Site Loader
Toko Kitab

Demikian cuplikan dhawuh beliau saat menjadi keynote speaker di acara Ngaji Bareng dan Halaqah Tokoh Agama dan Masyarakat Kudus pada Jumat 1 Rajab 1440 H/8 Maret 2019 M. Pertemuan para ulama, kiai, habaib, kaum santri, dan warga Kudus tersebut diselenggarakan di garasi H. Haryanto pemilik PO Haryanto yang sudah masyhur. Pertemuan ini adalah sebagai ajang silaturahmi sekaligus perekat hubungan batin antara kaum agamis dan kaum nasionalis serta masyarakat. Ada dua narasumber utama pada acara tersebut yang semuanya dari Sarang, yaitu KH. Muhammad Najih Maimoen dan KH. Muhammad Ahdal Abdurrohim. Dalam acara tersebut Abah Najih menyampaikan berbagai pandangan beliau tentang fenomena kehidupan keagamaan dan kebangsaan serta langkah apa yang harus dilakukan oleh umat Islam Indonesia kedepan terutama menjelas pilpres 2019 yang sudah sangat dekat.

Berikut beberapa kutipan pernyataan beliau dalam acara tersebut:

“Hijrah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bukan untuk cari makan, akan tetapi untuk nashruLlah (menolong Allah). Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [محمد : 7]

Kalau kamu menolong Allah, kalau kamu menolong proyek Allah, agama Allah, Allah akan menolong kamu sekalian dan meneguhkan kaki kamu sekalian, langkah kamu sekalian. Lebih mantap, gagah, disegani, dst.

Pengajian kebangsaan ini ada pertemuan antara dunia dan akhirat, antara Islam dan kebangsaan. Ini sesuatu yang langka sekali. Dan ini jalan yang pernah dilalui oleh mbah-mbah atau pendahulu kita. Ketika umat Islam berjuang sendirian melawan Belanda atau Jepang tidak berhasil, tidak bisa berdiri negara Indonesia. Begitu juga nasionalis ketika berjuang melawan penjajahan tidak ada pekikan “Allahu Akbar”, ini juga tidak bisa berhasil. Ketika “Allahu Akbar” ini dipekikkan oleh kaum santri dan nasionalis, maka terusirlah penjajah. Alhamdulillah.

Dalam sejarah seolah-olah yang memerdekakan hanya nasionalis belaka. Ada sejarah yang disembunyikan malam Jumat 16 Agustus 1945 sebetulnya Bapak Proklamator Soekarno kumpul-kumpul dengan kiai-kiai ajengan Sunda di Rengasdengklok. Mereka memaksa Soekarno untuk besok harus memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dan mereka juga sempat menitipkan Syari’ah Islam. Tujuh Kalimat di Sila Pertama Pancasila itu masih ada tanggal 17 Agustus 1945.

Proklamasi bukan di Jalan Pegangsaan, bukan di jalanan, tapi di rumah orang kaya Arab. Namanya kalau tidak salah Yusuf Martak (keponakan Faradj Martak). Orang Arab walaupun bukan habaib. Tapi para habaib mendukung proklamasi itu, termasuk yang paling gembira adalah Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi atau Habib Kwitang yang terkenal itu, dan Pak Karno pernah menginap di rumah Habib Ali ini beberapa hari sebelum proklamasi. Guyubnya atau bersatunya agamis, para habaib dan kiai, dengan nasionalis membawa keberkahan yang besar terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia.

17 ini angka keramat menurut abah saya Mbah Maimoen. 17 itu persis dengan 17 Ramadlan, dan memang proklamasi ini di bulan Ramadlan tanggal 9. Nuzulul Quran juga tepat 17 Ramadlan atau 9 Agustus. WaLlahu A’lam bi al-shawab. Shalat itu ada 17 raka’at, rukunnya juga ada 17. Simbol garuda bulu sayapnya juga ada 17. Angka 17-nya ada dua. Di Islam ada 17 raka’at, ada 17 rukun shalat. Indonesia yang baru saja kita alami 17 Agustus. Prabowo lahir tanggal 17 Oktober. Oktober ini menurut Mbah Moen juga bulan yang keramat.
L Setiap revolusi harus Oktober. Jadi InsyaAllah beliau merevolusi negara, yakni berjuang. 17 April nanti adalah ‘17 Agustus garuda’ yang kedua. Allahumma Amin. Kalau Pak Soekarno memproklamasikan kemerdekaan dari penjajah Barat dan Timur, Jepang dan Belanda, ini Pak Prabowo adalah proklamator yang kedua kemerdekaan dari penjajahan RRC (Cina).

Saya sebagai putranya Mbah Moen syukur kepada Allah bisa kenal dengan Pak Haryanto, karena Pak Haryanto ini yang membantu sekeras-kerasnya kemenangan Pak Tamzil bupati Kudus. Ini secara itung-itungan akliyah tidak mungkin menang, karena bupati kemarin (H. Musthofa) itu cengkeramannya keras sekali. Mengobrak-abrik Islam, mengobrak-abrik kiai. Bantengnya sudah nyerudug terus. Tapi dengan izin Allah dengan perjuangan Pak Haryanto kok bisa ditumbangkan banteng yang besar itu? Ini ayatun min ayaatiLlah, pertanda dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saya sebagai putranya Mbah Moen itu bisa merasakan, karena beliau punya putra yang jadi wakil gubernur, secara lahiriah dipaksa paslon 01. Tapi hatinya, saya anaknya lho, beliau ini hakikatnya mendukung paslon 02. Ini barakah karena perjuangan Pak Haryanto menge-goal-kan Pak Tamzil itu, AlhamduliLlah. Karena sudah beberapa kali Mbah Moen mengajukan Pak Tamzil lewat PPP tapi belum berhasil, kok malah berhasilnya lewat Pak Haji Haryanto. Semoga perjuangannya Pak Haryanto diterima oleh Allah.

Kita akan menghadapi 17 April. Saya sendiri ini lahir tanggal 17 Agustus juga. Ini saya temukan baru-baru saja, karena dulu Mbah Moen menulis pakai hijriyah. Saya lahir 7 Rabi’ul Awwal 1383 H, kalau masehinya adalah Sabtu Kliwon 17 Agustus 1963 M. Ada kecocokan.

Kita mendukung Prabowo ini niat kita yang agamis adalah karena Islam, ‘Izzul Islam wal Muslimin. Islam ini dengan ulama, habaib, dan pondok pesantrennya mau digerus dan dihapus oleh PDI, komunis, dst. Sudah banyak buktinya.

NU ini sudah banyak susupan. Kiai-kiai sepuh dibuat bemper atau tameng saja. Kemarin ada fatwa non-Muslim disebut kafir, padahal di rapat sidang yang dibahas apakah kafir di Indonesia ini statusnya harbiy, musta’min, mu’ahid, atau dzimmiy. Kemudian rapatnya cocok bahwa status mereka adalah kafir slimily, katanya. Tidak ada di kitab-kitab istilah kafir slimily itu, nanti lama-lama ada kafir muslim. Na’udzubiLlahi min dzalika. Tapi yang diluar rapat itu lebih ngeri liberalnya, hasil rapat itu dipelintir untuk mengatakan bahwa non-Muslim tidak boleh disebut kafir dan hanya boleh disebut warga negara Indonesia. Ini jelas keputusan politis agar caleg-caleg non-Muslim atau calon-calon yang kafir tidak dipermasalahkan umat Islam. Ini melawan 212, melawan QS. Al-Maidah: 51.

Protestan dan Kristen, Cina-cina, sepakat mendukung paslon 01. Baru ini. Dulu-dulu kalau ada pasangan-pasangan semua didukung. Tapi sekarang tidak. Kemarin ada orang bernama Roberto Robert jelas-jelas mengejek TNI, tapi oleh polisi dipulangkan. Inilah kebiadan dan pengkhianatan Cina.

Saya ada satu ilmu. NU dibohongi PKB, PKB dibohongi PDI, PDI dibohongi komunis, komunis dibohongi Kristen, Kristen dibohongi Yahudi, Iblis, seterusnya. Ini ilmu yang saya dapatkan dari perjalanan malam Jumat awal Rajab kemarin. MasyaaLlah, luar biasa.

Pak Haryanto puasa terus, nirakati anak cucunya sendiri dan anak cucu kita agar selalu ‘izzul Islam wal Muslimin. Jangan sampai umat Islam ini saling bertengkar dengan sesama orang Islam, khususnya umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia ini adalah Ahlussunnah. Habaib itu ijma’ ikut Prabowo, kecuali habaib yang Syi’ah. Kalau Syi’ah itu bolone Cina teng pundi-pundi. Di PBB begitu, di Iran juga begitu.

Logo Prabowo-Sandiaga ini adalah adil dan makmur. Kita umat Islam mendoakan keadilan ini lewat cara yang Islam, Allahumma Amin. Walaupun dengan cara yang pelan-pelan, bukan cara yang drastis. Kemakmuran ini jelas, kalau Indonesia makmur maka yang mendapat kemakmuran banyak adalah umat Islam sebagai mayoritas. Kita bukan melawan kemiskinan, akan tetapi menolong kemiskinan. Orang miskin itu sudah ada jatahnya, itu yang saya inginkan, dari zakat atau sementara dari pajak. Tidak seperti sekarang dari BPJS tapi orang miskin wajib bayar. Di Australia atau di negara-negara luar orang miskin dapat jatah. Tidak harus kaya, tapi cukup. Yang kaya berzakat dan bershadaqah, apalagi kita Ahlussunnah wal Jama’ah.”[]

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons