Site Loader
Toko Kitab

Demikian kutipan dhawuh Syaikh Muhammad Najih pada acara Halaqoh Ilmiah bertajuk “Mengupas Pendidikan Keagamaan di Zaman Sekarang untuk Pesantren dan Masyarakat”. Acara yang dilaksanakan hari Rabu 6 Rabi’ul Awwal 1440 H/14 November 2018 M kemarin menghadirkan dua narasumber, yaitu KH. Muhammad Najih dan Ags. Baha’uddin Nur Salim.

Acara ini merupakan rangkaian terakhir dari perayaan Maulid Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sekaligus Harlah Pondok Pesantren Al-Anwar ke-52. Dalam halaqoh ilmiyah tersebut Abah Najih banyak mengupas tentang tantangan eksistensi pesantren salaf dan motivasi serta dorongan bagi para alumni PP. Al-Anwar dan hadirin yang datang agar selalu rindu dan kumanthil (bergantung) hatinya dengan pendidikan dan pesantren salaf. Berikut kutipan dhawuh Syaikh Muhammad Najih di acara tersebut:

“Bahkan saya ngaji Tafsir Baidlawi juz awal dan sebagian juz tsani saya fotokopi dari naskahnya Gus Qayyum sasahannya Mbah Mahfuzh Termas. Luar biasa. Mbah Mahfuzh ini seolah-lah a’lam-nya ahli Jawa. Paling alim. Dan beliau memiliki saudara yaitu Mbah Dimyati. Mbah Mahfuzh di Makkah mengarang, sedangkan Mbah Dimyati yang mengasuh pondok dan mengajar dan kitabnya sudah disediakan oleh Mbah Mahfuzh. Adalagi Mbah Abdul Razaq dan Mbah Abdul Hannan yang fokus di thariqah, punya murid atau teman kiai yaitu Kiai Ahmad Dahlan atau yang asal namanya adalah Darwisy.

Jadi Mbah Mahfuzh bin Mbah Abdullah bin Abdul Manan. Mbah Abdul Manan ngaji kepada Murtadha Zabidi pengarang Syarh Ihya’. Kiai Abdul Manan atau kiai-kiai kidulan biasanya lebih kuat sifat ‘kiai’-nya. Makanya bisa mengarang banyak. Kalau kiai pesisir biasanya kurang sifat kiainya, makanya kurang nulis-nulis. Mungkin Pak Baha’ juga tidak ada kiainya. Tentang Mbah Abdullah ini saya menyampaikan dhawuhe Mbah Moen dahulu.”

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih membacakan makalah yang sudah beliau tulis dan bagikan untuk para hadirin. Berikut beberapa kutipan makalah tersebut sekaligus penjelasan Abah Najih tentangnya.

Kajian Kitab Kontemporer

Kutipan makalah: Kemudian agar santri mengenal perkembangan Global-Kekinian, maka pesantren telah menampilkan kajian-kajian kitab kontemporer karya ulama-ulama ahlussunnah madzahib arba’ah seperti kitab al-Fiqhu al-Manhaji karya Dr. Mushthofa al-Khin, Mushthofa al-Bugho, Ali al-Syarbaji, as-Salafiah Marhalatun Zamaniyatun Mubarokatun la Madzhabun Islamiyun, Fiqhussiroh, Kubrol Yaqiniyat, Dlowabitul Mashlahah karya Sa’id Romadlon al-Boethi, Rowa’iul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam Minal Qur’an karya Syaikh Muhammad Ali al-Shobuni, al-Fiqh al-Islami karya Wahbah Zuhaili, Mafahim Yajibu an Tushohhah, Manhajussalaf fi fahmi an-nushush Baina al-Nadhoriyah wa al-Tathbiq, Muhammad al-Insan al-Kamil, Syaroful Ummah al-Muhammadiyyah, Syari’atullah al-Kholidah, dll. karya Abuya as-Sayyid Muhammad al-Maliki.

Penjelasan Abah Najih: “Jadi maksud saya ini contoh-contoh kitab yang dikarang oleh mutaakhirin (ulama generasi akhir) tapi InsyaAllah masih Thariqah Madzahibul Arba’ah Ahlusssunnah Wal Jamaah.”

Sebagian Ilmu Umum sudah Diajarkan di Pesantren

Kutipan makalah: Sebenarnya sebagian ilmu umum sudah diajarkan di pesantren, seperti ilmu Falak, ilmu Balaghoh, ilmu Nahwu, ilmu Shorof, ilmu Hisab (ilmu yang perannya vital dalam ilmu Faro’id) yang kesemuanya itu dijadikan sebagai alat untuk memahami al-Qur’an, al-Hadits dan kitab-kitab salaf. Begitu juga dalam al-Qur’an, Hadits dan kitab-kitab salaf sudah ada sebagian dari pembahasan-pembahasan ilmu umum, sains, teknologi dan ekonomi, seperti dalam ayat:

وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (الحديد: 25)

Penjelasan Abah Najih: “Ayat ini maksudnya adalah ilmu persenjataan zaman sekarang, itu semua dari hadid (besi). Tapi kemudian tambah modern hadid dikalahkan dengan air. Air masih kalah dengan shadaqah, uang.”

Modern itu Hakikatnya Teroris

Kutipan makalah: Termasuk dampak negatif dari kurikulum pemerintah terhadap budaya pesantren adalah semakin memudarnya keikhlasan bertholabul ilmi dan khidmah kepada ahlul ilmi, terkikisnya sikap tawadlu’, andap ashor, nurut kepada kyai, sopan santun, berubah menjadi sikap mudah mengkritisi, mengkritik kebijakan dan dawuhnya kyai dan asatidz, mereka menganggap kyai hanya sebatas pemilik pondok atau yayasan, ikhtilath antara lelaki dan perempuan, budaya camping, pramuka, pacaran dan lain sebagainya. Sehingga tanpa disadari, kalau pesantren menerima kurikulum tersebut maka mereka telah terjebak dalam budaya rancangan Yahudi dan Salibis. Perlu diketahui, bahwa hampir keseluruhan ilmu umum itu sekuler (terpisah dari akidah tauhid) karena tidak pernah menyebut Allah sebagai al-Kholiq/Sang Pencipta (persis paham Dahriyyah). Diantaranya mengatakan bahwa langit tidak ada yang ada hanyalah atmosfer saja, kiamat hanyalah proses alam, planet bumi dan planet-planet lainnya sudah ada sejak berjuta-juta ribu tahun alias alam ini dzatnya qodim seperti paham falasifah yang kufur, baik teori evolusi atau revolusi. Begitu juga teori Darwin yang kufur itu, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa adanya kekuatan berdiri sendiri di alam ini dan mengatakan kehidupan tidaklah diciptakan tetapi muncul karena kebetulan, manusia berasal dari kera dan masih banyak lagi.

Menyikapi ilmu-ilmu umum diatas, kita harus selalu mengingat dan memegangi dua bait karya Syaikh Ahmad ad-dardir dalam Manzhumah al-Kharidatul Bahiyyah:

وَمَنْ يَقُلْ بِالطبْعِ أَوْ بِالعلَّة ** فَذَاك كفرٌ عِندَ أهلِ الْمِلَّة
وَمَنْ يَقُلْ بِالْقُوَّةِ الْمُوْدَعَةِ ** فَذَاكَ بِدْعِيٌّ فَلَا تَلْتَفِتِ

Menurut kami, Thabi’at, Illat dan Quwwah Dzatiyah itu satu paket, artinya jika seseorang menyakini kejadian di alam raya ini murni karena ketiga faktor tersebut (tanpa ada campur tangan izin Allah SWT), maka hukumnya kafir, namun jika ada campur tangan izin Allah SWT, atau meyakini Quwwah Muda’ah, maka hukumnya sebagai pelaku bid’ah. Kenapa ilmu seperti itu kita bela-bela melebihi ilmu agama padahal ilmu agama adalah penyelamat iman dan Islam (jalan kebahagiaan dunia akhirat), dan ilmu di atas adalah penyebar kekufuran (jalan kehancuran dunia akhirat). Pesantren yang sudah mapan dengan sistem salafnya, biarlah tetap eksis dan wajib kita jaga dan dukung keberadaannya.

Penjelasan Abah Najih: “Kalau quwwah mudda’ah itu kekuatan yang diberi oleh Allah. Tidak kufur orang yang mengatakan bahwa benda ini punya kekuatan dari Allah. Tapi kalau tanpa menyebut Allah, mengatakan itu dari kekuatan alam, tidak ingat bahwa kekuatan itu dari Allah, maka kufur. Na’udzubiLlah min dzalik.

Walhasil, sebagian besar tulisan ini sudah saya tulis waktu acara 100 Tahun Kiai Wachid Hasyim di Universitas Muhammadiyah. Saya diundang waktu itu. Tentu panitianya kecewa. Pengennya saya membolehkan ilmu umum. Saya tampilkan disitu bhwa Kiai Hasyim Asyari itu disamping akidahnya kuat dan pejuang aswaja, tapi juga pembela pendidikan agama. Namun anak-anaknya kemudian merubah, sampai Mbah Khairiyah mengeluh sekali agar disini jangan begitu. Tapi mereka InsyaAllah tidak mangkel karena saya mengkaji sejarah, kan? Bukan dari nafsu. Apa yang saya sampaikan apa adanya.

Saya tidak ingin mengkafirkan orang, jangan salah faham. Pemikiran bi thab’i, bi al-‘illah, atau bi al-quwwa al-dzatiyah ini menurut ulama-ulama kita adalah kufur. Omongan seperti itu kufur. Orangnya ya jangan dianggap kufur apabila orang Islam. Mungkin dia sedang lupa, ingin dapat ijazah. Kalau ngomong liLlahi Ta’ala semua nanti nilainya jelek. Mungkin, husnuzzhan saja.

Jadi orang modern itu saya ulang-ulang itu teroris sebetulnya. Kamu tidak punya ijazah kamu tidak bisa makan. Banyak begitu. Tidak bisa begini tidak bisa mengajar. Ada alumni Sarang bisa mengajar, akan tetapi untuk menghargai yang sudah berpendidikan S2 akhirnya mengajak guru lain untuk kejar paket. Ada yang begitu, tapi tidak disyaratkan. “Gak duwe S, gak iso mlebu kuwe.” Undang-undangnya saja tidak ada.

Dan kita kan mengajar agama. Makanya undang-undang pesantren harus segera digolkan dengan niat bela agama, kita mendoakan. Urusan agama kita mestinya harus mengajar di sekolah-sekolah umum, tapi katanya kalau tidak punya title sarjana tidak boleh. Sebetulnya undang-undangnya tidak ada tapi dibuat-buat sendiri supaya modern menang. Memaksakan kehendak lewat jurkam-jurkam pemaksa-pemaksa itu. Katanya demokrasi, tapi praktiknya memaksa. Na’udzubiLlah. Itu bohong. Jadi demokrasi itu hakikatnya teroris juga bohong. Kita bukan berarti anti modern, tapi gimana lagi sudah darurat. Lingkungannya begitu. Kita ditekan seperti itu, padahal undang-undangnya tidak ada, AlhamduliLlah. Mereka saja yang buat-buat, bohong, hoax.

Memang karena benci. Padahal katanya ormas modern tidak senang pesantren dan tidak senang kiai, kok akhirnya ya pakai kiai juga yang sudah lemes. Biarkan saja, biar jadi pengurus sana. Santri kadang kalau pintar ya diincar begitu-begitu itu. Makanya saya bilang hati-hati. Apalagi NU, ya sudah maklum cah. Ikut partai dan digaet liberal itu sudah maklum.”

Pendidikan Umum Harus Mengadopsi Kitab Salaf

Kutipan makalah: Adapun pesantren yang sudah kadung ada umumnya atau pesantren-pesantren modern, universitas-universitas, itu sifatnya dharurat untuk nasyrul ilmi (sebab zaman sekarang memaksa punya ijazah), dan harus diupayakan untuk mengadopsi kitab-kitab salaf, syukur kalau bisa porsi kesalafan itu diperbanyak sehingga berimbang bahkan kalau perlu melebihi ilmu umumnya. Dan lagi, anak didiknya harus diajari niat belajar yang benar, jika yang dipelajari ilmu agama, maka harus ikhlas lillahi ta’ala, namun jika yang dipelajari ilmu umum seperti IPA, IPS, Matematika dan sejenisnya, maka boleh diniati duniawi (ijazah), akan tetapi lebih baik diniati isti’anah ala i’anatil muslimin fi syu’unihim.

Penjelasan Abah Najih: “Maksudnya agar dirinya mudah untuk mengajar. Kalau kebetulan jadi PNS umpama, nanti bisa bantu-bantu orang Islam. Apalagi jadi bupati, bisa bantu. Tapi dia sendiri hutangnya banyak, belum bisa bayar untuk nyalon dulu.”

Mengajar LiLlahi Ta’ala

Kutipan makalah: Para guru dan pendidik juga harus demikian, mereka mengajar ilmu agama di sekolahan umum harus lillahi ta’ala murni karena ridlo Allah SWT.

Penjelasan Abah Najih: “Kalau bisa jangan di sekolah umum unggulan. Yang agak ndeso saja. masuk sekolah unggulan akhirnya uangnya banyak, tapi cepat mati. Santri kok punya sekolah unggul atau jadi guru di sekolah unggul, cepat mati. Saya sudah pengalaman, muridku ada yang seperti itu. Sayangnya dulu saya ditanya oleh dia, “Di daerah saya guru-guru pesantren ditawari masuk di SMP, sedangkan saya ditawari di SMP Unggulan,” lalu saya jawab, “Ya sudah, monggo.” Setelah saya beri izin, baru setahun malah sudah mati. Yang agak ndeso, yang murah-murah saja. LiLlahi Ta’ala. Mau mengajarkan agama kok. Gaji kecil ya ridha. Katanya bisa mengajar itu sudah kemenangan di zaman akhir.”

Kisah Guru MGS Dibai’at Mbah Khim

Kutipan makalah: Tidak usah memedulikan besar kecilnya gaji, bahkan berkomitmen terus mengajar mesti tidak digaji.

Penjelasan Abah Najih: “Pernyataan ini zaman sekarang sudah sulit. Dulu saya menulis ini karena ingat ada santri MGS yang berhasil menjadi guru bercerita, “Dulu saya ketika menjadi guru dibai’at oleh Mbah Khim (sebutan akrab Mbah Abdurrahim). Meskipun tidak digaji saya tetap mengajar.” Begitu kuno sikapnya. Saiki di MGS banyak yang cari dunia. Bahkan fenomena anak-anak sekarang, barangkali anak-anak sampeyan, pondok MUS atau apa, itu ada yang tidak datang kecuali menjelang ikhtibar. Menurut peraturannya tidak bisa naik itu. Sudah diingatkan kemarin. Ini bagaimana? Berarti malamnya dia muthala’ah hape sampai siangnya tidak bisa melek. Itu MGS, belum Muhadloroh, tambah banyak. Repot zaman akhir ini.”

Pengkaderan Benci Umat Islam

Kutipan makalah: Hendaknya gaji yang bersumber dari iuran siswa ditasharrufkan untuk menafkahi keluarga, dan gaji yang bersumber dari Pemerintah, hendaknya digunakan untuk bayar listrik, PDAM, Pajak, BBM, Pulsa, dan kebutuhan-kebutuhan non konsumtif. Mungkin beginilah penjelasan dari maqolah yang sering didawuhkan oleh KH. Maimoen Zubair, “Awakmu sekolah opo wae, sing penting ojo ninggalno ngaji” seraya mengutip:

حَقٌّ على العاقلِ أَنْ يكونَ عارفا بِزَمَانِهِ، حَافِظا للسانهِ، مُقْبِلًا علَى شأنهِ

Dalam konteks sekarang, Aarifan bizamanihi beliau artikan memakai system sekolahan, sedangkan muqbilan ala sya’nihi diartikan melestarikan ilmu-ilmu agama dengan huruf arab pegon di sela-sela sekolah atau di luarnya (di dalam pesantren selain jam sekolah).

Penjelasan Abah Najih: “Hafizhan li lisanika, artinya disuruh diam. Alaikum bis sukut, wa mulazamatil buyut, waqtina’an bil qut ila an tamut (Hendaknya kalian diam, sering-sering dirumah, dan cari pangan hingga mati). Jangan jadi juru kampanye berarti.”

Di akhir pembacaan makalah, Syaikh Muhammad Najih menambahi, “AlhamduliLlah, makalah ini meski tidak terlalu banyak tapi InsyaAllah bermanfaat bagi Anda sekalian. Yang penting saya memohon agar hatinya selalu rindu dengan mengaji dengan niat ingin selamat. Selamatkanlah kami dan keluarga kami dari fitnah-fitnah Syi’ah, Wahabi, dan Liberal.

Kemarin saya ditelfon oleh Gus Qayyum. Beliau berkata dia dilapori oleh pengurus PBNU bahwa di Ansor-Banser sudah ada pengkaderan untuk membenci umat Islam garis keras, mereka dianggap murtad, dan seterusnya. Saya AlhamduliLlah tidak ikut garis keras, Mbah Moen juga. Ada juga pengkaderan merumuskan tuhan. Akhirnya tuhan itu tidak ada, ateisme. Sudah banyak susupan-susupan PKI. Mari kita waspada dan kita doakan semoga pesantren ini dilestarikan oleh Allah Ta’ala, konsisten ila yaumiddin. Kita mendapatkan barakahnya. Kita jadi tengah-tengah. Tidak radikal, tapi juga tidak liberal. Allahumma amin. Tidak Syi’ah juga tidak Wahabi. Semoga yang saya sampaikan ada manfaatnya. Mohon maaf kalau kebanyakan atau kurang. Ini keterpaksaan, ini darurat untuk pemantapan belaka. WaLlahu A’lam bi shawab.

Mengajar di Pesantren itu Ta’lim, Mengajar di Sekolah Umum itu Dakwah

Selanjutnya, dibuka sesi tanya jawab. Pada sesi ini ada beberapa pertanyaan yang telah dirangkum. Pertama, bagaimana santri hasil produk pesantren menyesuaikan diri untuk berdakwah dengan masyarakat di era sekarang. Kedua, apa maksud dari arifan bi zamanihi. Ketiga, apakah ada nash atau dalil tentang doa dan bagaimana maksud dari:

وأهلك الكفرة والمشركين

Menjawab ketiga pertanyaan diatas, Syaikh Muhammad Najih menjelaskan sebagai berikut:
“Menurut saya, berdakwah ada dua. Yang pokok di pesantren adalah ta’allum dan ta’lim. Itu tujuan utama. Tujuan sambilan kalau ada kesempatan itu dakwah. Kalau kita pikirannya dakwah terus sementara ilmu kita nihil itu repot. Kalau Pak Mansur tadi dakwah karena berkahnya nggeledek (menarik gerobak). Lha sampeyan yang tidak pernah ro’an (kerja bakti) itu dapat barakah apa? Jadi memang dapat barakah, akhirnya bisa membangun pondok dan seterusnya.

Jadi yang kita tuju dari ta’alum di pondok Sarang ini, maaf saya tidak membahas yang lain, adalah ta’allum tsummal amal tsummal ta’lim (belajar kemudian mengamalkan kemudia mengajarkan). Yang jelas karena Allah Ta’ala. Karena kalau kita diberi kesempetan dakwah maka berdakwah. Nah itu tadi, termasuk kesempatan kita mengajar di sekolah-sekolah umum itu termasuk dakwah. Kalau kita mengajar di pesantren salaf yang hanya ngaji-ngaji saja dan senang ngaji, itu namanya ta’lim. Enak. Yang dakwah itu yang berat. Kadang-kadang campur laki-laki dan perempuan, kadang perempuannya pakai gincu, ustadznya mana tahan. Beratnya jadi dakwah itu. Lebih aman ta’allum dan ta’lim. Tapi bukan saya melarang, jangan salaf paham. Saya bukan mengharamkan dakwah. Dakwah itu penting, tapi ya begitu. Ada setengah-setengah haramnya. Saya dulu juga sering pidato. Sudah capek, kadang-kadang hadirinnya ada perempuan cantik. Sekarang saya tidak laku, AlhamduliLlah. Sudah tua.
Saudara-saudara sekalian. Jadi ta’lim itu penting. Di Jakarta ada majelis ta’lim, itu klo orangnya memang ahli shalat, ahli zakat, ahli ngaji, ya benar majelis ta’lim itu. Tapi kalau orangnya macam-macam, tidak pernah berkerudung kecuali ketika majelis ta’lim, itu hakikatnya majelis dakwah.

Santri Salaf Mestinya Rindu Ngaji

Tadi pertanyaannya kita belum punya kendaraan. Maksudnya belum punya ijazah. Memang tadi saya tidak mewajibkan harus salaf semuanya, yang kita bahas ini lingkungan salaf harus kita pertahankan. Kalau ada yang tidak salaf ya itu lahan dakwah dan berjuang. Adapun kita sendiri kalau bisa tetap seperti ini, dan AlhamduliLlah misalnya kalau ditanya ada ijazah atau apa, hatta di salaf kita sudah ada. Tadi disebutkan ada Ma’had Aly, idenya dari Kiai As’ad.

Sudahlah, di Lirboyo saya kira sudah ada. Bahkan sebelum ada Ma’had Aly, di lirboyo paginya sekolah Hidayatul Mubtadiin siangnya anak bisa sekolah umum. Disana banyak sekolah, atau kejar paket. Masalah itu masalah kecil saya kira. Kok dibingungkan? Anda santri Sarang mestinya Anda rindu dengan ngaji. Karena di Sarang ini merosot juga ngaji salaf. Dulu Mbah Moen mengajar Fath al-Wahab, Syarh al-Mahalli, Jam’ al-Jawami’, dsb. Saya dulu juga pernah begitu. Sekarang karena faktor kesehatan, saya sudah tidak ngaji kitab sebesar dulu kecuali saat santrinya masih sedikit. Sekarang santri tambah banyak, imut-imut dan kecil-kecil juga.

Kok kayak takut, maafnya. Mungkin karena sampeyan ketularan orang-orang sana saya maklumi, tapi mestinya beristighfar dan bertaubat. Anda rindu mestinya dengan salaf, masalah ijazah Anda punya sekolah bisa dapat ijazah bahkan tanpa ikhtibar pun diluluskan. Uangnya dikorupsi dst. Kok seperti masalah besar? kan tidak. Semua sudah tersedia. Sekarang saya sudah sampaikan, hatinya saja yang masih bergantung dengan salaf. niyyatul mu’min khairun min amalihi (niat seorang mu’min lebih baik daripada perbuatannya). Hatinya yang penting. Dhawuhe Mbah Moen, zaman ini sekolah apa saja yang penting ngaji. Hatinya senang ngaji.

Arifan Bi Zamanihi: Kalau Cocok Syari’ah Lakukan, Kalau Tidak Tinggalkan

Tentang ‘arifan bi zamanihi, tadi sudah saya terangkan dan saya nukil dari Mbah Moen. WaLlahu A’lam bi shawab. Kalau saya pribadi, kalau halal dan cocok dengan Syari’ah dilakukan, kalau tidak cocok mestinya ditinggalkan. Tapi sekarang cocok Syari’ah persis itu susah. Memang sudah zaman akhir mau diapakan lagi, yang penting tidak banyak-banyak.

Selanjutnya, Muqbilan ini artinya hatinya mantap dengan ilmu agama dann inilah yang menjadi penyelamat kita. Mengapa Banser dan Ansor begitu jahat dengan kalimat tauhid karena orang-orang itu tidak mondok. Pokoknya penting NU begitu saja. Bahkan KTP-nya saja yang NU, padahal PKI. Kita AlhamduliLlah anak keturunan orang ngaji dan sampeyan juga pernah ngaji, mari pertahankan. Muqbilan ‘an sya’nihi. Seumpama punya sekolah umum maka masukkan salaf sedikit-sedikit dan selingi dengan pitutur. Salaf yang menjadi kendaraan agar selamat dunia akhirat. Bukan kendaraan cari uang.

Maksud Doa “Wa Ahlik al-Kafarah wa al-Musyrikin”

Tentang doa khutbah pada kitab Tuhfah al-Saniyah itu kan dibuat pada zaman penjajahan, maka harus dimaklumi. Umat Islam banyak dijajah, doanya biar penjajah segera hengkang. Sekarang ini sudah tidak menjajah, tapi kristenisasi banyak. Komunis banyak, liberal juga banyak. Ahlikil kafarata artinya semoga pemikiran-pemikiran sesat atau kufur itu gagal, Allahumma Amin. Tidak bisa memurtadkan orang Islam, orang Indonesia. Seperti kemarin ada proposal ke bupati Rembang agar Lasem jadi kota toleran, kemudian AlhamduliLlah saya menggagalkan. Sudah kelewatan itu. Allahumma ahlikil kafarata wal musyrikin wal mubtadiah itu artinya mereka yang menyebarkan paham-paham sesat digagalkan oleh Allah Ta’ala. Kita umat kecil, umat akar rumput ini tetap. Meskipun yang diatas sudah tersungkur, wes podo teler, kita tetap ngaji, shalat jama’ah, dizbaan, tahlilan, ratib haddad, dst. AlhamduliLlah.

Masalah Papua, saya juga mengeluh soal itu. Santri Jawa kalau disuruh mengajar diluar Jawa susak sekali. Saya dipesen sama habib Palembang untuk mencari guru, tapi sampai sekarang tidak ada yang mau. Saya mengeluh, kok sampai setakut itu? Apa perlu diberi hizib? Pak Mansur banyak hizibnya. Tapi kok harus pakai hizib terus? Kanjeng Nabi tidak seperti itu, para shahabat juga tidak punya kejadugan. Kesakitan ya sudah, tapi jangan dianggap setiap terkena sakit terus mati. Disantet dikit, akhirnya lemes kayak mati. Kita diberi kekuatan oleh Allah. Orang pakai santet dibalas nyantet. Kita harus sabar dan tegar. Wa tawashau bil haqqi wa tawashau bis shabr. AlhamduliLlah. Sekarang apa-apa mahal, tapi umat Islam dan sampeyan masih banyak. Ini kekuatan dari Allah. Kalau memakai perhitungan sampeyan iki mestinya sudah lemes nglemprak leh.” Acara ini lalu ditutup dengan doa dari Syaikh Muhammad Najih Maimoen.

حرس الله الشيخ محمد نجيح من البلايا وفتن أعدائهم، وأطال بقاءه، ورزقه الصحة والعافية والاستقامة مع الخير والبركة، ومتعنا بعلومه وزهده وورعه في الدين والدنيا والآخرة. آمين يا رب العالمين …

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons