Site Loader
Toko Kitab

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف المرسلين سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه اجمعين، أما بعد؛

Banyak dari kubu pendukung Paslon No 01 menyatakan “Di belakang Paslon No 02, ada kelompok dan ormas Islam yang anti maulidan, qunutan dan tahlilan,…..”

Perlu kalian catat baik-baik! Bahwa kelompok yang kalian tuduh anti tahlil, maulid, dan qunut, mereka tetaplah saudara seiman. Kenapa permasalahan khilafiyah seperti ini dijadikan sebab perpecahan umat?! Padahal NU sejak kepemimpinan KH. Hasyim Muzadi seringkali bergandengan dengan Muhammadiyah dan ormas-ormas lainnya.

Jangan kalian menutup mata, bahwa di belakang Paslon No 01 justru banyak kelompok pendukung LGBT, Syi’ah, Kristen-Radikal, Ahmadiyah, bahkan ada anak keturunan PKI yang dendam kesumat dengan umat Islam dan terus-menerus mengusung ideologi Komunisme, serta ada banyak kelompok liberal, plural, sekuler yang menista ajaran dan menodai agama Islam.

Kenapa dengan pihak yang menyerang Islam kalian malah merasa nyaman? Apakah muslim yang tidak qunut itu lebih berbahaya daripada antek-antek zionis, komunis-cina yang berada di belakang Paslon No 01? Sekali lagi coba nalar dengan akal sehat! Apakah muslim yang tidak qunut, maulidan, tahlilan, itu lebih berbahaya daripada kelompok LGBT, Ahmadiyah, atau bahkan daripada kelompok Syi’ah yang mencaci-maki para shahabat nabi, yang mereka semua berada dikubu Paslon No 01?

Kalian katakan :”Jika Prabowo menang, berarti nanti tidak ada tahlil!!”. Ini jelas dusta. Karena kalau Prabowo menang, insyaallah segenap kaum muslimin Aswaja beserta para kyai dan habaib akan menggelar istighatsahan dan maulidan dimana-mana.

Fakta mencengangkan justru berada di pihak Paslon No 01, dimana banyak sekali kaum Syi’ah Rafidlah yang mencaci-maki para shahabat Nabi, mencaci-maki para habaib dan ulama. Jangankan orang sekarang, para shahabat Nabi seperti Sayyidina Abu Bakr Shiddiq RA, sayyidina Umar bin Khatthab RA, sayyidina Utsman bin Affan RA, bahkan istri nabi tercinta Sayyidah Aisyah RA mereka hina. Kok malah kalian nyaman bergabung dengan orang-orang yang melecehkan para sahabat dan isteri Rasullullah SAW!

Dan di kubu Paslon No 01 juga ada oknum-oknum yang ingin menjual aset Negara kepada Asing dan Aseng, mereka memarginalkan pribumi, juga ada oknum yang berusaha keras membatalkan perda-perda Syari’ah. Kalian begitu nyamannya di samping mereka, sementara kalian menganggap musuh terhadap saudara-saudara
muslim yang tidak qunut, maulidan, tahlilan.

Apakah kalian tuli saat Aksi 212 tahun 2016, suara maulid terdengar dari Monas. Di tengah tujuh setengah juta orang yang datang dari berbagai kelompok,ormas dan golongan. Apa kalian sengaja menutup telinga saat Reuni 212?! dari awal sampai akhir, dari lima belas juta lebih terdengar suara maulidan, shalawatan, istighatsahan, lagi-lagi dari berbagai kelompok.

Apakah kalian pikir kelompok kalian saja yang Ahlussunnah wal Jama’ah? Apakah kalian pikir kalian saja yang suka tahlilan, istightsahan, dan maulidan? Apakah kalian pikir kalian saja yang Islam? Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un.

Fitnah kalian tidak benar dan tuduhan kalian keji. Tidak pantas bagi kaum nahdliyyin apalagi dari kalangan pesantren dan ormas Islam besar menyebar hoax, menyebar fitnah, mengadu domba umat, dan mengkotak-kotakkan umat muslim.
Saat ini (melawan musuh-musuh Islam) bukan waktunya kita meributkan masalah khilafiyyah.

Dan Kalau ada yang tidak rela bendera NU dikibarkan Cawapres Sandiaga Shalahuddin Uno dalam beberapa waktu lalu, maka kami lebih tidak rela lagi NU, jam’iyyah yang didirikan ulama-ulama Mukhlisin dijadikan mesin politik oleh Paslon No 01!

Jadi bagi para oknum, sebenarnya bukan karena bendera NU berkibar pada acara kampanye Sandiaga Shalahuddin Uno yang mereka permasalahkan. Tetapi lebih karena mereka takut kalau kaum nahdliyyin yang sudah didoktrin harus milih Jokowi, ternyata tetap saja nanti memilih Prabowo. Sebab, secara khittah memang tidak ada kewajiban bagi Nahdhiyyin untuk memilih Paslon No 01. Justru yang sering didengar dari wejangan para kyai (termasuk KH. Ma’ruf Amin lewat fatwa MUI) adalah ajaran untuk tidak berbohong, tidak memfitnah dan tidak mengadu domba, dan tentunya juga tidak memilih orang yang bersifat demikian.

Oleh karena itu, mari kita dukung pasangan H. Prabowo Subianto dan H. Sandiaga Shalahuddin Uno, sesuai fatwa Habib Ali Abdurrahman Assegaf Jakarta dan KH. Suyuthi Toha Banyuwangi, dan tulisan kami yang berjudul “Waspada dan Berhati-hati Dalam Memilih Pemimpin di Indonesia (Pilpres)” yang di dalamnya menerangkan 22 alasan untuk tidak memilih Jokowi”, dengan cara berkampanye yang baik, jujur, beradab, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam Ahlussunah wal jamaah, sehingga kita dianugerahi oleh Allah SWT seorang pemimpin yang bisa membawa Indonesia menjadi baldatun Thoyyibatun wa rabbun Ghofur, amin.

Sarang, 03 Sya’ban 1440/ 9 April 2019

KH. Muhammad Najih MZ

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons