Site Loader
Toko Kitab

Pada hari Senin tanggal 4 Rajab 1440 H/11 Maret 2019 M Syaikh Muhammad Najih menghadiri peringatan Isra’ Mi’raj sekaligus Haul KH. Abdullah Chunain ke-15 yang diselenggarakan di Pesantren Salafi Roudlotut Thullab Pasinan Lekok Pasuruan Jawa Timur. Beliau diundang di acara tersebut sebagai narasumber pertama bersama Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf, Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf, dan KH. Ali Karror dari Pamekasan Madura. Dalam penjelasannya, Abah Najih mengupas banyak tentang sejarah Isra’ Mi’raj Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sebagai mukjizat sekaligus sebagai penghibur hati Rasulullah setelah menjalani berbagai lika-liku dakwah Islam. Demikian kutipan mauizhah yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Najih dan di-streaming di channel Youtube Sunsal Media:

“AlhamduliLlah saya bisa bertmu dengan bapak-bapak dan saudara-saudara untuk memperingati haul Bapak KH Abdullah Chunain sekaligus memperingati Isra’ Mi’raj Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.

Isra’ miraj adalah sesuatu yang besar yang dialami dengan dianugerahkan kepada nabi kita Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, dimana Isra’ Mi’raj adalah mukjizat yang tasyrifiyyah (bersifat penghormatan) luar biasa, karen Baginda Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dengan Isra’ Mi’raj dibawa ke Baitul Maqdis untuk shalat bersama para nabi dan rasul bahkan mengimami. Padahal diantara para nabi tersebut ada mbahnya sendiri yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihi al-Salam, tapi beliau dijadikan imam oleh Jibril ‘alaihi al-Salam. Kemudian beliau Mi’raj dinaikkan ke langit tujuh, bahkan sampai Sidratil Muntaha, bahkan sampai ke Mustawa. Ini tidak diterangkan detail oleh para ulama, hanya disampaikan yasma’u fihi sharihal aqlam. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama di Mustawa bisa mendengarkan suara gerakan kalam-kalam allah. Allah menulis Lauh Mahfuzh bisa didengarkan dari Mustawa.

Bapak, Ibu, saudara-saudara sekalian yang saya muliakan. Jadi ini penghormatan yang luar biasa. Yang disebut secara sharih (gamblang) di Al-Quran itu Isra’.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الإسراء : 1]

“Maha Suci Allah yang menjalankan hambanya di waktu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang di Kami berkahi di sekitarnya untuk Kami perlihatkan kepadanya dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)

Ayat ini sharih menjelaskan Isra’. Kalau Mi’raj itu tidak sharih, hanya diisyarahkan InsyaAllah dalam Firman Allah:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) [النجم : 13 – 17]

“Dia (Muhammad) benar-benar melihat Allah di kesempatan yang lain. (13) Di samping Sidratul Muntaha. (14) Di sampingnya ada surga tempat tinggal. (15) Ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh yang meliputinya. (16) Penglihatan (Muhammad) tidak berpaling juga tidak melewatinya. (17)” (QS. Al-Najm: 13-17)

Walhasil Mi’raj ini diisyarahkan. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama melihat Jibril dalam kesempatan yang lain. Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bisa melihat Jibril dengan bentuk aslinya dua kali. Pertama adalah ketika Rasulullah pertama kali menerima Al-Quran surah Iqra’ sampai Rasulullah gemeteran dan berguncang karena takut melihat bentuk asli Jibril yang menutupi ufuk langit dan bumi. Besarnya bukan main. Kalau kita melihat jin saja besar sedikit ketakutan, ini Rasulullah bukan hanya lihat jin tapi lihat pemimpin malaikat, melihat sayyidul malaikat.

Saudara-saudara sekalian. Jadi pertama Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama melihat waktu menerima Surah Iqra’, kemudian yang kedua ketika di Sidratil Muntaha. Itu sudah dekat dengan taman surga Allah Ta’ala.
Jadi kalau Isra’ ini sharih. Maka para ulama mengatakan siapa mengingkari Isra’ maka kufur, tapi kalau mengingkari Mi’raj hukumnya fasiq karena di Al-Quran ayat tentang Mi’raj berupa isyarah, artinya tidak ada kata-kata Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dinaikkan. Hanya ada kata-kata Rasulullah melihat di Sidratil Muntaha. Istilah orang umum masih remang-remang. Tapi kalau kita dalami lagi Allah berfirman ‘inda Sidratil Muntaha. Masa’ Rasulullah seketika langsung ada ke Sidratul Muntaha? Masa’ tidak ada perjalanan ke langit? Sidratul muntaha itu diatas langit. Maka kalau didalami lagi pasti terjadi Mi’raj-nya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ke tujuh langit.

Saudara-saudara sekalian. Jadi ini peristiwa besar. Peristiwa besar ini ditempatkan Allah menjelang hijrahnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, tepatnya ketika Rasulullah kesusahan waktu ‘am al-huzn, yaitu ketika pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah Kubra wafat. Mereka berdua yang membela Rasulullah mati-matian. Kalau pamannya yang bernama Abu Thalib membela dari sisi keamanan atau melindungi Rasulullah dari rongrongan atau intimidasi orang Quraisy Makkah, sedangkan Siti Khadijah membantunya dalam bentuk pangan dan menghibur di dalam rumah. Dlm bentuk financial dan materi sekaligus mental. Bahkan ketika Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama mendapatkan wahyu Surah Iqra’ beliau ketakutan lalu dihibur oleh Sayyidah Khadijah. Rasulullah gemetaran karena melihat Jibril yang badannya besar itu, lalu berkata:

لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِى. (رواه البخاري)

Aku khawatir aku tidak kuat. Yang datang kepada saya ini alam yang beda dengan alam manusia. Saya tidak kuat. Saya nanti tidak jadi manusia yang normal, saya jadi takut linglung. Bahasa sini takut jadzab, takut aneh-aneh. Kata Sayyidah Khadijah:

كَلاَّ وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا ، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ ، وَتَقْرِى الضَّيْفَ ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ . (رواه البخاري)

“Tidak mungkin Allah menjadikanmu orang yang linglung, bingung, klontang-klantung kayak orang majdzub itu. Kamu ini tidak ada potongan jadi orang linglung, majdzub, atau majnun. Kamu adalah orang yang suka menyambung saudara, menangung orang yang tidak bisa apa-apa, biasa hormat kepada tamu, biasa membantu orang-orang yang terkena bencana.”

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama diteguhkan hatinya oleh Allah melalui Siti Khadijah. Jadi Allah memberi kemuliaan itu macam-macam caranya. Ada yang langsung dari Allah, ada yang lewat malaikat, ada yang lewat orang-orang shalih. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ [التحريم : 4]

“Jika kamu berdua menampakkan cemburumu kepadanya (Muhammad), maka Allah adalah pembelanya, dan Jibril, orang shalih dari orang-orang beriman, serta malaikat setelah itu akan ditampakkan.” (QS. Al-Tahrim: 4)

Hai Aisyah dan Hafshah! Kalau kamu berani mengganggu lagi kekasihku Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, terlalu cemburu hingga mengganggu hatinya, menjadikan hatinya kecewa, maka Allah yang melindungi dan membela beserta Jibril dan shalihul mukminin yaitu Abu Bakr dan Umar. AlhamduliLlah.
Ini Allah Ta’ala membantu Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lewat dirinya sendiri, lewat Jibril, dan lewat shalihul mukminin ketika Khadijah sudah meninggal. Kalau Khadijah masih ada, maka shalihul mukminin adalah Sayyidah Khadijah Kubra.

Jadi Isra’ Mi’raj ini selain mukjizat juga sebagai penghibur hati. Adalagi kesusahan Kanjeng Nabi. Sebelum Isra’ Mi’raj beliau ingin hijrah ke Thaif karena sudah lama berdakwah di Makkah Mukarramah tapi hasilnya tidak memuaskan. Hasilnya nihil atau sedikit sekali. Yang masuk Islam tidak sampai seratus. Bahkan ada yang hijrah ke Habasyah atas perintah Rasulullah, bahkan dua kali. Ini Kanjeng Nabi susah. Kanjeng Nabi ini membawa Al-Quran. Al-Quran ini belum selesai di Makkah dan perintah Allah akan semakin banyak. Rasulullah tahu pasti perintah Allah bukan hanya baca syahadatain, bukan hanya ngaji Al-Quran, bukan hanya menghapal Al-Quran belaka. Nanti akan tambahan perintah. Ada shalat, asalnya dua kali pagi dan sore nanti akan diganti Shalat Lima Waktu berjamaah di masjid. Akan ada zakat yang diatur nishab-nishabnya dan berapa yang wajib dikeluarkan. Akan ada perintah puasa Ramadhan. Akan ada perintah jihad fi sabilillah. Kenapa ada jihad? Karena Risalah Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ini universal, bersifat untuk seluruh dunia. Maka Arab harus dikuasai lebih dulu. Arab tidak bisa dikuasai untuk menyebarkan Islam kecuali dengan kekuasaan, pemerintahan, dan negara. Rasulullah sudah merasakan hal ini.
Jadi mengapa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ingin hijrah? Karena Makkah semua dedengkotnya memusuhi Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, khususnya dari Bani Abdi Syams, Bani Hasyim, Bani Muthalib, Bani Makhzum (Abu Jahal), dan lain-lainnya. Sekarang ada lagi pamannya Kanjeng Nabi namanya Abu Thalib. Dia sendiri tidak memusuhi Kanjeng Nabi tapi juga tidak mau memperlihatkan keislamannya.

Saudara-saudara sekalian. Jadi Kanjeng Nabi hijrah ke Thaif kemudian dilempari batu oleh anak-anak kecil dan berandalan dari Tsaqif, lalu dibilang bahwa Kanjeng Nabi majnun. Na’uzdubiLlah min dzalik. Sampai Kanjeng Nabi bingung di Qarnut Tsa’alib, tapi bukan bingung majnun. Istilahnya panik. Dilempari anak kecil itu malu, kan? Kanjeng nabi lari-lari. Badannya dibentengi oleh Usamah bin Zaid. Akhirnya bisa istrahat di Thaif di kebun tokoh Quraisy bernama Walid bin Mughirah. Kemarin Alhamdulillah saya umrah bisa ke masjid tempat istirahatnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, tapi sekarang masuk masjidnya tidak boleh.

Saudara-saudara sekalian. Setelah wafatnya Abu Thalib dan Siti Khadijah, kemudian dilempari di Thaif dan diusir oleh anak-anak kecil, Kanjeng Nabi lalu dihibur dengan Isra’ Mi’raj, dengan wisata ke Baitul Maqdis bahkan ke atas langit. Sudah begitu diberi kemuliaan baginya dan umatnya dengan Shalat Lima Waktu yang indah sekali. Shalat Lima Waktu itu ibadah yang termulia, teragung, dan terindah. Tidak ada tandingan Shalat Lima Waktu karena ia mengumpulkan seluruh cara-cara menghormat kepada tuhan, patung, raja, dan kepada siapapun yang dihormati dan dipertuan agungkan. Ketika ada raja atau presiden datang kita mesti berdiri, bahkan yang tau caranya sambil munduk-munduk dan seterusnya. Sebagian juga ada yang sujud pada kaki orang tua, raja, atau kepada berhala. Na’uzubiLlah min dzalik. Shalat ini ada berdirinya, ini penghormatan. Ada ruku’, I’tidal, sujud, dan duduk diantara dua sujud. Ini luar biasa. Ibadah yang paling mengumpulkan cara-cara beribadah kepada yang diagungkan. Siapa-siapa yang dituhankan ibadahnya ya itu cara-caranya. Ada mengangkat tangan sejajar bahu itu juga penghormatan yang luar biasa.

Saudara-saudara. Jadi Shalat Lima Waktu ini oleh-oleh Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dari perjalanan Mi’raj. Kalau di perjalanan Isra’ banyak kisah-kisah yang dilihat dalam perjalanan dari Makkah ke Palestina. Ada masyithatu ali Fir’aun, ada kaum yang menanam banyak kemudian cepat dipanen, ini perumpamaan dari mujahidin fi sabilillah, orang yang perang melawan orang kafir. Ada malaikat yang memukul-mukul kepala orang, ini adalah org yang malas shalat jamaah atau malas shalat dan ketiduran. Banyak lagi yang dilihat oleh Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Puncaknya Isra’ adalah Kanjeng Nabi menjadi imam sebelum atau setelah pidato dari nabi-nabi Ulil ‘Azmi yang membanggakan nikmat Allah yang diberikan kepada mereka. Pidatonya Nabi Ibrahim dimana Allah menjadikannya sebagai khalil (kekasih), pidatonya Nabi Musa, dst. Terakhir adalah Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.

Ini menunjukkan persatuan para nabi, semua bersatu dalam akidah tauhid, menyembah Allah Ta’ala. Ini yang perlu kita ingat-ingat dan dijadikan akidah, satu kemantapan yang tidak ragu sama sekali. Kemantapan inilah bekal kita untuk sowan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ [آل عمران : 64]

Kita tidak menyembah kecuali kepada Allah. Kita tidak menyekutukan sesuatu kepada Allah. Kita tdak menjadikan sebagian kita kepada sebagian lain sebagai dewa, tuhan, dan sesembahan selain Allah. Kita hanya cinta kepada Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, cinta kepada Ahlil Bait, cinta kepada shahabat, cinta kepada ulama. Kita mengadakan Isra’ Mi’raj ini bukan menuhankan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Kita mengadakan haul bukan menuhankan para wali atau ulama. Hanya mencintai dan menghormati mereka. AlhamduliLlah.

Bapak ibu sekalian. Jadi puncaknya Isra’ menurut saya adalah Kanjeng Nabi mengimami di Baitul Maqdis. Ini menujukkan persatuan anbiya dan rusul. Tapi dalam persatuan itu kita ditunjukkan oleh Allah bahwa paling mulianya rasul adalah nabi kita Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. AlhamduliLlah. Makanya saya dulu istilahnya saya pernah dengar sebagian orang berpidato atau mauizhah hasanah, dia bilang, “Kulo niki mboten seneng haul kok dibarengno karo maulid. Haul iku susah, maulid iku seneng.” Saya pernah dengar. Saya dulu ya seperti menerima, tapi kemudian tak piker-pikir lagi. Daripda kita haul sendiri lalu maulid sendiri, kan menghabiskan biaya banyak. Padahal kita dilarang israf. Dibarengkan tidak apa-apa, malah biar kita tidak meniru orang Syi’ah. Kalau Syi’ah itu senang haul tapi untuk Imam-imam Dua Belas saja. Kalau yang bukan Imam Dua Belas tidak kebagian. Tapi kalau kita ya haul ya maulid, atau haul dan Isra’ ini. Saya kira kok pas begitu. Ngalap barokahnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama biar idola kita yang paling utama masih teringat yakni baginda Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. AlhamduliLlah. Kita tetap Ahlussunnah yang asli, mengidolakan Kanjeng Nabi. Bukan fanatik kiai ini, fanatik habib ini, fanatic Walisongo, dan seterusnya. AlhamduliLlah kita tetap umat Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. WaLlahu A’lam bi al-shawab.

Jadi saya ulangi lagi. Persatuan para nabi diimami oleh Kanjeng Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ini menunjukkan bahwa Allah ingin memperlihatkan bahwa yang paling utama dan paling dicintai Allah itu nabi kita Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Seolah-olah para nabi itu wakilnya kanjeng nabi. Seolah-olah, tidak boleh dibilang wakil. Orang yang cinta itu biasa berkata “seolah-olah”. “Kau selalu terbayang di mataku, waktu makan ada kamu.” Kan biasa seperti itu. Hakikatnya demikian, tapi secara Syari’ah tidak boleh. Tidak ada perwakilan. Nanti lama-lama kalau kondangan diwakilkan anaknya. Itu nakalnya kita. Yang diundang kamu kok yang datang anaknya. Urusan berkat itu.

Bapak-bapak saudara-saudara sekalian. Kita sekarang menjadi susah karena belum bisa mengembalikan Masjidil Aqsha ke kekuasaan umat Islam. Mana negara Islam yang bisa mengembalikan Masjidil Aqsha ini? Ini yang lagi dicari. Kalau negara-negara Islam sekarang ini negara Islam ‘boneka’. Ada yang bonekanya Amerika, ada yang bonekanya Cina. Iran itu bonekanya Cina. Belum ada negara Islam yang mandiri, kokok, dan berdaulat. Katanya yang ditunggu adalah Indonesia. Allahumma amin. Yang tidak bonekanya Amerika, juga tidak bonekanya Cina. Sudah paham ya? Tadi saya didesak Kiai Asnawi untuk ada sindiran kesana. Kalau yang paham ya Alhamdulillah, kalau yang tidak paham ya saking bodohnya pengen dijajah Cina. Dikibulin ada wakilnya dari kiai gitu aja.

Saudara-saudara sekalian. Jadi persatuan para rasul dan anbiya ini diisyarahkan oleh Allah dengan Kanjeng Nabi menjadi imam di Masjidil Aqsha. AlhamduliLlah saya sudah sekali ke Masjidil Aqsha bersama para kiai Lirboyo dipimpin oleh Habib Shalih al-Jufri dari Solo. Disana saya bisa merogoh tempat injakan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama saat mau ke langit. Itu wanginya bukan main. Saya bisa merogohnya. Jelas itu adalah bekasnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Saya pernah bicara dengan orang Syiria, wanginya begitu memang asli atau diberi minyak? Kata dia diberi minyak. Aduh, orang Arab tidak paham berkah ini. Jelas tidak mungkin minyak wanginya sampai begitu. Saya pernah juga di Masjid Barbuk di Kairo Mesir. Kebetulan pas dibuka. Anak-anak dan mahasiswa Kairo belum tentu pernah seperti saya. Disana juga pernah ada bekasnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dari Makkah atau Madinah lalu diambil oleh pejabat tinggi namanya Barbuk, itu wangi sekali. Walaupun banyak debunya tapi masih wangi. Ia berupa dua batu. AlhamduliLlah. Sebetulnya di Madinah masih ada tempat Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama terkena panah di Uhud dan masih wangi, tapi oleh Wahabi tidak boleh sama sekali kesana dan dibuat tempat untuk menggembala. Kita juga sangat susah, Dengan berkahnya para habaib para ulama semoga negara kita ini tidak menjadi Wahabi.

Saya pernah menginap di Ampel, ada acara pagi-pagi di Trans7 bilang bahwa Allah bisa membantu seseorang lewat malaikat, tentara-tentara-Nya, jin, dst. Akan tetapi kita tidak boleh meminta tolong dengan malaikat. “Wahai malaikat, tolonglah aku!” “Wahai nabi, tolonglah aku!” Lho, dia sudah mengakui Allah bisa membantu manusia mukmin ini dengan tentara-tentara Allah termasuk malaikat, nabi, jin, dst, kenapa kita tidak boleh? Boleh-boleh saja. Artinya boleh itu tidak syirik. Kecuali kalau kekuatan kafir dan setan, itu jelas melawan Allah Ta’ala, karena Allah berfirman:

وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ [الزمر : 7]

“Allah tidak ridha kekafiran dari hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Zumar: 7)

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا [فاطر : 6]

“Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah mereka musuh.” (QS. Fathir: 6)

Setan adalah musuhnya Allah juga musuhnya manusia. Tidak boleh kita mintai tolong. Begitu juga diqiyaskan dengan itu bahkan lebih-lebih kita tidak boleh mengambil pemimpin orang-orang kafir. Di salah satu calon presiden kita ini banyak yang mendukung LGBT, menolak perda-perda syariat, bahkan menjadi mitra gubernur Jakarta yang kafir dulu yang sekarang sudah dibebaskan. Sekarang wakilnya dimana-mana saat mau kampanye dibuat sepi. Ini kita khawatir nanti dianggap udzur dan tidak layak, lalu diganti oleh yang bekas gubernur Jakarta itu. Na’udzubiLlahi min dzalik. Ini mau Cinaisasi. sekarang Cina dimana-mana. Ya Allah, ngeri sekali.

Saudara-saudara sekalian. Ini boleh, tapi ya kalau bisa jangan. Istikhdam kepada jin itu tidak baik. kalau kita diladeni jin Muslim, gimana kan diladeni. Tidak minta kok. Seperti Kiai Abdullah Chunain ngaji dimana-mana, di Bugel Pasuruan, Lasem di tempat Mbah Makshum dan mbah Baidlawi, kemudian di Sarang di tempat mbah Ahmad Syuaib. Saya pernah melihat beliau ikut haul Mbah Ahmad Syuaib. Kepanasan dan memakai kipas di dekat maqamnya Mbah Ahmad.

Saya AlhamduliLlah akrab dengan Kiai Abdullah Chunain ini, kemudian dengan anak-anaknya yang dipondokkan di pondoknya Mbah Maimoen. Saya akrab sekali. AlhamduliLlah. InsyaAllah kita menjadi al-arwah junudun mujannadah. Kiai Abdullah Chunain mendapat berkah dari sini Jawa Timur juga dari Jawa Tengah, dari para kiai, ini merupakan fadhal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dulu Kiai Abdullah Chunain pernah mungkin dianggap nyleneh karena tidak di PPP. Mungkin dulu istilahnya di Golkar. Ini merupakan ijtihad politik beliau. Di Sarang pun mbahnya Muhammad Syafi’ (Mbah Imam) tidak mau di PPP, tapi di Golkar. Menurut saya ini ijtihad. Dulu yang ada PPP, PDI, dan Golkar. Yang menumpas PKI adalah Pak Harto (Golkar), maka Pak Harto harus dihargai. PPP waktu itu ya harus hidup, tapi Pak Harto harus dihargai. Ini perbedaan politik zaman itu. Sekarang kembali lagi ke zaman itu. Cuman ada dua lagi, ada yang menantu Pak Harto, ada yang musuhnya Pak Harto. Mari kita berijtihad, hati-hati. Yang sana harus ada tidak tau tujuannya, semoga saja tidak dibunuh. Dulu NU ikut Nasakom itu NU-nya mau dibunuh.” (*)

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons