonesia lewat saudagar-saudagar Gujarat. Mbah Moen waktu saya kecil bilang tidak setuju. Gujarat itu madzhabnya Hanafi, sedangkan Islam di Indonesia madzhabnya Syafi’i.

Walhasil menurut saya yang kuat itu Islam datang di Indonesia malah ketika Kanjeng Nabi masih hidup. Catatan dari kiai Nashiruddin yang saya sebut tadi, dia mencatat dari Rabithah al-‘Alam al-Islamiy ada bukti dari Cina bahwa ketika orang Cina ke Indonesia itu disana sudah ada satu kumpulan orang Islam. Komunitas Islam tersebut bernama GHOTI. Ini tahun 628 M. Kanjeng Nabi wafat tahun 632/633 M. Kanjeng Nabi hijrah tahun 622 M. Sedangkan ini adalah 628 M. Berarti tahun 6 H sudah ada Islam di Indonesia, bahkan mungkin sebelumnya yakni di Aceh. Makanya Aceh sampai sekarang dijuluki “Serambi Makkah”. Bahkan dalam sejarah Walisongo banyak yang belajar di Pasai, khususnya yang sepuh. Kalau tidak salah Maulana Ishaq. Bahkan Maulana Sunan Giri seingat saya juga pernah belajar di Pasai. Bahkan Maulana Ishaq sendiri ada yang bilang dimakamkan di Pasai. Jadi yang menanam Islam kuat itu Maulana Ishaq. Ini juga kenapa tidak dicatat? Beliau bukan Walisongo. Maulana Ishaq itu bapaknya Sunan Giri. Blambangan bisa kemasukan Islam juga karena Maulana Ishaq. Maulana Ishaq itu suka shalat, lama sekali shalatnya. Kemudian diteliti oleh pendeta-pendeta Hindu-Budha. Orang ini berdiri lama, sujud lama. Hindu Budha hanya duduk bersila saja. Senangnya wiridan. Terus anaknya raja Blambangan yaitu Dewi Sekardadu sakit. Akhirnya raja membuat sayembara siapa yang bisa menyembuhkan anaknya kalau perempuan dijadikan saudara dan kalau laki-laki dijadikan menantu. Akhirnya Maulana Ishaq yang mengobati hingga sehat. Akhirnya beliau dinikahkan. Kita husnuzzhan beliau berkata, “Saya mau menikahi kamu asal kamu mengucap syahadatain.” Maulana Ishaq ini yang menyebarkan Islam. Orang-orang Hindu Budha jengkel dengan Maulana Ishaq. Makanya beliau tidak disebut Walisongo. Anaknya jadi raja setelah majapahit Jebol, tapi hanya 40 hari saja.”

Setelah menyampaikan mauizhah hasanah sekitar 2 jam tersebut, Syaikh Muhammad Najih lalu menutup dengan doa yang diamini oleh seluruh santri Ribath Darusshohihain dan santri PP Al-Anwar lain yang hadir.(*)

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons