Site Loader
Toko Kitab

Demikian petikan dawuh Syaikh Muhammad Najih saat memberi mauizhah hasanah dalam acara Ta’aruf dan Halal bi Halal yang diselenggarakan di Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah (MGS) beberapa waktu lalu pada Selasa 28 Syawwal 1440 H/2 Juli 2019 M. Pada acara tersebut Abah Najih menceritakan tentang asal mula konsep madrasah yang sekarang ini sering diklaim sebagai sistim pendidikan yang dimunculkan dan digagas oleh Barat. Demikian beberapa kutipan dhawuh beliau pada acara tersebut:

Ta’aruf: Budaya yang Mendunia

“Para masyayikh, para alim, para asatidz, dan para habaib Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyah yang saya muliakan. AlhamduliLlah, di siang hari ini kita bersama bertemu dalam acara Halal bi Halal dan Ta’aruf. Ta’aruf itu biasanya istilah di madrasah dan pondok pesantren, bahkan sekarang di universitas. Kalau di Makkah di dalam kitab karya Abuya (Sayyid Muhammad Alawi, pen) yang ada khutbah-khutbah Sayyid Alawi disebut yaumu iftitah al-madrasah (hari pembukaan madrasah), yakni di madrasah ada perkumpulan, tidak langsung belajar tapi kumpul-kumpul dahulu. Saya kira madrasah dan sekolah umum juga begitu. Ada istilah MOS, Masa Orientasi Siswa. Walhasil, hal semacam ini sudah mendunia. Tapi kita tidak melaksanakan tepat tanggal 15, masalahnya agak terlambah seperti ini sukanya. Tahun depan tanggal 15 ya, Allahumma Amin. Sampeyan kaya semua, semoga bisa kembali ke pondok tanggal 15.

Hadirin yang saya muliakan. Jadi budaya ini sudah mendunia. Haflah Imtihan atau akhirussanah juga sudah mendunia. Kita kalau berbeda dengan adat, madrasah tidak ada MOS-nya, pondok tidak ada ta’arufannya, nanti ditertawakan. Sudah zamannya. Nanti dianggap pelit atau dianggap madrasah atau pondok yang keluar dari gua.

Saudara-saudara sekalian. Acara seperti ini harus ditata niatnya. Zaman akhir ini kita banyak menyerupai orang umum, bahkan mungkin menyerupai orang kafir. Madrasah sendiri dalam bahasa inggrisnya disebut school, itu aslinya dari Yunani. Saya pernah menonton di salah satu kanal tv Arab diceritakan bahwa di Yunani ada orang Arabnya. Jadi yang membuat sistim sekolah itu orang Arab dari Yaman yang masuk di pemerintahan Yunani. Jadi orang Yaman itu kalau keluar dari daerahnya jadi mulia, tapi tidak jadi raja. namun jadi punggawa atau menteri.

Begitu juga suku Aus dan Khazraj asalnya juga dari Yaman, akhirnya dijuluki al-Anshar. Aus dan Khazraj itu saudara kandung seayah ibu. Suatu hari bendungan Magrib di Yaman jebol gara-gara tikus yang menggerogoti bendungan, akhirnya orang-orang Yaman berpencar ke daerah-daerah lain.

Ini diceritakan di dalam Durus al-Tarikh al-Islamiy kelas 3 Tsanawiy kalau tidak salah. Ada yang ke Syiria, ada yang masih menetap di Yaman, ada yg dari Syiria lalu ke Yatsrib (Madinah) yakni Aus dan Khazraj. Bahkan Dzulqarnain kalau Anda membaca kitab-kitab tafsir, saya diberi cerita Syekh Rajab Dib Syiria waktu ziarah (berkunjung) ke Sarang, itu juga asli Yaman. Jadi Dzulqarnain itu Muslim. Kalau Iskandar Dzulqarnain yang terkenal itu kafir, asalnya Yunani. Yunani itu menyembah berhala, tapi berhalanya berupa dewa-dewa atau jelmaan dewa-dewa. Dewa Jupiter, Augustus, dsb.

Sistem Sekolah/Madrasah Asalnya dari Arab

Jadi ada orang Yaman masuk ke pemerintahan Yunani lalu membuat sekolah. Ia diniskatkan pada daerah Sahul, itu daerah di Yaman. Makanya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama kuffina fi tsalatsati atswabin sahuliyah yamaniyah. Kanjeng Nabi dikafani dengan kain bangsa Sahul yang warnanya putih. Makanya orang Yunani pakaiannya putih-putih, orang-orang Romawi yang Katolik pakaiannya putih, kebetulan orang Islam juga senang pakaian putih. Rasululah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama senang pakaian putih. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:

الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ

“Gunakanlah pakaian putih karena ia adalah pakaian terbaik, serta kafanilah orang-orang mati kalian dengan kain putih.” (HR. Abu Dawud)

Tapi ini tidak diwajibkan. Orang ihram tidak wajib memakai putih. Zaman shahabat tidak ada ceritanya ihram pakai putih-putih. Sekarang saja orang-orang mewajibkan pakai pakaian putih, kalau orang dulu seadanya. Kadang ya putih, kadang yang lain. Sekarang kain ihram made in China. Orang Cina kalau buat handuk berwarna putih seperti di hotel dsb.

Hadirin yang saya muliakan. Jadi sekolahan asalnya dari zaman Yunani. Yang punya ide adalah menteri pendidikannya yang berasal dari Arab. Ratu Inggris (Elizabeth) dari yang pernah saya baca juga keturunan Arab. Makanya keluarganya menyembunyikan keaslian arabnya. Indonesia juga pernah dilewati oleh Dzulqarnain yang orang Yaman itu, ulama-ulama kita juga. Tapi sejarawan Barat menyebutnya Iskandar Dzulqarnain yang dari Romawi. Kalau Iskandar menyembah dewa-dewa, tapi kalau Dzulqarnain di Al-Quran diceritakan beriman dan beramal shalih. Berarti dia Muslim. Pernah singgah di Indonesia, bahkan terakhir di Wakwak Papua Barat. Mungkin menterinya Dzulqarnain ada yang pernah menetap di Indonesia. Wallahu A’lam bi al-shawab.

Hadirin yang saya hormati. Saya ingin menyatakan bahwa sekolah itu asalnya dari Arab. Hanya saja diklaim lalu dimiliki oleh Barat. Begitu juga Vasco Da Gama katanya menemukan benua Amerika itu orang Barat, tapi sebetulnya ketika menjelajah sampai ke Amerika ada orang Arab yang ahli falak yang menuntun kesana. Makanya di Amerika patungnya yang terkenal (patung Liberty) adalah orang Arab yang membawa buku.

Saudara sekalian. Jadi orang yang membawa ilmu aslinya dari Arab, namun dicuri oleh Yunani dan Romawi. Ilmu kedokteran ada al-Razi, Ibn Sina, itu orang Muslim. Bahkan zaman Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ada tabib yang belum Islam tapi Arab. Jadi orang Arab yang menyebarkan ilmu, tapi diklaim oleh orang Barat. Semua ilmu kecuali ilmu Mantiq. Mantiq itu juga mencuri. Aristoteles, Demokratos, Sokrates, dan yang lain. Orang Barat membuat masalah teologi juga mencuri dari nabi Idris ‘alaihi al-Salam. Nabi Idris mengajar tidak pakai kitab, tapi pakai wejangan-wejangan tentang ketuhanan dst. Itu dicontek oleh orang Yunani.
Saudara-saudara sekalian. Walhasil sistim sekolah ini jadi mendunia, lalu orang Barat mengaku sekolah itu dari Barat. Jadi jangan sampai kita tertipu. Nahnu ahaqqu bi nizhamil madrasah, kita umat Islam lebih berhak dengan sistim madrasah. Bahkan ketika Islam maju sudah ada madrasah seperti Madrasah Nizhamiyah waktu Imam Ghazali dan Imam Haramain. Bahkan madrasah dahulu gratis karena yang mendirian mdrasah itu negara. Kehebatan negara Islam ketika sudah maju dan kaya itu mendirikan madrasah-madrasah yang gratis. Sekarang di negara-negara lain juga banyak yang gratis. Di Barat SD dan SMP mungkin gratis. Di Indonesia SD masih bayar. Yang mahal itu universitas. Mereka berlomba-lomba mahal, bukannya berlomba-lomba murah. Lalu dibuat image semakin mahal mesti semakin bonafit, semakin hebat. Pencucian otak itu. Ada harga ada kualitas. Ono rego ono rupo. Ini zaman yang repot. Memang ada bedanya, tapi apakah bisa mengajar satu per satu murid? Berarti mahal karena banyak yang mengawasi murid. Kalau kita karena pekerjanya yang kurang. Di tiap sekolah kepala sekolahnya tidak mengajar. Akhirnya bisa mengurus dan mengawasi sungguh-sungguh. Sekarang kepala sekolah umum kebanyakan perempuan. Perempuan katanya lebih open (telaten). Yo open tapi suwe-suwe diopeni. Minta disalami, minta dicium tangannya.

Pesantren sebagai Sistem Madrasah Awal di Indonesia

Hadirin yang saya muliakan. Jadi kita ini persaingan. Sistim madrasah ini persaingan antara Barat dan Islam. Barat mengaku itu milik mereka. Memang munculnya sekolah itu dari negeri Yunani, tapi yang punya ide dan pemikiran adalah orang Yaman. Tadi sudah saya terangkan bahwa Dzulqarnain sudah masuk ke Indonesia dari Yaman, padahal Indonesia itu primitif. Menyembah batu, kayu, arwah, hingga Sya’ban disebut Ruwah. Harus memberi sesuatu kepada arwah. Itu saja sistim sekolah masih ditemukan di bangsa kita. AlhamduliLlah. Kemudian sistim sekolah tadi yang masih sangat sederhana di Indonesia karena budaya Jahiliyah dihidupkan oleh Walisongo dengan membangun pesantren. Pertama pesantren yang masyhur di sejarah adalah Ampel Denta. Ada yang mengatakan dari Tangerang. WaLlahu A’lam. Ada yang bilang dari Padjajaran, ada yang bilang dari Surabaya. Jadi sistim sekolah dihidupkan dengan sistim pesantren, hanya saja bukan membaca kitab-kitab yang besar. Paling baca tasawuf dan fikih. Mungkin seperti Taqrib atau yang lebih kecil lagi.

Madrasah Harus Disyukuri

Saudara-saudara sekalian. Jadi madrasah ini harus kita syukuri. Kita kalau tidak ada madrasah bagaimana? Tidak ada ujian saringan lalu bagaimana? Masa’ di pondok Sarang langsung ngaji Alfiyyah? Jurumiyyah belum, ‘Imrithi belum. Kalau tidak ada madrasahnya kan seenaknya sendiri. Kalau dulu orang masuk pondok itu sudah tua. Keluar dari pondok lebih tua lagi. Kiai Manaf pulang dari pondok umur 60-an. Beliau asalnya di pondok Bangkalan. Disitu dia berteman dengan Haji Miftah yang rumahnya atau tanahnya InsyaAllah jadi komplek saya DEHA itu. Beliau sangat mengenang haji Miftah. Waktu ayah saya ke Lirboyo ditanya, “Sampeyan dari mana?” “Kulo Sarang.” “Dekatnya Haji Miftah?” “Nggeh.” “Masih hidup?” “Nggeh.” “Oh, itu teman saya.” Tukang adzan Mbah Kholil Bangkalan. Orang Sarang kalau disuruh adzan nomor satu. Kecuali kalau muadzin yang lain belajar Qiraah, Sarang kalah. Tapi tanpa belajar Qiraah orang Sarang sudah pandai adzan sampai sekarang.

Saudara-saudara sekalian. Jadi Mbah Manaf ke Bangkalan kemudian ke Mbah Hasyim Asy’ari lalu berteman dengan Mbah Ahmad bin Syuaib dan Kiai Anwar Paculgowang. Pulang dari sana lalu menikah umur 60 tahun, ternyata masih bisa punya anak. Luar biasa. Jadi orang-orang zaman dulu mondoknya tuwa-tuwa. Sekarang setelah ada macam-macam, apalagi ada handphone, narkoba, miras, anak punk, orang tua sampeyan takut sampeyan rusak. Akhirnya sampeyan dipondokkan di Sarang. Di Sarang mereka dengar ada MGS, pas ini. Bisa mendidik untuk menjadi baik dan tawadlu’, sebab Madrasah Ghozaliyyah itu lebih lama dibanding yang lain. Lama itu menjadikan kukuh. Sama halnya sampeyan shalat lama dan khusyuk, itu bisa muattisr. Ada dampak positifnya. Kalau shalat hanya sebentar ya bagaimana seperti shalat kita iki? Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ [العنكبوت : 45]

“Sesungguhnya shalat mencegah hal yang keji dan jahat.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Akan tetapi bisa mencegah ini ketika bisa khusyuk. Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) [المؤمنون : 1 – 10]

Hadirin yang saya muliakan. Saya ulangi lagi, orang tua sampeyan karena kerusakan moral zaman sekarang akhirnya membawa sampeyan ke pondok, karena zaman sekarang ini ada bangkitnya PKI atau Cina yang sangat senang perzinaan. Na’udzubiLlah. Komunis itu tidak percaya dengan tuhan. Orang tidak percaya tuhan yang enak tidak usah kawin. Na’udzubiLlah. Kalau sama perempuan masih normal. Karena tidak percaya tuhan maka pria kawin dengan pria, wanta kawin dengan wanita. Makanya kita harus hati-hati di pondok ini, karena orang-orang radikal sering mengecap pondok itu tmpat LGBT. Tempat lesbian kalau perempuan, sodomi kalau lelaki. Maka kita harus waspada. Kita buktikan kita tidak kompromi dengan LGBT. Jangan sampai anak-anak yang tampan memakai minyak wangi. Bahaya ini. Minyak wangi darimana? Nanti dikasih orang.” (*)

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons