Site Loader
Toko Kitab

Syaikhina KH. Muhammad Najih Maimoen memaparkan kajian ilmiahnya seputar Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid, Beliau Dawuhan:

Bendera besar Rasulullah SAW itu berwarna Hitam, bendera yang agak kecil warnanya putih, Sedangkan bendera – bendera kabilah pendukung Rasulullah ada yang berwarna merah, kuning dst.

Dalam kutubul hadits, khususnya kutubussittah tidak kami ketemukan riwayat hadits yang menyatakan bendera Rasulullah SAW bertuliskan kalimat tauhid. Hanya dalam kitab Mu’jam Ausath karya Imam Ath-Thabarani yang menuturkan bendera bertuliskan tauhid, Imam al-Haitsami menyadur hadits ini dalam kitabnya majma’ zawaid, berikut teksnya:
٩٦٣٩ – وعن ابن عباس قال: «كانت راية رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سوداءولواؤه أبيض، مكتوب عليه: لا إله إلا الله محمد رسول الله».
قلت: رواه الترمذي وابن ماجه خلا الكتابة عليه.
رواه الطبراني في الأوسط، وفيه حيان وتقدم الكلام عليه، تراه قبل،.(وفيه حيان بن عبيد الله قال الذهبي: بيض له ابن أبي حاتم فهو مجهول)، وبقية رجال أبي يعلى ثقات. وبقية رجاله رجال الصحيح.
(Majma’ Zawaid, Juz 5, Hal, 321)

Hadits tersebut diriwayatkan oleh perawi bernama Hayyan bin Ubaidillah bin Hayyan, yang kunyahnya Abu Zuhair, Imam Ibn ‘Adiy menilainya sebagai perawi dlo’if dan mencantumkannya dalam kitab al-dlu’afa, serta kebanyakan hadits-hadits yang diriwayatkannya berupa hadits afrod (tidak ada yang mendukung), Imam al-Baihaqi mengkategorikannya dalam jajaran perawi-perawi mutakallam fih, bahkan Ibn Hazm menegaskannya tergolong perawi majhul. Mungkin hanya Imam Ibn Hibban yang mengkategorikan Hayyan dalam perawi Tsiqoh, namun kita kan sudah maklum, bahwa Imam Ibn Hibban tergolong ulama hadits yang mutasahil (gampangan menilai baik).

Andaikan di zaman Rasulullah SAW bendera bertuliskan kalimat tauhid benar-benar ada sebagaimana keterangan hadits diatas, mungkin bentuk lafadznya kecil tidak besar seperti tulisan-tulisan sekarang, karena zaman dulu tidak ada cat, sablon, jahit tulis dll. Dan lagi, memahami teks hadits
مكتوب عليه لا اله الا الله
Berarti tulisannya bukan di dalam lembaran benderanya (teksnya bukan مكتوب فيه), melainkan di atas bendera (di pucuk kayu yang ada benang untuk mengikat) pengaruh faidah isti’la’ huruf jer ala , berarti juga kecil, karena untuk jimat, Wallahu A’lam.

Jadi kesimpulannya, hadits yang meriwayatkan bendera Rasulullah SAW bertuliskan tauhid itu statusnya dlo’if. Lalu, apa kemudian boleh membakarnya? Jelas tetap tidak boleh membakar lafadz jalalah tanpa alasan syar’i sebagaimana yang sudah ditentukan dalam fiqh Islam, siapapun yang membakarnya tanpa landasan syar’i harus dikecam dan dikutuk, seperti tindakan Oknum Banser tempo hari.

Dalam kasus Pembakaran bendera bertuliskan tauhid oleh oknum Banser, menurut pengamatan kami, tidak terdapat satupun alasan syar’i yang melatarbelakanginya, semisal lafadz tauhidnya sudah usang, rusak, takut dihinakan dll. Jika Alasannya hanya menolak HTI, mbok ya jangan nemen-nemen ngopeni HTI, karena organisasi itu sudah dilarang Negara, jadi kenapa harus berpayah-payah ngurusi, sudah ada aparat, TNI dan lain sebagainya, apa Ndak cukup?! Kenapa justru menabrak syariat melawan HTI? apa argumentasi ilmiah membakar bendera tauhid? Untuk meredam fitnah HTI merongrong NKRI, dar’ul mafasid? nyatanya pembakaran justru menciptakan fitnah lebih besar, yakni kegaduhan masyarakat yang luar biasa! Kenapa Banser tidak lebih mementingkan memerangi SEPILIS dan LGBT, yang sampai sekarang virus ini menggerogoti petinggi-petinggi NU, bahkan belum dilarang oleh Negara! Padahal membahayakan keimanan Nahdliyyin,… Kalau Banser memang benar-benar peduli, mestinya lebih memprioritaskan nasib Iman Nahdliyyin daripada negaranya! Buat apa eksistensi negara, jika penduduknya cacat iman! Ingat, Agama di atas segalanya!

Mestinya para pembesar NU meminta maaf secara tulus atas insiden yang dilakukan bawahannya. Bukannya malah melakukan siaran pers yang membela Banomnya dengan mencari-cari dalil pembenaran tindakan “pembakaran”, bahkan ketum PBNU malah membahas khusus hukum kemakruhan hukum menulis kalimat tauhid pada tempat-tempat yang pontensi ihanah. Penulisan dan Pembakaran dua hal yang berbeda, dalam kasus oknum Banser ini yang paling substansial terletak dalam ihraqnya! Yang paling mencengangkan, Ketum Ansor tidak meminta maaf atas pembakaran kalimat tauhid, akan tetapi atas kegaduhan masyarakat belaka!.

Kami khawatir, insiden pembakaran ini menjadi pelopor kejelekan, sebagaimana Rasulullah Sabdakan;
من سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئا رواه مسلم

Lama kelamaan nanti serampangan membakar asma’ muaddzomah, kalimat tauhid bahkan foto-foto ulama, hanya karena sentimen dengan organisasi tertentu, ini berbahaya sekali.

Dalam tradisi kaum nadliyyin, penulisan kalimat tauhid pada tempat-tempat tertentu itu sebagai jimat, apalagi kebiasaan mereka yang sering tahlilan, dzikiran dst….wajar saja jika ada yang bertanya, Banser itu bagian dari Nahdliyyin yang biasa tahlilan lan nganggo jimat, kok malah membakar kalimat tauhid? Katanya jimat andalannya jimat kalimahsodo!.

Alhamdulillah kami sudah lama menolak HTI dengan menulis buku tentang penyimpangan HTI. Kami berharap kepada masyarakat Islam Indonesia untuk lebih mengedepankan langkah persuasif dan cerdas bersikap dalam menghadapi segala ancaman sekte yang mengancam eksistensi Ahlussunah wal jamaah semacam HTI tanpa harus menabrak batas-batas syar’i!

Wallahu a’lam bisshowab.
Sarang, 29 Oktober 2018

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons