Site Loader
Toko Kitab

Beberapa waktu terakhir ini, masyarakat Indonesia khususnya di dunia maya digegerkan oleh tayangan viral tentang doa yang dipanjatkan di acara Munajat 212, Kamis (21 Februari 2019). Doa tersebut sontak menjadi sangat ramai di media sosial hingga banyak tokoh dan kalangan yang menanggapi isi dari doa yang dibaca oleh mantan aktris yang sekarang menjadi aktivis 212 tersebut. Tanggapan terhadap doa tersebut pun bermacam-macam, dari yang simpatik dan memahaminya sebagai ekspresi kekhawatiran umat Islam terhadap perusakan agamanya, hingga yang antipatik, mengecam, mengutuk, bahkan menuduh adanya gerakan ‘ganti Tuhan’.

Melihat kondisi yang keruh tersebut, Syaikhina KH. Muhammad Najih pada Jumat (22 Februari 2019) kemarin memberikan tanggapan dan pesan damai tentang puisi atau doa Neno Warisman tersebut. Melalui akun Facebook dan Youtube Ribath Darusshohihain, Syaikhina KH. Muhammad Najih menjelaskan bagaimana semestinya umat Islam menyikapi doa yang sudah viral tersebut secara obyektif, adil, dan dengan kepala dingin tanpa condong terhadap kelompok dan kubu tertentu, dengan tidak meninggalkan pesan-pesan ghirah Islamiyah yang ingin disampaikan dalam doa tersebut. Demikian kutipan dari pernyataan Abah Najih di dalam video berdurasi sekitar 22 menit tersebut:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والشكر لله، أستغفر الله وأستعين بالله وتوكلت على الله، ولا حول ولا قوة إلا بالله، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله، اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه ومن والاه. أما بعد.

“Para pemirsa ikhwanal Muslimin wal Muslimat fi kulli makan. Baru-baru ini kami dilapori anak-anak bahwa di medsos sedang diramaikan atau diviralkan puisi Neno Warisman di acara malam Munajat 212 yang mengatakan, “Jika Engkau tidak menangkan kami (Prabowo), kami khawatir tidak ada yang menyembahmu.” Memang ini dalam pendengaran orang yang tidak biasa baca hadits memang kaget, bahkan kalau orang yang pikirannya kotor dengan politik langsung memahami dengan istilah Munajat 212 dianggap mau ‘ganti tuhan’. Na’udzubillah min dzalik. Tapi kalau orang baca hadits, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pernah mengucapkan doa seperti itu, yaitu di saat perang Badr Rasulullah berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِى مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَة مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِى الأَرْضِ (رواه مسلم)

“Ya Allah, luluskanlah apa yang Kau janjikan kepada hamba. Ya Allah berikanlah apa yang Kau janjikan kepada hamba. Ya Allah, jika Kau hancurkan kelompok dari umat Islam ini, maka Kau tidak akan disembah lagi di bumi.” (HR. Muslim)

Jadi ini adalah merupakan refleksi dari bangga dengan tauhid, bangga dengg dakwah tauhid, dan ngeri terhadap lawan atau musuh-musuh tauhid. Waktu itu adalah kaum musyrikin Makkah di perang Badr. Kok dengan tega dan kejamnya membawa tentara hampir seribu dengan peralatan yang mahal dan hebat, ingin mnghadapi Rasulullah dan shahabatnya yang hanya tiga ratus tiga belasan orang dan sangat-sangat minim tunggangan, apalagi peralatannya. Hanya dua atau tiga kuda. Sedikit sekali. Yang banyak dari mereka berjalan kaki dan bergantian naik kuda atau unta.
Jadi kok teganya, padahal di Makkah sudah ada Ka’bah dan Baitul Haram yang sudah dipondasi dengan tauhid oleh Nabi Ibrahim.

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ [البقرة : 133]

“Apa kalian menyaksikan ketika Ya’qub mendatangi kematian saat ia berkata kepada anak-anaknya, “Kalian tidak akan menyembah lagi setelahku,” lalu mereka pun berkata, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan ayah leluhur yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yakni Tuhan yang Maha Satu. Kami berpasrah diri kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 133)

Makkah telah dipondasi dengan tauhid dan iqamatus shalat (menjalankan shalat), lalu mereka kaum musyrikin menyelewengkan dengan menyembah berhala. Sudah begitu masih melawan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama yang sudah mengalah tidak bersikukuh di Makkah lalu hijrah ke Madinah. Disana beliau membuat negara atau komunitas khusus Muslim. Walaupun bersanding dengan Yahudi, namun Yahudi sudah ‘dipegang’ dengan janji-janji perdamaian. Janji-janji menjaga Madinah dari musuh luar.”

Pesan Damai: Jangan Berlebihan

Dalam video tersebut, Syaikhina KH. Muhammad Najih mengajak kepada umat Islam agar menyikapi doa Neno Warisman tersebut secara arif dan bijaksana, serta tidak keterlaluan dalam menanggapinya. Abah Najih mengatakan:
“Saudara-saudara sekalian. Jadi Kanjeng Nabi sudah pernah membaca doa seperti itu, akan tetapi konteksnya lain. Kanjeng Nabi saat itu masih sedikit jumlahnya sedangkan kaum musyrikin Makkah perang besar-besaran. Mereka kaya-kaya dan menghabiskan dana banyak. Namun usaha mereka digagalkan oleh Allah Ta’ala dengan bala tentara malaikat di perang Badr sekitar lima ribu.
Saudara-saudara sekalian. Jadi doa itu sudah pernah, hanya saja karena konteksnya lain akhirnya dimanfaatkan oleh yang tidak senang dengan aksi 212.

Kalau sampai diistilahkan dengan “ganti tuhan” dan seterusnya, berarti mereka tidak cocok dengan doa itu. Berarti mereka tidak membaca hadits atau sirah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Bodoh sekali. Selain itu, Neno Warisman membaca doa itu karena dia tidak menguasai Islam seluruhnya, tidak luas ilmunya. Bahasa pesantrennya tidak muqtadla al-hal (sesuai konteks). Itu harus dimaklumi karena bukan orang pesantren atau orang NU. Bahkan orang pesantren pun sekarang, Banser apalagi Ansor, banyak yang tidak mau baca kitab. Kitab pesantren saja tidak, apalagi kitab-kitab sirah dan hadits Rasulillah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Banyak yang tidak membaca. Jadi sama-sama bodohnya, akhirnya sama-sama punya kelemahan.
Saya tahu bahwasanya zaman akhir itu tambah ruwet.

عن أبى أمامة الباهلى عن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال « لتنقضن عرى الإسلام عروة عروة فكلما انتقضت عروة تشبث الناس بالتى تليها وأولهن نقضا الحكم وآخرهن الصلاة » (رواه أحمد)

“Dari Abu Umamah al-Bahili, dari Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Tali-tali Islam benar-benar akan pudar ikatan demi ikatan, lalu setiap ada ikatan yang pudar maka orang-orang akan bergantung dengan yang setelahnya. Ikatan yang paling awal pudar adalah hukum Islam, dan yang paling akhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)

Tali-tali Islam kata Rasul akan semakin pudar hingga tinggal shalat. Kalau hukum negara Islam akan semakin pudar dan hilang, hatta umpama ada negara Islam juga pudar seperti zaman Bani Abbasiyah dan Bani Utsmaniyah. Tidak semua hukum Islam dijalankan. Saya tahu itu. Namun mengapa saya ikut gerakan Habib Rizieq istilahnya, meskipun saya bukan orang FPI dan bukan aktivis 212? Saya hanya ngemong dan mendampingi supaya mereka terarah. Bukan menjadi radikal, teroris, dst.

Jadi orang mengatakan bahwasanya kita jangan ikut-ikutan gerakan seperti itu yang mengarah kepada Syariah Islam karena itu bukan tipe kiai matsalan, itu bukan modelnya santri, dan seterusnya. Lho, Anda tidak membaca sejarah negara Anda sendiri? Anda tidak membaca sejarah tokoh-tokoh Anda? Dulu kiai-kiai kita termasuk KH. Hasyim Asy’ari ikut dalam pergerakan Masyumi, Majelis Konstituante, dan seterusnya.

Tokoh-tokoh kita banyak yang ikut kesana. Kemudian karena dihalang-halangi oleh Sukarno, akhirnya yang Masyumi istilahnya kayak mutung (patah hati) dan tidak mengakui Sukarno secara de facto, akan tetapi NU masih mengiringi Sukarno dengan niat untuk mengurangi kekejaman Sukarno terhadap Islam. WaLlahu A’lam bi al-shawab.

Walhasil, ini sama dengan peristiwa pembakaran bendera yang terjadi kemarin. Waktu itu yang dilakukan oleh Banser katanya, walaupun WaLlahu A’lam bi al-shawab mungkin oknum. Mungkin oknum PKI atau oknum anak PKI yang ada di Banser. WaLlahu A’lam bi al-shawab. Akhirnya peristiwa itu menyulut kemarahan orang-orang radikalis lalu ingin perang, terus saya melerai. Saya ngadem-ngademi (mendinginkan suasana) lewat video live seperti ini. AlhamduliLlah tidak jadi perang, tidak terjadi gontok-gontokan, walaupun sudah hamper terjadi. Ini yang marah sekarang gantian dari kelompok Banser-Ansor. Ada kesalahan penempatan doa karena orangnya banyak tapi doa yang dibaca adalah doanya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ketika sendirian. Rasulullah memang berdoa seperti itu untuk mengetuk pintu langit agar turun malaikat. Lha kita ini Alhamdulillah yang ikut 212 sudah banyak sekali. Yang ikut Prabowo juga banyak dari perkotaan, entah di desa. Semoga di desa menyusul. Katanya di luar Jawa sudah banyak. Yang repot itu di Jawa ini. Banyak alas (hutan)nya, banyak setannya, banyak mistisnya yang meneror.

Jadi saya minta kalau saya dianggap orang baik, saya pituturi, saya nasehati, Anda jangan keterlaluan menyerang sampai pakai istilah mau ada gerakan ‘ganti tuhan’. Siapa? Wong tidak ada kata-kata ganti tuhan. Dia takut Allah tidak disembah, artinya Allah tidak ditaati lagi. Artinya negara ini akhirnya dikuasai oleh Kristen, oleh komunis. Hanya shalat-shalat saja. Mungkin kalau shalat masih ramai, tapi kalau komunis berkuasa masjid-masjid bisa hilang. Bahkan ada rencana Indonesia, kata Emha Ainun Najib dll, mau dihuni oleh Cina. Berarti etnis Sunda bahkan mungkin etnis Jawa mau dibinasakan. Na’udzubillah min dzalik.

Itu cara kami husnuzzhan, walaupun kami juga kurang sreg kalau perempuan berdoa diamini di depan orang banyak begitu. Sebetulnya 212 itu acaranya ulama atau habaib, semestinya cukup dengan ulama dan habaib saja. Artis atau bukas artis apalagi perempuan sebetulnya tidak perlu ikut-ikutan. Tambah runyam, tambah salah paham, atau dibikin salah paham. Kalau ada acara-acara begitu jangan ada suara perempuan digemakan apalagi nyanyi-nyanyi seperti Nisa Sabyan. Jadi harus hati-hati. Kita dan kaum Muslim yang lain yang memilih Prabowo sudah berniat jihad fi sabiliLlah, artinya ingin memenangkan ‘izzul Islam wal Muslimin. Sudah ada niat yang baik, walaupun masih ada campuran-campuran begitu. Tapi tolong dalam perjuangan ini kita jauhi maksiat. Kita jauhi bagaimana supaya yang hadir dari perempuan-perempuan ini tidak ikut-ikutan tampil di depan, di-shooting, apalagi membuka aurat, apalagi bersuara yang mengundang syahwat. Ruh jihad dalam Islam itu harus jauh dari maksiat.”

Indonesia Cikal Patriot Keislaman Dunia

Dalam penjelasan terakhir, Abah Najih juga menyinggung tentang posisi Indonesia di mata umat Islam dunia sebagai negara yang diharapkan menjadi pioneer (pengasas) kebangkitan Islam di masa depan. Beliau menyatakan:
“Jadi andaikan saya ini bukan hidup di Indonesia, andaikan saya hidup dimana gitu yang bukan di Nusantara, mungkin saya akan diam karena haditsnya begitu. Walaupun hadits ini juga terkena sama kita:

عن أبى أمامة الباهلى عن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال « لينقضن عرى الإسلام عروة عروة فكلما انتقضت عروة تشبث الناس بالتى تليها وأولهن نقضا الحكم وآخرهن الصلاة » (رواه أحمد)

“Dari Abu Umamah al-Bahili, dari Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Tali-tali Islam benar-benar akan pudar ikatan demi ikatan, lalu setiap ada ikatan yang pudar maka orang-orang akan bergantung dengan yang setelahnya. Ikatan yang paling awal pudar adalah hukum Islam, dan yang paling akhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)

Tapi Indonesia ini kan aneh. Menurut yang disampaikan oleh ayah saya Syaikh Maimoen, Indonesia kan aneh. Waktu Islam merosot dan jatuh di Andalus waktu kekuasaan Bani Umayyah, Indonesia baru muncul Islam. Baru bangkit, walaupun sebetulnya Islam sudah ada. Ada yang mengatakan zaman khalifah Utsman, ada yang mengatakan zaman khalifah Muawiyah. Tapi ramainya Islam itu oleh Walisongo. Waktu itu jatuhnya Islam di Andalus. Jadi ini aneh

Sekarang adalagi dhawuhnya Syaikh Ramdlan al-Buti dinukil oleh murid-muridnya, saya pernah bertanya apa ngendikane Syaikh Ramdlan al-Buti RahimahuLlah wa A’la darajatahu fil jannah? Beliau mengatakan yang kita harapkan pergerakan Islam yang pertama kali itu Indonesia karena disana banyak habaib, banyak sayyid, dan banyak dzurriyah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Selain itu, kata Mbah Maimoen ayah saya, Negara-negara jajahan Barat dan Timur yang pertama kali memproklamirkan kemerdekaan itu Indonesia. Yang lainnya ikut. Jadi kita adalah pratriot kemerdekaan negara, InsyaaLlah kita semoga jadi patriot keislaman dunia. Allahumma Amin.

Cukup sekian. Yang penting saya tidak ikut liberal, juga tdak ikut radikal apalagi teroris. Kita hanya mendampingi dan membarengi. Yang berniat baik semoga berhasil, dan yang berniat buruk semoga tidak berhasil.”[]

Post Author: ribathdarushohihain

One Reply to “VIRAL DOA NENO WARISMAN DI MUNAJAT 212, DEMIKIAN PESAN DAMAI SYAIKHINA KH. MUHAMMAD NAJIH MZ”

  1. Betul Pak Kyai, Kyai itu sebagai penuntun dan pendamping. Ketika umat belum tahu maka kedudukan Kyai sebagai penuntun, dan saat umat siap untuk maju, Kyai mendampingi dan membimbing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons