Site Loader
Toko Kitab

 Syaikhina KH. M. Najih Maimoen Dawuh;
على نبي جاء بالتوحيد # وقد عرى الدين عن التوحيد
Sebelum Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama datang membawa tauhid, dunia atau agama-agama di dunia ini sepi dari tauhid. Artinya sudah cacat tauhidnya apalagi Musyrik, Yahudi, dan Nasrani. Saya sering sampaikan bahwa cacatnya teologi Nasrani adalah karena mereka punya itikad trinitas. Sedangkan kecacatan teologi Yahudi adalah karena tidak beriman kepada nabi-nabi selain nabi Musa. Keimanan mereka kepada nabi Daud pun hanya setengah-setengah saja karena beliau memiliki pangkat sebagai raja. Nabi Sulaiman dipercayai orang Yahudi tapi bukan karena perannya sebagai nabi, tapi lebih karena kerajaaannya. Bahkan Yahudi mengatakan nabi Sulaiman bisa menjadi raja lewat sihir seperti dalam Firman Allah Ta’ala:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ  [البقرة : 102]

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS. Al-Baqarah: 102)

Dalam berbagai literatur Asy’ariyah, Yahudi dikategorikan sebagai mujassimah yang mengatakan Allah itu jisim. Sedangkan menurut Nasrani Allah merupakan sebuah jauhar, yang implikasinya apabila jauhar maka berarti butuh hayyiz (tempat). Jisim itu selain butuh hayyiz juga butuh ajza’, dan hal ini menurut konsekuensi akidah Asya’irah adalah kufur.

فأرشد الخلق بدين الحق # بسيفه وهديه للحق

Bait ini sudah mencakup akidah bahwa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama datang menyebarkan agama ini menggunakan dua cara yaitu metode dakwah atau ta’lim (hadyihi li al-Haqq), seperti keterangan Firman Allah Ta’ala:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ [البقرة : 151]

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu), kami telah mengutus kepadamu rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, mensucikanmu, dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 150)

Serta dengan metode saif atau jihad fi sabiliLlah. Namu Rasulullah melakukan jihad setelah memiliki negara di Madinah dan tidak melakukannya ketika masih di Makkah. Karena itu, kelompok-kelompok radikal telah bertindak ngawur dengan mengadakan jihad namun belum punya kekuasaan, padahal mereka hanya seperti kelompok preman atau ishabah (kelompok-kelompok kecil) saja.

محمد العاقب لرسل ربه # وآله وصحبه وحزبه

Bait ini mencakup akidah bahwa Muhammad adalah nabi akhir zaman. Yang mengingkari hal ini jelas kufur, seperti orang-orang Ahmadiyah pengikut Mirza Ghulam Ahmad.

وكل من كلف شرعا وجبا # عليه أن يعرف ما قد وجبا

لله والجائز والممتنعا # ومثل ذا لرسله فاستمعا

Semua kitab-kitab tauhid Asya’irah dimulai dengan pernyataan ini, bahwa seorang Muslim harus tahu tentang al-ahkam al-‘aqliyah (hukum-hukum akal). Pakar-pakar tauhid membuat istilah ini untuk mengamankan akidah umat Islam dari tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk) dan tajsim (pemahaman Allah adalah jisim). Orang yang memiliki dua persepsi tersebut tidak tahu mana yang wajib, mustahil, atau jaiz  secara akal bagi Allah Ta’ala sampai berani tasybih maupun tajsim.

Secara pribadi mengamankan akidah seperti ini wajib, tapi jangan sampai kita gampang mengkafirkan orang. Kalau Yahudi Nasrani kita kafirkan maklum karena mereka tidak masuk Islam. Akan tetapi musyabbihah-mujassimah dari umat Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menurut kami tidak segampang itu dikafirkan.

Seingat saya di kita al-Raudhah karangan Imam al-Nawawi ada khilaf antar ulama Syafi’iyah apakah musyabbihah itu kafir atau tidak. Sebagian ulama berpendapat musyabbihah adalah kafir secara mutlak. Sebagian ulama lain berpendapat musyabbihah yang meyakini Allah adalah jism la ka al-ajsam (jisim yang tidak seperti jisim-jisim makhluk) maka tidak kafir, tapi yang meyakini jisim Allah seperti jisim manusia maka divonis kafir.

Namun bagaimanapun, tasybih adalah kesesatan yang harus diwaspadai. Adapun masalah kekufuran orangnya belum bisa kita tetapkan secara langsung karena harus melihat situasi dan kondisi di sekitar orang itu. WaLlahu A’lam.

Sama halnya dengan Syi’ah. Syi’ah itu sesat, tapi apakah mereka kafir? Hal ini masih belum jelas, apalagi Syi’ah Zaidiyah. Adapun Syi’ah Houtsi sekarang kok bisa sekeras itu mungkin karena disuplai oleh Iran. Syi’ah Itsna Asyariah yang benar-benar berakidah  bada’ dan meyakini Sayyidah Aisyah selingkuh, mari kita katakan kufur. Kalau hanya ikut-ikutan atau cari uang saja maka cukup kita katakan fasik, kecuali kalau orang tersebut getol mendakwahkan ajarannya dan semangat serta fanatik kepada akidah-akidah kufurnya. Akidah Syiah Iran itu banyak kufurnya, akan tetapi para pengikutnya kami keberatan dikatakan kafir kecuali apabila sudah tahu kesalahan ajarannya namun masih fanatik dengannya.

إذ كل من قلد في التوحيد # إيمانه لم يخل من ترديد

Seorang mukallaf wajib mengetahi mana hal yang wajib, jaiz, dan mustahil secara hukum akal. Hal ini karena orang yang imannya hanya taklid atau ikut-ikutan imannya mudah digoyah. Contohnya, kalau orang tidak tahu Allah itu bukan jisim, maka dia bisa mengikuti makna zahir beberapa ayat Al-Quran-Hadits yang terlihat menunjukkan tajsim lalu menetapkan tasybih dan tajsim kepada Allah. Akhirnya dia menjadi sesat atau mengikuti cara pandang Yahudi dan Nasrani.

ففيه بعض القوم يحكي الخلفا # وبعضهم حقق فيه الكشفا

Orang yang berislam secara taklid atau ikut-ikutan hukumnya khilaf. Orang yang beriman namun bukan lewat mengaji dalil-dalil keimanan itu ulama kita khilaf dalam menghukuminya.

وقال إن يجزم بقول الغير # كفى وإلا لم يزل في الضير

Ada sebagian ulama mengatakan bahwa apabila orang yang taklid tersebut yakin akan keimanannya maka sah imannya. Keterangan ini merupakan pendapat para ahli tahqiq (muhaqqiqun) dari kalangan Ahlussunnah yang diambil dari pendapat Tajuddin al-Subki. Ini adalah pendapat yang rajih (unggul). Alasan kaum Ahlussunnah menerima ini adalah Firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا [النساء : 94]

“Janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu. Maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Nisa’: 94)

Dan sabda Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:

من صلى صلاتنا واستقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فذلك المسلم الذي له ذمة الله وذمة رسوله (رواه البخاري)

“Barangsiapa shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat kita, dan memakan hewan sembelihan kita, maka dia adalah Muslim yang berada dalam tanggungan Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari)

Dalil ini ditolak oleh Muktazilah dengan mengatakan bahwa hadits diatas hanya untuk urusan hukum-hukum duniawi saja. Lalu ulama Ahlussunnah menjawab bahwa tidak ada pilah-pilah dalil dalam hal ini sehingga pengkhususan Muktazilah diatas menjadi keliru.

Pada awalnya ulama Ahlussunnah mengatakan bahwa keimanan muqallid adalah sah secara mutlak. Ini menurut Ahlussunnah kurun awal (mutaqaddimin). Namun dalam perjalanan pendapat ini lalu dikritik oleh Muktazilah dengan mengatakan tidak sah secara mutlak. Akhirnya ulama Ahlussunnah kurun akhir (mutaakhirin) melakukan tafsil seperti keterangan diatas.

واجزم بأن أولا ممن يجب # معرفة …

Menurut ahli Kalam Ahlussunnah kewajiban pertama kali seorang manusia adalah mengetahui wujudnya Allah. Jadi, dalam masalah hukum jelas yang wajib pertama kali adalah membaca syahadain. Tapi apakah membaca syahadain segampang itu tanpa didasari dengan pembuktian (istidlal) dan perenungan (nazhar) terlebih dahulu? Maka ulama ahli kalam mengatakan manusia wajib nazhar. Orang Arab kuno zaman dulu masih banyak sisa-sisa agama Ibrahim, artinya seumpama mereka tidak nazhar tetap masih mungkin mendengar sisa-sisa ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihi al-salam. Mereka bisa tahu bahwa nabi Ibrahim tidak menyembah berhala. Semua ini bisa dilacak dari sisa-sisa peninggalan tersebut. Tapi kita sebagai orang non-Arab (‘Ajam) jauh sekali dari tauhid Islam, sehingga cocok kebijakan ulama ahli kalam bahwa manusia wajib mengetahui Allah Ta’ala melalui nazhar.

… وفيه خلق منتصب

Ihwal kewajiban nazhar ini para ulama khilaf. Abu Ishaq al-Isfirayini mengatakan yang wajib adalah nazhar secara mutlak. Abu Bakr al-Baqillani mengatakan yang wajib adalah awal nazhar. Imam Haramain mengatakan yang wajib adalah niat untuk nazhar. Sebagian ulama lain mengatakan yang wajib adalah taklid, sebagian lain mengatakan yang wajib adalah membaca syahadatain.

Yang aneh, tokoh Muktazilah Abu Hasyim al-Jubai mengatakan bahwa yang pertama kali wajib adalah ragu (syakk). Ini yang terjadi di UIN-UIN di Indonesia. Para akademisinya disuruh untuk ragu terlebih dahulu. Ini yang repot. Belum bisa berislam secara kaffah tapi malah kafir terus-menerus. Akan tetapi, kalau kita mau ber-husnuzzhan mungkin maksud pernyataan syakk dari al-Jubai tadi adalah nazhar.

فانظر إلى نفسك ثم انتقل # للعالم العلوي ثم السفلي

Cara seseorang melakukan nazhar adalah merenungkan bagaimana dirinya sendiri diciptakan. Allah Ta’ala berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ [الذاريات : 20 ، 21]

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. (20) Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (21)” (QS. Al-Dzariyat: 20-21)

Di bumi ada begitu banyak tumbuhan ijo royo-royo yang dapat dipanen untuk kebutuhan manusia, lalu pada musim kemarau tumbuhan-tumbuhan tersebut pun mulai mengering. Namun pada musim hujan akhirnya bisa tumbuh lagi. Berarti ada yang Dzat yang memberi dan mengekang hujan, dan tidak ada satupun yang mampu kecuali Allah.

Diri kita juga begitu. Asalnya tidak ada menjadi ada, kecil menjadi besar, lalu menjadi tua seperti kembali menjadi anak kecil lagi. Berarti ada Dzat yang menciptakan semua itu. Manusia tercipta dari jisim, ruh, dan a’rad (sifat). Siapa yg bisa menyusun itu? Berarti ada pencipta. Tidak mungkin orang tua kita membuat kita sendiri.

Lalu ada langit yang memiliki bintang-bintang dan tidak bertabrakan satu sama lain. Alam semesta ini semuanya berbicara bahwa Allah adalah Sang Pencipta. Lalu kita melihat bumi. Ada udara, mendung, bumi, air, laut, tambang, hewan, tumbuhan, ada yang murakkab dan ada yang tidak. Ini semua mesti Allah yang mengatur.

Kita harus menjauh dari ocehan filosof yang merupakan dasar dari ilmu umum bahwa langit dan bumi itu qadim (tidak ada permulaan). Falasifah itu ada dua, yaitu filosof Yunani (hukama) yang mengatakan alam itu qadim fi al-dzat, dan filosof Muslimin (Ibn Sina, al-Farabi, Ibn Hayyan) yang mengatakan alam itu qadim fi al-zaman. Kepercayaan filosof dari kalangan Muslimin ini juga berbahaya karena mendekati filosof Yunani. Bahkan kepercayaannya itu sudah dikafirkan oleh Imam al-Ghazali. Mengatakan alam qadim fi al-zaman itu sudah kafir, bahwa langit tidak ada yang mendahului. Ajaran filosof Muslimin ini malah akhirnya didukung oleh Ibn Taimiyyah ketika membahas pernyataan:

كان الله ولم يكن شيء غيره، وكان الله ولم يكن معه شيء غيره.

Ibn Taimiyyah dalam hal ini mentarjih pendapat yang kedua. Berarti menurut beliau alam bisa qadim fi al-zaman.

تجد به صنعا بديع الحكم # لكن به قام دليل العدم

Langit bumi seisinya meskipun begitu indah, namun di dalamnya terdapat dalil ketiadaan. Karena alam semesta ini berasal dari ketiadaaan dan bisa kembali kepada ketiadaan, maka dengan begitu alam ini hadits (baru), dan setiap hal yang baru pasti ada yang menciptakannya. Sedangkan Allah Ta’ala berbeda dengan ciptaan-Nya, tidak ada permulaan dan tidak ada akhir bagi-Nya.

وكل ما جاز عليه العدم # عليه قطعا يستحيل القدم

Segala hal yang bisa tiada mustahil qadim. Karena itu apabila ahli filsafat dari kaum Muslimin mengatakan alam ini qadim fi al-zaman, maka ini bahaya sekali. Imam al-Ghazali pun mengkafirkan konsep tersebut, alhamduliLlah. Ngono ae masih dibela oleh Ibn Taimiyyah karena iri dengan pamor Imam al-Ghazali, naudzu biLlahi min dzalik. Al-Ghazali anti filsafat malah disalahkan oleh beliau. Katanya Ibn Taimiyyah anti bid’ah, namun ternyata malah membela bid’ah yang divonis al-Ghazali kufur saking bencinya dengan al-Ghazali.

وفسر الإيمان بالتصديق # …

Iman menurut ahli kalam dimulai dari Abu Hanifah adalah:

تصديق جازم بما جاء به رسول الله ﷺ

“Membenarkan secara tegas ajaran yang dibawa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.”

Ini adalah pendapat mayoritas ulama Asya’irah dan Maturidiyah. Sedangkan menurut Muktazilah dan Khawarij, yang dimaksud iman adalah:

تصديق ونطق وسائر الطاعات والأعمال الصالحات وترك المعاصي

“Membenarkan, mengucapkan syahadatain, melakukan ketaatan-ketaatan yang lain dan amal-amal shalih, dan meninggalkan maksiat.”

Menurut kita kaum Ahlussunnah, konsep Muktazilah dan Khawarij diatas adalah konsep iman yang sempurna, bukan hakikat iman itu sendiri. Dalil kita adalah sabda Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ketika ditanya oleh malaikat Jibril ‘alaihi al-salam:

فقال: ما الإيمان ؟ قال: ( أن تؤمن بالله وملائكته وبلقائه ورسله وتؤمن بالعبث )

“Jibril bertanya: “Apa itu iman?” Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menjawab, “Iman adalah percaya adanya Allah, percaya adanya malaikat, percaya akan bertemu Allah, percaya dengan utusan Allah, dan percaya dengan kebangkitan manusia di Hari Kiamat.” (HR. Bukhari)

Redaksi yang dipakai dalam hadits diatas bermakna tashdiq (membenarkan).

Yang jadi masalah adalah menurut ulama salaf iman adalah i’tiqad bi al-qalb wa nuthq bi al-lisan wa ‘amal bi al-arkan (membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan badan). Sedangkan Murji’ah mengatakan iman adalah i’tiqad dan nuthq saja. Karramiyah mengatakan iman adalah nuthq saja.

Hanya saja, perbedaan Muktazilah dan ulama salaf dalam konsep iman adalah bahwa menurut salaf amal merupakan syarat sempurnanya iman. Iman itu menurut salaf: kumpulan tiga perkara: membenarkan, mengucapkan syahadat, dan mengamalkan ajaran Islam seperti shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi pengamalan ini merupakan syarat kesempurnaan iman. Berbeda dengan Muktazilah mengatakan orang Islam yang tidak mau shalat, zakat, dan puasa dihukumi kafir dan keluar dari keimanan. Orang yang mau shalat namun berzina menurut Muktazilah berada di manzilah baina manzilatain (tidak beriman, juga tidak kafir). Inilah perbedaan paling mendasar antara akidah Ahlussunnah dan Muktazilah dalam hal ini.

… والنطق فيه الخلف بالتحقيق

فقيل شرط كالعمل وقيل بل # شطر …

Tentang nuthq (mengucapkan dua syahadat) sebagian ulama mengatakan termasuk syarat iman, yakni syarat untuk memberlakukan hukum Islam kepadanya seperti halnya amal kecuali ditemukan tanda-tanda orang tersebut melakukan amal-amal kufur seperti sujud kepada berhala. Sebagian ulama lain mengatakan membaca syahadat adalah syathr (bagian) dari keimanan atau dengan kata lain syarat sahnya iman.

Sekarang bagaimana menghukumi perkataan kufur? Apakah orang yang mengucapkannya bisa langsung divonis kafir? Kalau yang saya tahu, kita tidak boleh gegabah memvonis kufur seseorang. Statementnya kita kufurkan, namun status orangnya kita tangguhkan. Kalau ada hakim Islam laporkan saja orang seperti itu biar dia yang menghukumi.

… والإسلام اشرحن بالعمل

مثال هذه الحج والصلاة # كذا الصيام فادر والزكاة

Islam itu harus diaktualisasikan dengan amal. Adapun seperti membaca syahadain menurut saya juga bagian dari Islam tapi menjadi syarat sahnya keimanan atau berlakunya hukum Islam.

ورجحت زيادة الإيمان # بما تزيد طاعة الإنسان

ونقصه بنقصها وقيل لا # وقيل لا خلف كما قد نقلا

Sekarang meskipun iman ditafsiri ulama salaf sebagai tashdiq (pembenaran), namun ulama ahli kalam mengunggulkan pendapat bahwa iman bisa bertambah dan berkurang. Hanya perbedaan definisi saja yang terjadi, namun ulama sepakat iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan menjalankan ketaatan dan berkurang karena melakukan maksiat. Disini maka ketemu antara ulama salaf dan ulama khalaf (ahli kalam).

Sebagian ulama lain mengatakan iman tidak bisa bertambah atau berkurang, namun pendapat ini cenderung terlalu fanatik dengan kata-kata tashdiq. Seingat saya Abu Hanifah yang berpendapat demikian. Ada yang menganggap beliau Ahlussunnah dan ada yang menganggap beliau tidak Ahlussunnah gara-gara statement beliau ini.

Sebagian ulama mencari jalan tengah bahwa sebenarnya tidak ada khilaf antara dua pandangan diatas, ini menurut al-Razi dan Imam Haramain. Perbedaan yang ada hanya secara lafzhiy. Menurut pendapat ketiga ini, iman tidak bisa bertambah atau berkurang jika dipandang dari kesempurnaan iman yang dapat tercapai dengan amal. Yang bertambah atau berkurang adalah amalnya. Sedangkan yang tidak dapat bertambah ataupun berkurang adalah hakikat iman itu sendiri. Pembenaran dari hati tidak bertambah maupun berkurang. Ini pendapat yang moderat atau tengah-tengah.

Kalau kami sendiri terus terang lebih cocok mengikuti ulama salaf tapi bukan berarti ikut kaum salafi. Artinya kami berpandangan bahwa iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan badan. Akan tetapi, pengamalan Islam dengan badan adalah syarat kesempurnaan iman, bukan syarat sahnya iman. WaLlahu A’lam. Kalau kita bilang tidak shalat berarti tidak punya iman, wah repot nanti bisa jadi Khawarij. Kita tetap salaf namun diberi penafsiran yang tidak radikal biar tidak menjadi Khawarij dan Wahabi.

وواجب له الوجود والقدم # كذا بقاء لا يشاب بالعدم

Allah wajib wujud secara akal (al-wujud al-wajib), yakni tidak mungkin ketiadaannya. Wujud Allah dengan wujud kita berbeda. Wujud kita dapat menerima ketiadaan dan wujud kita muncul setelah ketiadaan. Sedangkan wujud Allah tidak berasal dari ketiadaan dan tidak kembali kepada ketiadaan. 

Sifat qidam (tidak bermula) menurut saya adalah tafsir dari wujud itu sendiri. Mestinya yang lebih tepat diringkas dalam sifat wujud saja. Wujud Allah juga bersifat baqa’ (tidak berakhir).

وأنه لما ينال العدم # مخالف برهان هذا القدم

Sifat Allah ketiga adalah Allah berbeda dengan segala hal yang bisa menerima ketiadaan yaitu hawadits (makhluk). Bukti sifat ini adalah sifat qidam.

Sekarang apa dalil Allah bersifat qidam? Dalam Syarh Hidayah al-Murid karangan Mbah Abul Fadhol Senori diterangkan bahwa qidam ada dua yaitu qidam dzatiy dan qidam zamaniy. Qidam dzatiy adalah wujud Allah, sehingga qidam dzatiy menjadi sifat nafsiyah. Konsekuensi wujud Allah wajib adalah mesti qadim dan baqi.

Jika demikian, lalu mengapa sifat qidam dan baqa’ disebut lagi oleh ulama ahli kalam, padahal kata-kata wujud sudah mencakup keduanya? Dijawab bahwa ulama tauhid tidak mencukupkan dengan dalalah iltizam (makna kelaziman). Pada dasarnya mengakui qidam dan baqa’ adalah tafsiran dari wujud, namun kemudian ahli kalam berkata bahwa kedua sifat ini adalah sifat salbiyah sedangkan wujud adalah sifat nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan hakikat (esensi) dari dzat.

Allah itu wujud, tidak ada tambahan jisim atau bukan jisim. Adapun ahli kalam berbicara Allah mustahil berupa jisim karena adanya konsep mukhalafah li al-hawadits bagi Allah. Wujud adalah hakikat kewujudan itu sendiri, sedangkan qidam dan baqa’ adalah tafsir dari wujud tadi. 

Adapun sifat salbiyah adalah setiap sifat yang menunjukkan tidak adanya perkara yang tidak patut bagi Allah. Sifat salbiyah sebenarnya banyak sekali, namun mengapa ahli kalam hanya menyebutkan lima saja? Sebenarnya konsep ini mengikuti sebagian ulama, barangkali dari Imam al-Sanusi. Pembatasan hanya ada lima ini tidak ada dalilnya, namun hanya karena termasuk sifat-sifat salbiyah yang dianggap penting.

Allah adalah Dzat yang berbeda dengan makhluk-Nya, tidak berupa jisim, jauhar, ataupun aradh. Alasannya karena Allah Dzat yang qadim. Sedangkan anggapan orang-orang Wahabi bahwa Allah duduk diatas ‘Arsy memuat banyak kesesatan. Istawa itu kan maknanya banyak, bisa naik, sama, matang, puncak, sempurna, dan bertempat. Lha kok Wahabi bisa memaknai duduk itu bagaimana? Kalau Allah duduk berarti memiliki bokong, kaki, dan seterusnya.

Kalau sekedar Allah berada di atas ‘Arsy apabila sampai menganggap tajsim (Allah butuh tempat) berarti kufur, kecuali apabila bilang Allah adalah jisim yang tidak seperti jisim makhluk, maka tidak bisa dikafirkan. Begitupun ada yang bilang kafir juga.

Wahabi berkata Allah duduk diatas ‘Arsy ini sangat berbahaya, terjerumus dalam tajsim. Kalau dalil mereka adalah istawa ‘ala al-‘Arsy, padahal istawa maknanya banyak. Ada yang bilang maknanya luhur (‘ala wa irtafa’a), adan yang bilang maknanya tetap (istaqarra). Istaqarra belum mesti bermakna duduk, kan? Mungkin mereka memakai Atsar-atsar atau tafsiran dari sebagian mujassimah, padahal sanadnya banyak yang terputus.

قيامه بالنفس …

Termasuk sifat salbiyah yaitu qiyamuhu bi nafsihi. Sifat mukhalafah li al-hawadits merupakan sanggahan untuk Wahabi. Namun sekarang Wahabi kafir atau tidak? Kalau mereka bilang Allah jisim seperti jisim makhluk ya kafir, tapi kalau tidak maka kita tidak berani mengkafirkan namun tetap merupakan pemikiran berbahaya karena serupa dengan doktrin Yahudi.

Sifat qiyamuhu bi nafsihi juga menolak Wahabi yang berkata bahwa Allah butuh tangan, kaki, dan wajah. Kita Ahlussunnah tidak menolak wajah dan tangan yang disebutkan dalam Al-Quran-Hadits, namun pemahaman wajah dan tangan tidak kita pahami sebagai anggota badan. Sedangkan Wahabi mengatakan keduanya adalah anggota badan.

Sekarang terkadang mereka nutupi cacat teologi mereka dengan suka membicarakan sifat. Padahal, seringkali kita dengar dahulu Wahabi condong meyakini adanya anggota badan di Dzat Allah karena bilang yadani haqiqatan (kedua tangan sebenarnya). Ucapan ini berarti menjurus kepada anggota badan.

… وحدانية # منزها أوصافه سنية

عن ضد أو شبه شريك مطلقا # ووالد كذا الولد والأصدقا

Menurut ahli kalam wahdaniyah termasuk sifat salbiyah. Namun bagi saya pribadi lebih cocok termasuk sifat ma’ani karena Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ [الإخلاص : 1]

“Katakanlah (Muhammad), Allah Maha Satu.” (QS. Al-Ikhlash: 1)

Allah itu Maha Tunggal, itulah yang membedakan Allah dengan yang lain. Wahdaniyah (satu) menafikan kamm (berbilang).

Semua sifat Allah itu luhur dan bersih dari kamm. Saya setuju dengan ini karena bahasa dalam Al-Quran:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ [البقرة : 163]

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa.” (QS. Al-Baqarah: 163)

Allah itu sifatnya adalah “Tuhan Yang Satu”, berarti Wahid disini menjadi sifat. Saya condong sifat Allah adalah al-uluhiyyah al-wahidah. Allah adalah Tuhan yang satu, menjadi sifat ma’ani. Hal ini juga menafikan uluhiyah selain Allah.

Selanjutnya, wajib diyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat salbiyah dalam keadaan bersih dari saingan baik terhadap Dzat atau Sifat-sifat-Nya serta bersih dari yang menyerupai-Nya. Allah juga suci dari yang melahirkan, anak, maupun teman.

وعلمه ولا يقال مكتسب # فاتبع سبيل الحق واطرح الريب

حياته كذا الكلام السمع # ثم البصر به أتانا السمع

Ilmu Allah tidak muktasab (diusahakan). Allah di zaman azal sudah tahu segala perkara yang akan terjadi, bahkan yang tidak terjadi dan yang bisa terjadi. Allah tahu semuanya. Setelah itu Allah memiliki sifat qudrah dan iradah kepada yang Dia ketahui akan ada. Kemudian Allah menjalankan Kalam dengan mengatakan “kun” (adalah!). Menurut ahli kalam, Kalam Allah tidak terdiri dari hufur dan suara.

فهل له إدراك أو لا خلف # وعند قوم صح فيه الوقف

Selanjutnya, apakah Allah memiliki sifat idrak? Yang dimaksud idrak adalah sifat tambahan dari sama’ dan bashar yang berhubungan dengan hal-hal yang diraba, dicium, dan dirasa seperti mengetahui sesuatu ini enak, wangi, halus, dan sebagainya. Ini namanya idrak.

Tentang keberadaannya ulama khilaf, sebagian condong kepada tawaqquf (tidak meneruskan pembahasan). Qadli Abu Bakr al-Baqilani dan Imam Haramain setuju bahwa Allah memiliki idrak, karena menurut mereka jika Allah tidak memilikinya maka berarti Allah kurang (naqsh). Sebagian ulama lain mengatakan Allah tidak memiliki idrak karena Allah tidak berinteraksi dengan hal-hal yang berhubungan (muta’allaqat) dengan idrak. Allah tidak jisim dan tidak mencium bau jisim sehingga tidak usah ada idrak. Akan tetapi yang mengatakan Allah memiliki idrak tetap berpandangan bahwa Allah tidak jisim.

حي عليم قادر مريد # سميع بصير ما يشا يريد

متْكلم ثم صفات الذات # ليست بغير أو بعين الذات

Sifat-sifat diatas menurut ahli kalam dinamakan sifat maknawiyyah. Menurut Syaikh Abul Fadhol Senori penulis nazham diatas (Syaikh Ibrahil al-Laqqani) tidak mengatakan kaunuhu dan hanya mengatakan hayyun qadirun adalah sifat Allah karena beliau memang tidak yakin bahwa ini adalah sifat, namun menurut ulama adalah ahwal/hal yaitu sifat yang tidak wujud namun juga tidak tiada (la maujud wa la ma’dum).

Lalu alasan sebagian ulama menambahkan sifat maknawiyyah untuk menolak sebagian sekte sesat bahwa kalam tidak qaim bi dzatillah. Menurut mereka Allah adalah Mutakallimun dalam dzat-Nya dan bukan sifat-Nya. Yang jelas keberadaan Allah Hayyun Sami’un Bashirun merupakan mufakat umat Islam. Sama’ (pendengaran) dan Bashar (penglihatan) Allah bersifat qadim, akan tetapi hal-hal yang didengar dan dilihat bersifat hadits. Begitu pula qudrah dan iradah Allah ta’alluq kepada hal-hal yang hadits. 

Ada ulama mengatakan bahwa istilah kaunuhu menerangkan bahwa sifat-sifat yang dipasangkan kepadanya wajib ada di Dzat Allah, bukannya Dzat Allah adalah sama’ dan bashar itu sendiri. Jadi lafazh kaunuhu menunjukkan kewajiban wujudnya sifat ma’ani di Dzat Allah, bukan sifat tersendiri dari dzat.

Kemudian sifat-sifat yang berada di dalam Dzat Allah tidak boleh dikatakan selain dari dzat atau merupakan dzat itu sendiri. Berbeda dengan Muktazilah yang menafikan sifat-sifat tersebut. Argumen mereka karena sifat-sifat wajib ada kalanya hadits dan ada kalanya qadim. Jika sifat-sifat tersebut dianggap hadits berarti ada sifat-sifat hadits di dalam Dzat Allah Ta’ala, dan jika dianggap qadim berarti ada hal-hal qadim yang banyak. Untuk menjawab pemikiran Muktazilah ini, maka Ahlussunnah mengatakan Allah adalah Mutakallimun (Dzat Maha Berbicara) namun Mutakallimun bukan selain Dzat Allah maupun hakikat Dzat Allah itu sendiri.

وقدرة بممكن تعلقت # بلا تناهي ما به تعلقت

Qudrah merupakan sifat ma’ani. Allah menciptakan alam ini dengan iradah dan qudrah-Nya, yakni dengan qadla’ dan qadr. Sifat iradah Allah adalah azali, qudrahnya juga azali. Namun qudrah berbeda dengan amr (perintah), ilmu, dan ridha. Allah menghendaki ada yang baik dan ada yang buruk, akan tetapi Allah tidak ridha dengan yang buruk dan ridha dengan yang baik. Muktazilah mencampur adukkan antara ridha dan iradah. Makanya mereka mengatakan keburukan bukan kehendak Allah, karena jika demikian berarti Allah tidak menjalankan al-shalah (kebaikan) dan al-ashlah (yang lebih baik), dan ini wajib menurut mereka.

Pemikiran seperti inilah yang berbahaya dan diikuti oleh orang-orang modern sekarang ini seperti Yusuf Qardhawi, Ikhwanul Muslimin, dan HTI. Sesuatu yang baik ditakdirkan oleh Allah, sedangkan sesuatu yang buruk tidak ditakdirkan-Nya. Ini namanya pemikiran Majusi dan Qadariyah yang mengingkari takdir buruknya Allah. Lalu siapa yang menentukan keburukan? Kata mereka adalah manusia sendiri. Jika demikian, berarti manusia menciptakan pekerjaaannya sendiri, dengan kata lain ada pencipta selain  Allah. Ini akidah syirik.

Akan tetapi, jika begitu apakah bisa langsung kita kafirkan mereka? Ini yang susah, karena mereka punya syubhat (semu alasan). Selain itu mereka punya jabatan, sehingga mereka malu jika harus mengikuti Ahlussunnah. Mereka telah terperangkap dalam hawa nafsu. Karena itu kita cukup katakan mereka sesat namun bisa menggiring kepada kekufuran yaitu mengingkari takdir Allah tentang keburukan. Pemikiran seperti ini sama halnya mengakui ada dua tuhan seperti agama Majusi. Ada tuhan kegelapan, ada tuhan cahaya.

ووحدة أوجب لها ومثل ذي # إرادة والعلم لكت عم ذي

وعم أيضا واجبا والممتنع # ومثل ذا كلامه فلنتبع

Sifat qudrah menurut ulama berhubungan dengan hal-hal yang mungkin (al-mumkinat) yang tidak terhingga, begitu halnya dengan iradah. Sedangkan ilmu Allah berhubungan dengan segala hal yang wajib, mustahil, dan mungkin seperti halnya Kalam Allah. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

وكل موجود أنط للسمع به # كذا البصر إدراكه  إن قيل به

Sifat sama’ bagi Allah berhubungan dengan segala yang wujud, begitu halnya dengan sifat bashar.

وعندنا أسماؤه عظيمة # كذا الصفات ذاته قديمة

Menurut kita kaum Ahlussunnah semua Asma Allah Ta’ala bersifat qadim. Bait diatas  menunjukkan bahwa Asy’ariah menetapkan Asma-asma Allah. Adapun sifat-sifat yang dibahas sebelumnya adalah sifat yang ditemukan menggunakan akal dan dikaji oleh ulama ahli kalam. Bukan berarti sifat Allah hanya itu saja. Ini poin penting kita mengaji ilmu tauhid.

Maka bohong jika Wahabi mengatakan kita tidak menetapkan Asma Allah yang jumlahnya 99. Kita juga menetapkan “wajh” (wajah) dan “yad” (tangan) bagi Allah seperti nash Al-Quran, akan tetapi bukan seperti pemahaman mereka. Kita golongan Ahlussunnah melakukan tafwidl yakni menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah Ta’ala. Walaupun kita tahu makna secara literal yad artinya tangan dam wajh artinya wajah, namun bagi Allah kita serahkan hakikat makna kedua lafazh tersebut kepada-Nya.

واختير أن اسماه توقيفية # كذا الصفات فاحفظ السمعية

Pendapat yang dipilih mayoritas ulama bahwa Asma Allah harus ditetapkan sesuai ajaran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, begitu pula sifat-sifat Allah. Sekarang yang dipermasalahkan Wahabi adalah sifat wujud dan qidam. Maka menurut Syaikh Abul Fadhol Senori bahwa sifat Allah seperti al-Shani’, al-Maujud, al-Wajid, dan al-Qadim ditetapkan melalui ijma’ ulama, dam ijma’ disamakan kedudukannya dengan nash. Bahkan ada ulama yang mengatakan sebagian sifat yang dianggap Wahabi bid’ah ternyata ada dalilnya dari nash. Sifat al-Hannan dan al-Mannan itu warid (datang) dari keterangan Rasulullah.

وكل نص أوهم التشبيها # أوله أو فوض ورم تنزيها

Allah Ta’ala memiliki sifat mukhalafah li al-hawadits, sehingga ketika di dalam Al-Quran dan Hadits ada lafazh-lafazh yang makna zahirnya tidak sesuai dengan Dzat Allah maka Allah wajib diyakini bersih dari makna zahir lafazh tersebut. Ini persamaan antara Ahlussunnah dan Muktazilah, yang berbeda hanya Mujassimah-Musyabbihah. Makanya Wahabi tidak menggunakan dalil akal karena akan menyerang madzhab mereka sendiri. Tasybih dan tajsim tidak sesuai akal, maka menurut Wahabi akal tidak diterima. Seperti itu mereka saking terlalu fanatik. 

Kemudian ada khilaf, apakah zhahir lafazh tersebut harus ditakwil? Sebagian ulama melakukan takwil secara tafshil (detail), sebagian yang lain hanya mentakwil secara ijmal (global) yaitu bukan tasybih tadi. Sebagai contoh Firman Allah Ta’ala:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه : 5]

“Tuhan yang Maha Pemurah. yang Istawa di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Istawa dimaknai sebagai istiwa’ bi la kaif (bersemayam tanpa diketahui caranya), ini yang dinamakan takwil ijmal atau biasa disebut tafwidl. Tafwidl termasuk takwil tapi secara ijmal. Ibn Taimiyyah benci dengan takwil dan tafwidl sehingga melakukan tajsim,  akan tetapi dia tidak mau mengakui. Lebih suka berkata haqiqatan.

Contoh pemaknaan Ahlussunnah terhadap nash-nash seperti diatas diantaranya:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه : 5]

“Tuhan yang Maha Pemurah. yang Istawa di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Istiwa dimaknai sebagai istila’, bermaharaja di atas ‘Arsy.

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ [المعارج : 4]

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij: 4)

Takwil ayat ini adalah malaikat naik ke tempat mereka menyembah Allah, bukan Allah berada disana. Secara zahir ayat ini menunjukkn Allah Ta’ala berada diatas. Jika Allah memiliki arah maka berarti Allah terbatas sehingga seperti jisim. Ini saja sudah dikatakan mustahil oleh ahli kalam, apalagi itikad Allah duduk-duduk di atas ‘Arsy seperti kaum Wahabi tadi.

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ [البقرة : 210]

“Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada Hari Kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (QS. Al-Baqarah: 210)

Datangnya Allah dalam ayat diatas ditakwil sebagai datangnya utusan atau siksa-Nya.

إن الله خلق آدم على صورته (الحديث) 

Terkait makna Hadits ini, dalam Shahih Muslim ada keterangan bahwa ketika seseorang berkelahi dengan temannya lalu menunjuk untuk memukul wajahnya, maka Allah menciptakan Nabi Adam seperti bentuk rupa temannya tadi. Atau maksud dari lafazh  shurah (bentuk) adalah shifah (sifat). Sifat bisa sama namun substansinya berbeda.

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [الرحمن : 27]

“Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Al-Rahman: 27)

Wajah dalam ayat diatas dimaknai sebagai Dzat atau Wujud Allah.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا [الطور : 48]

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu. Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada dalam penglihatan Kami.” (QS. Al-Thur: 48)

Maksud ayat ini adalah engkau (Muhammad) berada dalam penjagaan Kami (Allah).

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ [الفتح : 10]

“Tangan Allah di atas tangan mereka.” (QS. Al-Fath: 10)

Tangan dalam ayat ini dimaknai sebagai kekuatan.

Penulis nazham mendahulukan takwil daripada tafwidl mengikuti pendapat yang lebih unggul dari Izzuddin ibn Abdissalam. Imam haramain dalam al-Irsyad juga berkata seperti itu, namun di dalam al-Risalah al-Nizhamiyyah beliau memilih takwil ijmali atau tafwidl. Menurut Ibn Daqiq al-‘Id apabila takwil tafsili lebih dekat dengan  tuntunan akidah maka lebih baik, dan apabila jauh maka lebih baik tafwidl. Kamal bin Humam berpendapat apabila ada kebutuhan untuk takwil tafsili dan jika tidak demikian akan membuat geger orang awam maka lebih baik mentakwil. Pendapat ini didukung oleh Sayyid Ahmad Zarruq dari Abu Hamid al-Ghazali. Ibn Abdissalam berkata bahwa orang yang berkeyakinan Allah memiliki arah tidak kafir seperti halnya orang-orang awam ketika mereka sulit menafikan arah. Ibn Abi Jamrah juga berpendapat seperti itu. Akan tetapi Wahabi tidak bisa memahami sesuatu yang wujud kecuali memiliki arah.

Menurut Ahlussunnah Al-Quran adalah Kalam Allah namun Kalam Nafsi bagi Allah tidak hadits dan tidak terdiri dari huruf, kalimat, dan susunan. Maka nash-nash yang menunjukkan bahwa Al-Quran itu hadits dimaknai sebagai lafazh yang menunjukkan Kalam Nafsi Allah Ta’ala. Al-Quran yang berupa lafazh ini memiliki kekhususan kepada Allah, meski ahli kalam menganggapnya hadits/makhluk. Kekhususan tersebut yaitu lafazh-lafazh Al-Quran diwujudkan di Lauh Mahfuzh:

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ (21) فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ (22) [البروج : 21 ، 22]

“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, (21) yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (22)” (QS. Al-Buruj: 21-22)

Atau Allah Ta’ala mewujudkan suara-suara dari lisan kita pada lisan malaikat Jibril’alaihi al-salam:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (19) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21) [التكوير : 19 – 21]

“Sesungguhnya Al-Quran benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), (19) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, (20) yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (21)” (QS. Al-Takwir: 19-21)

Atau suara tersebut diwujudkan Allah di lisan Kanjeng Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) [الشعراء : 193 ، 194]

“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), (193) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, (194)” (QS. Al-Syu’ara: 193-194)

Yang turun kepada hati Rasulullah adalah makna, bukan lafazh Al-Quran. Namun lafazh Al-Quran dikhususkan Allah melalui lisan beliau.

ونزه القرآن أى كلامه # عن الحدوث واحذر انتقامه

وكل نص للحدوث دلا # احمل على اللفظ الذي قد دلا

Nazham ini menjelaskan akidah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah bahwa Kalamullah adalah sifat yang ada pada Allah Ta’ala tanpa huruf dan suara. Apabila di dalam Al-Quran ada ayat seperti:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ [الفرقان : 1]

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Quran) kepada hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 1)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ [القدر : 1]

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)

Maka nash-nash yang menunjukkan bahwa Al-Quran itu baru seperti ayat diatas, maka harus diarahkan kepada Al-Quran yang berupa lafazh (Al-Quran al-Lafzhi). Meski Al-Quran al-Lafzhi baru atau kasarnya adalah makhluk, namun menunjukkan pada makna yang dituju Kalam Nafsi. Penjelasan ini kita sampaikan khusus pada kajian ilmiah. Kalau di forum selain itu maka kita harus mengatakan Al-Quran meskipun berupa Al-Quran al-Lafzhi tidak boleh kita katakan baru untuk menjaga keagungan Kalamullah. Ini yang diperjuangkan mati-matian oleh Imam Ahmad bin Hanbal bahwa Kalamullah bukan makhluk, karena khawatir bila ditafsil seperti ini di selain majelis pembelajaran nanti dipahami bahwa Al-Quran bisa dihina, bisa dikatakan bukan dari Allah, karangan Muhammad, atau bahkan karangan Jibril.

Walhasil, apa yang disampaikan syaikh diatas khusus untuk kalangan terpelajar, tidak untuk dimanfaatkan oleh kalangan liberal dan musuh Islam, namun hanya pemikiran belaka. Kita harus satu kata bahwa Al-Quran adalah Kalamullah dan bukan makhluk. Ini yang lebih tepat sebagai sikap ta’zhim kepada Al-Quran, dan itu kami kira disepakati. Adapun bahwa Al-Quran al-Lafzhi dikatakan baru itu hanya membahas suaranya para pembacanya dan huruf yang ada dalam Al-Quran dimana zahirnya menurut akal adalah tersusun, ada awalan dan akhiran,  dan seterunya sehingga memiliki batas dan berarti baru. Itu hanya retorika ilmu kalam atau logika akal belaka yang membahas tentang bacaan-bacaan makhluk. Kita sendiri tidak pernah mendengar langsung dari Jibril, apalagi seperti Jibril mendengar langsung dari Allah. Hal-hal ini menurut kami tidak patut dibesar-besarkan. Cukuplah kebesaran Ahmad bin Hanbal diakui oleh Imam Syafi’i, itu bukti salaf telah ijma’ tentang kebenaran Al-Quran sebagai Kalamullah dan bukan makhluk. WaLlahu A’lam.

فيستحيل ضد ذي الصفات # في حقه كالكون في الجهات

Kebalikan dari sifat-sifat wajib bagi Allah adalah mustahil seperti halnya Allah memiliki arah. Diantaranya lagi adalah mumatsalah li al-hawadits, mempunyai perimbangan. Allah berada di timur atau barat, ini mustahil. Sekarang Allah di ‘Arsy atau di atas, ini berarti Allah memiliki bandingan berupa alam. Maka dari itu arti Allah di atas ‘Arsy adalah Allah bersifat luhur dan berkuasa. Sifat-sifat-Nya luhur. Ini untuk menyangkal Mujassimah Musyabbihah. Arah itu bisa berupa tempat dan dimensi, dan ini namanya seperti pandangan falasifah. Termasuk pula argumen untuk menyanggap Wahabi adalah arah atas belum mesti timur. Contoh ilustrasinya adalah penjaga seorang raja terkadang bertempat di atasnya, namun tetap saja raja pangkatnya lebih luhur. Tanda tangan itu tempat di bawah, namun paling penting dalam sebuah surat.

Setiap makhluk pasti ada bandingannya. Laki-laki dan perempuan, barat dan timur, selatan dan utara, atas dan bawah. Tapi karena Allah Ta’ala berbeda dengan makhluk-Nya dan tidak sebanding dengan makhluk, maka mustahil Allah berada di arah persis seperti arah makhluk.

وجائز في حقة ما أمكنا # إيجادا إعداما كرزقه الغنى

Nazham ini membahas tentang hal yang jaiz (boleh) bagi Allah Ta’ala seperti menjadikan seseorang kaya atau miskin. Sifat jaiz Allah adalah mewujudkan atau meniadakan sesuatu yang mungkin. Orang mukmin bisa miskin di dunia, tapi tidak di akhirat. Orang mukmin juga bisa kaya di dunia dengan catatan dari pekerjaan halal, kecuali taqdir Allah mengatakan rizkinya haram maka harus segera ditaubati. Orang kafir bisa miskin di dunia dan itu pantas baginya, apalagi di akhirat maka dia maha miskin. Kalo di dunia mereka kaya itu boleh-boleh saja, tapi kebanyakan kekayaan mereka berasal dari barang haram.

وخالق لعبده وما عمل # موافق لما أراد أن يصل

Allah menciptakan hamba-Nya seperti yang dilakukannya. Pekerjaan manusia menurut Ahlussunnah tercipta atas qudrah Allah saja, menurut Muktazilah atas kemampuan manusia saja, dan menurut ulama lain dengan kumpulan dua qudrah tersebut. Sedangkan menurut filosof karena qudrah yang diciptakan Allah di dalam diri manusia, lalu apa bedanya dengan Muktazilah? 

Kita Ahlussunnah berselisih dengan Muktazilah dalam hal pekerjaan manusia. menurut Muktazilah, pekerjaan manusia diciptakan oleh manusia sendiri. Akan tetapi kita dan Muktazilah sepakat bahwa pekerjaan manusia adalah pekerjaan mereka sendiri, bukan pekerjaan Allah. Yang makan, minum, dan berdiri adalah manusia, bukan Allah. Allah adalah penciptanya.

وخاذل لمن أراد بعده # ومنجز لمن أراد وعده

Allah Ta’ala memberi taufiq kepada orang yang dikehendaki dekat dengan-Nya dengan iman dan menghinakan orang yang dikehendaki kekufurannya. Pekerjaan manusia adalah ciptaan Allah, bahagia dan celakanya manusia itu kehendak Allah. Kalau tidak demikian, berarti Allah hanya pencipta manusia yang tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan dan nasibnya. Itu melecehkan Allah, dan itulah bahaya modern. Muktazilah itu termasuk modern.

Orang bisa ngomong yang tidak karuan, yang menurut kami ucapan mereka kufur. Akan tetapi karena mereka punya alasan kalau Allah menghendaki kejelekan lalu mengapa Allah menyiksa kejelekan itu? Hal inilah yang jadi unek-unek mereka. Kita jawab bahwa menghendaki tidak identik dengan ridha. Muktazilah tertipu bahwa menghendaki mesti meridhai, padahal tidak. Seperti dunia sekarang ada gubernur di Jakarta yang beragama Kristen dan dari keturunan Cina, dibantu oleh kaum komunis atau dia malah komunis sendiri. Kalau kita mengatakan hal ini tidak dikehendaki Allah, maka Allah berarti hanya penonton seperti kita yang tidak punya kekuatan apa-apa. Maksud dikehendaki disini adalah eksistensinya, bukannya berarti diberi izin atau direstui. Itu ujian agar kita melawan zalim dan kufur. 

Orang yang dijanjikan beruntung pasti orangnya baik, minimal ketika akan mati dia membaca syahadat.

فوز السعيد عنده في الأزل # كذا الشقي ثم لم يعتدل

Keberuntungan dan celaka seseorang sudah ditulis di dalam zaman Azal, ditulis di Lauh Mahfuzh, dan ditulis juga di rahim ibunya. Beruntung dan celaka itu tidak berubah-ubah. Lha sekarang kita alhamduliLlah diciptakan senang berdoa semoga mendapat hidayah dan jadi orang yang beruntung, ini tanda-tanda kita diciptakan beruntung. Umpama kita diciptakan celaka tentu kita tidak diberi taufiq kepada doa-doa seperti itu.

Sebaliknya walaupun ada orang terlihat bagus, pencitraan bagus, sekarang dipuja-puja, jauh dari korupsi, padahal juga korupsi di Sumber Waras. Ini semua adalah rekayasa, apalagi sekarang dengan kecanggihan alat-alat publikasi. Mari kita berdoa semoga hal-hal yang zalim dihancurkan oleh Allah Ta’ala.

Awas jangan terkecoh dengan Perindo! Nanti dia akan bekerjasama dengan orang-orang seperti Ahok, komunis, dan mungkin saja jadi partai komunis. Dulu kita membantai komunis kelas teri, mungkin sewaktu-waktu kita akan dibantai komunis kelas kakapnya. Ini sudah pernah direkayasa pada waktu peristiwa ninja dulu.

وعندنا للعبد كسب كلفا # به ولكن لم يؤثر فاعرفا

وليس مجبورا ولا اختيارا # وليس كل يفعل اختيارا

Menurut Asy’ariyyah manusia memiliki kasb (usaha) yakni keinginan kuat yang mendorong seseorang melakukan kebaikan atau keburukan. Namun kasb ini tidak mempengaruhi takdir Allah. Seseorang terkadang ingin shalat tapi karena dia suka makan haram akhirnya tidak jadi shalat. Terkadang orang tidak ingin khusyuk tapi karena memiliki guru akhirnya bisa jadi khusyuk. Manusia tidak dipaksa, tapi tiap kehendaknya belum mesti tercapai. Tidak semua yang dilakukan manusia berasal dari kehendak hatinya, terkadang dia terpaksa juga. Madzhab kita tidak serba Jabariyah, juga tidak seperti Qadariyah. 

Muktazilah berdalil dengan Firman Allah Ta’ala:

مَا اسْتَطَعْتُمْ [الأنفال : 60]

Menurut Muktazilah, ayat ini menunjukkan bahwa istitha’ah (kemampuan) ada sebelum fi’il (pelaksanaan). Alasan mereka karena sebelum mengerjakan dia sudah mukallaf. Maka Ahlussunnah menjawab dengan Firman Allah Ta’ala yang lain:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا [آل عمران : 97]

Ayat ini artinya adalah orang wajib berhaji ketika tidak ada halangan, yakni memiliki bekal dan kendaraan. Adapun kekuatan atau istitha’ah yang maknanya aradl muqarin li al-fi’l al-ikhtiyariy (kemampuan yang bersamaan dengan pelaksanaan perbuatan yang dipilih), maka kekuatan manusia untuk berhaji bersamaan dengan pekerjaan. Kalau  mempersiapkan haji itu sebelum melaksanakan haji, tapi kekuatan berhaji berbarengan dengan pelaksanaannya dan bukan sebelumnya. Yang ada sebelumnya adalah kondisi yang aman dan fasilitas yang memadai. Kita punya kesiapan shalat, sehat, dan seterusnya.

Menurut Asya’irah, manusia memiliki kasb yaitu pengarahan kemampuan yang baru (qudrah haditsah) dan kehendak yang baru (iradah haditsah) kepada melakukan kebaikan atau keburukan. Jika arahnya baik maka mendapat pahala, dan jika buruk maka mendapat siksa. Akan tetapi kasb oleh imam-imam ulama kita tidak berpengaruh dalam menciptakan wujud, yang mewujudkan adalah Kemampuan Tanpa Awal (Qudrah Qadimah) milik Allah. Namun karena manusia ingin sesuatu yang buruk maka qudrahnya juga mengarah kepadanya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ [آل عمران : 117]

“Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Ali Imran: 117)

Ini merupakan sifat adil Allah Ta’ala.

فإن يثبنا فبمحض الفضل # وإن يعذب فبمحض العدل

Ketika Allah Ta’ala memberi pahala maka hal itu merupakan kemurahan dari-Nya, dan ketika Allah memberi siksa maka hal itu adalah sifat adil-Nya. Karena kita menjadi penampakan dari keburukan, maka kita patut mendapat siksaan. Karena kita memiliki kasb/ikhtiar (usaha), maka kita pantas mendapatkan pahala atau siksa. Apabila kita menjadi baik, meskipun keinginan baik belum tentu mendapat pahala, maka hal ini adalah kemurahan dari Allah.

وقولهم إن الصلاح واجب # عليه زور ما عليه واجب

Muktazilah mengatakan Allah wajib melakukan hal baik. Ini adalah kebohongan, bahasa yang manis untuk menipu kita agar kita menganggap Allah tidak menakdirkan keburukan. Hakikat ucapan mereka adalah penghinaan, tidak ada yang wajib bagi Allah.

ألم يروا إيلامه الأطفالا # وشبهها فحاذر المحالا

فجائز عليه خلق الشر # والخير كالإسلام وجهل الكفر

Apakah Muktazilah tidak tahu bahwa Allah membuat sakit anak-anak kecil? Ini kan kelihatannya tidak ada kemaslahatan. Namun saya tahu bahwa itu ada maslahatnya, yakni agar orang tuanya memberi kasih sayang kepada anaknya dan ketika sudah besar agar dia bisa bersyukur kepada orang tuanya. Namun secara hakikatnya memberi rasa sakit itu tidak ada maslahatnya.

وواجب إيماننا بالقدر # وبالقضا كما أتى في الخبر

ومنه أن ينظر بالأبصار # لكن بلا كيف ولا انحصار

Termasuk hal yang jaiz secara akal adalah Allah dilihat dengan mata kepala kita. Namun kita sekarang tidak boleh menetapkan bagaimana penglihatan kita kepada Allah, apakah berhadapan atau bagaimana, ini tidak boleh. Membayangkan Allah mempunyai ruangan khusus juga tidak boleh.

Keterangan di dalam hadits-hadits bahwa kelak di Hari Kiamat secara umum Allah dapat dilihat kecuali oleh orang-orang kafir. Sedangkan ketika di surga orang melihat Allah di gundukan pasir yang wangi sekali, ada lapangan yang luas dimana nantinya manusia melihat Allah dari arah atas. Secara fikiran rasional ahli kalam ini mustahil karena Allah tidak jisim, tidak bertempat, dan seterusnya.

Mengapa manusia bisa melihat Allah? Karena melihat Allah termasuk perkara jaiz. Bahkan di dunia hal ini telah terjadi.

قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي [الأعراف : 143]

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. Berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu. Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS. Al-A’raf: 143)

Post Author: ribathdarushohihain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons