Site Loader
Toko Kitab

Pada Jumat kemarin (1 Dzulhijjah 1440 H/2 Agustus 2019 M), Syaikh Muhammad Najih Maimoen memberikan mauizhah hasanah untuk menyambut datangnya bulan Dzulhijjah. Dalam video yang diunggah di akun Youtube Ribath Darusshohihain tersebut, Abah Najih banyak menyinggung tentang sejarah hidup Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama yang sangat erat kaitannya dengan bulan Dzulhijjah. Kajian beliau yang paling menarik adalah tentang masuknya Islam di bumi Nusantara. Beliau menganalisa tanggal peristiwa dan keterangan dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah serta data-data dari beberapa ulama dan cendekiawan termasuk ayahanda beliau Syaikhina Maimoen Zubair Allahu Yarham, lalu mendapat kesimpulan bahwa Islam masuk di Indonesia sudah mulai zaman Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dan Indonesia sudah lama sekali mengenal Islam mulai masa awal perkembangannya. Demikian transkrip mauizhah beliau dalam video berdurasi sekitar tiga puluh menit tersebut:

“Para muslimin-muslimah RahimakumuLlah ajma’in. Pada hari Jumat yang mulia ini, secara almanak atau hisab Indonesia memasuki tanggal 1 Dzulhijjah 1440 H. InsyaAllah 1 Dzulhijjah ini adalah permulaan dari ‘Asyru Dzulhijjah, hari-hari atau malam-malam mulia yang disebut dalam Al-Quran:

وَلَيَالٍ عَشْرٍ [الفجر : 2]

“Dan demi sepuluh malam.” (QS. Al-Fajr: 2)

Nabi kita Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:

« مَا الْعَمَلُ فِى أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِى عَشْرِ ذِى الْحِجَّةِ ». قِيلَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ :« وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ ». (رواه الدارمي)

Tidak ada hari yang lebih utama atau lebih dicintai beramal shalih di hari-hari itu melebihi 10 Dzulhijjah, bahkan melebihi orang yang jihad fi sabilillah. Orang yang istiqamah pada 1 -10 Dzulhijjah untuk beramal shalih dan meninggalkan maksiat itu lebih utama dari jihad fi sabilillah, kecuali jihad fi sabililah lalu mati syahid dan tidak kembali dengan nyawanya.

Ini hari mulia. Saya menyampaikan:

أُهَنِّأُكُمْ بِالْعِيْدِ الْأَضْحَى الْأَكْبَرِ بِقُدُوْمِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ، عَسَى اللهُ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْعَمَلِ وَيَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْمَقْبُوْلِيْنَ الْفَائِزِيْنَ السُّعَدَاءِ فِي الدَّارَيْنِ. آمِيْنَ.

Tadi malam sebelum membaca tahlil atau dzikir ‘Asyr Dzilhijjah menurut tradisi habaib atau masyayikh sufiyah yaitu:

لَا إلهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ الْأَيَّامِ وَالدُّهُوْرِ، لَا إلهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ أَمْوَاجِ الْبُحُوْرِ، …الخ

Saya ada catatan dari Kanz al-Najah wa al-Surur tentang sejarah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dikaitkan dengan masehi. Dalam kitab Nur al-Yaqin fi Sirah al-Nabiy al-Amin karangan Khudlari Bik, disebutkan bahwa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lahir hari Senin tanggal 6 Rabi’ul Awwal Tahun Fiil (Gajah) atau bertepatan dengan 20 April 571 M. sedangkan keterangan di kitab Muhammadun Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama karangan Muhammad Ridla itu sama dengan yang umum yaitu 12 Rabi’ul Awwal pada Tahun Fiil atau tanggal 20 Agustus 570 M, tepatnya 40 tahun dari kekuasaan raja Kisra Anusyirwan yaitu Raja Persia yang adil menurut negara atau menurut politik dunia. Kalau dari ajaran Syaikhina Maimoen Zubair, Kanjeng Nabi lahir itu April sama dengan keterangan di Nur al-Yaqin.

Kemudian Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menerima wahyu pertama kali pada bulan Ramadlan ketika umur 40 tahun lebih 6 bulan 8 hari, yaitu tanggal 6 agustus 610 M. Kalau di kitab Nur al-Yaqin tanggal 1 Februari 610 M, tepatnya 17 Ramadlan tahun 13 sebelum hijrah. Kalau keterangan ayah saya yang ahli sejarah, turunnya Al-Quran pada tanggal 8 Agustus 611 M. Sama dengan hari kemerdekaan Indonesia tapi dibolak-balik. Artinya kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus atau 8 Ramadlan, sedangkan Nuzulul Quran itu 17 Ramadhan atau 8 Agustus.

Kemudian hijrahnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sampai ke Kuba termasuk Madinah itu menurut kitab Nur al-Yaqin tanggal 2 Rabi’ul Awwal atau 20 September 622 M. Sedangkan di Muhammad Rasulullah diterangkan bahwa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama masuk Madinah (Kuba) pada 12 Rabi’ul Awwal hari Senin pada waktu zuhur tahun 53 dari kelahiran Rasulullah atau 28 Juni 622 M. Adapun keterangan atau penjelasan dari Mbah Moen itu hijrah di bulan Oktober, tanggalnya WaLluhu A’lam. Makanya ayah saya sering cerita bahwa revolusi itu Oktober. Semua revolusi yang berhasil di semua negara di dunia ini ada di bulan Oktober. Kalau masalah perjuangan politik kekuasaan itu Oktober, kalau masalah rizki di bulan April, yaitu bulan kelahiran Rasulullah. Kalau barakah, ilmu futuh dst, semua itu di bulan Ramadlan, dengankan kejayaan itu bulan Agustus. WaLlahu A’lam.

Wafatnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pada waktu dluha hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 H, tepatnya tanggal 8 Juni 633 M. Itu di kitab Nur al-Yaqin. Waktu itu Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama umurnya 63 kalau dihitung bulan Qamariyah, kalau dihitung bulan Syamsiyyah itu 61 tahun. Kalau di Muhammad Rasulullah pada 7 Juni 632 M.

Guru saya Syaikh Abdul Mun’im ngaji di Sayyid Muhammad. Dulu beliau di Sarang termasuk yang mengajar saya di MGS. Dia di Makkah diberi nama baru oleh Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dengan nama Nashiruddin. Orang Senori Tuban. Pernah membacakan teks di gedung atau kantor Rabithah Alam Islami di Makkah. Di sana beliau baca buku sejarah ditulis oleh para sejarawan Tiongkok, bahwa Indonesia tepatnya di Pasai sudah berdiri kumpulan pemeluk Islam di Aceh tahun 628 M, kira-kira tahun 5 H. Berarti sebelumnya orang Islam sudah ada masuk Indonesia. Mungkin Indonesia kalau itu benar sudah kemasukan Islam pada zaman Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sebelum hijrah, kemudian membuat perkumpulan bernama GHOTI.

Walhasil masuknya Islam itu sudah lama. Saya sudah pernah memprediksi seperti itu. Indonesia yang dulu disebut Nusantara adalah Kawasan pelayaran atau maritim. Jadi mereka sering kemana-mana, dan orang Arab sudah biasa ke Indonesia. Dzulqarnain yang disebut dalam Al-Quran sudah sampai ke Papua. Papua itu tempat pembuangan atau pengasingan dari kerajaan-kerajaan Arab baik pra-Islam sampai Islam sampai Abbasiyah. Kalau ada yang melawan politik akan dibuang di Papua. Jadi pelayaran itu biasa antara Arab-Indonesia. Tidak mustahil jika sebagian bangsa Indonesia sudah masuk Islam. Tepatnya di Pasai.

Babe Haikal Hasan menemukan sejarah yaitu Islam masuk di Indonesia itu di masa Sayyidina Utsman, tepatnya tahun 640 M. Dia mengirim utusan, ada yang bilang Muawiyah, ke kerajaan Kalingga hingga ratu Syaima (Shima) dan putranya masuk Islam. WaLlahu A’lam. Saya belum bisa memastikan. Tapi yang jelas saya punya prediksi kerajaan Kalingga ini mengadopsi hukum Islam, yakni potong tangan bagi pencuri. Makanya ada pundi mas diletakkan di pasir tidak ada yang mengambil karena takut dengan hukum. Hukum ini jelas mengadopsi dari Islam. Entah ratunya Muslim atau tidak, WaLlahu A’lam. Yang jelas sudah ada komunitas Muslim. Kalingga bisa mengadopsi hukum Islam mesti ada komunitas Muslim yang menjadi bagian dari kerajaan. Bahkan di Majapahit juga ada komunitas Muslim. Cheng Ho itu kan Muslim. Ada bekas peninggalannya di Pandaan, Semarang, dll.

Kemudian kata Ustad Haikal Hasan, tercatat oleh para sejarawan Cina tentang raja Shima meminta guru-guru kepada Khalifah Utsman atau Muawiyah. Beliau juga mendapatkan data bahwa kerajaan Umayyah atau Umar Bin Abdul Aziz mengirim utusan ke kerajaan Sriwijaya di Palembang, yakni pada masa raja Sri Indrawarman. Di kuburannya tertulis La Ilaha illaLlahu. Jadi diyakini sangat kuat sudah yang masuk Islam sebelum Walisongo. Selain itu, ada surat menyurat antara Sri Indrawarman dengan kerajaan Bani Umayyah di perpustakaan Oxford di Inggris. Ini data-data ada banyak. Adapun sejarah dari Snouck Hurgronje atau dari barat itu mengelabui supaya Islam itu tidak mengakar. Seolah-olah Islam itu pemberontak dan baru di negeri kita Indonesia. Saya dengar bahwa Ronggolawe itu Muslim. Bahkan ada yang bilang Patih Gajahmada itu Islam. Ini mungkin saja karena memang komunitas Islam sudah ada. Cuma kebanyakan Islam di Indonesia ini Islam Tasawwuf, dan hal itu tidak ada salahnya selama masih kuat memegang Syariah. Saya malah dengar, di NTB ada penyebar Islam dari Jawa. Hanya saja bangsa Indonesia dulu tidak kuat Syariahnya, karena mungkin pengajarnya hanya mengajarkan tasawuf belaka, dan mungkin juga pengajarnya hanya mengajar Syahadatain atau cuma shalat. Jadi akhirnya ada yang memegang syahadatain saja tapi tidak shalat dan yang lain karena dia belajar Islam tidak melalui ngaji. Masuk Islamnya lewat nguping, hanya dengar-dengar saja. Maka untuk pengalaman mari kita giatkan ngaji. Ngaji agama, ngaji Syariat. Tapi jangan lepas dari tasawuf dan akhlak karimah.

Sejarah itu sangat penting kita luruskan biar kita tidak terkotak-kotak. Ada istilah Islam Abangan, Islam Santri, dan Islam Priyayi. Ini yang membuat adalah Belanda. Ada habaib, ada masyayikh, tapi gontok-gontokan. Yang jelas Islam Indonesia ini sudah lama. AlhamduliLlah. Makanya politik mau mengganyang Islam itu gagal. Walaupun menang dengan curang tapi sudah kelihatan seluruh dunia kecurangannya dan melanggar UUD 45 karena tidak memakai penghitungan manual. Hanya quick count saja. Sampai sekarang tidak ada penghitungan manual. Itu pelanggaran UUD 45. Menurut UUD 45 seseorang bisa menjadi presiden jika perolehan suara ada dari 26 provinsi, padahal yang sekarang dimenangkan dengan curang oleh MK dan KPU hanya 15 provinsi. Ini pelanggaran UUD 45. Makanya kita kembali ke UUD 45, khususnya Mukadimah. Tolong terjemah Bismillah jangan dihilangkan dan dikembalikan lagi syarat menjadi presiden atau kepala negara harus orang Indonesia asli. Dan InsyaAllah orang Islam yang dapat legitimasi.

Jadi saya ulangi lagi. Mari kita ngaji Syariah, mari kita luruskan sejarah, mari kita yang paling penting itu undang2. Bukan ideologi. Zaman modern yang paling penting itu undang-undang, bukan ideoologi. Tapi kita yakin masyarakat Indonesia tetap kebanyakan Islam. Islam itulah yang paling tepat untuk Pancasila, dan Pancasila itu haknya Islam. Wallahu A’lam. Kita tetap NKRI, kita tetap melindungi bangsa yang bermacam-macam agamanya, tapi tolong PKI harus dihilangkan dan kalau bisa Konghucu jangan diakui sebagai agama karena itu agamanya orang Cina, rasisme, tidak membaur, dan tidak nkri. Jadi bertentangan dengan UUD 45 itu sendiri. Tidak nasionalis tapi rasis dan ingin berkuasa dengan ideologi komunis. Walaupun katanya agamanya Konghucu, namun tetap punya pembelaan kepada komunis karena pembelaan kepada etnis Cina. Na’uzdubiLlah.

Saya bukan anti Pancasila, tapi Pancasila itu sudah terbukti yang paling pas itu Islam. Kalau Islam yang ingin Syari’at ini dianggap anti Pancasila, berarti Anda mengatakan bahwa dulu ada Tujuh Kalimat berarti tidak NKRI. Itu adalah bohong! Mereka yang mendirikan negara ini. Walaupun akhirnya dicoret Tujuh Kalimat tersebut, tapi AlhamduliLlah diganti dengan Yang Maha Esa. Dulu era Sukarno, Peri Ketuhanan itu sila kelima. Yang Maha Esa itu Tauhid. Yang paling tepat dan paling “pancasilais” ya Tauhid Islam itu, walaupun kita memang berkompromi dengan yang lain asal tidak rasisme, tidak menggerogoti nasionalisme, serta tidak mau menang sendiri dan semau gue sepeti etnis Cina tersebut.” (*)

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons