Site Loader
Toko Kitab

Penyelenggaraan Pemilu 2019 kali ini sungguh jauh dari cita-cita yang rakyat Indonesia harapkan. Kejujuran dan keadilan yang didambakan setiap insan acapkali dianak tirikan. Pagelaran lima tahunan sekali untuk mencari sosok pemimpin negeri ternyata tidak sepenuhnya dapat menjalankan kode etik yang telah ditetapkan, bahkan tak jarang melanggar aturan main yang dibakukan.

Terhitung mulai dari DPT yang bermasalah, surat suara sudah tercoblos salah satu Paslon, data C 1 dicuri, dibuang dan diselewengkan, amburadulnya peng-inputan Situng KPU, 700-an lebih Petugas Pemilu berguguran dan ribuan sakit (semoga Allah SWT menerima amal dan mengampuni dosa mereka -muslim-) namun sampai detik ini Rezim tidak melakukan investigasi dan autopsi, dan yang paling mengejutkan adalah ingkar janji KPU yang sebelumnya berjanji akan mengumumkan Hasil Rekapitulasi Nasional pada 22 Mei mendatang, tiba-tiba pada dini hari malam ini, 21 Mei mereka mengumumkan hasil Rekapitulasi, dan masih banyak lagi keganjilan dan kejanggalan dalam Pemilu Serentak tahun ini.

Wajar saja, jika rakyat terketuk hatinya berbondong-bondong bergerak menuju Jakarta untuk melawan kecurangan dan menuntut kejujuran dan keadilan. Mereka sudah bosan bahkan muak dengan segala macam janji-janji palsu rezim ini, apalagi ketimpangan hukum yang sering dipraktekkan secara terang-terangan oleh pihak berkuasa. Rakyat sudah capek mengarungi hidup yang semakin hari semakin susah. Alih-alih berikhtiar ingin mendapatkan pemimpin yang lebih baik di tahun 2019 ini, ternyata kezaliman demi kezaliman justru semakin ditancapkan oleh Tirani terhadap siapapun yang melawannya.

Wahai Rakyat Indonesia, terkhusus umat Islam, ingatlah kalian semua, bahwa junjungan kita Nabi Muhammad SAW adalah sosok pemimpin yang anti ingkar janji dan anti kecurangan, beliau tidak akan mentolerir sikap non fair, apapun itu dalihnya, peristiwa sulh hudaibiyah adalah contoh kongkritnya, dimana kaum musyrikin telah berulang kali melanggar aturan-aturan yang sudah disepakati bersama. Sebagai respon atas pelanggaran janji tersebut, Rasulullah SAW melakukan penaklukan kota Makkah.

Takutlah kalian semua menjadi umat yang tidak diakui oleh Nabi Muhammad SAW, hanya karena membenarkan kebohongan dan mendukung kezaliman Penguasa, Rasulullah SAW bersabda;

سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أَئِمَّةٌ يَمْلِكُوْنَ رِقَابَكُمْ وَيُحَدِّثُوْنَكُمْ فَيَكْذِبُونَ، وَيَعْمَلُوْنَ فَيُسِيؤُونَ، لا يَرْضَوْنَ مِنْكُمْ حَتَّى تُحَسِّنُوا قَبِيْحَهُمْ وَتُصَدِّقُوْا كَذِبَهُمْ، اعْطُوْهُمُ الحَقَّ مَا رَضُوا بِه

“Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara (berjanji) kepada kalian, kemudian mereka mengingkari (janjinya). Mereka melakukan pekerjaan, lalu pekerjaan mereka itu sangat buruk. Mereka tidak senang dengan kalian hingga kalian menilai baik (memuji) keburukan mereka, dan kalian membenarkan kebohongan mereka, serta kalian memberi pada mereka hak yang mereka senangi.” (HR. Thabrani)

«اسْمَعُوا، هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ؟ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الحَوْضَ،َ» رواه الترمذي والنسائي والحاكم

“Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin?
Siapa yang masuk kepada mereka, -lalu membenarkan kedustaan mereka dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya- Dia juga tak akan menemuiku di telaga.” (HR Tirmidzi, Nasai dan Al Hakim).

Perhatikan ayat-ayat suci Al-Qur’an di bawah ini;

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.” (Surah Al-Mujadilah,58:14)

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.” (Surah Al-Mujadilah,58:15)

اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan.” (Surah Al-Mujadilah,58:16)

Sudah hampir 5 tahun, rakyat Indonesia merasakan telah dipimpin oleh penguasa yang sering obral janji minim realisasi, carut marut keadilan hukum seakan dibuat fantasi, keterpurukan ekonomi dengan menumpuknya hutang justru dibanggakan dengan dalih pembangunan negeri, padahal sumber dananya dengan cara ngemplang dana rakyat BPJS-Haji, bahkan demi ambisi kekuasaan, mereka dengan seenaknya memakai fasilitas negara untuk kembali mengobral seribu janji baru kepada rakyat, padahal janji-janji terdahulu belum terpenuhi.

Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa langkah-langkah saudara kita di berbagai kota di Indonesia terlebih di Jakarta pada 17 Ramadhan esok, sama sekali tidak bermaksud menggulingkan Pemerintahan yang sah, (meski hakikatnya Prabowo lah yang menang di pemilu 2014, namun beliau tidak memprotes keras kecurangan Jokowi, demi stabilitas negara, akan tetapi di pemilu 2019 ini, beliau akan menuntut keadilan sepenuhnya, karena rezim ini tidak mau taubat atas kesalahan-kesalahan di masa lampau, bahkan terkesan tidak jengah berbuat kecurangan lagi). Aksi-aksi mereka justru bertujuan memperbaiki sistem pemerintahan negeri ini serta mengikis watak-watak komunis dari elit-elit politik yang sedang berkuasa.

Semoga dengan berkah bulan Ramadhan, perjuangan mereka diijabahi Allah SWT, bagi mereka yang berangkat dari jarak masafatul qoshri jika kelelahan tidak kuat puasa, diperbolehkan tidak berpuasa dengan niat akan mengqodloinya, sebagaimana peristiwa Fathu Makkah dan Perang Badar juga terjadi di bulan Ramadhan. Kita sudah seharusnya mengapresiasi dan mensupportnya sekuat tenaga dengan niat ikhlas memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kejujuran serta melawan segala bentuk kebohongan dan kecurangan, sebagai bentuk implementasi nash-nash al-Qur’an, al-Hadits dan Undang-undang 45, dengan harapan Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat, adil, makmur, sejahtera, dan diberkahi Allah SWT, Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur, Amin.

Sarang, 17 Ramadhan 1440

H. Muhammad Najih MZ

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons