Site Loader
Toko Kitab

Pada hari Senin tepatnya tanggal 20 Muharram 1440 H/1 Oktober 2018 M Syaikhina Muhammad Najih Maimoen diundang oleh Aliansi Ulama Ahlussunnah Waljama’ah Tapal Kuda (AUTADA) untuk menjadi narasumber dalam seminar bertajuk “Problematika Islam Nusantara” yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Nurul Qodim Paiton Probolinggo Jawa Timur. Selain Abah Najih, diundang pula narasumber lain yaitu Habib Taufiq Assegaf dari Pasuruan. Dalam pemaparan beliau seperti ditayangkan melalui live streaming di fanpage Ribath Darusshohihain, Syaikhina Najih membahas kembali secara detail tentang Islam Nusantara dimana beliau sudah seringkali menjelaskan pada seminar-seminar sebelumnya dalam topik yang sama. Isu Islam Nusantara ini kembali diperbincangkan setelah beberapa lama collapse kemudian muncul lagi ke permukaan menjelang pilpres 2019 mendatang. Berikut kutipan muqaddimah beliau dalam video berdurasi sekitar satu setengah jam tersebut:
“Mereka (kaum mujassimah) menyusupkan tasybih-tajsim di dalam madzhab Ahmad bin Hanbal dalam urusan akidah. AlhamduliLlah hal ini diketahui oleh Ibnu al-Jauziy dan ulama-ulama yang punya akidah yang kuat sekali. Dikokohkan lagi oleh pengarang kitab Kifayah al-Akhyar (Taqiyuddin al-Hishni).
Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Organisasi sifatnya bercampur-baur. Ada ilmuannya, ada ulamanya, non-ulamanya juga banyak. Apabila konangan yang liberal-liberal itu adalah anugerah dari Allah, karena organisasi biasanya untuk mencari atau mempengaruhi orang mereka memakai iming-iming pangkat, uang, dan seterusnya. Disini tadi oleh Kiai Fauzi diterangkan untungnya mereka yang berbicara liberal, ngawur, dan keterlaluan seperti mengatakan ada “Islam abal-abal”, “Islam Timur Tengah, dan seterusnya cepat diketahui. Jadi mereka terlihat liberalnya, juga terlihat ngebetnya. Bahasa jawanya kebelet, bahasa maduranya keburu. Mereka kepengen uang dari Amerika atau dari Cina segera cair. Dulu di jaringan Islam liberal Ulil Abshor yang ditampilkan walaupun pemikiran-pemikirannya sudah ada sebelumnya. Saya tidak enak menyebutnya. Ulil Abshar lalu ditampilkan. AlhamduliLlah saya Najih Maimoen ikut melawan, akhirnya tidak laku. Akhirnya ia dimarahi sama Amerika, pulang dengan tangan hampa. Akhirnya dia pindah ke Partai Demokrat dan mencalonkan diri jadi DPR, AlhamduliLlah tidak jadi. Sekarang dia blangkonan jadi Islam Nusantara.
Jadi inilah bangsa kita. Dari dulu ya begini. Ada sebagian orang tidak bertanggung jawab dari bangsa kita. Istilahnya “londo pesek” (Belanda pesek). Mereka cari uang, ngemis-ngemis atau cari sisa-sisa uang dari Belanda. Jadi jagoan, jadi orang sakti, dan seterusnya. Orang nasionalis atau yang benar-benar memperjuangkan negara, rakyat, atau bahkan Islam itu berdikari atau bertawakkal kepada Allah sebesar-besarnya.
Pada zaman penjajahan Belanda dahulu belum ada PBB. Sekarang ini di era modern PBB menjadi rebutan antara kekuatan Amerika, Rusia, dan Cina. Sekarang mereka rebutan di Pulau Malaka. Rezim sekarang diming-imingi dapat segini dari Cina, dapat segini dari Amerika, dan seterusnya. Bahkan saya dengar Indonesia mau dibagi enam. Na’udzubiLlah.
Saudara-saudara. Walhasil, ini semua dari Allah Ta’ala. Sama dengan dulu waktu tahun 1965 atau 1964 PKI mau menghabisi ulama, kiai, atau agamis Islam di Indonesia, lalu tulisan tentang perintah melakukan hal itu tersebut jatuh di jalan. Akhirnya ditemukan oleh seseorang lalu disebarluaskan bahwa detik-detik ini akan terjadi pembantaian kepada ulama. Jadi sebelum hari eksekusinya sudah konangan terlebih dahulu. Padahal seperti kita tahu organisasi komunis itu sedemikian canggihnya, aparaturnya, sistematisnya, dan lain sebagainya. Jadi peristiwa itu adalah anugerah Allah.
Kemarin ketika saya ikut Ijtima’ Ulama 2 di Jakarta, Pak Prabowo bilang, “Untungnya Ahok itu omongannya kasar-kasar.” Saya sendiri agak mangkel, kasar kok untungnya? Maksudnya ya ini, kalau tidak segera keluar keburukannya malah tidak segera terlihat. Bangsa kita ini terlalu polos atau lugu. Terlalu banyak husnuzzhan. Kalau tidak kelihatan langsung buruknya sekalian mereka tidak paham-paham. Tapi yang repot itu yang membangkitkan kita untuk melawan Ahok malah sekarang minta maaf sama Ahokers. Kita kecewa. Bukan karena keulamaannya, kita menghormati ulamanya. Akan tetapi karena pribadinya, kok gampange digoyang begitu saja. Kita tidak boleh ngrasani ulama, pribadi atau mentalnya saja yang kita bahas. WaLlahu A’lam bi al-shawab.”
Setelah memberikan muqaddimah, Abah Najih lalu membacakan dan menjelaskan makalah tentang Islam Nusantara yang telah beliau tulis dan dibagikan kepada peserta seminar. Dalam pembacaan makalah tersebut beliau memberikan penjelasan seperlunya. Berikut adalah keterangan tambahan beliau di beberapa paragraf dalam makalah.

Islam Nusantara dan Kasus Adu Jotos pada Muktamar Jombang
Penggalan makalah: Kenyataannya dalam Muktamar Jombang terjadi kisruh, bahkan sampai adu jotos yang tidak pernah terjadi pada muktamar-muktamar sebelumnya. Bagaimana konsep ini yang katanya memberikan kedamaian untuk peradaban Indonesia dan dunia, sementara di dalam tubuh NU saja sudah menimbulkan kisruh antar warga NU sendiri?!
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Itu menunjukkan bahwa IsNus itu wajahnya mengedepankan toleran, namun di dalamnya dia mau menjotos atau menghabisi visi kita, menghabisi akidah kita. Na’udzubiLlah. Muktamar jombang yang akhirnya mengukuhkan Said Aqil itu memakai preman-preman bayaran secara jelas sekali. Itulah permainan-permainan gaya modern khususnya dari komunis. Katanya kemanusiaan tapi nyatanya menghabisi umat Islam secara fisik dan akidah.

Islam Nusantara Adalah Mengislamkan Nusantara
Penggalan makalah: Islam Nusantara sebenarnya gambaran Islam yang tidak perlu dipermasalahkan. Islam tahlilan, yasinan, ziarah kubur, tawassul, muludan dan lain sebagainya, inilah Islam Nusantara, sebuah tatanan yang sudah baku dan mengakar di tengah-tengah umat. Sebuah syari’at dan ajaran Islam yang dibawa para Walisongo untuk meng-Islamkan Nusantara.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Ini maksudnya adalah Islam Nusantara yang tidak liberal. Islam Nusantara buatan kiai-kiai dahulu artinya adalah Islam yang ada di Nusantara. Islam Nusantara itu aslinya adalah mengislamkan Nusantara, artinya tradisi-tradisi Hindu-Budha dijadikan Islami. Tidak menyembah berhala, tidak menyembah danyang-danyang, dan sebagainya.

Al-Quran Langgam Jawa dan Tasyabbuh bi Ahl al-Fisq
Penggalan makalah: Maka keliru jika Quraisy Shihab mengatakan ulama tidak memberikan kaidah baku dalam membaca Al-Quran. Tidak hanya sekedar indah dan benar tajwidnya, namun juga harus mengikuti adab memuliakan Al-Quran.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Jadi lagu-lagu saja atau orkes itu dilarang karena menyerupai ahlul fisq (orang fasiq), apalagi ini membaca Al-Quran yang sakral. Tidak boleh kita membaca Al-Quran di tengah-tengah peminum khamr dan alat malahi (musik). Malah saya punya kiai orang Jenu alumni Makkah lama, kalau ada resepsi pernikahan malah tidak boleh membaca Al-Quran. Alasannya karena resepsi adalah acara senang-senang dan mengobrol. Kadang-kadang membahas pengantinnya. Ketika nantinya ada yang baca Al-Quran, akhirnya Al-Quran dibaca di tengah orang-orang yang ghibah dan bersuka ria.
Saya bukan berfatwa seperti itu. Itu contoh cara menghormati Al-Quran. Maksudnya jangan membaca Al-Quran di tengah orang-orang yang nakal.

Pengaruh Budaya dalam Islam
Penggalan makalah: Selanjutnya, di situs news.merahputih.com pada Rabu 8 Juli 2015 menurunkan berita berjudul Quraish Shihab Setuju Islam Nusantara. Dalam artikel tersebut Quraish Shihab mengatakan bahwa Islam Nusantara bukanlah agama yang baru. “Ini pemahaman ajaran agama yang dipengaruhi budaya.”
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Kata Quraisy Shihab Islam Nusantara bukan agama baru, namun pemahaman baru yang dipengaruhi budaya. Jadi bukan agama, ya bid’ah namanya.
Penggalan makalah: Dia mengatakan, al-Qur’an harus dipahami sesuai dengan konteks budaya dan ilmu pengetahuan yang berkembang. Dia mencontohkan, kaum perempuan, baik dari Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, pada zaman dahulu tidak memakai jilbab karena menganggap kebaya adalah pakaian terhormat. “Kemudian, bisa jadi di negeri-negeri yang airnya kurang ulama-ulamanya membolehkan bertayammum saja,” sambung mantan Menteri Agama ini.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Jadi menurut Quraisy Shihab budaya berpengaruh dalam hukum. Padahal Islam itu universal. Memang sebagian Syari’ah Islam dari budaya Arab, tapi bukan semuanya dari budaya Arab. Budaya Arab tersebut adalah sisa dari agama Nabi Ibrahim. Tapi kalau budaya Arab seperti buka-bukaan atau membuka aurat ketika thawaf jelas dihilangkan oleh Islam. Kalau budaya ikram al-dliyafah (memuliakan tamu), syaja’ah (keberanian), dan hilm (kedermawanan) itu ditetapkan oleh Al-Quran. Bahkan sumpah rojopati (qasamah) adalah budaya dari Sayyid Abdul Muthalib ketika mengundi anaknya saat akan disembelih kemudian dilakukan undian sampai limapuluh kali kocokan, dan akhirnya yang menang adalah unta. Diyat seratus unta juga dari Sayyid Abdul Muthalib ketika mau membunuh anaknya karena nadzar, lalu orang-orang Quraisy berkata, “Jangan begitu. Nanti setiap ada orang bernadzar untuk menyembelih anaknya akhirnya disembelih beneran. Marilah melakukan sumpah terlebih dahulu. Marilah kita ke dukun-dukun, apakah bisa diganti tebusan unta atau apa.” Akhirnya nadzar tersebut ditebus dengan seratus unta.

Islam Nusantara dan Jilbab
Penggalan makalah: Dari keterangan diatas, terlihat sekali bahwa Quraish Shihab berupaya menginjeksikan pendapatnya tentang jilbab adalah budaya bukan kewajiban agama dalam menerangkan tentang Islam Nusantara. Dia mengatakan bahwa jilbab termasuk pemahaman ajaran agama yang dipengaruhi budaya, yang berarti penggunaan jilbab dipengaruhi oleh tradisi masyarakat yang dapat selalu berubah hukumnya.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Tadi dikatakan bahwa perempuan NU dan Muhammadiyah zaman dulu kelihatan auratnya karena dianggap kebaya itu sudah cukup dan terhormat. Sebetulnya itu kan perilaku orang-orang dulu. Perilaku itu bukan menjadi hujjah. Yang menjadi hujjah adalah dalil-dalil. Adapun ulama-ulama dahulu begitu mungkin belum banyak produk-produk gamis dan jilbab. Memang untuk berdakwah kepada masyarakat umum kalau terlalu ketat mereka pada lari, atau nanti dianggap orang Arab dan kurang supel kepada orang Jawa. namun hal itu tidak bisa menjadi hujjah. AlhamduliLlah sekarang sudah ada produk-produk jilbab, masa’ tidak kita pakai?

Penertiban Adzan di Masjid dan Mushalla
Penggalan makalah: 4. Lembeknya perhatian atau reaksi terhadap wacana akan diundang-undangkannya penertiban adzan ditiap masjid dan mushala.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Ini dari Menag begitu. NU tidak keras melawannya. Kita dengan rezim ini ingin dijadikan seperti di Singapura. Tidak boleh adzan yang keras. Sekarang sudah terjadi, bukan hanya mungkin. Banyak terjadi masjid-masjid digusur, alasannya pelebaran jalan tol. Kecuali kalau masjid bagus atau masjid kuno, maka tidak digusur dan digunakan untuk wisata. Orang-orang Belanda masuk kesitu.
Kemarin saya melihat orang Belanda masuk ke masjid Istiqlal dengan membuka aurat. Kalau dulu ketika saya di masjid Sultan Singapura memang ada orang Barat masuk tapi dengan diberi penutup aurat. Kalau di masjid Istiqlal tidak ada. Dan sekarang Istiqlal sudah memasukkan penceramah-penceraman Syia’h karena kepala imam besarnya yaitu Nazaruddin Umar adalah orang liberal. Dia dijadikan imam masjid besar Istiqlal. Ngeri sekali. Kampanye vaksin di baliho-baliho itu kan dari Nazaruddin Umar bekerjasama dengan Polri.

KH. Ma’ruf Amin dan Pilpres
Penggalan makalah: 6. Dulu KH. Ma’ruf Amin berfatwa untuk tidak memilih pemimpin yang suka ingkar janji. Tapi sekarang setelah “dijongkrokno” (dijerumuskan) oleh Muhaimin Iskandar, Said Aqil, Romahurmuzi dan kawan-kawannya, beliau berubah haluan bahkan membuntuti Jokowi sebagai calon wakil presiden. Padahal dibalik itu, yang paling banyak dapat keuntungan kontrak politik dengan cukong dan bos-bosnya adalah para penjerumus beliau itu. Dan sangat disesalkan ketika Rais Am ikut meramaikan panggung politik Indonesia. Padahal ormas NU mengaku sudah lepas dari politik praktis, maka seharusnya tokoh besar organisasi yang bergerak dalam bidang keagamaan ini tidak ikut pencalonan dalam Pilpres 2019. Parahnya lagi beliau adalah Mufti tertinggi (ketua MUI Pusat) di negeri ini, tidak mau melepaskan jabatan MUI-nya tetap ikut nyalon sebagai Wapres. Justru ini menunjukkan besarnya ambisi kekuasaan, sehingga menjadikan fatwa-fatwanya terasa basi karena ditekan atau dikendalikan penguasa dan akhirnya dianggap angin lalu belaka.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Jadi kami sangat menyayangkan bukan karena keulamaannya, tapi karena pribadinya kok gampang sekali terkena arus. Makanya kita harus waspada jangan terlalu gampang dekat-dekat dengan umara biar kita tidak mudah dibelokkan sana-sini, bahkan didiskon jadi buntut, dan sebagainya.
Setelah pembacaan dan penjelasan makalah selesai, lalu dibukalah sesi tanya jawab dari peserta seminar tentang topik yang diperbincangkan. Cukup banyak pertanyaan yang disampaikan oleh para hadirin melalui tulisan yang diberikan kepada panitia, dan Syaikhina Najih menanggapi serta menjawab seluruh pertanyaan tersebut. Demikian pertanyaan yang masuk sekaligus jawaban dari Abah Najih.

Tentang Hadits Khairul Umara dan Syarrul Ulama
Pertanyaan: Apa ini hadits atau sabda ulama:
خير الأمراء الذين يزورون العلماء وشر العلماء الذي يزورون الأمراء
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Yang saya ingat ini memang hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, hanya saja sanadnya bagaimana begitu. Selain itu, terkadang ulama membuat kalimat yang menyimpulkan hadits-hadits yang banyak. Jadi seumpama ini bukan hadits maka ini adalah kesimpulan ulama dari beberapa hadits. Banyak sekali hadits yang mendukung makna hadits ini. Jadi tidak usah diperdebatkan. Yang jelas hadits ini dari Kanjeng Nabi langsung secara lafazhnya atau mungkin hanya secara maknanya.
Makna hadits ini bahwa sebaik-baiknya umara adalah yang sowan kepada ulama. Kalau Habib Taufiq mengatakan bahwa sowannya untuk minta nasehat, bukan minta dukungan. Kemarin Pak Prabowo di ndalem Mbah Maimoen bilang, “Saya tidak cari dukungan. Saya diterima menjadi tamunya beliau sudah terhormat sekali. Saya hanya minta doa.” WaLlahu A’lam.
Sebaliknya, sejelek-jeleknya ulama adalah yang ziarah ke umara, artinya ziarah minta proposal. Kalau ziarah untuk menasihati ya boleh-boleh saja, tapi ini sangat berat. Nanti niatnya menasehati malah dicekoki akhirnya melempem dan hanya untuk publikasi, “Saya yang menasehati umara.” Padahal sudah kongkalikong.

Ulama Pecah Karena Pilpres?
Pertanyaan: Ada Ittifaq Ulama, ada Ijtima’ Ulama, ada Majelis Ulama. Apakah ulama sudah pecah karena pilpres? Apakah ulama harus ikut politik atau sebagai panutan umat?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Ini pertanyaan gimana ya? Terserah yang menafsiri masing-masing. Apakah pecah ya memang pecah. Tapi kalau ulama yang konsisten saya kira tidak pecah. Saya akan membantu yang lebih ringan madlaratnya. Rezim sekarang membantu Cina besar-besaran, membantu infrastruktur besar-besaran, menggusur banyak masjid. Nanti menyembelih Islam dengan gampangnya. Klo dulu PKI kesulitan menyembelih ulama karena belum baik jalannya, sekarang tinggal maju saja.
Infrastruktur itu hutangnya banyak dengan Cina. Uganda sudah menggadaikan negaranya kepada Cina. Jadi Cina besar-besaran mencaplok Asia-Afrika. Kalau dulu dikatakan Indonesia mau dijadikan “Tibet kedua”. Bukan hanya itu saja. Negaranya sudah akan digadaikan menjadi tempat Cina. Lha Cina sekarang ingin menggantikan etnis Sunda. Makanya infrastuktur dibangun besar-besaran agar ada kereta super cepat antara Jakarta dan Bandung untuk hal itu.
Jadi kita bukan fanatik Prabowo mesti orang shalih, bukan. WaLlahu A’lam kita tidak tahu. Tapi kalau habib ini mestinya kalau ikut Habib Rizieq mestinya ittiba’ pada Habib Rizieq saja.

Duduk Bersama Tokoh Islam Nusantara (?)
Pertanyaan: Kalo memag isnus visi-misinya tdak sesuai dg ajaran islam, knapa tdak diajak duduk bersma oleh pra tikoh2 itu? Krn msyarakat bwah buta masalah tema tersebut. Bagi masyrakat bawah yg penting islam berjalan di masyarakat. Klo yg disampaikan ke masyarakat msalah pro-kontra antar ulama maka masyarakat kmbali bingung.
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Saudara-saudara. Kalau kita musyawarah siap-siap saja, tapi masalahnya ketika publikasi atau yang men-shooting kadang-kadang kalau mereka sudah kalah nanti dipublikasikan kita yang kalah. Ini sering terjadi. Seperti dulu Said Aqil dihakimi di rumahnya Kiai Ali tapi seolah-olah Said Aqil yang menang. Bolak-balik selalu begitu. Said Aqil banyak memakai diplomasi. “Saya bukan Syi’ah”. Padahal sudah jelas-jelas banyak bukti video bahwa dia orang Syi’ah. Saya sendiri sudah lama sekali melawan Said Aqil.
Jadi masalahnya ada pada publikasi, yang meliput dan sebagainya. Kita kalah sekali di media. Kalau masyarakat yang datang sendiri AlhamduliLlah. Seperti kita dulu di universitas di Malang bersama Kiai Akhyar, kita diajak agar menerima Islam Nusantara. Dia berdalih sekarang ini Indonesia mau dijadikan rebutan oleh radikalis, artinya Wahabi. Saat itu saya memberi pernyataan diplomasi, kalau Islam Nusantara dipegang selain liberal maka saya menerima. Maksudnya kalau dipegang sama orang liberal saya tidak menerima. Tapi di sebuah situs dikatakan saya sudah menerima.
Jadi masalahnya kalau bermusyawarah liLlahi Ta’ala oke.
أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا [سبأ : 46]
Di Al-Quran dikatakan, “Ayo dzikir satu atau berdua.” Musyawarah yang niatnya liLlahi Ta’ala oke. Tapi kalau musyawarah karena ada kepentingan maka justru kita di dalam mungkin menang tapi diluar kita dikalahkan. Permainan-permainan itu kita harus tahu sampai sekarang.

Sumbar dan Riau Menolak Islam Nusantara
Pertanyaan: Ranting NU Alas Tengah: Kalau Sumbar dan Riau menolak Islam Nusantara, mengapa Jawa tidak ikut? Paling tidak kita harus berdoa agar tokoh NU yang keluar dari sikap pendiri NU dikenakan adzab oleh Allah Ta’ala, karena dia kurang ajar. NU sudah dijual. GP Ansor sekarang sering membela yang diluar Sunni. Bagaimana pertimbangan kita?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Ini pendapatnya benar, akan tetapi masalahnya Anda kan Ranting NU. Kalau Anda terlalu keras anda dicopot. Kalau siap dicopot AlhamduliLlah lakukan saja. Tapi repotnya tadi, postingannya seolah-olah kita pemberontak, radikal, ditunggangi HTI, dst. Itu masalahnya. Repotnya itu di publikasi. Kita sekarang ini sudah niat membahas problematika Islam Nusantara berarti kita menolak, kan? Sudah sepakat sekarang ini kita menolak, AlhamduliLlah. Argumen-argumennya sudah terlalu banyak. Cuma kubu sana saja yang:
صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ [البقرة : 171]
Silahkan Ranting NU berdoa begitu, yang penting harus waspada. Saya tadi sudah bilang mereka itu pake preman, pake teroris. Jadi teroris itu bukan hanya radikal atau ISIS saja. Teroris itu ya komunis. Teroris pertama itu Yahudi.
وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ [آل عمران : 112]
Mereka yang sukanya membunuh para nabi. Teroris itu semua bikinan Yahudi.
Menanggapi Habib Abdurrahman Ba’ali bahwa kita harus wafa’ bil ‘ahdi (menepati janji), harus istiqamah (konsisten), harus ta’awun (bekerjasama), dsb. Wafa bil ‘ahdi itu kita menerima Pancasila yang sebelum reformasi, karena di reformasi Pancasila direvisi. Ini yang berbahaya. Di Undang-undang Dasar 1945 syarat presiden harus warga indonesia asli. Ini dicoret, berubah syaratnya harus punya KTP Indonesia. Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un. Ini semua bukan hanya ulah Amien Rais saja. Semua waktu itu yang ada di DPR-MPR terlibat dosanya. Marilah kita taubat, marilah kita kembalikan Pancasila kepada aslinya. Kita pakai warga Indonesia asli itu kemenangan kita. Jangan sampai orang Cina. Tapi kalau direvisi maka orang Cina seperti Ahok bisa jadi presiden. Na’udzu biLlah min dzalik.
Banyak revisi dan perubahan itu, banyak sekali. Masalah ekonomi dan seterusnya. Orang Cina seenaknya punya kekuatan, punya ekonomi besar-besaran. Orang Cina bisa punya tanah seluas-luasnya. Orang bukan Indonesia bisa menguasai sepertiga Indonesia. Na’udzu biLlah. Ini sudah terjadi.

Pemanfaatan Bunga Bank
Pertanyaan: Rizki kita dari bunga bank jika digunakan untuk membeli bensin dan sebagainya, bukankah itu sama saja dengan memanfaatkannya? Apakah hal tersebut tidak termasuk menggunakan rizki yang syubhat?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Hal tersebut memang memanfaatkan, akan tetapi selama kita tidak punya simpanan banyak di bank atau tidak banyak-banyak. Tadi sudah saya katakan banyak boleh asal darurat. Jadi kalau Anda sebagai pedagang harus punya rekening, jika hanya untuk sekedar transfer jelas boleh. Kalau Anda menyimpang banyak-banyak disitu maka itulah yang membantu riba. Tapi kalau sekedar jual beli, maka semua uang dari bank. Ini semua kondisi darurat, maka tidak masalah. Yang penting tidak menyimpan banyak-banyak di bank. Kalau simpanan sedikit saja untuk kepentingan darurat rekening maka boleh, karena simpanan rekening seperti itu kan tidak jalan. WaLlahu A’lam. Saya tidak tahu. Kalau menyimpan sedikit saja karena darurat dan sesuai kadar daruratnya semoga dimaafkan selama ada shadaqahnya.
Jadi maksudnya hukum asli bunga bank tetap haram, akan tetapi kita sering kedatangan dan diberi uang oleh seseorang. Maka jelas dia punya rekening. Ini maklum. Itu merupakan hal yang darurat atau gimana, hal yang tidak bisa dihindari.

Pemaknaan Islam Nusantara
Pertanyaan: Pemahaman Islam Nusantara yang benar itu bagaimana? Karena ada ikhtilaf antara para tokoh ulama. Disamping itu konon ada hadits bahwa ulama yang dekat penguasa adalah pencuri, di satu sisi tanpa ulama penguasa menjadi diktator. Bagaimana solusinya?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Islam Nusantara yang benar dan tidak kita permasalahkan adalah Islam Nusantara yang artinya Islam yang alus dan tidak radikal. Itu benar. Dalam arti orang Jawa ini punya tradisi yang terkadang syirik, pemborosan, keplekan (judi), minum khamr, sinden-sinden, joget-jogetan, dan seterusnya. Lha dalam Islam Nusantara ini tradisi ada syiriknya dibuang lalu diganti tahlilan, dzibaan, marhabanan, dan seterusnya. Itulah Islam yang InsyaAllah benar. Artinya Islam yang dibawa oleh ulama Nusantara, oleh para Walisongo. Ini kita terima.
Tapi kalo Islam Nusantara diartikan kebebasan, semua agama dibenarkan, tradisi-tradisi yang baru seperti menjaga gereja, dan bid’ah yang dubuat oleh tokoh-tokoh IsNus maka kita tolak. Apalagi mengatakan semua yang baik dengan kita dianggap saudara. Yang baik dengan kita boleh dipilih walaupun non-Muslim. Itu yang kita tolak. Islam Nusantara yang benar tadi sudah ditunggangi oleh liberal, itu masalahnya. Bukan masalah pro dan kontra. Jadi memang kita menolak, bukan sekedar kontra.
Ulama dekat penguasa adalah pencuri, benar menurut hadits. Tapi di satu sisi tanpa ulama penguasa menjadi diktator. Bagaimana solusinya? Semestinya kita tidak harus menjadi mitra penguasa yang diktator itu. Justru kalau kita menjadi mitranya maka kita akan menjadi masukan dalam kediktatoran, menjadi kedok dan alat saja kita ini. Menurut saya diktator itu harus kita lawan dengan menjauhi mereka, jangan memilih mereka. Kalau mereka menggunakan ulama ini hanyalah tipu muslihat belaka. Dan mereka mencalonkan dan menggiring bapak Ma’ruf Amin kan sudah mepet sekali, tidak dari pertama. Megawati pernah bilang PDI-P tidak butuh suara umat Islam. Tapi dengan cara-cara begitu itu akhirnya umat Islam sebagian besar NU mungkin, semoga tidak dan hanya elitnya saja, merasa harus membela jokowi karena ada Kiai Ma’ruf. Tapi itu kan kepepet. Mendadak sekali. Itu jelas-jelas permainan. Kita harus waspada.
Kenapa bapak Ma’ruf Amin bisa begitu? Karena sebelumnya Kiai Ma’ruf sudah diberi mandat untuk masuknya bank-bank rakyat di pesantren. Tidak dengar itu? Di Sarang tidak ada. Di Jombang, bahkan di Jawa Barat sudah banyak. Ada bank-bank kemasyarakatan dikelola oleh pesantren, itu dikelola oleh ma’ruf amin. Makanya waspada dengan jaringan bank-bank itu. Jangan kita yang mengurus, kita saat darurat dan seperlunya saja. Tidak usah punya bank. Kalau punya bank nanti kita yang menjadi korbannya diktator, komunis, dan seterusnya.

Banser Menjaga Gereja
Pertanyaan: Banser menjaga gereja ada yang membolehkan dengan alasan menjaga keamanan dan toleransi. Ada yang mengharamkan karena beda agama, lakun dinukum waliya din. Tindakan yang benar bagaimana?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Tidakan yang benar adalah kita mengharapkan aslinya mungkin mereka punya alasan menjaga negara, UUD 45, dan seterusnya. Akan tetapi mereka (aparat keamanan negara) saja sudah cukup. Kenapa kita ikut menjaga? Dan kenapa Polri juga tidak adil? Kenapa gereja yang dijaga, tapi masjid kok tidak dijaga? Seolah mereka punya opini, bahkan bukan seolah-olah lagi, bahwa radikal itu hanya di Islam saja. Teroris hanya di Islam saja. Lho, PKI apa bukan teroris? Apakah komunis bukan radikal? Ini semua sudah terkena virus komunis, liberalis, dan seterusnya.

Islam Nusantara Menggerus Ghirah Islamiyah
Pertanyaan: Bukankah dalam makalah ini disebutkan bahwa beberapa hal yang tidak sepihak dengan kita itu dikarenakan beberapa orang lberal yang menumpang di Islam Nusantara. Lalu mengapa Islam Nusantara yang disalahkan?
Selanjutnya, di awal makalah disebutkan bahwa Islam Nusantara sama dengan Walisongo. Bukankah cukup dengan menyingkirkan mereka yang kontroversial sama seperti masuknya liberal ke beberapa mazhab fiqih?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Saya jawab satu-satu. Ya maafnya, tadi sudah saya bilang berulang-ulang Islam Nusantara itu terkadang maknanya benar, yaitu menghidupkan tawassul, dzibaan, thariqah, ngaji kitab, dsb. Sudah maklum. Di negara-negara lain sekarang yang sudah jarang itu ngaji kitab, apalagi dzibaan dan seterusnya. Hal ini bagus dan itu yang dibawa oleh Walisongo. Tapi masalahnya Islam Nusantara yang sekarang ini proyek dari Said Aqil dkk yang disetujui oleh Jokowi, “Islam kita ini toleran dan ramah tamah”, biar kita menghadapi komunis dan Cina tidak garang seperti dulu. Tidak punya ghirah Islamiyah.
Dulu zaman 60-an apalagi zaman 50-an atau zaman Belanda bangsa kita walaupun orang yang tidak shalat saja kalau tahu Islam dicaci-maki langsung marah dan berani membunuh yang mencaci-maki Islam itu. Dulu kan begitu. Sekarang dihilangkan ghirah Islamiyahnya. Sudah terdengar kemana-mana bahwa ciri khas Islam Nusantara adalah mauludan dan dibaan yang kelihatannya ramah, tapi kalau Islam dicaci-maki lalu marah. Kemarahan ini yang mau dihilangkan.
Jadi Islam Nusantara asalnya bisa dikatakan baik, tapi setelah ditunggangi liberal ini maksudnya agar kita tidak punya marah. Tidak punya ghirah Islamiyah sama sekali. Semuanya dianggap baik. Bahkan kita bisa dzibaan di gereja. Orang gereja nanti bisa nyanyi-nyanyi di masjid. Na’udzu biLlah min dzalik.
Seperti itulah. Ketika komunis akan datang kita katakan sebagai saudara, padahal dia membunuh teman. Bukan membunuh saja, bahkan masjid-masjid dihilangkan. Sejarah ini akan dihilangkan di dalam ‘izzul Islam wal Muslimin di Indonesia. Kita tidak punya negara Islam. Zaman dulu kita punya kerajaan Islam tapi ya mlempem dan seterusnya. Kita ini dididik ulama dulu untuk benci kepada penjajah, keecuali yang memang dimasukkan ke penjajah. Ada kiai yang dimasukkan ke kota untuk menjadi naib, tapi itu politik saja biar tahu rahasia-rahasia Belanda. Dulu canggih malah. Sekarang ini amburadul, ini adalah yang membahayakan.
Makanya kita tolak Islam Nusantara dengan artii bid’ah yang baru-baru ini. Bukan yang shalat, tahlilan, dan dzibaan itu.
Tentang menyingkirkan liberal dari tubuh NU, yang kontroversial ini sudah menguasai NU. Inilah yang jadi masalah. Kita tidak bisa apa-apa. Makanya sebagian ingin buat NU tandingan, saya bilang jangan, tidak ada gunanya. Disana dananya lebih kuat, kita tidak bisa apa-apa. Disana itu tidak pernah cari uang dari rakyat, tapi selalu punya uang. Kalau kita ini kan masih cari infaq seperti AUTADA ini. Kalau sana tidak, ada yang membiayai. Kita dalam publikasi akan selalu kalah. Sudahlah, kita apa adanya. Inilah NU yang substansi, yang sana NU yang cari uang. Begitu saja.
كمبتغي جاه ومالا من نهض
Kalau kita:
كمبتغي صفاء وحسن خاتمة، إن شاء الله
Kita cari kebenaran, cari kemurnian, dan cari akidah yang benar agar anak cucu kita terselamatkan. Allahumma amin.

Bahtsul Masail PBNU Jateng tentang Islam Nusantara
Pertanyaan: Bagaimana tanggapan kiai terkait hasil keputusan bahtsul masail PBNU Jawa Tengah terkait Islam Nusantara?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Saya bukan anggota NU, jadi saya tidak tahu keputusannya. Tapi paling-paling ya menerima dan mendukung karena ada proyek dan ada dananya. Cari ibarat (dalil) yang membenarkan. Dan itu, Ya Allah, paling-paling dalilnya adalah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء : 107]
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Padahal itu artinya apa? Ayat sebelumnya berbunyi:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ [الأنبياء : 105]
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS. Al-Anbiya: 105)
Jadi orang yang shalih adalah yang menguasai bumi ini. Menurut hadits-hadits adalah zaman Imam Mahdi. Jadi orang shalih dijamin Allah masih ada dan nanti sewaktu-waktu akan berkuasa di bumi. Sebelum Imam Mahdi tentunya ada, namun entah dimana. Kalau di hadits-hadits ada di Khurasan dan seterusnya. Tidak ada haditsnya di Indonesia akan ada Negara Islam, itu tidak ada. Tapi kita tidak boleh putus asa. Kita walaupun bukan Negara Islam, bukan semuanya hamba-hamba yang shalih, semoga kita berada seperti halnya harapan ulama-ulama dulu bahwa kita orang-orang shalih akan menguasai bumi Indonesia lalu menghantarkan Imam Mahdi. Allahumma amin. Itu adalah harapan kita. Semoga dikabulkan oleh Allah.

Mahar dengan Melantunkan Ayat Al-Quran
Pertanyaan: Bagaimana ketika wanita meminta mahar kepada calon suaminya dengan lantunan ayat Al-Quran?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Mahar tersebut ada di hadits:
أنكحتك مع ما معك من القرآن
“Aku nikahkan dirimu dengan mahar hafalanmu dari Al-Quran.” (HR. Abu Ya’la, juz 13 hlm. 435)
Misalnya dulu ada perempuan ingin menghibahkan dirinya kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Rasulullah melihat dari atas, tengah, dan bawah tidak ada yang bikin hasrat Kanjeng Nabi. Akhirnya ada shahabat yang melarat berkata, “Kalo Anda tidak mau menikahinya, nikahkan dengan saya saja dengan izin Anda, Ya Rasulullah.” Rasulullah bertanya, “Apa yang kamu punya?” Dia menjawab, “Satu sarung saja.” Sarungnya besar tapi satu, tidak ada tambahannya. Maka Rasulullah bersabda, “Iltamis walau khataman min hadidin (nikahilah meski dengan mahar sebuah cincin besi)”. Akhirnya dicari dari keluarganya tidak ada. Dia lalu berkata, “Ma indi illa izari (saya tidak punya apa-apa kecuali sarung saya ini).” Rasulullah bersabda, “Wah, kalau dibagi dua gimana jadinya? Kelihatan nanti auratnya.”
Akhirnya Kanjeng Nabi bertanya, “Apa yang kamu hafal dari Al-Quran?” Dia menjawab, “Al-Baqarah, Ali Imran, dan Al-Nisa.” Akhirnya Rasulullah menikahkannya.
أنكحتك مع ما معك من القرآن
“Aku nikahkan dirimu dengan mahar hafalanmu dari Al-Quran.” (HR. Abu Ya’la, juz 13 hlm. 435)
Mahar berupa Al-Quran ini artinya Al-Quran diajarkan hingga hafal, dibacakan sedikit-sedikit biar hafal. Kalau dibaca saja apalagi dengan lagu, itu bukan termasuk mahar. Masa’ ada orang menikah maharnya membaca dengan lantunan Al-Quran? Kan tidak ada. Yang dimaksud adalah disuruh menghafalkan. Hafalan lelaki diajarkan kepada istrinya.
Selanjutnya Al-Quran tidak boleh dibaca ketika bersenang-senang, maksud guru saya tadi ketika sibuk makan dan minum. Resepsi kan makan minum, itu maksudnya. Tapi kalau sekedar membaca di kamar dan punya wudlu, waktu akan kumpul dengan istrinya, saya kita tidak apa-apa. Asal tidak pas kumpul saja.

Menghindari Vaksin
Pertanyaan: Dalam bahayanya Islam Nusatara masalah vaksin itu sudah mendunia bahkan di desa-desa. Seakan diwajibkan oleh pemerintah setempat. Lalu bagaimana cara menghindari dan memberantas tradisi demikian sebagai generasi NU?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Tadi dalam Mabadi’ Khairu Ummah disebutkan istilah ta’awun. Saya sangat berterima kasih, ini pencerahan. Mungkin bisa dimusyawarahkan nanti oleh pengurus AUTADA. Bahwa vaksin sudah mendunia tadi artinya sudah nasional dan memasyarakat di Indonesia. Di Eropa dan Amerika tidak ada vaksin itu.
Jadi cara menghindarinya adalah Anda tegas kalau diminta, katakan bahwa ini adalah tanggung jawab saya. Masalah kesehatan itu tidak ada paksaan. Saya menjadi orang tua bertanggung jawab sepenuhnya. Saya menolak untuk vaksin. InsyaAllah dicarikan madu atau apalah yang membuat anak sehat. Air susu ibu (ASI) itu yang paling sehat untuk membuat anak sehat. Kita sering melupakan air susu ibu. Ibunya saja yang diberi makanan yang sehat-sehat biar air susunya sehat dan bisa menyehatkan anaknya. Saya kira vaksin itu tidak baik.

Menanggulangi Islam Nusantara
Pertanyaan: Bagaimana cara kami menyebarkan kepada saudara-saudara NU agar tidak terjerumus dalam bahaya Islam Nusantara sebagai bukti ta’awun kita dalam Mabadi’ Ahlissunnah (sifat-sifat pokok Ahlussunnah)?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Suruh baca buku ini, dan seterusnya. Suruh waspada bahwa organisasi melindungi hal yang disusupkan kepadanya itu biasa. Zaman Ali dan Muawiyah saja dulu ada susupan. Ada pemberontak kepada Utsman. Itu biasa. Marilah kita waspada. Marilah kita pondokkan saja anak-anak kita, InsyaAllah pondok yang kiainya paham tentang susupan-susupan itu. Baik dengan luar tapi tidak terlalu baik. Jangan terlalu percaya dengan luar. Marilah kita percaya dengan apa yang kita miliki. Pesantren, aset-aset pesantren, dan akhlak karimah. Bagaimana kita menjaga anak-anak kita agar ta’allum li ajliLlah (belajar untuk Allah), bukan karena pangkat, bukan karena menjadi pengurus, apalagi kemudian dibawa ke partai, dan seterusnya.

Ikhtitam
Setelah sesi tanya jawab selesai, Syaikhina Muhammad Najih memberi tambahan terakhir sebagai penutup pemaparan beliau. Berikut cuplikannya:
“Saya malu sebetulnya kesini. Tadi saya disindir gimana tanggapan Anda dengan keputusan PBNU Jateng tentang Islam Nusantara. Saya bilang paling-paling membenarkan atau cari pembenaran. Saya itu malu sebagai orang Jawa Tengah karena orang Jateng itu pedenya besar. Dari dulu PKI ini memberontak di Madiun, tapi yang besar itu di Jateng. Di Blora. Purwodadi, dan seterusnya. Kadang kita terkecoh. Muhammadiyah itu munculnya dari Jogja, tapi besarnya di Solo. Muncul itu belum tentu yang paling besar. Munculnya PKI di Madiun, tapi besarnya di Jawa Tengah. Jadi saya ngrasani NU mlempem, apalagi NU Jawa Tengah. Saya merasa begitu. Tadi dibilang Nuril Arifin tetangga saya. Memang dia di Semarang. Tapi dulu dia ketuanya pasukan berani mati, maksudnya semua orang sudah tahu bahwa komandonya dari Jawa Timur. Tapi walhasil begitulah, kami malu orang Jateng belum bisa membuat seperti AUTADA ini. Kami hanya bisa bil lisan. Jadi kalau ditanya bagaimana caranya menyebarluaskan, ini sudah ada AUTADA. Tinggal tanya sama AUTADA agar disebarkan dai-dai agar waspada umat ini dari bahaya komunis, kristenisasi, dan abangan.
PDI ini sudah bekerjasama dengan partai komunis Cina. Ini mengerikan sekali kalau kita tahu. Reklamasi ini tdak hanya di Jakarta, tapi dimana-mana. Mereka ini ingin Indonesia dijadikan Singapura. Yang adzan tidak boleh keras, dan seterusnya. Saya pernah di Singapura melihat kuburan orang Islam dijadikan taman kota. Tanyakan orang Madura yang banyak di Singapura. Itu bisa ditanyakan. Ini mengerikan sekali.
Jadi saya salut sekali dengan himbauan terakhir agar waspada dengan rezim sekarang ini. Walaupun kita tidak tahu kalau diganti apakah bisa merubah, tapi InsyaAllah karena ada Habib Rizieq dan habaib lain dari orang-orang Islam kita harus husnuzzhan. Kita ini susahnya yang Ahlussunnah dan ikut Walisongo diliberalkan, yang anti tahlilan yang mengikuti paslon kedua. Susah. Kalau dari kita tidak ada yang di paslon kedua, apa jadinya negara ini? Andaikan paslon nomor dua ini menang. Kita harus pakai politik, disana dan disini. Seperti zaman dulu, ada yang melawan Belanda, ada juga yang gaya pro Belanda. Kalau gaya pro saja silahkan, tapi hatinya sama kita.

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons