Site Loader
Toko Kitab

بِسْمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيْمِ

الحمْدُ لله ربِّ العَالَمِيْن والصَّلاةُ والسَّلامُ على رَسُولِه الكَرِيم ونَبِيّهِ مُحَمَّد اْلأَمِيْن وعلى آلِهِ الطَّاهِرِيْن وأَصْحابِهِ الْمَهْدِيِّيْن ، أما بعد.

Tahun baru selalu identik dengan tiupan terompet, pesta kembang api, hingar-bingar pertunjukan musik, pesta pora di hotel-hotel dan tempat wisata, hingga ucapan “Selamat Tahun Baru” atau “Happy New Year” bertebaran dimana-mana. Malam tahun baru menjadi kesempatan terjadinya berbagai kemaksiatan. Lebih jauh lagi, masih banyak sekali masyarakat khususnya umat Islam yang ikut merayakan tahun baru masehi tersebut tanpa tahu bagaimana hukumnya menurut agama Islam dan bagaimana sejarah munculnya perayaan tersebut.

Menurut Syari’ah Islam, hukum perayaan tahun baru masehi melihat sejarah dan bagaimana perayaan tersebut dilakukan adalah haram setidaknya karena empat alasan:
– Alasan pertama, Tasyabbuh bil kuffar wal fussaq (menyerupai orang-orang kafir dan fasiq). Hal ini dilihat dari sejarah perayaan tahun baru tersebut yang berasal dari tradisi umat Kristiani. Perayaan tahun baru tanggal 1 Januari ini ditetapkan pertama kali oleh kaisar Romawi Kristen yaitu Julius sebagai persembahan kepada Janus, yaitu dewa segala gerbang, pintu, dan permulaan (waktu). Maka perayaan tahun baru ini adalah perayaan umat Nasrani, dan umat Islam diharamkan mengikuti perayaan agama lain. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِهِمْ فِيْ نَيْرُوْزِهِمْ وَمِهْرَجَانِهِمْ حُشِرَ مَعَهُمْ
“Barangsiapa menyerupai sebuah kaum dalam tahun baru dan pesta mereka, maka dia akan digiring bersama mereka.” (Syaikh Abu Abbas Wansyarisi al-Maliki, al-Mi’yar al-Mu’arrab, juz 11 hlm. 152-150)

Imam Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din (juz. 2 hlm. 168) menegaskan bahwa umat Islam wajib menampakkan ketidaksetujuan terhadap orang kafir dan ajarannya, termasuk tidak ikut-ikutan berkecimpung dalam perayaannya. Imam Nawawi menyebutkan dalam Raudlah al-Thalibin (juz 10 hlm. 230) bahwa jika bukan karena udzur maka Muslim tidak boleh memberikan penghormatan sama sekali kepada orang kafir, begitu pula ajaran dan budayanya. Keduanya sepakat bahwa merasa enteng dan nyaman dengan orang kafir dan ajaran mereka hukumnya sangat makruh bahkan bisa haram. Allah Ta’ala berfirman:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ [المجادلة : 22]
“Engkau (Muhammad) tidak menemui kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir saling senang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka adalah ayahnya, anaknya, saudara, atau keluarganya.” (QS. Al-Mujadalah: 22)

Maka haram bagi umat Islam ikut menyemarakkan tahun baru, menjual pernak-pernik tahun baru, memberikan ucapan selamat tahun baru, dan sebagainya. Ibn Hajar dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah (juz 4 hlm. 229) menegaskan bahwa hal ini termasuk bid’ah yang paling buruk bagi umat Islam.

– Alasan kedua, perayaan tahun baru adalah ajang untuk melakukan kemaksiatan seperti konser-konser musik, pacaran muda-mudi, minum-minuman keras, perzinaan, perjudian, serta munculnya berbagai tindak kejahatan seperti tawuran, pencurian, dan sebagainya. Maka ikut menghadiri, mengumpulkan uang, dan memfasilitasi perayaan tahun baru adalah haram karena sama saja membantu terlaksananya kegiatan maksiat (i’anah ‘ala al-ma’shiyah).

– Alasan ketiga, dalam perayaan tahun baru seringkali ada kegiatan yang menghamburkan-hamburkan harta (idla’atul mal) seperti pesta kembang api, pawai di tengah jalan yang menghalangi hak pengguna jalan, dan sebagainya. Padahal Allah telah berfirman:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا [الإسراء : 27]
“Orang-orang yang menyiakan hartanya adalah saudaranya setan, dan setan adalah ahli kufur kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27)
Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:
مِنْ حُسْنِ إسلامِ المَرءِ تركُهُ ما لا يعنيه
“Termasuk tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”

-Alasan keempat, bulan Desember dan beberapa bulan masehi lain yang sampai tanggal 31 adalah salah secara agama, karena dalam keterangan hadits bulan itu antara 29 dan 30 hari saja, tidak bisa lebih. Allah SWT berfirman;
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji. (QS. Al-Baqarah; 189)
Rasulullah SAW menjelaskan:
عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم :الشهر هكذا وهكذا وقبض إبهامه في الثالثة لم يزد
Dari Ibn Umar dari Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, “Sebulan itu segini (29 hari) dan segini (30 hari, beliau berisyarah dengan tangannya), tidak lebih.” (HR. Bukhari-Muslim)

Maka merayakan tahun baru masehi itu haram karena sama saja mengakui adanya perhitungan hari dalam bulan Desember hingga 31, dan ini bertolak belakang dengan hadits-hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama diatas.

Dari beberapa pertimbangan diatas, maka sudah seharusnya umat Islam tidak ikut-ikutan merayakan malam tahun baru masehi ini, tidak mempercayainya sebagai hari yang spesial bagi umat Islam, dan menganggapnya sama seperti hari-hari biasa. Saat perayaan tahun baru tiba, umat Islam hendaknya tetap berada di rumah dan mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif seperti tidur, belajar, membaca, beribadah, berdoa kepada Allah, dan sebagainya. Atau boleh saja berkumpul dan makan-makan bersama keluarga dan teman-teman dengan niat mu’asyarah (bergaul) dengan baik dan silaturahmi tanpa ada niat merayakan tahun baru, serta menghindarkan diri dari maksiat dan berlebihan (israf).

Khusus untuk masalah mengucapkan selamat tahun baru, maka hukumnya diperinci. Apabila ucapan tersebut karena ada keinginan mencocoki kaum Nasrani, membanggakannya, mempercayai unsur keagamaannya, atau bahkan meyakini adanya tanggal 31, maka hukumnya haram bahkan bisa kufur. Namun apabila orang mengucapkan selamat ulang tahun hanya dengan niat bergaul yang baik secara sosial karena sudah kadung menjadi kebiasaan negara secara nasional tanpa mengaitkan dan mempercayai unsur keagamaannya, maka mungkin saja boleh NAMUN DARURAT. Hal ini memandang Indonesia dahulunya dijajah oleh kerajaan Kristen Belanda dan belum bisa lepas dari pengaruhnya. Meski sekarang sudah merdeka dan bernuansa Islamnya, namun sisa-sisa pengaruh Belanda di Indonesia masih lebih banyak hingga sekarang seperti dalam undang-undang, sistem politik, penentuan hari perayaan dan libur nasional. Di Indonesia hari Minggu dan hari-hari mendekati natal dan tahun baru sekolah-sekolah diliburkan, akan tetapi saat bulan Ramadlan tetap masuk. Akhirnya jadi kesempatan untuk tidak berpuasa karena alasan tidak libur, capek, sibuk, dan sebagainya.

Meski demikian, umat Islam harus tetap beritikad dan berkeyakinan bahwa jika suatu saat umat ini menang dan punya kekuasaan maka akan mengganti dan mengembalikan perayaan tahun baru menjadi 1 Muharram sesuai keputusan dan ijtihad Sayyidina Umar RadliyaLlahu ‘anhu.

Adapun pemerintah berkewajiban mengawal dan memperketat perayaan tahun baru sehingga disana tidak menjadi ajang kemaksiatan dan kejahatan merajalela. Karena itu surat himbauan dari beberapa pemimpin daerah agar tidak melaksanakan kegiatan perayaan tahun baru secara berlebihan dan tidak menyelenggarakan acara maksiat bahkan ada yang tidak memperbolehkan acara tersebut diselenggarakan di daerahnya patut diapresiasi.

Umat Islam harus belajar munculnya berbagai bencana alam di seantero negeri ini seperti gempa dan tsunami di Aceh, NTB, Palu, Lampung, Selat Sunda, pantai Anyer, angin topan di Bekasi, dan sebagainya. Ini adalah peringatan keras dari Allah agar kita sadar dan mau bertaubat serta beristighfar dari kemaksiatan yang merajalela di sekitar kita.

Akhiran, kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar umat Islam dan bangsa ini selalu diberi petunjuk oleh Allah agar selalu menjalankan Syari’ah-Nya, dijauhkan dari maksiat, malapetaka, serta dipersatukan hatinya untuk selalu kumanthil kepada Allah dan agama Islam ‘ala Ahlissunnah wal Jama’ah. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. WaLlahu A’lam. (*)

Madinah, 31 Desember 2018

KH. M. NAJIH MAIMOEN

Post Author: ribathdarushohihain

One Reply to “TELA’AH KRITIS KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN TERHADAP FENOMENA PERAYAAN TAHUN BARU MASEHI”

  1. Pada dasarnya saya sependapat dengan penjelasan ini,akan tetapi banyak dari kalangan muslimin sendiri yang menyatakan bahwa apakah dgn mengucapkan “selamat tahun baru” lantas kita berubah menjadi kristen atau nasrani? Pernyataan seperti ini yg membuat kaum muslimin menjadi gamang, tak jelas harus bagaimana bersikap,apalagi pernyataan itu keluar dari para da’i2″ moderat” yang menjadi rujukan ummat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons